
RH S2 12
Nindya yang tergesa-gesa membuat Joshua khawatir.
"Ada apa nyonya" menahan pintu mobil
"Aku ada syuting Jo" menautkan alisnya.Melakukan akting sebaik mungkin.
"Oh..maafkan saya nyonya" jadi apa Nindya sudah layak untuk beradu akting dalam drama
Bukannya menuju rumah sakit Nindya malah menuju kafe untuk menemui temannya yang berprofesi sebagai dokter.
"Ada apa ini?" tanya Kang pada Nindya
"Kau tahu ini obat apa" menyodorkan botol kecil yang hanya berisikan satu tablet.Kang menautkan alisnya.
"Milik siapa?" mengantongi obat kedalam saku jasnya.Nindya tak merespon "Akan kupastikan sore kau bisa mendapat hasilnya" meminum kopi sampai tandas "Aku pergi dulu" bangkit dari kursinya
Selepas kepergian Kang ia malah tenggelam kedalam pikirannya sampai berjam-jam dengan posisi yang sama,duduk dengan pandangan keluar kafe memandang orang yang berlalu-lalang.
"Aku sudah mendapatkan hasilnya" Nindya tahu ada sesuatu yang aneh dari suara Kang.Namun Nindya berusaha menepisnya dan bergegas menuju rumah sakit tempat Kang bekerja.
Jarak kafe menuju rumah sakit hanya terpisah jalan raya.Jadi Nindya bisa segera mengetahui hasilnya secepat mungkin.
"Jadi penyakit apa yang diderita oleh Jin" langsung ke inti permasalahan.Kang yang baru tahu jika obat yang diberikan oleh Nindya adalah milik suaminya tak mampu menahan keterkejutannya.
"Jadi kau tidak tahu?" memastikan hal yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.Bahwa Jin merahasiakan penyakitnya dari Nindya.
"Aku merasa tidak berguna" keluh Nindya.Menahan sesak dihatinya yang hampir meledak.
"Bujuk dia untuk melakukan pengobatan terbaik" Kang menyerahkan amplop coklat berukuran besar lalu meninggalkan Nindya disana seorang diri.
"Kenapa hidupmu menyedihkan" bersandar pada pintu setelah menutupnya.Iba dengan nasib yang dialami Nindya.
Sedangkan didalam ruangan Nindya sudah menyiapkan hatinya untuk setiap kemungkinan terburuk yang akan diketahuinya.
Nindya mulai mengeluarkan kertas dari dalam amplop.Meski ia tidak paham dengan semua yang tertuliskan disana, Nindya tetap membaca setiap rincian yang ada.Kata demi kata ia baca.Sampai akhirnya Nindya menemukan dua kata yang membuatnya seperti dihantam sebongkah batu besar.
Kanker otak stadium dua.
Satu air mata yang berhasil lolos diikuti air mata yang selama beberapa waktu ia tahan.
Suster yang menghampiri Kang didepan pintu merasa bingung dengan sikap Kang yang menempel di bagian luar pintu.
"Dok.." sapanya melihat ekspresi wajah Kang agar lebih jelas
"Jangan biarkan siapapun masuk kedalam ruangan ku" titahnya lalu melangkah menjauhi ruangannya
"Aneh" belum sempat suster itu beranjak ia terkejut saat melihat Nindya yang keluar dengan mata Nindya dan kertas yang ada ditangannya.
"Se.." sapaannya terhenti kala melihat Nindya yang ia tahu ramah berwajah suram
"Ada apa sebenarnya" penasaran dengan situasi yang terjadi
__ADS_1
Nindya kembali melajukan mobilnya diatas batas maksimal.Sampai-sampai ia hampir mengalami kecelakaan karena tidak fokus.
Nindya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.Mencari satu nomor yang ingin ia hubungi.
"Den" suara Nindya bergetar demi menyebut nama orang yang pertama kali muncul di otaknya
"Apa yang terjadi?" panik tingkat tinggi.Orang tua Deny sampai menoleh mendengar intonasi Deny
"Apa salahku?" tangis Nindya pecah juga.Deny yang mendengar suara Nindya hanya terdiam.
"Apa semua baik-baik saja?" balik bertanya.Berjalan keluar rumah.
"Aku tutup dulu teleponnya" mengakhiri sambungan telepon tanpa penjelasan.Deny tak mungkin begitu saja terbang ke Korea seperti dulu untuk menemui Nindya begitu saja.Kini ia sudah menjadi milik orang lain.
"Apakah itu Nindya?" suara mamanya yang berdiri dibelakang Deny.Ia hanya mengangguk perlahan.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi?" menarik lengan Deny khawatir "Ayo susul dia.Mama takut ada masalah besar" Deny menggeleng karena itu bukan waktunya ia harus ikut campur
Dadanya terasa sesak.Apakah yang dirasakan Nindya lebih sakit dari ini.Pertanyaan itu terus terngiang dikepala Deny dengan rasa bersalah yang semakin membesar.
Kembali ke Korea lagi..
Tokk..tok..
Kaca pintu mobil Nindya diketuk.
"Kau sedang apa?" nada khawatir dari Youngi.Tak sengaja melihat mobil Nindya menepi dijalan
"Youngi.." membuka pintu mobil
"Apa yang sedang kau lakukan?" bisa-bisanya ia menyetir dalam keadaan kalut seperti ini.
"Jin" ucap Nindya lirih
"Apa dia selingkuh!" tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Hey!mana mungkin!" memukul lengan Youngi "Tapi kurasa itu lebih baik" tambah Nindya
"Jangan berputar-putar.Langsung ke inti saja" melotot dengan nada kesal
"Jin sakit" enggan menunjukkan ekspresi sedihnya pada Youngi
"Jangan bercanda.Jin mana pernah sakit" mengira Nindya sedang menjahilinya
"Lihatlah" menyerahkan hasil laboratorium obat yang diambil Nindya diam-diam dari dalam laci yang Jin kunci
"Ini tidak lucu Nin"
"Apa kau pikir aku bercanda"
"Aku akan mengantarmu pulang" tawaran Youngi ia tolak karena Nindya tak ingin membuat Jin mencurigai kepulangannya bersama Youngi.
Saat Nindya menghentikan mobilnya didepan rumah kepala pelayan Hong dengan sigap membukakan pintu mobil Nindya.
__ADS_1
"Selamat malam nyonya" sedikit heran karena tidak biasanya Nindya mengabaikan sapaannya
"Apa nyonya sudah tahu?" celetuk pelayan yang berdiri dibelakangnya karena tak mampu menahan rasa penasarannya
"Diamlah" tegur kepala pelayan Hong
Nindya langsung menuju kamar.Berusaha memperbaiki moodnya sekuat yang ia bisa.Saat tidak menemukan Jin didalam kamarnya.Nindya segera beralih menuju ruang kerja untuk mencari keberadaan Jin.
Dan benar saja.Jin memang ada disana.Dengan kemeja yang digulung sampai siku serta menggunakan kacamata,Jin tampak fokus dengan laptopnya.
"Sudah malam Jin" tegur Nindya begitu melihat Jin
"Sebentar lagi sayang" tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.Nindya masuk lalu duduk di sofa.Mengamati Jin yang berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
"Aku akan kembali ke kamar" menurunkan kaki dari sofa.
"Nindya" panggil Jin saat istrinya itu hendak membuka pintu.
Hening.
Namun keduanya tetap berada diposisi yang sama.
Tak..tak..tak..
Langkah kaki Jin menghampiri Nindya.
"Maafkan aku" memeluk Nindya dari belakang saat istrinya hendak keluar.
"Untuk apa?" bersikap seolah tidak ada yang ia ketahui
"Aku mencintaimu" Nindya langsung membalik badannya menghadap Jin.Memberi kecupan sekilas lalu menunjukkan senyum terbaiknya.
"Aku juga mencintaimu"
"Ayo tidur" ajak Nindya yang mendahului Jin
Keduanya bergandengan tangan menuju kamar.
Sampai saat mereka hendak tidur Jin belum juga mengatakan kebenarannya atau Nindya yang berinisiatif menanyakan tentang hasil yang ia dapatkan.
Malam semakin merangkak naik,namun Nindya tak kunjung bisa tidur.
Jin yang tidur disebelahnya menyadari kegelisahan Nindya.Ia mengubah posisinya dengan memeluk Nindya dari samping.
"Kenapa?" tanyanya sambil menciumi bahu Nindya
"Jin" hampir terdengar seperti orang yang sedang berbisik
"Hemmm" sahutnya semakin mengeratkan pelukannya
"Tidak adakah yang ingin kamu sampaikan?"
"Ada" kembali menciumi bahu Nindya
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah tahu ya" ucapnya