Ruang Hati

Ruang Hati
#35 Patah Hati 2 (Bertemu kembali)


__ADS_3

Deny melempar cincin pemberiannya ke tengah air mancur.


"Deny!apa yang lu lakuin?!" tanya Nindya dengan nada sedikit tinggi


"Maafin aku Nin" ucap Deny sebelum ia meninggalkan Nindya sendirian di dekat air mancur.


Nindya menangis sejadi-jadinya saat punggung Deny semakin menjauh.Rasanya seperti mimpi,ia tidak menyangka seperti ini akhir hubungan mereka.


Nindya mengusap kasar jejak air matanya.Langkah kakinya semakin cepat menuju air mancur.Dingin.Saat kakinya menyentuh air.Tidak.Ia tidak boleh menyerah hanya karena dingin.Ia harus menemukan cincin itu dan mengerjar Deny untuk meyakinkannya.


Ia harus cepat sebelum Deny pergi ke bandara.


Hampir satu jam Nindya berkutat di kolam air mancur.Mencari kesana kemari cincin yang dibuang oleh Deny.


Ketemu.Nindya menangis saking senangnya dapat menemukan cincin itu.Karena terlalu buru-buru Nindya sampai jatuh saat berusaha keluar dari air mancur.Dress yang ia kenakan sedikit sobek.Perih.Ternyata lututnya sedikit berdarah.


Luka itu tidak terlalu ia perhatikan.Nindya berlari sekuat tenaga keluar dari taman.Ia sedikit tidak sabaran menunggu taksi.


"Bandara pak" ucap Nindya singkat saat masuk kedalam taksi.


Sang sopir ingin menegur pakaian Nindya yang membasahi kursi penumpang.Namua ia mengurungkan niatnya saat melihat raut wajah Nindya yang panik dengan baju yang sudah basah kuyup.


"Tolong pak.Bisa lebih cepat"


"Cepat sedikit pak" hanya dua kalimat itu yang terus ia ulang-ulang selama perjalanan.

__ADS_1


"Stop pak" ucap Nindya saat sampai dibandara.Tak lupa ia memberikan uang seratus dolar tanpa berniat menunggu uang lebihnya.Nindya membuka pintu taksi.Ia berlari kecil menuju terminal keberangkatan luar negeri.


Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Deny.Langkahnya terhenti saat melihat Deny tengah duduk di kursi bandara.


"Den" suara Nindya lirih memanggil nama Deny


"Nindya?" Deny sangat kaget mendapati pakaian Nindya yang setengah basah dengan luka di lututnya


"Please Den jangan pergi.Ini aku nemuin cincinnya"Nindya membuka tangan menunjukkan cincin yang sudah dibuang.


Deny menghela nafas berat.


"Nin.Sekalipun kamu nemuin cincinnya.Itu gak akan ngerubah keputusan aku"


"Kenapa Den.Aku gamau pisah"


"Gak Den.Aku gamau" suara Nindya terdengar putus asa


"Maaf Nin.Cuma itu yang bisa aku ucapin sama kamu"


"Aku harus pergi sekarang"


"Jangan tinggalin gua Den" Nindya mencoba menahan langkah Deny dengan memegang tangannya.


"Lepas Nin" Deny melepas pegangan tangan Nindya perlahan

__ADS_1


"Den.."


"Deny" panggilan Nindya tidak dihiraukan sama sekali oleh Deny.Ia berjalan terus tanpa menoleh sedikitpun.


"Jahat.Kamu jahat Den" ucap Nindya saat sudah tidak melihat sosok Deny.


Ia terduduk.Kacau.Tubuhnya terguncang akibat tangisannya yang semakin menjadi.Sekarang ia menjadi bahan tontonan untuk orang yang berlalu lalang.Tidak perduli.Nindya sudah tidak perduli dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan.


Sejak tadi ada seorang lelaki yang terus memperhatikan percakapan mereka.


"Young.Aku tutup telefonnya sebentar.Ada hal yang sangat mendesak" Jin menutup pembicaraannya ditelefon.


Ia beranjak dari tempat duduknya.Melangkahkan kaki menghampiri Nindya yang masih menangis.


"Hey kau" sapanya saat sudah berdiri didepan Nindya


"Kau?" Nindya memandang Jin


"Apa yang.." belum sempat ia bertanya.Tubuh Nindya sudah ambruk kepelukannya.


"Bangun.Kau membuat kita menjadi bahan tontonan" Jin mengguncang bahu Nindya namun tak ada jawaban.


"Astaga badan mu panas sekali" Jin lalu menelfon supirnya agar lebih cepat menuju bandara.


"Ayo kerumah sakit" baik tuan

__ADS_1


"Jangan-jangan.Kita kerumah saja" Jin mengganti perintahnya.


__ADS_2