
Tak lama Nindya masuk.Memberikan segelas kopi pada Deny yang masih duduk disebelah Jin.
"Terima kasih" ucapnya ketika menerima kopi yang diulurkan oleh Nindya
"Ya" jawabnya yang duduk di sofa.Membaca majalah
"Kalau begitu aku pamit dulu.Semoga lekas sembuh" Deny menepuk pelan pundak Jin sebelum melangkah keluar
"Kau mau makan buah sayang?" tanya Nindya
"Sepertinya apel enak"
Deny masih duduk di taman rumah sakit.Merenungkan perkataan Jin yang dikatakannya tadi.Wajar saja jika Nindya kecewa dengannya.Kejadian itu tentu membuatnya terluka begitu dalam.
"Pak,anda ada rapat bersama direktur Hwan sebentar lagi" ucap Reum
"Bisa kau ambilkan aku air dingin dulu"
"Terima kasih" tambah Joon
Joon adalah lelaki tampan dengan IQ seratus enam puluh hal itulah yang membuatnya mudah dalam menyelesaikan beberapa permasalahan di dalam kantor.Tidak seperti Jin yang senang bergonta ganti pasangan.Joon adalah tipikal lelaki yang sangat pemilih dalam memilih seorang pasangan.Sekedar menjadi teman saja ia membatasi diri dan tak sembarangan berteman dengan siapapun.Bukan harta yang menjadi tolok ukurnya melainkan sikap yang ditunjukkannya.Sampai saat ini pun dia tidak pernah berpacaran,hanya pernah beberapa kali dekat namun semua tidak lebih dari sebatas teman saja.Entah wanita seperti apa yang diinginkannya.
Melihat Nindya yang begitu setia dan telaten dalam mengurus Jin membuatnya salut.Dipikirnya dulu Nindya hanya ingin harta yang di miliki oleh saudara tirinya itu.Pepatah memang benar tak kenal maka tak sayang.Jadi jangan menjudge seseorang sebelum mengenalnya lebih jauh.
"Kau sudah makan?" tanya Joon saat bertemu Nindya didepan pintu kamar Jin
"Baru saja aku akan ke kantin" sahutnya ramah
"Bisakah aku ikut denganmu?" tanya Joon
"Kenapa harus bertanya terlebih dulu.Tentu saja kau boleh ikut"
Nindya dan Joon berjalan bersisihan dengan Nindya.Joon bukanlah tipikal yang mudah akrab.Namun keramahan dan sikapnya yang tebuka membuat Joon leluasa mengobrol dengannya.
"Bagaimana kau bisa bertemu Jin?"
"Emm..aku pernah beberapa kali bertemu dengannya"
"Tapi kedekatan kita di mulai saat ia menemukanku tengah menangis di bandara" Nindya terkikik dengan penjelasannya sendiri.Seolah itu adalah hal lucu baginya.Joon tersenyum menanggapi.
"Wajar saja Jin memang lelaki yang pandai mengambil hati perempuan" ungkap Joon mengingat Jin yang begitu playboy sebelum menikah
"Kau benar Joon.Jin memang pandai mengambil hati perempuan"
"Apa sekarang kau punya pacar?" Nindya menyeruput cappucino dingin miliknya
"Asal kau tahu aku belum pernah punya pacar" rahasia besar yang jarang ia bagi dengan teman
"Serius?" tawa Nindya hampir meledak saat mendengarnya.Ia masih tetap berusaha menahannya.
"Memilih pasangan itu harus benar hati hati"
__ADS_1
"Kurasa kau terlalu pemilih"
"Ah sudahlah jangan membahas itu lagi.Sebaiknya kita segera kembali" Joon memimpin jalan didepan
Nindya pikir sifat Joon akan sama persis dengan Jin namun ternyata mereka seperti dua sisi koin yang berlawanan.Menurut Nindya Joon tipe lelaki yang serius beda dengan Jin yang sangat suka bercanda.
Nindya masuk ke dalam ruangan diikuti Joon di belakangnya.
"Hey Joon jangan sampai kau tertarik dengan istriku" ucap Jin menyambut kedatangan mereka
"Konyol" sahutnya
"Joon mana mungkin menyukai wanita yang berisik sepertiku sayang"
"Lagi pula meski kau jauh lebih tampan darinya"
"Cepatlah menikah aku kasihan melihatmu terus sendiri" ledek Jin
"Kalian berisik" sahutnya yang sibuk membaca beberapa pekerjaan kantor yang ia bawa pulang
"Dasar mesin" ucap Jin yang tak lagi dihiraukan oleh Joon
"Tidurlah disampingku sayang" Jin menepuk ruang disebelahnya yang masih kosong
"Apa itu tidak masalah untukmu?" tanya Nindya memastikan
Nindya pelan pelan merebahkan diri di ranjang pasien Jin.
"Aku begitu merindukanmu" Jin mengeratkan pelukannya
"Tetaplah bahagia Nindya.Aku tidak ingin kau menjadi lemah" tutur Jin lembut
Nindya membalas pelukan Jin lebih erat.Ya.Meski cinta dihatinya belum bisa sepenuhnya untuk Jin tapi ia begitu bersyukur bisa memiliki suami yang amat sangat mengertinya.
"Tidurlah sayang.Kau pasti lelah" nasihat Nindya
Nindya mengamati wajah Jin yang begitu lelah.Membelai wajahnya lalu mengecup pelan bibir Jin.Betapa ia takut kehilangan dirinya.
"Kau nakal Nindya" Jin membuka matanya perlahan saat mendapati ciuman lembut di bibirnya
"Kau belum tidur?" tanyanya
Cupp
Jin mencium bibir Nindya sekilas sebelum memintanya untuk lekas tidur.Beberapa kali Nindya membuka matanya.Menaruh telunjuk didepan hidung Jin lalu bernafas lega.Syukurlah ia hanya terlalu takut.
Nindya tidur sambil berpelukan dengan Jin.Betapa mereka merindukan satu sama lain.Joon yang terbangun merasa sedikit terharu melihat pemandangan di depan matanya itu.Semoga mereka menemukan jalan kebahagiaannya.
Di dalam mimpi Nindya ia tengah berada di padang rumput yang begitu hijau dan luas.Banyak bunga kecil bewarna warni setiap mata memandang.Ada dua sosok disana.Sepertinya itu Jin yang tengah bermain dengan seorang anak laki laki.
Nindya berjalan menghampiri Jin yang tertawa lepas.Ia terlihat lebih tampan dan begitu sehat.Tidak seperti terakhir kali yang ia lihat.
__ADS_1
"Siapa dia Jin?" tanya Nindya
"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Jin balik
"Ia anak yang tampan dan menggemaskan" jawab Nindya
"Kau mau mencoba menggendongnya" tawar Jin
Nindya menerima anak lelaki itu.Mungkin usianya sekitar satu tahun.Sangat mirip dengan Jin.
"Aku sangat ingin mempunyai anak seperti dia Jin" ungkap Nindya
"Tentu saja itu anakmu" jawabnya dengan senyuman lebar
"Teruslah bahagia seperti ini"
"Aku benci melihatmu menangis"
"Kenapa kau berulang kali mengatakan itu" Nindya menyerahkan anak kecil itu pada Jin lagi
"Agar kau bisa mengingatnya dengan jelas"
"Baik baik"
"Bagus.Dengan begitu aku bisa tenang"
"Hiduplah dengan orang yang kamu cintai"
Nindya tak paham betul dengan ungkapan Jin.Perhatiannya teralihkan saat ada dua kupu kupu berwarna biru hinggap di pundaknya.Ia berusaha menyentuhnya namun kupu kupu itu terbang tinggi.Ia baru menyadari jika Jin dan anak kecil itu sudah tidak ada lagi disana.Kemana perginya mereka.
Nindya terbangun dari tidurnya.Dilihatnya Jin yang masih memejamkan mata.Belum pernah ia melihat Jin tidur sambil tersenyum.Ada perasaan takut yang kembali menyelimuti hatinya.Nindya menarik tangannya dari genggaman Jin.Tampak ragu dengan tindakan yang akan ia ambil.Ia menaruh telunjuknya didepan hidung Jin.Hampa disana.
Ia langsung turun dari ranjang.Bisa saja ini adalah candaan Jin.Joon melihat Nindya yang berdiri kebingungan.Ia terlihat gemetaran.
"Ada apa Nindya?" ia menghampiri Nindya yang diam saja.Menoleh dengan tatapan sayu kepadanya.Merasa ada yang aneh Joon langsung melakukan hal yang sama.Miyang yang baru memasuki ruangan mencecar Nindya dengan berbagai macam pertanyaan.Joon langsung menekan tombol darurat.Dokter Lee dan rekannya serta suster berlari memasuki ruangan.Miyang menghampiri Nindya yang hampir menangis.
"Tambah ke dua ratus" titah dokter Lee pada suster yang menekan beberapa angka
"Satu..dua.." Menempelkan alat pada dada Jin
"Tambah lima puluh" ujarnya panik
Tak ada reaksi dari tubuh Jin.Mike dan Siska masuk kedalam ruangan juga.Keadaan sudah kacau.Miyang sudah pingsan lebih dulu dibawa oleh suster untuk mendapat pertolongan.
Nindya bisa dengan jelas melihat ekspresi menyerah di wajah dokter Lee.Tentu ia tahu apa yang terjadi.
"Tidak..jangan menyerah dok.Tolong bantu Jin" pinta Nindya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
"Maaf Nin,kami sudah melakukan yang terbaik"
"Jangan katakan itu dok!" bentak Nindya
__ADS_1
"Sus catat jam dan tanggalnya" ucapnya
"Kau harus kuat Nindya" ia menepuk bahu Nindya