
Jesselyn yang masih berada di dalam angkot kepanasan karena terjebak macet.Butik mamanya sudah tidak jauh lagi jadi Jesselyn memilih turun dan berjalan kaki.
"Turun sini aja mang" Jesselyn memberikan uang sepuluh ribu
"Kembalinya neng" panggil supir angkot
"Buat ngopi aja mang" sahut Jesselyn yang mulai berjalan di sepanjang trotoar.
Trotoar yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki menjadi jalan alternatif bagi pemotor yang enggan bersabar pada kemacetan.
"Minggir woi" bentak lelaki yang masih muda
"Trotoar woi trotoar" sahut Jesselyn tak kalah sewotnya.Jesselyn kembali melanjutkan langkahnya.Berbelok di butik mamanya yang ramai pengunjung.
Jesselyn mendorong pintu.Mamanya tersenyum dan tak lama memgkerutkan dahinya saat melihat muka Jesselyn yang ditekuk.
"Permisi sebentar ya jeng" ucap Nindya pada pelanggan yang sedang memilih baju.Melangkah menghampiri anaknya yang duduk merosot disofa sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa sayang?" sapanya.Jesselyn mendongak melihat mamanya
"Kepanasan ma" sahutnya asal
"Minum dulu gih,kering tu bibir kaya musim kemarau" Nindya menyuruh Jesselyn pergi ke bagian belakang untuk mengambil air dingin di kulkas
Jesselyn beranjak.Membuka kulkas yang langsung menghantarkan hawa dingin padanya.
Tenggorokannya terselamatkan sudah.Jesselyn membuka pesan dari Maya.
*Maya
Posisi?
*Jesselyn
Ngadem depan kulkas
*Maya
Nonton kuy
*Jesselyn
Kaga bisa
Nemenin mamake dagang
*Maya
Yaahhhh
Jessyn tak membalas lagi pesan singkat yang dikirim Maya.Mungkin lain kali ia akan menerima tawaran Maya saat ia tak ada jemputan.
"Mah" panggil Jesselyn
"Mang Diman masih dikampung ya?" tanya Jesselyn
"Minggu depan balik,kenapa?" tanya Nindya
"Bosen naik angkot?" tanya Nindya lagi
"Iya ma,capek nih macet mulu kan gara gara perbaikan jalan" ucap Jesselyn
"Naik ojol aja" usul mamanya
"Gak deh" tolak Jesselyn.Karena uang sakunya berkurang banyak dengan porsi makannya yang banyak.
Jesselyn sedang dikamarnya mengerjakan pr bahasa inggris.Tak butuh waktu lama ia bisa menyelesaikan sepuluh soal dalam kurang dari setengah jam.Jesselyn membuka ponselnya ada dua chat dari Maya.Menanyakan apakah ia sudah selesai mengerjakan pr atau belum.Dan jawaban sudah membuatnya diminta untuk menscreen shoot pr yang sudah selesai dikerjakan Jesselyn.
__ADS_1
"Dasar" gerutu Jesselyn yang tetap mengirimkan hasil pekerjaan rumahnya
Suara Nindya yang memanggil Jesselyn untuk makan malam menjadi semangat baru untuknya.
"Masak apa bi?" tanya Jesselyn pada bi Yuni yang baru saja dari dapur.Sejak awal mula Yuni bekerja dirumah itu,Deny dan Nindya memintanya untuk makan dimeja yang sama.Bukan di dapur dan terpisah sendirian.
"Sop iga" ucap Jesselyn saat Yuni meletakkan mangkok berisikan sup yang masih mengepul panas
"Yuhuuu..enaknya" komentar Jesselyn saat menghirup aroma yang tercium
"Nih buat mama" Jesselyn mengambilkan semangkok untuk mamanya
"Ini buat bibi" Nindya menyerahkan mangkok kedua
"Sisanya buat aku" ia menarik mangkok besar kedepannya
"Ambil di mangkok" titah Nindya pada Jesselyn yang hampir menyendok langsung.Bi Yuni tertawa melihat Jesselyn yang mendadak ciut karena teguran mamanya.
Selesai makan Jesselyn beralih ke stik ps.Bermain game yang kemarin tak bisa ia menangkan.Kadang Jessie berpikir jika saja ia punya saudara pasti asyik ada yang bisa diajak bermain.Atau ia bisa sekedar berbagi omelan dengan saudaranya.Menyenangkan sekali pasti.
Drrttt..
Ponselnya bergetar..
"Napa May?" tanya Jessie yang masih bermain game
"Lagi ngapain lu?"
"Ps" sahutnya
"Buji buneng,dimana rumah lu?"
"Pengen main gua" ucap Maya
"Perum Mekarsari.Ntar gua jemput di gerbangnya" Maya menutup sambungan telefon.
"Mah ada temen mau main" ucap Jessie
"Siapa?cowo?" tanya Nindya
"Kunci motor mana ma?" bukannya menjawab pertanyaan mamanya ia malah meraih kunci motor di atas meja lalu pergi menjemput Maya
Sepuluh menit sudah Jessie menunggu Maya yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Sinar matahari sore masih saja membuat keringatnya bercucuran.Es cendol yang menjadi pengobat tenggorokannya yang hampir kering.
"Woy!" Jessie sampai tersedak saat Maya mengagetinya
"Untung plastiknya kaga ketelen May"
"Parah lu ma" gerutu Jessie
"Mana rumah lu"
"Rumah bokap gua May" koreksi Jessie
"Iya udah ayo panas nih" gerutu Maya
Jessie mengendarai motornya lebih dulu,diikuti Maya dari belakang.
Pagar otomatis terbuka.
"Ini rumah lu?" tanya Maya
"Bukan mau minjem duit gua kesini" sahut Jessie sembarang.Ia pun masuk kedalam rumah yang tak ditutup pintunya.
"Mah..temen Jessie dateng nih" teriak Jessie
Wanita yang umurnya hampir menginjak kepala empat tak menampakkan penuaannya.Nindya tetap cantik seperti berumur tiga puluh tahunan.
__ADS_1
"Selamat sore tante" Maya menyalami tangan Nindya
"Siapa nama kamu sayang" tanyanya
"Maya tan" jawabnya
"Jes,ajak temen kamu makan gih" ujar Nindya
Nindya paham jika anak seumuran mereka tidak betah berlama lama berbasa basi saat bertamu.Jadi setelah obrolan singkat itu ia kembali ke taman belakang.
"Nyokap lu cantik amat Jes" puji Maya yang mengikuti Jessie menaiki tangga
"Liat dong anaknya" sahut Jessie yang membuka handle pintu
"Mana ada,lu pake deodoran aja jarang" cibir Maya
"Sialan,ya pakelah gua.Mau cium ketek gua biar tau wanginya kaya apa" Jessie membuka ketiaknya tinggi tinggi
"Widih kamar anak sultan" ucap Maya
"Mobil berderet motor juga punya masih aja lu naek angkot" ucap Maya
"Itung itung ngurangin polusi May"
Percakapan mereka terhenti saat bi Yuni membawakan minuman dingin dan camilan untuk keduanya.Diwaktu yang singkat.Mereka sudah bisa melabeli pertemanan mereka sebagai sahabat.
---
Deny pulang dari Korea saat Jessie sudah berangkat sekolah.
"Jessie berangkat naik apa ma?" tanya Deny yang sedang duduk santai di teras
"Naik ojol pah,udah telat tadi dia" sahut Nindya
"Nih dapet bingkisan dari Joon" ia memberikan kotak pada istrinya
"Tau aja Joon kalo mama lagi pengen jam tangan ini" Nindya melihat bentuk jam edisi terbatas dari sebuah brand
"Kayak papa gak mampu beliin sih ma" Deny bergumam
"Bukan gitu pah.Kalo gratisan ma jangan ditolak" sahut Nindya yang sedang mencoba jam tangan itu.Menaikkan tangannya tinggi tinggi di depan wajah suaminya
"Bagus ya pah"
"Hemmm" sahut Deny malas
"Masih cemburu aja kamu pah,Joon udah punya anak seumuran Jessie juga" ucap Nindya
"Tapi kan sekarang dia duda ma"
"Ini mau papa yang ngambek atau mama yang ngambek?" tawaran macam apa Nindya
"Gak deh ma enggak.Maafin ya" Deny mengelus punggung tangan Nindya sepelan mungkin
"Bagus ya jam nya" puji Deny yang berusaha setulus mungkin
"Hmmmm" gantian Nindya yang menyahut sekenanya
Bukan Jessie yang sangat menuruni sifat ibunya jika tidak mengantuk di kelas.Di jam ketiga pelajaran hari itu dia sudah menguap yang kesekian kalinya.
Ie mengangkat buku paket kedepan mukanya.Menutupi sosok guru yang setiap mengajar jarang sekali beranjak dari kursinya.
Jessie bahkan sampai tidak tahu saat guru itu selesai mengajar sebelum bunyi bel istirahat.Maya yang di sampingnya masih sibuk membereskan buku bukunya.
Tokk..tokk..
Jendela yang menjadi sandaran Jessie di ketuk dari luar.
__ADS_1
Jessie mengumpulkan segenap niatnya untuk menoleh