
Hari ini adalah jadwal terakhir Nindya melakukan pemotretan sebelum beristirahat menjelang pesta pernikahan.
Kabar pernikahan pewaris tunggal keluarga Park sudah tersebar kepenjuru Korea dan luar negeri.
Jika biasanya hanya beberapa wartawan yang mengikutinya,kini semakin banyak yang meminta Nindya mengkonfirmasi.
Ditengah wartawan yang mengerubungi Nindya.Eun Mi Rae yang mendengar kabar tersebut menyamar sebagai reporter.Ia mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Awas kau Yerin" di Korea Nindya menggunakan nama panggung Yerin.Namun jika sudah kenal dekat kebanyakan akan memanggil nama aslinya.
Mi Rae semakin mendekat kearah Nindya ia menyembunyikan sebuah pisau dibalik jaketnya.Mi Rae menyentuh pundak Nindya yang sontak membuat Nindya menoleh kebelakang.
"Arrgghh" Nindya memegangi perutnya yang sudah bersimbah darah.Ia ambruk seketika.
Orang-orang yang berada disekitar segera mengamankan Mi Rae agar tidak kabur.
Kabar penyerangan Nindya menghebohkan seluruh penjuru Korea dua kali lipat.
Banyak media lokal dan luar yang merilis kabar penyerangan tersebut.
TUNANGAN PEWARIS GRUP PARK MENJADI KORBAN PENUSUKKAN
Judul itu yang banyak digunakan oleh media gosip maupun berita kriminal.
Sudah lima jam dokter tidak keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
Lampu ruang operasi padam.
Jin yang sedari tadi mengamati langsung mendekati pintu.
"Operasinya berjalan lancar.Tapi kami mohon maaf bayinya tidak bisa diselamatkan"
Bagai ribuan anak panah menghujam jantung Jin.Kakinya lemas seketika mendengar perkataan dokter tersebut.
"Kondisi adik saya bagaimana dok?" tanya Mike menggantikan Siska yang sudah menangis dalam pelukannya.
Jin berlari meninggalkan ruang operasi dengan wajah merah padam.Emosinya sudah tidak bisa terbendung lagi.Joshua sigap mengikuti Jin dari belakang.Jin memacu kecepatan mobilnya diatas rata rata.
Citttt..
Mobil berhenti didepan penjara tempat Mi Rae ditahan.Jin terus saja memaksa untuk menemui Mi Rae.Ia ingin memberi wanita itu pelajaran karena sudah menghilangkan nyawa anaknya.
"Cukup tuan.Nona pasti akan marah melihat keadaan tuan seperti ini" Joshua mencoba menenangkan Jin.Mendengar tentang Nindya membuat amarah Jin sedikit mereda.
"Aku punya perintah untukmu Jo"
"Perintah apa tuan?"
Jin lalu mengatakan untuk menghancurkan keluarga Eun Mi Rae dalam segala bidang.Tak lupa tuntutan seumur hidup atas perbuatan Mi Rae.
Jin kembali ke rumah sakit.Ia mendapat kabar dari Mike jika Nindya sudah dipindahkan ke ruang rawat.
__ADS_1
"Sayang bangunlah jangan buat aku khawatir" entah sudah berapa kali Jin mengucapkan itu.Ia bersikeras menemani Nindya seorang diri dirumah sakit.
Keesokannya Nindya sadar.Ia mendapati Jin tengah memegangi tangannya.Ia tersenyum sekilas lalu mengusap lembut kepala Jin.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Nindya saat Jin menoleh kearahnya
"Mana?bagian mana yang sakit?"
"Jin" potong Nindya
"Ya"
"Apakah bayi kita selamat?" hening tak ada jawaban dari Jin.Ia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya.
"Ia tidak selamat?" Nindya menebak dari ekspresi Jin
"Maafkan aku sayang" kata itu membuat air mata Nindya tak terbendung.Jin kewalahan menenangkan Nindya yang terus saja menangis dalam pelukannya.
"Jika kau kecewa kita bisa membuatnya lagi nanti" Nindya memukul dada bidang Jin
"Jangan sedih.Biarkan anak kita tenang di surga" Jin benar ia harus merelakan kepergian bayi yang ia nantikan.Meski sakit ia tidak boleh marah pada takdir yang sudah digariskan untuknya.Mungkin ini adalah yang terbaik untuk kehidupannya.
Sudah satu minggu Nindya dirawat.Keadaannya semakin membaik.Luka tusuk diperutnya juga sudah semakin sembuh.Pernikahan Nindya ditunda tiga bulan lagi.Menunggu kondisi Nindya agar pulih terlebih dulu.
"Sekarang perutku sudah cacat.Kau pasti jijik melihatnya" Nindya dan Jin duduk ditaman belakang rumah
__ADS_1
"Kau benar aku sedang mencari wanita lain untuk menggantikanmu" goda Jin yang mendapat cubitan dari Nindya
"Sakit..sakit" rintih Jin