Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 43


__ADS_3

Please like,komen dan subscribe untuk dukung author ♡♡♡


---


Setelah dua hari berada di Singapura untuk merayakan ulang tahun Youngi yang bertepatan dengan konsernya.Hari ini ia akan kembali ke Korea untuk terjun ke dunia modeling lagi.


Siang itu Nindya sedang di dalam taksi menuju bandara Internasional Changi,Singapura.Ia memaksa untuk berangkat menuju bandara sendiri.Sebab ia tahu jika di bandara pasti akan ada banyak wartawan dan fans dari Big Star.Ia hanya tak ingin menimbulkan gosip yang nantinya bisa merusak karir Youngi.Ya meskipun Youngi meminta Nindya untuk tak mempermasalahkan ucapan orang tentang mereka.Tapi tetap saja ia tak bisa mengabaikannya.


Nindya sudah duduk di kursi penumpang,tak tahu bagaimana keadaan Youngi yang susah payah melewati kerumunan fans yang begitu banyak.


"Kau menikmati bacaanmu?" tanya Youngi yang baru datang


Nindya mengangguk kembali fokus pada novel yang ia baca.


"Pakai ini,biar lehermu tidak sakit" Youngi memakaikan bantal leher pada Nindya


"Terima kasih" Nindya berujar menoleh pada Youngi


"Apa yang kau baca?" tanya Youngi


"Novel" Nindya menunjukkan covernya pada Youngi


Baru saja Youngi memasang penutup mata,Nindya mengguncang lengannya hendak menceritakan sesuatu.


"Apa" kesal


"Gal Hee benar.Aku mengidap Philophobia" sewaktu di Jakarta ia sempat menemui psikiater bersama Yovan.Kenapa Yovan?karena mama Yovan berprofesi sebagai psikiater.


"Lalu?" tanya Youngi menghadap Nindya


"Aku perlu menenangkan diri" menutup muka dengan novelnya.Enggan membahas lebih lanjut.


Sesi curhat kilat dengan sahabat mengenai kegundahannya memang berefek besar.Nindya merasa lebih baik.


Setelah ber jam-jam yang melelahkan mereka sampai di bandara Incheon.Sama halnya yang dilakukan Nindya seperti di Singapura.Ia keluar lewat jalan terpisah menghindari para fans yang sudah menunggu di luar pintu kedatangan.


Diluar bandara Nindya menghentikan taksi untuk mengantarkannya menuju rumah Siska.


"Aunty" Miran yang pertama kali menyambutnya saat Nindya sampai di rumah


"Kau sudah pulang?" sapa Siska yang mendengar teriakan Miran dari ruang tamu


"Iya kak.Duduk Miran aunty capek sekali" Nindya mengajak Miran yang masih menggelayutinya saat ia duduk di sofa


"Pernikahannya lancar?" tanya Siska


"Iya meski aku pusing setengah mati mengurusinya dengan Deny" sahut Nindya


"Kau sudah makan?atau mau kakak masakkan sesuatu?" tawar Siska

__ADS_1


"Air dingin saja kak" jawab Nindya


"Tunggu mama,Miran akan ambilkan untuk aunty" anak itu melepaskan pelukannya berlari ke dapur mengambil segelas air dingin yang ia berikan pada Nindya


"Terima kasih Miran sayang" Nindya membelai pelan rambut Miran


Nindya tengah mengeringkan rambutnya selesai membersihkan diri.Ponselnya berdering mendapat panggilan dari Deny.


"Lu udah sampe Nin?" tanya Deny melalui sambungan telefon


"Udah Den,nih gua baru selesai mandi" jawab Nindya


"Gimana konsernya?" tanya Deny


"Seru Den,coba lu ikut nonton" Nindya duduk di balkon kamarnya


"Dari pada nonton Youngi gua lebih suka ngajak lu mancing" jawab Deny


"Sa ae kang bubur" tertawa menanggapi gurauan Deny


Nindya mengobrol dengan Deny sampai rambutnya kering tertiup angin.Obrolan itu berakhir karena Nindya yang mulai mengantuk.


"Tidur sana" suruh Deny kemudian


"Yaudah gua tidur duluan ya" ucap Nindya setelah mengucap kata bye padanya


Deny menatap layar ponselnya datar.Ada perasaan takut saat Nindya memutuskan kembali ke Korea.Namun apa dayanya jika Nindya memilih untuk menetap disana.Ia tak bisa memaksakan kehendaknya karena bukan.


Hati dan pikirannya selalu bertanya apa yang mampu membuat Nindya mempercayainya lagi.Percaya jika hanya ia wanita yang masih dan akan menetap dihatinya.Dengan Michelle dulu tak mampu membuatnya merasa sebegitu bahagianya dengan Nindya.Menjalin hubungan menahun  membuat ia terbiasa dengan Nindya.Seperti kata pepatah cinta ada karena terbiasa.Dan Deny akan tetap menunggunya sampai Nindya sendiri yang mengatakan jika ia tak perlu menunggu lagi.Tak perduli jika ia menjalin hubungan dengan lelaki lain,ia akan tetap di tempatnya.Menanti Nindya berbalik arah dan menerinanya kembali.


Karena hanya bukti dari penantian tulusnya yang akan membuat Nindya percaya jika hatinya selalu milik Nindya.Terlepas kejadian dulu itu hanya kebodohannya semata karena terbutakan oleh emosi.Semoga cepat atau lambat penantiannya akan menggerakkan hati Nindya.


---


"Buset Den pagi pagi udah ngelamun aja" ucap Danang yang baru masuk ke ruangannya


"Bukan ngelamun,cuma lagi mikir" sanggahnya


"Sama aja kutu nyamuk" cibir Danang


"Mana ada nyamuk kutuan,saringan tahu" sahutnya tak kalah nyeleneh


"Mikir apa sih ampe kusut gitu muka,udah kaya orang bener aja" ledek Danang yang enggan bersikap sopan dengan atasannya itu


"Mending sono ke pantry bikinin gua kopi item" suruh Deny


"Tumben lu minum kopi item?" tanya Danang heran


"Biar lu tau segimana paitnya idup gua karena punya anak buah kayak lu" ucap Deny

__ADS_1


"Jangan gitulah.Gini-gini gua pernah minjemin punggung gua buat nampung air mata lu"


"Si onyet!" mengumpat atas dusta yang di buat oleh Danang


"Pergi gak lu,emosi gua lama lama punya anak buah kayak lu!" Deny semakin kesal saat Danang berhasil menangkap pajangan yang ia lempar dengan mudah.


Melihat besarnya niat Deny yang mengusirnya akhirnya Danang menurut untuk keluar dari ruanganya.Pergi ke pantry untuk membuatkan kopi item pesanan Deny.Ia baru tersadar saat ada office boy yang menyapanya.


"Tumben bikin kopi sendiri pak" tegur office boy yang melihatnya mengaduk kopi


"Buat pak Deny" sahutnya


"Bapak turun jabatan?" tanyanya dengan polos


"Lah iya kenapa jadi bikinin kopi buat Deny.Udah nih buat lu aja" Danang pergi meninggalkan kopi yang ia buat


"Parah lagi aja kopinya malah dikasih buat gua" ia bergumam sendiri memandangi kopi buatan atasannya itu.Lumayan batinnya.


Danang pergi ke ruangannya,mengambil laporan yang sempat diminta Deny kemarin.


---


Ji Eun tengah menemani Nindya di ruang make up untuk menghapus riasannya.Hari ini ia baru selesai pemotretan.


Dari sana Ji Eun hendak mengajaknya ke mall untuk menonton film komedi yang baru saja tayang.


"Yerin,kan?" sapa salah wanita yang ada di restoran tempat Nindya dan Ji Eun makan


"Ya?"


"Boleh minta foto bareng?" tanyanya yang tengah memegang ponsel


Wanita itu mengucapkan terima kasih setelah dya foto selfie yang ia ambil.


"Ada juga yang kenal sama kamu Nin" ledek Ji Eun


"Ya ampun Ji,masih aja marah gara gara nolak tawaran itu" Nindya menatap Ji Eun yang tengah memotong steaknya asal


"Itu tawaran bagus Nin"


"Iya deh aku bakal ngambil tawaran film.Tapi film pendek aja.Puas?" ujar Nindya


"Hehehe..iya iya puas" jawab Ji Eun


Mereka yang hendak pulang malah bertemu teman Ji Eun.Alhasil Nindya pulang naik taksi karena tak membawa mobil.


Kesialan apa ini karena ia tak membawa dompet.Bagaimana ia bisa pulang pikirnya.Haruskah ia masuk ke dalam mall lagi dan pulang bersama Ji Eun.Dan mengapa pula Ji Eun tak mengangkat telfonnya.


Nindya menscroll daftar kontak pada ponselnya.Memikirkan siapa yang bisa ia mintai bantuan.Jarinya menekan kontak Joon.Bersamaan dengan itu ponselnya berdering karena ada panggilan masuk.Nomor baru.Tanpa pikir panjang ia menerima panggilan telefon.

__ADS_1


"Halo.Dengan siapa ini?" tanya Nindya


"Sepertinya kau butuh tumpangan?" tanyanya.Suara seorang lelaki yang tak ia kenal.


__ADS_2