
Bandara Internasional Incheon,Korea Selatan...
Sambil merangkul istri tercinta Deny menarik koper keluar dari pintu kedatangan luar negeri.
"Mi Ran kapan sampai?" tanya Nindya pada keponakannya.Mike mengambil alih koper milik Deny dan Nindya.
"Baru tante,Jessie tidak ikut lagi?" tanya Miran setelah melepas pelukannya
"Jessie harus sekolah Miran" Deny yang lebih dulu menjawab
"Ayo sekarang kita pulang dulu,Siska pasti sedang menunggu" Mike memotong obrolan mereka agar melanjutkannya dirumah
Perjalanan lebih cepat dari yang dibayangkan.Miran banyak bercerita tentang kegiatan semasa kuliahnya di London.
Hari ini mereka hanya akan ada jadwal istirahat.Karena upacara peringatan kematian Jin akan dilaksanakan besok pagi.
----
Pagi menjelang...
Semua sudah berkumpul di depan pemakaman Jin.Reuni yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang karena mereka berkumpul di makam Jin.Dengan suasana hati yang berduka setiap tahunnya.
Hingga kini Nindya masih merasa sedih.Kehilangan orang terdekat memang menjadi hal paling buruk.
Semua mulai meninggalkan makam satu persatu.Dan tersisa Nindya seorang diri.Selalu seperti itu setiap tahunnya.
"Hay Jin" sapa Nindya
Memori disaat Jin meninggalkannya kembali berputar dalam ingatan Nindya bersamaan dengan air mata yang mulai menetes.
"Sepertinya kau bahagia sekarang?" pertanyaan itu yang selalu Nindya lontarkan semenjak ia menikah dengan Deny.Karena entah mengapa sejak pernikahannya sosok Jin tak pernah hadir dalam mimpinya lagi.Ia seperti menepati janjinya yang akan tenang ketika Nindya bahagia.Rasa bahagia bercampur sedih bagi Nindya sendiri.
"Kau tahu,bahkan Jessie saja bisa jatuh cinta denganmu meski hanya melihatmu melalui foto" Jin memang sempurna dalam segala hal,mulai dari rupa dengan segala yang ia miliki dan cinta yang diberikannya untuk Nindya.
"Ah iya,membicarakan Jessie yang sudah sebesar sekarang mengingatkanku jika kepergianmu sudah lama sekali" Nindya kembali menghela napas berat.Sudah belasan tahun bahkan.Namun kepergian Jin seperti baru beberapa bulan lalu.
"Mungkin aku amat terlambat Jin untuk mengatakan ini,namun aku ingin kau tahu jika aku sangat-sangat bahagia memilikimu dimasa lalu" Nindya tersenyum tulus
Nindya memang betah meski hanya mengobrol dengan makam Jin.Ia seolah merasakan kehadiran Jin yang tak bisa ia lihat dengan inderanya.Percayalah, Nindya memang selalu merasakan itu saat ia sedang sendirian.Dan Deny akan memaklumi Nindya selama apapun dia dimakam Jin.Lagi pula jika bukan karna Jin ia sendiri ragu bisa mendapatkan Nindya kembali setelah rasa sakit yang ia torehkan.
"Aku pergi Jin,tunggulah aku sampai kita bisa bercanda di alam lain" ucap Nindya yang berlalu meninggalkan makam Jin.Dari jauh Nindya bisa melihat Deny tersenyum saat ia menuju mobil
"Sudah?" tanya Deny
"Sebenarnya belum,aku pulang karena kakiku kesemutan" keluh Nindya yang disambut tawa oleh suaminya
"Ayo pulang" ajak Deny yang membukakan pintu mobil untuk Nindya
Deny memang cinta sejati Nindya.Buktinya meski banyak rintangan yang menghadang mereka tetap bisa bersatu.Tapi tak bisa dipungkiri juga,jika Jin adalah belahan hatinya.Orang yang paling mencintainya dan selalu tahu setiap keinginannya.Itulah definisi Jin bagi Nindya.
Dan disini mereka semua berakhir.Mini bar milik Joon yang diwariskan oleh Jin.Rumah yang seharusnya jadi milik Nindya namun ia enggan menerima.Terlalu banyak kenangan saat Nindya menolaknya dulu.
"Sudah lama sekali aku tidak pernah minum" Nindya mengamati Joon yang sedang meminum sampanye.Ia tahu lelaki itu sedang pamer padanya.
"Jangan mulai Nin,atau aku akan mendapat pukulan dari Deny" sahut Joon yang diberi anggukan oleh Deny
"Sedikit saja memangnya tidak boleh uncle ?" Park Jung Seok anak dari Joon yang seumuran dengan Jessie
"Hey,kau juga tidak boleh banyak minum" tegur Mike
"Itu juga berlaku untukmu Miran" Siska melirik pada anaknya yang sehabis bersulang dengan Jung Seok
"Siap" Mira memberi hormat sebagai tanda setuju
"Kalian ini kenapa kolot sekali" cibir Youngi yang minum sampanye sambil merangkul Gal Hee
"Hey Young,bahkan anakmu saja tak pernah menyentuh wine sama sekali.Karma apa yang ia lakukan dulu sampai-sampai terlahir sebagai anakmu" Nindya yang menyahut.Melampiaskan kekesalannya karena tak bisa menyentuh sampanye sama sekali.
__ADS_1
"Bisakah aku bertukar posisi dengan Jessie aunty " gurauan Leo membuat semua yang berkumpul disana tertawa lepas.Merasa puas karena anaknya sendiri mengolok Youngi.
--
Dan besoknya Nindya bertemu dengan Ji Eun dan Yuki.Dua orang mantan managernya dulu saat ia masih menjadi model di Korea.Karir Nindya memang bagus saat itu dengan banyak pencapaian yang ia raih.Ia bahkan sempat menyandang top model di Korea dengan bayaran tertinggi dan mampu go internasional.Nindya melepas karisnya saat memutuskan menikah dengan Deny.
"Aahhhh...Nindya" Ji Eun dan Yuki memeluk Nindya berbarengan.Momen langka mereka bisa berkumpul seperti ini.
"Mana Jessie?" tanya Yuki
"Dia sekolah" jawab Nindya
"Ah kasian dia tidak bisa ikut lagi sejak temannya meninggal" Ji Eun ikut bersedih
"Huh..aku jadi mengkhawatirkannya" Nindya lalu meraih ponselnya.Menelefon Jessie namun ponselnya tidak aktif.
"Kenapa?" tanya Yuki
"Ponselnya tidak aktif" sahut Nindya yang masih berusaha menelfonnya
"Mungkin anakmu sedang tidur" sahut Ji Eun.Tahu betul Jessie kecil seperti apa.
----
Ting..tong..
Ardit yang sedang santai diruang tamu merasa terusik dengan suara bel yang terus menerus berbunyi.
"Siapa sih" geruru Ardit.Karena jika Eri yang datang ia akan langsung masuk saja.
"Mas Ardit,itu ada tamu yang nunggu di lobby" ucap security saat Ardit membukakan pintu.
Dengan pakaian seadanya,kaos serta celana pendek dan sendal rumahan Ardit turun ke lobby menemui tamu tak diundang itu.
"JESSIE!!!" ia melihat Jessie masih menunduk sambil *** tali selempangnya.Sepertinya Jessie menangis,pikir Ardit.
"Ayo" ia memapah Jessie menuju lift.Suasana masih canggung,apalagi Jessie kesana sambil menangis.Belum pernah ia melihat Jessie seperti ini.Tentu saja Ardit kaget.
"Minum dulu" Ardit menyodorkan segelas air putih saat Jessie sudah duduk di sofa ruang tamunya
"Sorry Dit,gua gatau mau kemana lagi.Maya sama Oktav lagi kencan" Jessie langsung menjelaskan kenapa ia bisa sampai disana
"Emang lu dari mana?"
Kruyukkk..
Penduduk yang ada di perut Jessie sudah berdemo.
"Laper" ucap Jessie sambil mengelus perutnya
"Gak ada makanan,lu mau gua masakin?" tanya Ardit
"Masak sendiri aja deh gua" jawab Jessie dengan pedenya.Setelah mendapat persetujuan Jessie pun lantas ke dapur untuk berperang.
Mana mi mana? batin Jessie.Karena kemampuan memasak Jessie mentok hanya bisa memasak mi instan saja,selain itu jangan harap.
Raut muka Jessie terlihat serius saat mengikuti cara memasak yang ada dibalik bungkus mi instan.Di ruang tamu Ardit sibuk menonton tv tanpa curiga.
Setelah sepuluh menit..
"Mi?" tanya Ardit yang terheran saat Jessie membawa semangkok mi ke ruang tamu
"Mana punya gua?" tanyanya lagi
"Kan lu kaga said " jawab Jessie
"Yaudah sini gua cobain dulu" Ardit meraih garpu dari mangkok Jessie
"Jangan banyak-banyak woi" protes Jessie saat Ardit membuat gulungan besar
__ADS_1
Slurrppp..
Ekspresi Ardit sedikit aneh.
"Masih mentah ini Jes" ujar Ardit lalu menyuapi Jessie
"Lah kok bisa?" Jessie malah balik bertanya.Sepertinya ia sudah mengikuti cara memasak yang baik dan benar.
Alhasil Ardit yang harus turun tangan sendiri ke dapur demi menentramkan perut Jessie.
Masak mi aja gagal,apalagi masak yang lain batin Ardit.
BONUSSSSS!!!!
Nindya masa sma
Nindya pas mulai merintis jadi model
Nindya NOW
Mana teriakannya buat Jin
Ada yang mau kasih teriakan buat Joon?
Ini anaknya Joon yang seumuran sama Jessie.Namanya Park Jung Seok
Kalo ini Youngi
Gal Hee
Leo anaknya Youngi sama Gal Hee
Gak bisa gak teriak buat cast Mike
*aaaa...author bimbang buat nyari cast yang cocok buat Jin
Siska kakaknya Nindya
Miran
Ini yang masak mi instan aja kaga bisa
__ADS_1
Orang pertama yang nyobain masakan Jessie....Cieeee....