
...Meski kadang tak mengerti Takdir Illahi,...
...Tugas kitalah untuk menjalani...
...Sampai Tuhan berkata "tugasmu selesai sampai disini"...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Sakit Bu.." Keluh bibir kecil Alfa.
Alin tersenyum, mengusap lembut kepala Alfa.
"Abang Alfa kan jagoannya ibu, Abang Alfa pasti kuat, ibu percaya, sekarang Abang sama kakak makan dulu ya, biar tambah kuat dan cepet sembuh.." Bujuk Alin. Alin menatap si kembar bergantian. Keduanya mengangguk patuh, tersenyum kecil.
"Aaa.. buka mulutnya, sayang.." Pinta Alin.
Alin menyuapi Alfa dengan telaten, tentu saja dengan seribu jurus bujuk rayunya. Sesekali ia mengambil sendok di mangkuk makan Alfi kemudian menyuapinya, sambil menunggu Alfa mengunyah makanannya.
Meski gadis kecil itu mengatakan ia akan makan sendiri dan membiarkan Alin menyuapi sodara kembarnya, Alfa, Alin sebenarnya tau kalau gadis kecil itupun ingin disuapi olehnya. Tapi, gadis kecil itu memilih mengalah karena mungkin ia takut Bu Alin-nya itu kesusahan. Sungguh, Alin bangga dengan sikap anak muridnya ini.
Benar saja, gadis kecil itu terlihat berbinar ketika menerima suapan dari Alin, lantas Alin mengulas senyum hangatnya.
"Minum.." Lirih terdengar suara si kecil Alfa yang lantas menarik perhatian Alin yang tengah menyuapkan makanan ke mulut Alfi.
"Abang, sayang.. abang mau minum ya!?" Alin menaruh mangkuk makan yang tengah dipegangnya itu di atas lemari kecil di samping ranjang Alfa. Tangannya berganti mengambil segelas air minum kemudian membantu Alfa untuk minum. Setelahnya, Alfa nampak sudah tak berselera lagi untuk melanjutkan makannya. Padahal mangkuk kecil itu nampak masih memiliki setengah isinya. Bahkan setelah bermacam bujukan Alin lakukan, Alfa tak jua luluh, ia keukeuh ingin menyudahi makannya.
Sementara itu, si kecil Alfi, ia beralih duduk tepat di samping sodara kembarnya itu setelah ia menghabiskan suapan terakhirnya. Tangan mungilnya meraih tangan mungil sodara kembarnya yang biasa ia panggil Abang itu, digenggamnya tangan Alfa.
"Abang.." Panggil Alfi meminta perhatian Alfa. Dan berhasil, Alfa seolah bertanya lewat tatapannya.
"Abang jangan sakit teruus" Mohon Alfi. Matanya mulai berkaca-kaca, hendak menangis.
Alfa yang duduk bersandar pada beberapa bantal yang ditumpuk itu mengangguk pelan, "Iya.." Jawabnya lirih, tapi Alfi maupun Alin masih dapat menangkap suara lirihnya.
__ADS_1
"Kakak sayang abang.." Ucap Alfi tulus.
"Abang juga sayang kakak.." Balas Alfa.
Interaksi dua anak kembar itu tak lepas dari perhatian Alin, ia mengembangkan senyumnya, lagi dan lagi, ia senang melihat anak kembar di depannya yang terlihat begitu saling menyayangi.
"Abang beneran tidak mau makan lagi?" Untuk kesekian kalinya Alin bertanya lagi pada Alfa, dan tetap saja gelengan kepala jawaban yang Alin dapat.
"Huft.. Baiklah, tidak apa-apa, yang penting ada makanan yang masuk ke perut abang" Alin tersenyum, tangannya mengusap lembut kepala Alfa dan Alfi bergantian.
Setelahnya, Alin memberikan obat pada si kembar Alfa dan Alfi. Tentu saja dengan suasana yang cukup berdrama. Alin jadi tau, ternyata mereka susah sekali minum obat. Alin geleng-geleng kepala sambil menahan senyumnya, ia jadi teringat dirinya dulu, ia juga termasuk anak yang susah minum obat, ia bahkan ingat, bahwa ia tak bisa menelan obat bahkan meski saat itu dirinya sudah duduk di bangku kelas 8 atau kelas 2 SMP.
Ketika sedang asyik mengobrol ringan dengan si kembar Alfa dan Alfi, tiba-tiba Alin merasa ponsel si saku bajunya bergetar, Alin hafal sekali, itu pasti ada yang menelponnya. Awalnya, Alin ingin mengabaikan, namun sedetik kemudian, ia teringat dengan sang mama.
Benar saja, itu mamanya yang menelpon.
"Sayang, bentar ya.. mama ibu nelp." Jelas Alin yang dianngguki kedua bocah kecil itu. Segera saja Alin beranjak dari tempatnya dan mengangkat telepon dari mamanya itu.
"Papa.." Panggil dua bocah kecil itu dengan sumringah, matanya berbinar-binar sampai beberapa saat kemudian si kembar saling pandang kemudian memasang wajah masam. Laki-laki yang dipanggil papa itu nampak mengulas senyum tipis melihat raut wajah anak-anaknya yang berubah.
"Kenapa sayang? Tidak senang ya bertemu papa, hm!?" Tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang ia buat seolah sedih dan terluka.
"Kami masih marah sama papa" Ucap Alfi mewakili. Kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya.
"Papa minta maaf, sayang.. maafin papa ya!?" Pinta sang papa dengan memelas. Laki-laki itu memegangi kedua telinganya untuk menunjukkan penyesalan nya. Dan itu berhasil. Kedua anaknya itu kembali tersenyum.
Laki-laki itu duduk di tepi ranjang Alfa. Menatap kedua anaknya bergantian sambil mengelus pipi keduanya lembut, kemudian menarik mereka dalam dekapannya.
"Papa sayang kalian, sungguh.." Ungkap sang papa dengan tulus.
"Kami juga sayang papa" Ucap Alfi. Keduanya membalas pelukan sang papa.
"Papa.." Ucap Alfa lirih disusul dengan isakan kecil, ia menangis. Refleks laki-laki itu mengurai dekapannya dan menatap sang putra yang tengah berurai air mata, dihapusnya air mata anak jagoannya itu.
__ADS_1
Alin yang telah selesai dengan panggilan telepon nya berbalik dan mendapati adegan pelukan si kembar dengan seorang laki-laki yang ia duga adalah ayah dari si kembar, dan ia semakin yakin dengan dugaannya ketika si kecil Alfa memanggil laki-laki itu dengan sebutan papa.
Alin hendak menghampiri ketika melihat Alfa tiba-tiba saja menangis, namun urung ia lakukan karena ia merasa itu tak seharusnya ia lakukan. Akhirnya ia hanya memperhatikan ketiganya dalam diam. Ia mengulas senyum melihat interaksi ayah dan anak itu, ia seperti dapat melihat kasih sayang yang besar diantara mereka.
"Pa-pa jangan per-gi ting-ga-lin kami.." ucap Alfa disela tangisannya.
"Papa tidak akan pernah meninggalkan kalian. Percaya sama papa." Ungkap sang papa.
"Papa jangan pergi tanpa bilang-bilang seperti tadi.." Kali ini Alfi yang bersuara.
"Tidak lagi, sayang. Papa tidak akan melakukannya lagi. Tadi benar-benar ada hal urgent di kantor, jadi papa buru-buru pergi tanpa pamit pada kalian. Tapi Lihatlah, I'm home now, papa langsung pulang lagi setelah menyelesaikan urusan papa karena papa terus-menerus teringat kalian.." Jelas sang papa panjang lebar yang dianngguki keduanya tanda mengerti.
Lain Alfa dan Alfi, lain pula dengan Alin. Ia nampak tak percaya pada laki-laki di depannya yang sedang berbicara dengan bocah Lima tahun itu, bisa-bisanya ia menyisipkan bahasa asing di dalamnya. Herannya lagi, si kembar seolah mengerti.
"I'm so sorry, baby.." Ungkap sang papa, lagi.
"Okay papa, tidak apa-apa.. kali ini kami maafkan. I love you, papa.." Jawab Alfi dengan lancar.
"I love you, so much, papa" Alfa bersuara.
"I love you, more, baby.." sang papa mengusap pipi anak-anaknya itu lembut sambil tersenyum..
"Oh kalian sudah makan ya, baguslah, pintarnya anak papa, sudah minum obat?" Tanya sang papa. Keduanya mengangguk.
"Eh, punya siapa ini?" Tanya laki-laki itu sambil mengangkat sebuah tas jinjing berwarna hitam. Tas itu tergeletak begitu saja di samping ranjang dan kakinya tanpa sengaja menemukan tas itu.
Alfa dan Alfi menatap tempat dimana Alin berada, mereka seperti baru menyadari kembali keberadaan Alin. "Mama.." Gumam Alfa. Alin sendiri memilin ujung kerudungnya sendiri sambil menunduk. Laki-laki itu mengikuti arah pandangan anak-anaknya, apalagi ketika ia mendengar gumaman Alfa.
"Siapa kau!?" Tanya laki-laki itu tegas. Namun beberapa saat kemudian..
"Kamu.." ucap Alin dan laki-laki itu bersamaan.
To be continued~
__ADS_1