Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 26


__ADS_3

"Aku bisa melihat betapa besar lubang dihatinya atas kematian Jin.Kami yang mengenalnya selalu ceria dan berisik merasa sakit melihatnya seperti itu.Dan itu selalu terulang saat ia banyak minum.Makanya Joon melarangnya,mungkin ia merasa bersalah menjadi orang pertama yang menawari Nindya minum soju" jelas Youngi panjang lebar


Youngi merasa agak khawatir saat tahu Nindya menerima tawaran Daniel.


Mungkin Nindya sudah berdamai dengan hatinya.Maka dari itu dia menerima tawaran yang diberikan Daniel.Semoga Nindya baik-baik saja.


"Kupikir ia sudah melupakan Jin" ucap Daniel yang bingung harus berkomentar apa lagi


"Belum.Dan semoga ia bisa pelan-pelan merelakan kematian Jin"


"Ya aku pun tahu betapa Jin mencintai Nindya"


"Semua bisa di lihat dari cara Jin melihat dan memperlakukan Nindya"


Takdir sudah di gariskan oleh pemilik kehidupan.Tak ada satupun yang dapat melawan kuasa-Nya.Hal yang terjadi sudah pasti yang terbaik bagi ciptaan-Nya.


"Sepertinya sekarang kau sering minum" tanya Joon saat di perjalanann pulang


"Sedikit"


"Jangan minum jika tidak ada aku atau Youngi"


"Hmmmm" matanya terasa berat


"Kapan syutingnya akan dimulai?" tanya Joon


"Sepertinya lusa"


"Lokasinya dimana?" tanya Joon


"Kau mau datang?" Menoleh


"Tentu saja tidak" jawab Joon


"Lalu untuk apa bertanya.Kau ini" berdecak sebal


"Akan kuusahakan"


"Tidak perlu Joon,lokasinya jauh"


---


"Nindya" sapa Daniel saat bertemu Nindya di supermarket


"Apa yang kau beli?" tanyanya


"Beberapa sayuran" Daniel mendorong kereta belanjaannya mengiringi Nindya


"Kau sendiri?" tanya Nindya

__ADS_1


"Iya.Kau tidak keberatan jika kutemani?"


"Terserah saja" Nindya kembali mendorong kereta belanjaannya


"Besok pagi mau aku jemput?" tawar Daniel


Nindya mengerutkan dahi


"Tidak perlu.Aku sudah ada janji dengan Youngi"


"Aku sudah selesai belanja.Sampai jumpa besok di lokasi" Daniel melambaikan tangan


Diam-diam ada paparazi yang memotret Nindya dan Daniel bersamaan.


---


Youngi menemani Nindya menuju lokasi syuting.Cukup jauh memang namun ia memilih untuk menyetir sendiri.Ji Eun yang duduk di belakang tidur karena kurang tidur semalaman.


Setelah empat jam yang melelahkan akhirnya mereka sampai juga.Pengambilan gambar akan dilakukan beberapa saat lagi.Nindya pun langsung di make up dan berganti kostum.Sejauh ini ia belum melihat Daniel sama sekali.


"Action!" ucap sutradara


Daniel tengah duduk di bawah pohon rindang sambil memainkan gitarnya.Dari jauh ia melihat Nindya yang bersepeda mengenakan dress selutut berwarna pastel.Rambutnya yang lurus dan panjang  terurai membuatnya begitu menarik perhatian Daniel.Nindya tersenyum saat menyadari Daniel yang memandanginya terus menerus.


Karena rasa penasarannya akan siapa wanita yang ia lihat Daniel pun memutuskan untuk mengikutinya.Memasukkan gitar ke jok mobil bagian belakang.


"Oke kita isrirahat dulu lima belas menit" tambahnya.Satu adegan yang sebenarnya diulang sampai lima kali.


"Minum Nin" Ji Eun menyodorkan air dingin


Nindya tersenyum lalu meraihnya.


"Gimana lukanya sakit?" tanya Youngi.Saat pengambilan gambar Nindya memang sempat jatuh.Beruntung hanya lecet saja.


"Lecet doang kok"


"Nindya,Daniel langsung ke sana kalo udah selesai"


"Buru-buru amat sih" ucap Youngi


"Keburu siang ini" ia melirik jam pada arlojinya.Setelah memoles bedak lagi ia segera bergegas.Lebih cepat lebih baik dan ia bisa menyelesaikan syuting.


"Action!"


Entah takdir apa yang membuat keduanya kembali bertemu di lokasi yang berbeda.Nindya yang tengah berada di sebuah kafe melihat Daniel sedang bernyanyi diatas panggung.Seiring berjalannya waktu mereka menjadi semakin dekat satu sama lain.


Sampai pada suatu hari dimana Daniel tidak lagi bernyanyi di kafe tersebut.Hilang tanpa kata mengucap salam perpisahan pada Nindya.Hari-hari yang berubah semakin sepi dan sunyi.Nindya yang masih setia menanti dan duduk di kursi yang sama setiap malam.Orang-orang pergi dan datang ke kafe,menyisakan ia yang duduk dengan tatapan kosong menatap sisi jalan di seberang kafe.Pikiran Nindya malah teralihkan mengingat kejadian dimana ia menikah dengan Jin.Kenangan itu membuatnya tersenyum.Ada rasa bahagia setiap mengingatnya.


Tak lama ekspresinya berubah menjadi sendu.Teringat di momen saat ia mengetahui Jin sakit kanker.Menemaninya setiap waktu.Bercerita tentang banyak hal yang tak pernah mereka bahas sebelumnya.

__ADS_1


Lalu ingatannya sampai dimana saat Jin meninggal dalam pelukannya.Hatinya perih seketika.Bulir-bulir air mata mulai turun membasahi pipinya.Hanya dua tetes air mata yang jatuh namun tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan.Nindya terdiam menatap panggung.Hal yang ada dalam bayangannya bukan lagi saat ia syuting.Tapi kenangan saat Jin menyanyikan sebuah lagu dimana mereka merayakan malam pernikahan mereka dulu.Ada rasa sakit dalam kenangan bahagia yang kembali muncul.


Di sudut ruangan Youngi dan Daniel menatap iba pada Nindya yang terlihat begitu terluka.Youngi tahu persis ekspresi Nindya yang ia tunjukkan.Itu adalah rasa kehilangan ia akan Jin.Luka yang kembali terbuka dengan mudahnya.Luka yang kembali basah hanya dengan mengingat namanya saja.


"Cut!" membuyarkan lamunan Nindya akan ingatan tentang Jin.Dihapusnya jejak air mata yang mulai mengering dengan jarinya.


Prok...prokk..


"Bagus..bagus"


"Perfect" ucap sang sutradara lagi


Seorang kru meminta Nindya untuk melihat hasil rekaman.Nindya melihat betapa sendunya wajah yang ia perlihatkan.


"Aktingmu bagus Nin" puji Daniel


"Lebih bagus dari dugaanku" tambah Youngi yang memaksakan seulas senyum


"Biasa saja" namun ia mengucapkannya dengan nada sombong.Youngi langsung menyentil jidat Nindya.


"Sakit" rengeknya


"Ayo besok kutemani ke makam Jin" Youngi merangkul pundak Nindya dengan satu tangannya


Nindya mengerti jika Youngi menyadari kepedihannya.


"Ayo kita pulang" Youngi mengambil tas selempang milik Nindya yang dibawakannya


"Sampai jumpa besok" ucap Youngi pada Daniel


Daniel membalas lambaian tangan Youngi.Nindya hanya tersenyum sebagai salam perpisahan.


Youngi melirik beberapa kali pada Nindya yang memejamkan matanya.Ia tahu wanita itu hanya sedang pura-pura tidur.


"Sampai kapan kau pura pura tidur?" sindir Youngi


"Kau tahu?" tanya Nindya


"Aku mengenalmu bukan hanya satu atau dua tahun Nindya" ucapnya


"Istirahatlah.Besok sore aku akan kesini bersama Joon"


"Bukannya kau ada pemotretan?"


"Itu urusanku.Cepat tidur jangan banyak melamun atau menangis lagi"


Nindya pun turun dari mobil Youngi.Siska sudah berdiri didepan pintu sejak tadi menunggu kepulangan adiknya itu.


Besok Nindya dan yang lainnya akan berkunjung kerumah Miyang untuk memperingati hari kematian Jin.

__ADS_1


__ADS_2