Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 25


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen sayy...


----


"Ciee yang jadi seleb sekarang" goda Dimas yang duduk dikantin


"Ini juga karna lu Dim,coba kalo lu gak nantangin dulu.Mana mungkin gua bisa traktir kalian gini" ucap Jessie.


"Nanggung nih kalo cuma di kantin" ujar Ken yang sudah menyerah untuk mendapatkan hati Jessie.Lalu balikan dengan Bella karena mungkin masih cinta.


"Yee..maruk lu" Maya menegur Ken.Semenjak pengakuan Ardit sebagai pacar Jessie setiap kemanapun Jessie melangkah disitu ada Ardit.Mungkin itu juga alasan Ken menyerah.Dengan Ardit Maya memang sepenuhnya mendukung.


"Yayang ntar nonton yuk" Doni yang tak gentar untuk mendapatkan Jessie.Ken sudah mundur jadi tinggal Ardit saingannya.Pede luar biasa.


"Mamam nih yayang..yayang" Ardit menyumpal mulut Doni dengan bakso


"Mampus lu Don,si Ardit ma to the point anaknya" Oktav mendukung Ardit


"Udah si lagian Don nyerah aja" nasihat Bella yang bergelayut manja pada Ken.Baru balikan masih anget-anget jadinya.


"Mending makan yang banyak Don biar gembul kaya pak Handoyo" ujar Jessie menambahkan bakso miliknya ke mangkok Doni


"Ahhh..meleleh kan" Doni bergaya manja.Membuat semua yang ada disana serempak berkata iiiuuuhhhh...


Sarapan pagi-pagi dan berkumpul bersama semua teman-temannya itu memang menyenangkan.Bahagia sekali rasanya.


Jam pertama adalah jam olahraga.Seperti biasa Jessie memang selalu bergabung bersama murid lelaki.


"Ikutan Dit? Gak takut pingsan lagi kena bola" olok Nusa


"Sialan lu!" Ardit mengapit kepala Nusa dengan lengannya.Bergaul dengan Jessie memang membawa banyak perubahan padanya.Ia sudah tidak sungkan lagi bercanda dengan teman satu kelas atau yang lainnya.Membuat beberapa murid perempuan semakin berteriak histeris saat Ardit menjahili temannya.Menggemaskan kata mereka.


Bahkan sekarang apartemen Ardit menjadi basecamp setelah jam pulang sekolah.Hubungan Ardit dan papanya juga semakin membaik.Mereka sudah tidak secanggung dulu.


Menyadari Jessie membawa pengaruh baik pada Ardit dan mampu memperbaiki hubungan mereka membuat Aidan sangat menyayangi Jessie.


"Papa ngajakin dinner nih Dit" sebutan papa atau mama memang sudah menjadi kebiasaan sekarang ini


"Dimana?" tanya Ardit yang sibuk memasak di dapur bersama Maya dan Bella.Jessie sendiri sibuk main game dengan Dimas dan Doni


"Restoran biasa katanya,emang dimana?" tanya Jessie menghampiri Ardit di dapur


"La Pasta" jawab Ardit santai


"La Pasta?!" Bella mengulangi ucapan Ardit


"Itukan restoran bintang tujuh Jess" Bella tidak fokus lagi dengan masakannya

__ADS_1


"Mau kesana kapan-kapan?" tawar Ardit


"Jangan gila Dit,emang lu rela jual apartemen lu demi perut kita-kita" Maya menambahkan mecin kedalam seblak yang mereka masak


"Restoran punya gua itu" Maya sampai tersedak mendengarnya


"Seriusan?" tanya Maya antusias


"Wahhh...tukeran aja yuk Jess.Lu sama Ken gua sama Ardit" ucap Bella yang mendapat pelototan dari Ken


"Gamaulah gantengan Ardit" gantian Ardit yang tersedak saat minum jus jeruk


"Kode keras tuh Dit" Maya menjadi yang paling antusias


"Apaan sih,udah belom laper nih" Jessie memegangi perutnya.Air liurnya hampir menetes mencium aroma seblak yang mereka masak.


"Iler tolong dikondisikan Jes" Ardit sudah kembali menetralkan jantungnya


"Ye babang untung cinta" ujar Jessie lalu berlalu pergi meninggalkan Ardit yang lengannya terus disenggol oleh Maya dan Bella


"Sikat Dit" Bella yang semakin hari semakin geser otaknya karena berteman dengan Jessie


"Emang wc disikat" Ardit menyahut datar


"Ah payah lu Dit,keburu dia buka hati buat Endra lagi baru mampus lu" Maya merasa geregetan dengan Ardit


Dinner bertiga seperti ini membuat Ardit merasa seperti sebuah keluarga.Ia juga tahu ini upaya papanya membawa Jessie agar mereka semakin dekat.


"Makasih buat makan malamnya pa,Jessie kenyang banget" ungkapan jujur yang membuat Aidan tertawa.


"Kapan-kapan kita dinner bareng mama papa kamu ya" ujar Aidan


"Siap pa" Jessie mengacungkan dua jempolnya


"Anter Jessie sampai rumah dengan selamat,dan jangan kemana-mana langsung pulang" tambah Aidan


Sepulang dinner tanpa mama dan papa


Jessie,Ardit jadi memikirkan ucapan Maya siang tadi.Bagaimana jika Jessie kembali bersama Endra.Apa yang harus ia lakukan untuk menahan Jessie bersamanya.


Ia harus menyatakan perasaannya secepatnya.


"Mau kemana?" tanya Jessie yang dihari minggu dipaksa keluar oleh Ardit


"Ada kafe baru,kesana yuk" ucap Ardit memacu mobilnya


Setelah perjalanan yang melelahkan karena macet akhirnya mereka sampai juga dikafe yang dimaksud Ardit.Kafe dengan suasana sejuk dan pemandangan alam yang indah.Pantas saja Ardit memaksanya kemari.

__ADS_1


"Pesen apa?" tanya Ardit saat melihat buku menu


"Menu favorit aja mbak" ucap Jessie ke pelayan kafe


"Samain" Ardit menutup menunya lalu menyerahkan dua buku menu pada pelayan


Wulan pasti seneng banget kalo bisa kesini.Hal itu selalu dipikirkan Jessie setiap ia menemukan tempat yang menurutnya bagus.


"Jessie" selalu saja ia dan Ardit mendadak ketemu dengan Endra


"Apa lagi?" tanya Ardit kesal


"Udah Dit tenang" ucap Jessie


"Kenapa Ndra" Jessie dan Ardit seperti simbiosis mutualisme.Ardit yang dunianya menjadi lebih berwarna karena Jessie.Lalu Jessie sendiri bisa perlahan melepaskan beban berat di masa lalunya.


"Gua perlu bicara" ucap Endra serius.Jessie menimang-nimang permintaan Endra yang mengisyaratkan Endra hanya ingin bicara berdua.


"Oke" tangan Jessie ditahan oleh Ardit


"Sebentar doang Dit" ucap Jessie perlahan melepas pegangan Ardit.


Dari jauh ia terus mengamati Jessie dan Endra yang mengobrol serius.Ada adegan dimana Endra menggenggam tangan Jessie yang tidak mendapat penolakan dari Jessie.Berakhir dengan pelukan yang membuat Ardit semakin naik darah.


Lalu Jessie kembali hanya untuk mengambil tas selempangnya,pergi dengan Endra tanpa penjelasan.


"Sorry Dit" hanya kata itu yang diucapkan Jessie sebelum memilih pergi bersama Endra.


Ardit memijat pelipisnya.Perasaannya semakin tak menentu.Apa yang diucapkan Maya akan jadi kenyataan.


Ardit yang pulang dengan emosi yang meluap-luap membanting semua figura tempat sketsa Jessie dipasang.Tempat kramat yang tak siapapun boleh memasukinya.Selalu dalam keadaan terkunci.


Eri yang baru tiba di apartemen Ardit kaget bukan main.Belum pernah ia melihat tuan mudanya sekacau ini selain ditinggal oleh mamanya.


"Tenangkan diri anda tuang muda" Eri berusaha menenangkan Ardit namun gagal


Ia yang panik langsung menghubungi Jessie saat itu juga.


"Kenapa om?" tanya Jessie melalui sambungan telefon


"Cepat ke apartemen sekarang non,ini darurat" Eri langsung memutuskan sambungan telefonnya


"Kenapa Jes?" tanya Endra


"Anterin gua bisa kan?" mendengar Eri yang sepanik itu Jessie tak kalah panik juga.Ia tak tahu apa yang dilakukan Ardit sampai membuat asisten itu kelang kabut


Jessie yang sudah hapal diluar kepala kode akses pintu Ardit langsung masuk.Suasana diruang tamu masih sama.Namun kamar rahasia yang selalu dikunci Ardit hancur berantakan.

__ADS_1


"Ardit" panggil Jessie lirih saat melihat Ardit duduk di sofa dengan penampilan yang berantakan


__ADS_2