
"Tuan,sepertinya nyonya sudah sampai di Jakarta" Joshua menyodorkan ponsel Jin
"Siapkan kamar Jo,aku ingin melakukan video call dengan Nindya" tanpa dijelaskan lebih rinci Joshua sudah paham jika Jin ingin disiapkan kamar dengan tatanan seperti kamar di kantornya.Jadi singkatnya,Jin ingin terlihat seperti sedang istirahat di kamar yang ada disebelah ruang kerjanya di kantornya Choice Grup.
Hanya butuh setengah jam semua sudah siap.Setelah ia berada dalam posisinya.Jin menelfon Nindya dengan panggilan video call.
"Halo sayang" sapa Jin saat melihat wajah Nindya di layar ponselnya
Joshua berdiri tak jauh dari ranjang Jin dan menunggu untuk perintah selanjutnya.Melihat Jin menyembunyikan penyakitnya dari Nindya dan memilih menanggungnya sendirian ia ikut sedih.Cukup lama bekerja dengan Jin membuat ia tahu betul betapa besar cinta Jin untuk Nindya.
"Yasudah ya,aku ada rapat sebentar lagi " ucap Jin mengakhiri sambungan telefon sebelum memberi ciuman jarak jauh
Jin menyandarkan kepalanya di tembok sambil memejamkan matanya.Kenapa ia harus mewarisi penyakit dari mendiang ayahnya.Tidak bisakah ia hidup dengan Nindya sampai tua nanti dengan bahagia.
Joshua tahu jika tuan mudanya itu begitu terpukul meski ia tak pernah meneteskan air mata.
"Mari tuan,dokter Lee sudah menunggu" Joshua menundukkan kepalanya saat Jin turun dari ranjang
"Matikan saja ponselnya Jo" titah Jin menyodorkankan ponselnya pada Joshua
"Baik tuan" sahut Joshua yang langsung melaksanakan perintah Jin.
Dokter Lee memijat pelipisnya berulang kali saat melihat hasil CT scan kepala Jin.Ia menelfon Jin untuk datang mengambil hasilnya sore itu juga.
"Apa hasilnya positif?" tanya Jin saat duduk berhadapan dengan dokter Lee
"Huh.." dokter Lee menarik napas panjang.Tangan kanannya terangkat untuk menyeka ujung matanya sekilas.
"Sudah kuduga" Jin ikut bersandar pada bangku
"Stadium berapa?" tanya Jin
"Dua" melihat Jin juga mengalami penyakit yang sama dengan ayahnya,ia merasa
"Apa yang akan kau lakukan untuk menolongku?" tanya Jin dengan nada santai
"Lusa kita lakukan kemoterapi untukmu" saran dokter Lee
Setelah membicarakan beberapa hal penting lainnya Jin pamit undur diri.
---
"Mak udah sampe nih" Nindya menelfon Nana yang katanya kangen berat
"Nginep dimana?" tanyanya
__ADS_1
"Sky Hug"
"Sky Hug?!" suara Nana sedikit meninggi
"Volume mak volume" Nindya menjauhkan telefon dari kupingnya
"Kenapa emangnya Sky Hug?"
"Gak apa apa" kilah Nana
"Lusa udah mulai syuting ya?"
"Heeh"
Obrolan Nindya selesai ketika pesanannya sudah datang.Satu seruputan panjang Nindya lakukan saat meminum cappucino pesanannya.
Rasa yang begitu familiar di lidahnya.Persis seperti cappucino langganannya dulu sewaktu sma.
Tidak..tidak mana mungkin sama persis.Banyak orang yang bisa membuat cappucino yang enak di jaman yang serba digital.Dimana resep cappucino banyak diunggah oleh semua orang.
Ah..Mungkin cuma kebetulan aja bukan.
Tak lama berselangYuki dan Ji Eun masuk ke kamar Nindya.Melihat piring dan gelas yang sudah tandas.
"Eit jangan langsung tidur.Bisa diabetes nanti" Yuki mengingatkan saat Nindya berniat rebahan di kasur
"Ngantuk" jawab Nindya sambil menguap lebar
"Biarin.Buktinya Jin klepek klepek" mode sombong Nindya aktif
"Gimana Joshua?" Nindya mengalihkan topik pembicaraan
"Masih tetep kaku" jawab Yuki
"Pepet dong?" Nindya berusaha memberi semangat
"Apa?kepet?" tanya Ji Eun penasaran yang tak begitu paham bahasa Indonesia
"Hust anak kecil gak perlu tahu" Nindya meletakkan telunjuk dibibirnya meminta Ji Eun untuk diam.Ji Eun yang dianggap anak kecil langsung memajukan bibirnya.
"Gengsi dong" jawab Yuki kemudian
"Yaudah gitu aja terus ampe jaman batu lagi" kali ini ia menyerah melanjutkan niatnya.Memilih tidur karena lelah dan kantuk yang melanda.
Paginya Nindya terbangun karena ketukan pintu dikamarnya.Ia mendapati seorang perempuam berseragam hotel yang hendak membersihkan kamarnya.
Nindya mengetuk pintu kamar Yuki dan Ji Eun yang ada disebelahnya.Tak ada jawaban sepertinya mereka pergi berenang seperti yang di rencanakan semalam.Nindya menanyakan ada dilantai berapa kolam renang hotel itu.Setelah mendapat informasi ia segera menuju kolam renang.
__ADS_1
"Gitu ya gada yang bangunin" ucap Nindya saat menemukan kedua temannya itu
"Kamunya aja yang susah dibangunin" jawab Yuki yang langsung mendapat senyuman lebar dari Nindya.
Nindya duduk di bangku yang disediakan dipinggir kolam renang.Meluruskan kakinya sambil mendengarkan musik lewat headset.
"Bentar...aku kayak pernah liat tu cowok tapi dimana ya" Yuki menunjuk seorang lelaki berjas yang memasuki area kolam renang
"Oh..Deny itu mah" Nindya melirik sekilas lalu kembali fokus memilih lagu yang akan ia putar
"Deny mantan lu?!" mungkin selamanya Yuki tidak akan lupa dengan nama itu
"Iyalah siapa lagi" otak Nindya yang belum lama bangun tidur baru menyadari ucapannya sendiri.Ia menoleh ke seberang kolam melihat kearah pandangan Yuki dan Ji Eun yang penasaran sekali.
Benar itu Deny pantas saja ia langsung bisa mengenali meski hanya melihat sekilas.
"Iya bener itu mantan kamu Nin" Yuki mengingat wajah Deny yang hampir ia lupakan
"Mampus gua" Nindya meraih majalah yang ada dimeja untuk menutupi wajahnya saat Deny melihat keberadaannya
"Pantes mak ampe kaget gua nginep di Sky Hug.Taunya ni hotel punya tuh anak" gerutu Nindya saat menyadari kesialannya
"Awas aja" lihat bagaimana Nindya akan memberondong Nana dengan berbagai pertanyaan nanti
"Awas kenapa Nin?" tanya Deny yang sudah berdiri disebelahnya
"Deny!kok lu bisa ada disinu" Nindya pura-pura terkejut.Akting yang buruk.
"Hotel punya gua" sahut Deny dengan santainya.Dengan gaya bicara yang masih sama seperti dulu.
"Masa sih" Yuki yang menyaksikan akting Nindya merasa malu untuk mengakui sebagai managernya
"Awas kenapa?" tanya Deny yang masih begitu penasaran
"Hehe engga Den" Nindya kembali melipat majalah yang tidak berfungsi sebagai tameng persembunyiannya dari Deny
"Kapan cek in?" tanya Deny
"Kemarin" Yuki mengambil alih pembicaraan.Peka sekali managernya ini.Nindya tak mau melewatkan kesempatan itu,ia buru-buru pamit kembali ke kamarnya dengan alasan sakit perut.
Sebelum menceramahi Nana,ia akan menemui kedua temannya yang menyebalkan itu.
Buru-buru Nindya mengajak Yuki dan Ji Eun untuk bersiap.Tak lama ketiganya segera pergi menuju Rino's grup untuk melakukan pertemuan terakhir sebelum proses syuting dilakukan.
Mengetahui Nindya berada di Indonesia.Rindu mengajaknya bertemu untuk melepas kangen.
Rindu sudah datang bersama Rian yang sudah menunggu di kafetaria Rino's grup.
__ADS_1
Sedangkan Yuki dan Ji Eun memilih pergi sejak tadi,ia berusaha memberi ruang pada Nindya untuk berkumpul bersama teman temannya.
Tinggal menunggu tersangka utama,Rita dan Ervan.