Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 10


__ADS_3


Sudah hampir satu minggu Jin belum juga pulang.Nindya tetap merasa khawatir meski komunikasinya dengan Jin terbilang lancar.


Hampir setiap malam Nindya selalu terpikirkan hal itu.Tak jarang ia sampai ketiduran di sofa ruang tamu dengan tv yang masih menyala sampai beberapa kali.


Kabar itu sampai juga ke telinga Jin.Kepala pelayan dirumahnya menyampaikan pada Joshua jika nyonya mereka selalu gelisah setiap malam menunggu kepulangan Jin.


"Kondisimu belum stabil Jin" cegah dokter Lee saat menemui Jin dikamar rawat inapnya


"Paman pikir aku bisa tenang mendengar istriku yang terus menunggu kepulangan ku" sahut Jin mengancingkan kemejanya


"Kenapa tidak beritahu dia saja.Dengan begitu kau bisa berobat dengan tenang" usul dokter Lee


"Sudah ku katakan sebelumnya paman,aku tidak bisa melihat raut wajah sedih Nindya" Jin selesai mengancingkan semua kancing kemejanya


"Aku pulang dulu paman" Jin membungkuk sopan lalu bergegas keluar kamar


Hening diperjalanan.Joshua memilih diam seperti biasanya saat mengawal kemanapun Jin pergi.


"Apa menurutmu aku salah Jo sudah merahasiakan ini dari Nindya?" Jin memecah keheningan dengan pertanyaan yang ia ajukan pada asistennya.Semenjak ia mengetahui akan kanker yang bersarang di otaknya Jin sering melontarkan pertanyaan pada Joshua.


"Mungkin sebaiknya nona muda mengetahuinya tuan" setelah sekian lama ia baru mengutarakan pendapatnya


"Aku benci melihatnya menangis Jo.Meski hanya sekedar menemaninya saat menonton drama...Apalagi jika aku yang menjadi penyebab air matanya"


Mobil Jin memasuki halaman rumahnya.Setelah lima menit barulah ia benar-benar sampai didepan pintu rumahnya.


"Silahkan tuan" kepala pelayan Hong membukakan pintu untuk Jin


"Apa Nindya sudah tidur?" tanya Jin


"Sejak satu jam yang lalu tuan" sahutnya


Tak ada percakapan lagi.Jin segera menuju kamarnya untuk memastikan kondisi Nindya.


Hatinya terluka melihat Nindya yang tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala.Dipandanginya wajah Nindya lekat-lekat dan ternyata ada sisa air mata yang mengering.Membuat Jin semakin merasa bersalah.Puas mengamati wajah Nindya,Jin membaringkan tubuh istrinya di ranjang setelah mematikan tv.


"Jangan seperti ini lagi lain kali" gumam Jin merapikan anak rambut Nindya


"Aku akan sembuh sebelum kamu tahu semuanya" janji yang ia buat namun ragu akan kepastiannya


"Aku sangat mencintaimu Nindya" ucap Jin seraya mencium kening Nindya dengan segenap perasaannya.Cukup lama hingga ia akhirnya menarik diri dari ciumannya


Nindya yang sedang berkelana di mimpinya secara tidak sadar membalas pelukan Jin yang merebahkan badannya sambil memeluknya erat.

__ADS_1


Melepas rasa rindu yang juga membuat kekhawatirannya sedikit demi sedikit menguap.


Cintanya yang begitu besar pada Nindya membuat Jin memilih menanggungnya seorang diri tanpa ingin membagi.Bukannya ia egois tidak sama sekali.Ia hanya tak mau melihat kesedihan di raut wajah istrinya.Itu saja.Jadi biarkan ia berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa melibatkan istrinya.


Yang perlu Nindya pahami hanyalah cintanya yang tak bisa diukur dengan apapun.


----


"Morning kiss" Jin mengecup bibir Nindya mesra


"Jin!" Nindya mengeratkan pelukannya


"Kau membuatku sesak nafas sayang" Jin berusaha melonggarkan pelukan istrinya


"Tidak.Jika aku lepas kau akan pergi lagi" tolak Nindya yang semakin mengeratkan pelukannya


"Astaga" teriak Nindya saat merasakan pergerakan dibagian bawah Jin


"Kau harus tanggung jawab" ucap Jin merubah posisinya diatas Nindya


Ciuman demi ciuman Jin berikan pada bibir Nindya selembut mungkin.Menghangatkan pagi mereka di musim dingin.


"I love you..." Ucap Jin ditengah ciuman panas mereka


Bagian atas Nindya dan Jin sudah tidak mengenakan apapun.Melihat bagian favorit Jin terekspos membuat nafsunya semakin meningkat.


Nindya melengkungkan tubuhnya kedepan saat Jin memberikan sentuhan-sentuhan sensitif.


"Sebut namaku.." titah Jin melihat Nindya yang begitu menikmati permainannya.


Tangan Jin meraih laci meja untuk mengambil sesuatu.


"Kenapa?" tanya Nindya yang tahu jika suaminya mengambil pengaman


"Karena aku ingin menikmati masa-masa ini lebih lama" padahal hal itu ia lakukan karena tidak ingin hal yang sama menimpa anaknya


"Ahh.." erang Nindya saat satu sentakan Jin berhasil menerobos masuk miliknya


"Kau sempit sekali sayang" racau Jin ditengah gerakannya memajukan mundurkan juniornya.Menyentak-nyentakkan miliknya menyentuh titik terdalam kenikmatan milik Nindya


Jin membalikkan tubuh Nindya berada diatas.Istrinya itu dengan lihai mengambil alih peran untuk mencapai puncak kenikmatan miliknya.


Nindya sudah mendapat pelepasannya.Jin kembali memposisikan dirinya diatas.Mempercepat gerakannya saat ia hampir mencapai puncaknya.


"Ahh.." Jin sudah mendapatkan pelepasannya.Ia ambuk diatas Nindya.Saling berbagi keringat melalui sentuhan kulit mereka.

__ADS_1


Napas keduanya memburu.Saling berlomba-lomba meraup oksigen sebanyak mungkin.Pagi yang melelahkan.


"Aku mencintaimu.." ucap Nindya memeluk Jin dari samping


"Aku lebih mencintaimu" jawab Jin membalas pelukan istrinya


Jin membopong tubuh Nindya menuju kamar mandi.Mereka harus membersihkan diri setelah kegiatan mereka.


Nindya membantu Jin membersihkan dirinya.


"Bekas apa ini Jin?!" Nindya tetap menanyakannya saat mengetahui itu bekas selang infus


"Oh..saat di China aku suntik vitamin" Jin berusaha senatural mungkin mengatakan itu


"Kau yakin?" selidik Nindya


"Tentu" jawab Jin yang berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menciumi leher Nindya lagi


"Hentikan Jin aku ada janji menghadiri pemutaran film perdana Krystal" anggota girlband yang sedang naik daun karena bakat aktingnya


"Kenapa kau tidak mencoba bermain film" tanya Jin disela kegiatannya tangannya memasuki inti Nindya


"Ahhh.."


"Aku tidak tertarik" jawab Nindya dengan muka merah padam menahan gairahnya


"Kenapa tidak kita coba lagi"


"Jinnn!!" teriak Nindya saat Jin mengangkat sebelah kakinya untuk mencari jalan masuk ke pusat intinya


Pergumulan dikamar mandi ternyata lebih lama dari sebelumnya.Membuat Nindya akhirnya benar-benar telat datang ke acara pemutaran film perdana Krystal.


"Astaga..kau kemana saja Nin" keluh Krystal karena Nindya adalah orang yang terakhir datang


"Jin baru saja pulang" jawab Nindya yang duduk disebelah Krystal


"Oh ya sutradara ingin bertemu dengan mu" ucap Krystal disaat pemutaran film sudah berlangsung


"Setelah aku selesai menonton filmnya" sahut Nindya yang fokus pada layar lebar yang menjadi penerang satu-satunya


Nindya memang terbilang cukup dekat dengan Krystal.Karena sejak ia bergabung dengan agensinya Krystal adalah orang pertama yang menyambutnya dengan hangat.


Sebenarnya Nindya sudah sering mendapat penawaran untuk bermain disebuah film-film besar.Namun sejauh ini ia belum merasa benar-benar tertarik dengan kegiatan syuting yang menghabiskan waktu lama.


Namun karena Jin sudah menanyakan hal itu ia mungkin bisa mempertimbangkan penawaran yang akan datang.Tergantung dengan seberapa lama perkiraan waktu syuting film itu sendiri.Karena Nindya hanya tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama di lokasi dan membiarkan Jin menunggunya dirumah.

__ADS_1


__ADS_2