
Jangan lupa like komen dan subscribe ya..
selamat membaca semoga suka 😘😘😘
-----
"Maaf sudah merepotkan mu Mark" ucap Jessie saat mereka berdua tengah duduk di ruangan khusus member LIGHT.
Hening selama beberapa saat..
"Apa hubungan kita hanya sebatas teman?" tanya Mark
"Heyy..kenapa kau jadi serius sekali" Jessie menyenggol lengan Mark dengan sikunya.Ia tak suka dengan suasana canggung seperti ini
"Aku serius Jes" Mark meraih tangan Jessie dan menggenggamnya.Jessie tersenyum lalu perlahan melepaskan tangannya.
"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan?" Tanya Jessie.Mark mengangguk mantab
"Coba tanyakan lagi dengan hatimu Mark
"Mungkin saja itu hanya sebatas rasa penasaran karena aku berani mengoloknya secara terang-terangan" canda Jessie
"Kau salah Jes" sahut Mark
"Jangan terlalu serius menanggapi komentar publik Mark.Mungkin suatu hari nanti saat kau benar-benar mengenalku perasaan itu akan berubah" jelas Jessi
"Apa karena lelaki di video itu?" tanya Mark
"Endra maksudmu?" Jessie balik bertanya
"Ah..iya aku memang sangat mencintainya dengan sepenuh hati"
"Tapi itu dulu..dulu sekali sebelum ia pergi tanpa penjelasan setelah menabrak Wulan" Jessie selalu merasa sesak setiap menceritakan bagian ini
"Maafkan aku Jes.Tidak seharusnya aku bertanya" ucap Mark
"Jangan merasa bersalah begitu.Aku hanya tak pernah bisa merelakan kepergian Wulan dengan lapang dada Mark"
"Ya meskipun aku tahu itu sudah menjadi takdir untuk kami bertiga" Jessie berusaha menahan air matanya
Cukup lama mereka mengobrol.Namun Jessie segera pamit setelah mendapat kabar dari asisten Ardit jika ia sudah pulang ke Korea.
Pikiran Jessie semakin kacau saat Ardit tak menjawab telfonnya ketika ponselnya sudah aktif.Jessie menginjak pedal gas dalam-dalam agar ia bisa secepatnya sampai.
Air matanya sudah berurai memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.Apakah Ardit akan meninggalkannya karena masalah ini.
"Dit..Ardit" teriak Jessie saat ia memasuki apartemen Ardit yang masih gelap.Jessie meneliti setiap ruangan satu persatu memastikan keberadaan Ardit yang ternyata tak bisa ia temukan di manapun.Sampai jam dua malam Ardit belum juga pulang.Mata dan hidung Jessie sudah bengkak dan merah karena tak bisa berhenti menangis.
Belum lama ketika Jessie kelelahan menangis sampai tertidur Ardit pulang dengan wajah kusut.Ia melihat gumpalan tisu berserakan dimana-mana.
__ADS_1
Dilihatnya Jessie tertidur dengan posisi tangan sebagai bantalan.Ia berusaha membenarkan tidur Jessie.Namun pergerakannya malah membuat Jessie terbangun.
"Ardittt!" Jessie berteriak kencang saat menemukan Ardit berada di sana.Ia berhamburan memeluk Ardit.
"Maafin gua Dit,maafin gua.Please jangan dengerin gosip yang dibikin media" Isak Jessie
"Gua ga mau kehilangan lu Dit,gua gamau"
"Jangan tinggalin gua.Gua sayang sama lu" air matanya tumpah ruah membasahi kemeja Ardit.
Ardit melakukan berusaha melonggarkan pelukannya Jessie yang begitu erat.
"Gak..gamau.Guw galau putus" Jessie berteriak histeris
Cupp..
Ardit menyatukan bibir mereka.Ia hanya ingin membuat wanitanya itu terdiam sejenak.
Jessie berusaha menetralkan degub jantungnya yang tak beraturan.Perlahan ia menutup matanya dan menerima ciuman Ardit ketika bibirnya mulai dilumat secara perlahan.
"Siapa aja yang pernah nyentuh ini" Ardit mengelus bibir Jessie dengan jarinya.Posisi Jessie kini sudah berada dipangkuan Ardit yang sedang duduk di sofa.
"Puas?lu yang pertama!"
"Emangnya gua kayak lu yang nyosor Sono sini!" Jessie sedikit kesal membayangkan banyak bibir yang sudah dicium Ardit
"Ini juga ciuman pertama gua" jawab Ardit yang membuat pipi Jessie merona hebat
"Kenapa?" tanya Jessie saat Ardit melepas ciumannya
"Bahaya kalau diterusin" ucap Ardit mendudukkan Jessie kesebelahnya.Kenapa Jessie merasa kecewa.Astaga apa yang sedang ada dipikirannya.Jessie menggeleng kencang agar pikiran buruk itu segera menghilang.
"Oh ya Jes...maksud lu apaan tadi?" Ardit berjalan ke dapur sambil berusaha mengontrol nafsunya.Ia tak boleh melewati batas karena masih berstatus pacaran.
"Emm..itu Dit..masalah berita yang beredar di media" sahut Jessie takut-takut
"Emang ada apaan?" tanya Ardit bingung.Ia menyodorkan segelas air dingin kepada Jessie
"Jadi lu gak tahu tentang berita dua hari kemarin?" Jessie sedikit dibuat bingung
"Kenapa emangnya?"
"Soalnya gua selama di Paris gak liat berita sama sekali" jelas Ardit
"Serius?demi apa?!" Jessie menegakkan tubuhnya menghadap Ardit yang menyandarkan punggungnya di sofa
"Banyak masalah yang harus gua selesein di kantor yang ada di Paris Jes" tutur Ardit
"Jadi lu gak tau apa-apa dan gua disini nangisin lu kaya orang gila!" Jessie membenarkan wajahnya di bantal sofa yang ada di pangkuannya
__ADS_1
"Coba gua liat" Ardit mengeluarkan ponselnya untuk mencari tahu berita apa yang sudah membuat pacarnya itu menangis sampai ketiduran
"Jangan..jangan" cegah Jessie saat jari Ardit mulai menyentuh layar ponsel
Cupp..
Jessie mengecup cepat bibir Ardit agar ia tak melanjutkan mencari informasi yang tengah beredar luas di Korea.
"Jangan cari tahu apapun Dit.Kalaupun lu tau sesuatu nanti.."
"Percaya sama gua kalo cuma lu yang selalu ada dihati gua" Jessie menatap jauh kedalam mata Ardit
"Gua lebih takut bakal kehilangan lu Jes" ucap Ardit selesai menyelimuti Jessie yang tidur di ranjang.Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu..
Kejadian beberapa hari yang lalu.Jauh dibagian negara yang berbeda.Dua orang lelaki tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi disebuah kafe yang ada di rumah sakit kota Paris..
"Kenapa lu gak cerita sama Jessie Ndra?" tanya Ardit saat ia tak sengaja bertemu Endra
"Buat apa Dit.Toh semua udah berlalu" jawab Endra sambil menyesap kopinya.
Ardit baru tahu alasan menghilangnya Endra selama dua tahun karena mengalami depresi berat dan lututnya yang mengalami retak karena benturan saat kecelakaan itu.Selama hampir dua tahun ia harus berurusan dengan psikiater dan dokter untuk proses penyembuhannya.
"Kadang.Ada beberapa hal yang lebih baik kita simpan dalam-dalam selamanya Dit"
"Ngeliat Jessie udah bahagia sama lu gua ngerasa lega" tambahnya
"Gimana kalau suatu saat dia tahu" ucap Ardit
"Pasti gara-gara mulut lu yang bocor" tuding Endra
"Sialan" Ardit jadi mengumpat
"Jangan sakiti dia kayak apa yang pernah gua lakuin" nasihat Endra
"Itu takdir Ndra" sahut Ardit
"Takdir buat misahin gua sama Jessie" ucap Endra diselingi senyuman
"Nih!" Endra menyodorkan sebuah undangan yang seharusnya ia berikan pada orang lain
"Bulan depan gua tunangan" ucap Endra
"Sama?" tanya Ardit
"Sayanggg.." seorang wanita cantik menggelayut manja di bahu Endra
"Hayy.." sapanya ramah.Pembawaan ceria seperti Jessie pikir Ardit
"Bayarin ya bosque,gua pamit dulu.Jangan lupa dateng" ucap Endra sebelum berlalu pergi
__ADS_1
Rahasia biarlah tetap jadi rahasia...