
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya biar authornya makin semangat..
Selamat membaca..
Semoga suka ♡♡♡
----
Sebenarnya Jessie tidak kesiangan.Tapi karena macet ia jadi telat masuk sekolah.Gerbang sekolah sudah di tutup lima menit yang lalu.Satpam yang biasa membantunya masuk saat tidak ada guru kedisiplinan,entah kemana.Jangan kira Jessie kehilangan akal.Ia berlari ke samping sekolahan.Berniat memanjat dinding didekat parkiran karena lebih rendah.Terlebih situasi disana paling aman menurutnya.
Jessie melempar tasnya lebih dulu.Mulai menaiki tembok saat mendapat posisi pas untuk memanjat.
"Woiii...maling..woiii" teriak Ardit yang memergoki Jessie memanjat tembok sekolah
"Bac*t!" Jessie membungkam mulut Ardit saat kedua kakinya menapak tanah.
"Shittt..tangan lu bau wc!" umpatnya setelah melepas tangan Jessie
"Emang gua gak cuci tangan" sahut Jessie mengiyakan ucapan Ardit.Biar saja ia salah paham,Jessie malas mendebatnya.
Jessie lalu mengambil tasnya yang masih tergeletak ditanah.Membersihkan debu yang menempel di tasnya.
"Kemana lu?" tanya Ardit saat Jessie melangkah pergi.Jessie menoleh,alisnya saling bertaut.
"Kelas lah,kemana lagi emang?" Ia malah balik bertanya pada Ardit.Jangan bilang ia berpikiran Jessie hendak bolos setelah kerja kerasnya memanjat tembok sekolahan.
"Siapa tau lu mau ke wc buat cuci tangan" sahut Ardit mengikuti langkah Jessie.
Jessie berhenti mendadak,Ardit sampai kaget karenanya.
"Untung rem gua pakem,coba kalo blong" Jessie merasa lelaki satu ini sangat menjengkelkan
"Lu pikir gua pengen banget gitu ditabrak lu" Jessie memandang Ardit dari atas sampai kebawah,menatap remeh padanya.
Ditatap seperti itu Ardit jadi ikut melirik penampilannya sendiri.Apa yang salah pikirnya.
"Gausah sok ganteng,cakepan juga mang Jaya yang jual es cendol depan perumahan gua" ucap Jessie meninggalkan Ardit di parkiran
"Sial!Gua dibandingin sama tukang cendol" ucapnya menatap punggung Jessie yang mulai menjauh.Ia mengikuti langkah Jessie,bukan karena ingin membuntuti tapi karena mereka memang satu kelas kan.
Jessie masuk ke kelas.Duduk dibangkunya lalu mengeluarkan beberapa buku sebelum guru pengajar masuk.Jessie sama sekali tidak melirik saat Ardit melewati bangkunya.Lain dengan Maya yang melihat Ardit mulai dari masuk kelas sampai ia duduk dibangkunya.
"Tangan lu kenapa ini Jes?" tanya Maya panik saat melihat goresan di siku Jessie
"Kenapa bisa berdarah ya?" ia tidak tahu kapan mendapatkan luka ini
Pak Handoyo masuk ke dalam kelas.Memperhatikan Maya yang masih berisik di bangkunya.
"Maya" panggilnya dengan suara lantang
Seisi kelas menoleh padanya.
"Eh iya pak" tidak sadar jika pak Handoyo sudah masuk kedalam kelas
"Ini pak tangan Jessie berdarah" ia menunjuk siku Jessie.Luka gini doang batin Jessie.Ardit yang tadi bersamanya saja tak tahu jika Jessie terluka.
"Ke uks sana Jes,diobatin lukanya"
"Gak liat kamu,Maya panik begitu" ujar pak Handoyo.
Si Maya bikin seisi kelas heboh aja,batin Jessie yang mulai bangkit dari bangkunya.
__ADS_1
Ia berjalan menyusuri koridor menuju ruang uks.Sambil duduk di tepi ranjang ia mulai membuka kotak obat.
Ken yang tak sengaja melintas melihat Jessie langsung menyapanya.
"Kenapa Jes?" tanya Ken dari ambang pintu
"Oh ini luka kecil kak"
"Tadinya gamau diobatin.Tapi gara gara Maya panik,pak Handoyo jadi nyuruh ngobatin" ia mengambil alkohol untuk membersihkan lukanya
"Sini gua bantu" Ken mendekat,merebut alkohol dari tangan Jessie.Menuangkannya kekapas untuk membersihkan luka pada siku Jessie.
"Sakit?" tanya Ken
"Gak" meski perih ia berusaha menahannya.Jessie tak mau dianggap perempuan lemah dimata siapapun.
"Udah nih" Ken selesai memasang plester di siku Jessie
"Kok udah sih" kata kata itu spontan saja keluar dari mulutnya
"Kenapa Jes?" Ken takut salah dengan pendengarannya
"Oh udah" Jessie berlagak mengulangi perkataannya.Padahal jelas bukan itu yang Ken dengar barusan.
Ken mengembalikan kotak obat ke tempatnya.Melihat Jessie yang hendak turun dari ranjang,ia lantas membantunya.
"Yaelah Ken,kayak luka parah aja.Lecet doang ini" ucap Jessie memperlihatkan sikunya yang diplester.
Ken menggaruk kepalanya.
Iya juga ya,kenapa ia harus merasa Jessie kesulitan turun dari ranjang.
Ken mengantar Jessie sampai ujung kelasnya.Masih mengamati gadis itu yang mulai berjalan masuk kedalam kelas.
"Ngopi Jes kalo ngantuk ma" ujar Kikan yang duduk dibelakangnya
"Hoammmm...berisik lu" sahut Jessie yang sekilas menoleh kebelakang
Jessie mengeluarkan ponsel dari saku,ia pun melepas ikatan pada rambutnya.Alasannya agar tidak ketahuan jika ia sedang mendengarkan lagu menggunakan headset.
Setengah jam berlalu situasi masih aman.Lalu petaka datang saat mata pak Handoyo melihat Jessie menyelipkan rambutnya ke kuping.
Sial,umpat Jessie saat pak Handoyo berkacak pinggang memperhatikannya.
"Jessie!" teriak pak Handoyo
"Ashiap pak" kenapa mulutnya tak bisa dikondisikan.
Beberapa murid menertawakan sahutan Jessie.Dan bergeser ke bangku paling belakang.Tempat dimana Ardit duduk,ia tak paham dengan situasi yang terjadi.
Sekedar info,sebenarnya Ardit itu tipikal orang yang cuek dan masa bodoh.Namun karena kekonyolan Jessie membuat dirinya sering memperhatikan gadis itu.
"Maju kedepan" titah pak Handoyo.
Jessie berargumen dengan Maya sekilas.Memprotes titah pak Handoyo pada temannya yang tak andil dalam kesalahan yang ia perbuat.
"Maju lah" sahut Maya yang ikut mempersalahkan dirinya.
Berat hati Jessie melangkah kedepan.
"Nyanyiin lagu yang kamu dengerin barusan" ucap pak Handoyo yang mulai duduk dikursi
__ADS_1
"Yakin pak?" ia balik bertanya.
Pak Handoyo hanya mengangguk.
"Gak mau lagu yang lain aja pak?" tawarnya.Sempat sempatnya ia bernegosiasi saat kepergok mendengarkan lagu ditengah jam pelajaran berlangsung.
Pak Handoyo memelototinya.
Membuat Jessie lantas mengambil napas dalam dalam sebelum mengeluarkan suara.
Ciwit tamang suck seed neung
mantang midi suck seed neung
tuman manyang jahoy
ciwit barom mahoy
tahak ramaja suay rajasuay midigan
hey ......suck seed (Ost. Suckseed film thailand)
Author : sangat disarankan untuk nonton ending dari film suckseed.Biar kalian juga tahu gimana ekspresi author pas nulis part ini
"Stop..stop" pak Handoyo menghentikan lagu yang dinyanyikan Jessie.Padahal Jessie sudah menyanyikannya dengan penuh penghayatan.Apa salahnya coba,pikir Jessie.
"Kenapa pak?" tanya Jessie menatap gurunya tanpa dosa.
Seisi kelas sudah mulai tertawa sejak kata pertama yang ia ucapkan.Lalu tawa mereka meledak saat Jessie meneriakkan kata Suckseed dengan suara lebih keras.Tawa paling kencang ia dengar dari bangku paling belakang.Ardit sudah terpingkal pingkal di bangkunya.Melihat ia sampai memegangi perutnya Jessie malah jadi kesal.Puas banget ketawanya.
"Duduk sana duduk" pak Handoyo menyuruh Jessie kembali ke bangkunya.Memijat pelipisnya yang mulai nyeri.
"Gak nyesel nih pak?" lagi lagi berusaha meyakinkan gurunya jika ia mampu bernyanyi dengan baik.Gelengan kepala pak Handoyo akhirnya membuat Jessie menyerah juga.
Muka Maya sudah semerah tomat saat ia kembali menuju tempat duduknya,meminta Maya sedikit bergeser untuk memberinya jalan.Duduk di dekat jendela memang menjadi tempat terfavoritnya dikelas.
"Parah lu Jes,gua pikir lu bakal nyanyi apa tadi" ucap Maya yang masih berusaha meredam tawanya
"Dia sendiri yang minta gua nyanyiin lagu yang gua dengerin" sahut Jessie
"Boong dikit kek,jangan jatohin pamor sendiri" ucap Maya yang sudah berhasil meredam tawanya
"Baim tu gak bisa bohong tante" sahut Jessie dengan suara yang dibuat buat.
"Aduh sakit" Maya menjitak kepala Jessie karena panggilan tante yang keluar dari mulutnya
"Lagian cetar membahana begini dipanggil tante" gerutu Maya
"Jessie!Maya!" tegur pak Handoyo dengan suara yang lebih keras.Keduanya langsung diam.Maya tak mau dihukum seperti yang sudah sudah.Cukup Jessie yang dibuat malu hari ini.
Jessie
Ardit
__ADS_1
Ken