Ruang Hati

Ruang Hati
Ch 3


__ADS_3

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ


"...Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan..."


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Alin menambah kecepatan motornya. Bukan apa-apa, ia hanya ingin segera sampai dan beruntung jalanan cukup lancar tanpa ada kemacetan. Ia teringat pesan yang ia terima dari Bi Nining, lagi-lagi Alin menambah kecepatannya secepat yang ia bisa.


Di pesannya, Bi Nining memberitahu bahwa si kembar tak mau makan ataupun minum sebelum bertemu dan melihat Alin. Bahkan Alfa terus saja menyebut-nyebut Alin dalam tidurnya. Alin benar-benar merasa bersalah, meski ia juga tidak mengerti merasa bersalah karena apa!?


Sibuk dengan pikiran dan rasa khawatirnya, Alin hampir saja menerobos lampu merah.


•••


Sshhh


Bi Nining ikut meringis kecil sampai menghentikan gerakan tangannya ketika ia mendengar suara ringisan. Ditatapnya wanita muda didepannya itu, kentara sekali raut wajah Bi Nining yang seolah ikut merasa perih, menampakkan kengiluan di air mukanya.


Bi Nining kembali mengelap punggung juga telapak tangan wanita muda itu dengan perlahan, tak lupa ia juga meniup-niupnya pelan. Berharap sedikit mengurangi rasa perihnya.


"Maaf ya Bi, jadi ngerepotin." Ucap wanita muda itu dengan raut menyesal.


Bi Nining menggeleng pelan kemudian menjawab, "Tidak apa-apa Bu Alin, saya tidak merasa direpotin, justru saya yang minta maaf karena sudah membuat Ibu khawatir sehingga ibu jadi tidak fokus ngendarain motornya."


"Nggak Bi, ini murni kesalahan saya sendiri, Bi. Saya yang kurang hati-hati."


Ya, wanita muda itu tak lain adalah Alin. Ia terjatuh dari motornya. Alin juga tak benar-benar tau bagaimana kejadiannya, rasanya tiba-tiba saja ia sudah terjatuh. Ia terjatuh di belokan tak jauh dari rumah si kembar Alfa dan Alfi. Dibantu seorang bapak-bapak yang sengaja turun dari motornya karena kebetulan beliau melihat kejadian tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih Alin kembali melajukan motornya.


Alin berjalan tertatih disambut Bi Nining yang langsung membantunya berjalan. Juga memberondong nya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya lukanya tak terlalu parah, hanya lutut kanan dan telapak tangan kanannya yang terluka tapi ternyata tetap saja itu perih.


Akhirnya disinilah Alin sekarang, terdampar di ruang tamu bersama Bi Nining yang membantunya membersihkan luka di tangan dan lututnya. Awalnya Alin ragu menyingkap roknya, tapi setelah Bi Nining meyakinkan Alin kalau tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain Bi Nining dan anak-anak, Alin sedikit menyingkap rok hitamnya yang sekarang sedikit koyak di bagian lututnya itu.


"Anak-anak dimana ya Bi!?" Tanya Alin pada Bi Nining yang masih sibuk membersihkan lututnya.


"Oh iya, di kamarnya Bu. Nanti saya anter ke kamar anak-anak." Bi Nining kembali meniup-niup luka di lutut Alin, sampai tiba-tiba..


"Astaghfirulloh" Seru Bi Nining cukup keras. Refleks Alin memegang dadanya, menjaga jantungnya yang terasa akan jatuh ke lambungnya. Matanya membulat karena kaget.

__ADS_1


"Ke-kenapa Bi!?" Tanya Alin agak terbata.


"Eh maaf, Bu, maaf-maaf, Ibu kaget ya pasti. Saya lupa belum ambilin minum buat Ibu, maaf ya Bu" Jelas Bi Nining.


Alin menghela nafas pelan.


"Kirain saya ada apa gitu Bi, gak apa-apa Bi, nggak usah repot-repot.."


"Nggak ngerepotin kok Bu Alin, saya ambilkan minum dulu ya-"


"Sebentar Bi.." Alin menyela dan menghentikan langkah Bi Nining yang hendak berbalik ke dapur. Kembali Bi Nining menatap Alin.


"Boleh anterin dulu saya ketemu anak-anak Bi?!" Tanya Alin hati-hati.


"Boleh, Bu. Nanti biar saya ambil airnya ke kamar anak-anak. Oh iya, itu lukanya nggak di perban dulu Bu?" Bi Nining balik bertanya.


Alin tersenyum kecil sambil menggeleng. "Nggak usah Bi, luka kecil kok, kalau di perban nanti malah takutnya anak-anak pikir aku kenapa-kenapa. Padahal kan cuma luka kecil." Alin terkekeh kecil di akhir kalimatnya.


Bi Nining tersenyum sambil mengangguk.


"Kalau begitu, mari Bu saya anter ke kamar anak-anak."


"Mari masuk, Bu." Ajak Bi Nining.


"Assalamualaikum.." Ucap Alin.


"Mama!?" Panggil suara kecil dari dalam kamar. Itu si kecil Alfi. Matanya nampak berbinar di wajah kecilnya yang nampak sayu. Alin memasang senyum hangat dan segera menghampirinya. Berbeda dengan Alin yang nampak tak terkejut dengan panggilan gadis kecil itu, Bi Nining sedikit membulatkan matanya mendengar panggilan anak majikannya pada sang guru tapi kemudian ia tersenyum.


"Ma.." Panggil Alfi lagi ketika Alin sudah berada tepat di depannya. Duduk di ranjang kecil Alfi.


Sebenarnya Alin bukan tak sadar dengan panggilan Alfi, hanya saja Alin memilih memakluminya, mungkin mereka sedang merindukan mamanya apalagi anak itu sedang sakit sekarang. Dan lagi Alin memang tak keberatan dengan panggilan nya itu, toh mereka memang anak-anak muridnya yang ia sayangi seperti anak kandungnya sendiri bukan!?


"Mana jawaban salamnya, sayang!?" Tanya Alin lembut, tangannya mengusap lembut kepala Alfi.


"Waalaikumssalam.." Alfi nyengir sampai menampakkan gigi-gigi kecilnya.


"Pinter nya anak Ibu.." Sekali lagi Alin melempar senyum sambil mengusap kepala si kecil Alfi. Matanya beralih pada ranjang kecil satunya. Nampak Alfa sedang terlelap tidur. Sepertinya ia sampai tidak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


"Abang Alfa tidur ya!?" Tanya Alin retoris.


Dilihatnya Alfi mengangguk. "Kakak Alfi nggak tidur?" Tanya Alin lagi.


"Nggak, kakak mau cepet-cepet ketemu ibu.."Jawab Alfi, ia sudah memperbaiki panggilan pada guru pengajar di TK-nya itu.


"Uuu sayangnya ibu.. Sini sayang" Alin membawa Alfi pada pelukannya. Seketika suhu hangat ia rasakan.


"Ibu denger dari Bibi, katanya kakak sama abang belum pada makan ya!? Kenapa sayang hm?" Tanya Alin masih memeluk Alfi, diusap-usapnya punggung kecil itu dengan lembut. Tak ada jawaban yang Alin dapat. Rupanya si kecil Alfi menutup matanya.


Perlahan, Alin mengurai dekapannya. Perlahan pula gadis kecil itu membuka matanya lagi.


Alin mendaratkan ciuman di dahi Alfi. Seketika sensasi panas ia rasakan di bibirnya.


"Badan kamu anget banget sayang, makan dulu ya, terus minum obat.." Alin menatap tepat pada netra cokelat gadis kecil di hadapannya itu. Tak ada jawaban, si kecil Alfi hanya menatapnya sayu.


"Ibu suapin ya.." Alin mengusap lembut pipi Alfi. Terlihat gadis kecil itu mengangguk sambil mengulas senyum.


Bi Nining yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua perempuan beda generasi itu nampak senyam-senyum. Nampaknya ia melupakan niatnya yang akan kembali ke dapur untuk membawakan minuman untuk sang tamu yang tak lain adalah guru anak-anak majikannya itu. Sampai suara Alin menyadarkannya.


"Eh, iya, kenapa Bu?" Tanya Bi Nining sebab ia tak mendengar jelas apa yang dikatakan guru dari anak majikannya itu.


"Makanan buat anak-anak, Bi.." Jelas Alin sambil tersenyum.


"Oh iya nyonya- eh maksudnya Bu Alin, saya ambilkan dulu." Bi Nining tampak gugup setelah salah panggilan pada Alin. Alin tersenyum maklum dan mengangguk.


"Mau kemana, Bu?" Tanya Alfi menahan tangan kanan Alin dengan kedua tangannya ketika melihat Alin beranjak dari duduknya.


Alin tersenyum. "Nggak kemana-mana, sayang.. Ibu mau bangunin Abang Alfa, kan mau makan terus minum obat." Jelas Alin lembut.


"Ohh.." Alfi menganggukkan kepalanya pelan kemudian melepaskan tautan tangannya. Alin mengusap pipi Alin lembut sambil tersenyum lalu kemudian beralih pada ranjang kecil dimana Alfa terbaring.


"Abang, sayang.. bangun dulu yuk, kita makan dulu.." Alin mengusap-usap pipi si kecil Alfa. Nampak anak itu menggeliat pelan, tapi matanya masih enggan terbuka.


"Abang Alfa, jagoannya Ibu.. Ini Bu Alin, bangun dulu yuk sayang.." Lagi Alin membangunkan dengan sabar. Ketika ia menyebut namanya sendiri, nampak kedua kelopak mata kecil itu bergerak-gerak dan terbuka perlahan.


"Kamu bangun, sayang.." Ucap Alin sekali lagi. Suaranya berhasil menarik atensi si kecil Alfa.

__ADS_1


To be continued~


__ADS_2