Ruang Hati

Ruang Hati
Ch 8


__ADS_3

Kita mungkin memang diciptakan agar ada yang pernah merasa bahagia, akan kehadiran kita.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Alfa, Alfi, kak Fahri" Gumam Alin yang nampak seperti sedang terbengong-bengong di depan cermin di meja rias.


Sesungguhnya, ia masih tak menyangka bisa bertemu lagi dengan seseorang yang membuatnya pernah sangat mencinta dan bahagia, seseorang yang membuat ia hancur dan terluka, sampai rasanya nyaris porak-poranda seluruh sendi kehidupannya, ya, se-gila itu ternyata dirinya dalam mencinta.


"Astaghfirulloh.." Alin beristighfar beberapa kali.


Dan lagi, yang semakin tak ia sangka adalah kenyataan bahwa salah satu- tidak, dua diantara anak muridnya adalah buah hati dari seseorang itu.


Alin beranjak dari tempat duduknya, ia hempaskan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Berbaring telentang dengan kedua tangan terbuka, menatap lurus langit-langit kamarnya.


"Arfa Fahri" Gumam Alin, mengingat nama laki-laki itu.


"Jadi itu nama lengkapnya.." lanjut monolog Alin.


Siang tadi, selesai dengan kegiatan belajar mengajar, Alin membuka data-data anak muridnya, ah tidak, lebih tepatnya melihat data tentang si kembar Alfa dan Alfi. Nama ayah si kembar, itulah yang sedang Alin cari.


Arfa Fahri, tak sedikitpun terpikir oleh Alin bahwa nama itu milik seseorang yang ia kenal-


"Ah, apa benar aku mengenalnya!?" Tanya Alin pada dirinya sendiri, ia tersenyum miris.


"Tidak, ternyata sejak awal aku memang tak mengenalnya.." Suara Alin sedikit bergetar.


Alin merasakan sesak yang tiba-tiba menyelinap menyeruak masuk, menyerangnya tanpa aba. Ia merasa sangat bodoh, dan itu membuatnya tambah sesak. Ia jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa dirinya begitu mencintai sedangkan ia tidaklah begitu mengenalnya.


"Aku memang bodoh, kak, bagaimana bisa aku begitu mencintaimu sedangkan nama lengkapmu saja aku tak tahu.. hahaha" Satu tetes air mata lolos begitu saja. Alin tertawa dan menangis disaat yang sama.


Jika dipikir-pikir, Alin benar-benar tak tahu apa-apa tentang Fahri, hanya satu yang tak asing untuknya, bahwa namanya ialah Fahri.


"Haha.. kak Fahri, bagaimana bisa kau membuatku seperti ini!? Aku tak tahu apa-apa tentangmu, tentang orang tuamu, keluargamu, alamat rumahmu, tentang semuanya, aku benar-benar tak tahu. Mengapa aku sebodoh ini!? Kak.. apa yang sudah kau lakukan padaku!?" Alin meratap dengan air mata yang berderai.


Aaarrghh!!


Teriakan Alin tertahan, teredam dalam bantal tempat ia membenamkan wajahnya. Sengaja agar sang mama tak mendengar teriakan frustasinya.


Sekali lagi, ia dibuat hancur. Oleh orang yang sama. Sikap Fahri yang seolah merindu dengan perpisahan mereka padahal sebenarnya dialah yang mengakibatkan perpisahan itu terjadi dengan pergi tanpa permisi, menghilang bak ditelan bumi, menyisakan seonggok hati yang berantakan karena ditinggalkan penghuni pujaannya.


Malam itu, Alin menangis pilu, terisak lirih, sampai akhirnya ia jatuh terlelap.


•••

__ADS_1


"Assalamualaikum, pagi ma.." Sapa Alin pada Mama Laila di seberang telepon.


Hening sesaat sampai akhirnya Mama Laila menjawab.


[Waalaikumussalam.. pagi, sayang.. Sudah mau berangkat?] Tanya Mama Laila mengulas senyum.


"Iya, ma.. Aku berangkat ya, Mama jangan capek-capek, kalo ada apa-apa hubungi aku.." Pesan Alin pada sang mama.


[Iya.. kamu cerewet kayak siapa si Fah!?] Mama Laila terkekeh kecil.


"Mama iih.." Alin sedikit memanyunkan bibirnya, memberitahu sang mama kalau ia merajuk.


[Haha.. iya iya.. mama becanda kok, yaudah hati-hati bawa motornya, jangan ngebut-ngebutan..]


"Iya mamaku sayang.." Alin ikut terkekeh.


"Kayaknya aku tahu aku cerewet kayak siapa.." Lanjut Alin, masih dengan kekehannya.


[Iyaa.. iya mama tahu, mau bilang kayak mama 'kan?!]


Alin yang mendengar jawaban mamanya malah semakin tertawa, Mama Laila tak tahan untuk tak ikut tertawa.


Perlahan tawa Mama Laila merendah, ia tatap lekat putrinya yang masih tertawa-tawa, Mama Laila senang melihat anaknya itu masih bisa tersenyum dan tertawa meski mata sang anak tak bisa membohonginya. Mama Laila tahu, pasti semalam anaknya itu menangis. Ia harap, anaknya itu bisa berbahagia tanpa bayang-bayang kesakitan dari masa lalunya, semoga anaknya itu lekas terlepas dari jerat kesedihan dan menemukan masa depan yang lebih baik..


"Yasudah ma, anak-anak sudah pada datang, sebentar lagi waktunya masuk.." Ucap Alin memecah lamunan Mama Laila.


"Waalaikumussalam warohmatulloh.."


Tut


Panggilan berakhir.


Setelah bel tanda masuk dibunyikan, Alin bersiap menyambut anak-anaknya di depan pintu. Memberi salam pada mereka yang sudah berbaris dengan rapi satu persatu. Kadang memberi pelukan, memberi kecupan di kedua pipi, atau melakukan tos, tergantung apa yang mereka inginkan.


Sampai tiba pada giliran si kembar Alfa dan Alfi, tanpa sadar Alin memperhatikan mereka dan dapat Alin lihat si kembar nampak kurang bersemangat pagi itu.


Sedetik kemudian Alin mengulas senyum, ia mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi si kembar.


"Assalamualaikum, selamat pagi sayang.." Sapa Alin dengan ceria, dengan harapan dapat membuat anak-anaknya itu ceria juga.


"Bu Alin.." Ucap Alfa dan Alfi kompak. Tapi nada suaranya masih terdengar lesu.


"Iya, sayang.. kenapa hm? Eh tapi sebelumnya, Abang sama kakak belum jawab salam ibu lho, hayo.. lupa ya hm!?" Alin tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


"Eh iya, kakak lupa.. hehe" Alfi yang menjawab dengan cengengesannya.


"Waalaikum ssalam, Bu Aliin.." Ucap Alfi lagi.


"Mau peluk" Lanjut Alfi, lagi.


"Sini sayang" Alin membawa Alfi dalam pelukannya, ia kecup puncak kepala gadis kecil dengan kuncir dua itu.


"Hai Abang" Sapa Alin kemudian beralih pada Alfa, setelah sebelumnya mengurai pelukannya dengan Alfi.


Tak ada jawaban, Alfa hanya menatap gurunya itu dengan tatapan yang.. entah apa Alin tak tahu pasti, tapi yang Alin dapat tahu, anaknya itu seperti sedang menghawatirkan sesuatu.


"Abang ayo~" Ajak Alfi yang menarik-narik lengan kembarannya itu.


"Abang kenapa? Abang sakit?" Tanya Alin.


Hanya gelengan kepala yang Alin dapat atas jawaban dari pertanyaannya.


"Abang nggak mau sekolah ya?" Tanya Alin lagi. Kembali Alfa hanya menggelengkan kepalanya.


Alin menatap Alfa penuh sayang sambil tersenyum tipis. Ia bawa sang anak dalam dekapannya.


"Kenapa sayang, hm? Abang lagi sedih ya!?" Tebak Alin. Tak ada jawaban, tak ada juga gelengan kepala. Tapi sesaat kemudian terdengar suara isak tangis lirih.


Alin usap-usap punggung kecil itu.


"Nggak apa-apa, sayang.. Tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja, Abang hebat, Abang kuat, Abang kan jagoannya Bu Alin.. Jangan sedih lagi ya.." Hibur Alin.


Setelah dirasa Alfa sudah selesai dengan tangisannya, Alin mengurai pelukannya, ia tatap Alfa sambil tersenyum. Dihapusnya sisa-sisa air mata di pipi menggemaskan itu.


"Sekarang Abang senyum ya, Ibu suka liat anak-anak ibu tersenyum, Bu Alin sayang Abang, sayang kakak juga semua anak-anak ibu, ibu sedih kalau lihat kalian sedih.." Tutur Alin.


Setelahnya, Alfa tersenyum. Manis dan menggemaskan.


Cup cup


Alin kecup kedua pipi gembul Alfa.


"Itu hadiah buat Abang yang udah senyum dengan manis.." Alin berujar.


"Udah yuk, kita masuk, teman-teman udah pada nungguin.." Ajak Alin pada dua bocah kembar itu.


Meskipun Alin masih penasaran dengan apa yang terjadi pada si kembar, khususnya pada Alfa, tapi untuk saat ini yang terpenting anaknya itu sudah tak murung lagi, ia bisa tanyakan lagi nanti tentang apa yang terjadi sebenarnya. Dan lagi, sekarang sudah waktunya belajar.

__ADS_1


Bismillah..


To be continued~


__ADS_2