Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 6


__ADS_3

"Cappucino mbak" ucap Jessie pada penjaga kantin


"Lu?" tanya Jessie pada Ken yang sudah duduk


"Moccacinno" sahutnya.Beda selera ternyata.


"Emang bener pernah tetanggaan sama Oktav?" tanya Ken


"Sempet,dua tahunan kalo gak salah"ucap Jessie yang menerima pesanannya


"Dia pindah pas kelas dua smp" lanjut Jessie


"Ken" sapa Bella yang ternyata ada disana juga


"Eh Bel duduk" tawar Ken pada Bella.Jessie pikir Bella akan duduk disebelahnya namun ia menarik kursi di sebelah Ken.


"Kalian saling kenal?" tanya Bella


"Gak juga kak,karena aku kenal sama Onta...eh Oktav maksudnya"


"Kamu gak masuk kelas Bel?" tanya Ken


"Jam kosong Ken"


"Kamu sendiri kenapa gak dikelas?" tanya Bella


"Males aja" sahut Ken.Jessie yang berada disana merasa menjadi pengganggu diantara keduanya.


Ia pun pamit kembali ke kelas dengan alasan Maya mengiriminya pesan.


Ternyata Maya memang sudah menunggunya di depan kelas sambil menenteng tas ranselnya.Dan kali ini Jessie yang mintq diberi tumpangan olehnya.Memaksa lebih tepatnya.Ia di turunkan Maya di halte karena arah mereka berlawanan.Maya ingin pergi kerumah pamannya untuk menjemput adiknya.


"Lama amat sih kak" gerutu Dion


"Masih bagus gua jemput lu Yon" sahut Maya kesal.Karena buru buru ia sampai menurunkan Jessie di halte.Halte depan sekolah pula.Kan jahat cuma bedanya lewat gerbang samping doang.


"Mama kemana emang sampe minta jemput gua?" tanya Maya memberikan helm pads adiknya


"Arisan katanya" jawab Dion


"Duh susah kalo emak emak mah" gerutu Maya


"Lu aja yang belum jadi emak emak lebih nyusahin" kecil kecil cabe rawit mulut Dion


"Ngatain gua lagi jalan kali lu sampe rumah" ancam Maya yang langsung diiyakan berkali kali oleh Dion


Maya menarik gas motornya mendadak.Membuat Dion hampir saja terjengkang kebelakang.


"Gua aduin mama lu kak" ucap Dion yang merangkul perut Maya


Jessie masih duduk di halte depan sekolahnya memandang langit yang mendadak mendung.Ia memesan ojol di aplikasi online.Namun sejak lima belas menit yang lalu tak ada satupun yang mengambil orderannya.


"Ojek mbak" tawar seseorang yang mengehentikan motornya didepan halte


"Kaga bang" sahut Jessie cepat


"Nunggu siapa?" Jessie menoleh kearah pemuda bermotor besar dengan helm full face yang di taruh di lengannya


"Ojol" sahut Jessie


"Mending bareng gua" tawar Ken


"Boleh lah" Jessie memindahkan tas ranselnya kedepan


"Takut gua ngerem mendadak?"


"Pinter.Tuh tau" sahut Jessie


"Mau pake?" tanya Ken yang memberikan helm miliknya


"Gausah deh.Ntar gua kayak satria baja hitam lagi" tolak Jessie

__ADS_1


"Pegangan" pegangan yang di tangkap oleh Jessie adalah memegang kedua pundak Ken.Terserah sajalah batin Ken.


Jessie menjadi wanita pertama yang dibonceng oleh Ken.Bella yang pernah menjadi pacarnya saja tak sekalipun ia ajak untuk duduk dibelakangnya.Dan karena Jessie pula Ken selalu ingin berbicara panjang lebar.Meski ia dikenal jarang menyahut jika ditanya oleh teman temannya.


Deru motor berhenti didepan rumah Jessie.


"Kaga nyuruh gua mampir nih?" tanya Ken


"Mau?" tanya Jessie balik


"Kesannya kayak gua yang maksa ya" Ken menggaruk kepalanya


"Keramas makanya biar gak gatel kepala lu"


"Cieee..merhatiin" Ken meledek Jessie


"Apaan si kang bakso"


"Udah sono balik keburu ujan" tutur Jessie pada Ken yang malah enggan pulang


"Kawatir lu ama gua?" ledek Ken lagi


"Tau ah baper mulu tiap gua ngomong.Masuk duluan gua" Jessie masuk lewat gerbang kecil.


"Dah" Ken melambaikan tangan pada Jessie namun tak ditanggapinya


Nindya yang sedari tadi mengintip Jessie dari jendela langsung menanyainya.


"Siapa?" tanyanya saat Jessie baru melangkah masuk


"Astaga mama.Ngagetin aja" ucap Jessie sambil mengelus dadanya


"Kakak kelas itu ma" sahutnya berlalu pergi


"Gak disuruh masuk dulu" tanya mamanya


"Biarin aja deh.Lagian udah mau ujan" sahut Jessie yang duduk di sofa


"Papa udah pulang ma?" tanya Jessie


"Udah sayang.Tadi ada telfon mendadak dari hotel jadi pergi lagi"


---


"Jenong" sapa Oktav yang duduk didepan bangkunya


"Pulang sekolah gua anter ya" ujarnya sambil tersenyum


"Di jemput mang Diman gua On" tolak Jessie


"Lu manggilnya gitu amat sih Jes.Kesannya kayak lu ngatain dia oon gitu" sahut Maya yang duduk di sebelahnya


"Kenapa gak ke kantin?" tanya Oktav


"Tau males aja gua" sahut Jessie


"Sini gua yang telfon nyokap lu dah,biar lu ikut gua latihan band"


"Gua kaga diajak nih" tanya Maya


"Ikut aja May,kudu aja pake diajak lu ma" ucap Oktav


Dan ketika jam pelajaran selesai bukan Jessie yang terlihat begitu bersemangat,tetapi Maya yang menjadi tidak sabaran menuju ruang musik,melihat Ken dan band nya latihan.


Jessie berjalan sambil mengetik pesan di ponselnya.Mengatakan pada mamanya jika ia akan diantar pulang oleh Maya.Maya yang berjalan didepannya geram,ia menarik ransel Jessie agar langkahnya sedikit lebih cepat.


Tok..tok..


Maya mengetuk pintu kaca.Oktav tersenyum lalu melambaikan tangan,mengisyaratkan mereka untuk masuk.


"Siapa Tav?" tanya drummer yang bernama Peppy

__ADS_1


"Cewek lu?" tanya bassis yang bernama Arbian atau akrab disapa Bian


"Ngaco kalo ngomong" sahut Oktav cepat


Maya merasa sedikit canggung,melirik Jessie yang ternyata malah bermain game online.Sialan.


Ken masih duduk diatas speaker,menenggak habis soda yang masih tersisa sedikit.


"Mulai aja yuk" Ken berdiri membuang kaleng kosong ke tempat sampah yang ada di dekat sofa tempat Jeasie duduk.Main game ternyata,batin Ken.


Jessie masih fokus bermain game setengah jam kedepan.Gerakan tangannya terhenti saat Ken menyanyikan salah satu lagu.Lagu yang sering ia dengar dari papanya.


Sebelas januari bertemu


Menjalani kisah cinta ini


Naluri berkata engkaulah


Mi-li-ku


Lumayan juga pikir Jessie.Ia menyimpan ponselnya mendengarkan tiap kata yang dinyanyikan dengan penuh perasaan.


"Oke sampe sini dulu latihannya" Oktav memberi instruksi


Yang tidak Jessie habis pikir sejak kapan anak itu bisa bermain gitar.


"Sejak kapan lu bisa main gitar?" tanya Jessie saat Oktav duduk di sebelahnya


"Kapan ya?udah lama pokoknya" sahut Oktav


"Bagus banget sih kak suaranya" puji Maya pada Ken yang berselonjoran di sofa satunya


"Kalo suara gua jelek ma kaga bakal jadi vokalis" jawaban yang menyebalkan yang pernah di dengar oleh Jessie


"Kaga mau nyanyi lu Jes?" tawar Oktav


"Emang bisa?" tanya Maya melihat kearah Jessie Ken yang jarang menyahut jadi ikut penasaran


"Ogah emen" sahutnya datar


Mereka berempat masih berkumpul disana.Bercerita tentang beberapa festival yang pernah diikuti oleh band yang bernama Skala itu.


Pesan masuk dari mamanya menjadi pengingat jika hari semakin sore.Jessie segera mengajak Maya pulang dan memintanya menepati janji akan mengantarnya pulang.


"Mampir dulu May?" ucap Jessie saat ia turun di depan rumah


"Lain kali aja ya Jes,sampein salam gua buat nyokap lo" kata Maya kembali menstater motor maticnya meninggalkan Jessie yang masih melihat kepergiannya


Jessie membuka gerbang.Melangkah masuk kedalam rumah yang ternyata sudah ada papanya di ruang tamu.


"Papah" teriak Jessie berhambur di pelukan papanya yang sedang duduk di sofa


"Baru pulang?" tanya Deny


"Iya liat latihan temen ngeband pah" sahutnya


"Temen apa temen" goda papanya


"Temen pah temen,itu loh si Onta yang dulu tinggal sama om Ari" Jessie mengingatkan


"Oh yang temennya.." belum juga Deny melanjutkan ucapannya ia sudah di pelototi istrinya.Diam tak jadi melanjutkan.Jessie berusaha senetral mungkin.


"Kamu udah makan belum sayang?" Nindya mengalihkan pembicaraan


"Belum mah.Mau mandi dulu" sahut Jessie yang melepaskan pelukannya dari Deny.Berlalu pergi menaiko tangga menuju kamar atas


"Tuh kan pah.Ngapain di singgung sih" omel Nindya saat memastikan Jessie sudah masuk kedalam kamarnya


"Gak sengaja mah gak sengaja" jawab Deny yang merasa bersalah.


Terkadang.Ada sebuah kenangan yang enggan kita usik lagi,kenangan yang jauh terkubur di dalam hati.Namun hanya dengan mengingatnya saja membuat sudut hati kita terasa tercubit.

__ADS_1


Orang yang paling tidak ingin ia temui.Mungkin bisa jadi selamanya.


__ADS_2