
"Bukan gitu pah.Kalo gratisan ma jangan ditolak" sahut Nindya yang sedang mencoba jam tangan itu.Menaikkan tangannya tinggi tinggi di depan wajah suaminya
"Bagus ya pah"
"Hemmm" sahut Deny malas
"Masih cemburu aja kamu pah,Joon udah punya anak seumuran Jessie juga" ucap Nindya
"Tapi kan sekarang dia duda ma"
"Ini mau papa yang ngambek atau mama yang ngambek?" tawaran macam apa Nindya
"Gak deh ma enggak.Maafin ya" Deny mengelus punggung tangan Nindya sepelan mungkin
"Bagus ya jam nya" puji Deny yang berusaha setulus mungkin
"Hmmmm" gantian Nindya yang menyahut sekenanya
Bukan Jessie yang sangat menuruni sifat ibunya jika tidak mengantuk di kelas.Di jam ketiga pelajaran hari itu dia sudah menguap yang kesekian kalinya.
Ie mengangkat buku paket kedepan mukanya.Menutupi sosok guru yang setiap mengajar jarang sekali beranjak dari kursinya.
Jessie bahkan sampai tidak tahu saat guru itu selesai mengajar sebelum bunyi bel istirahat.Maya yang di sampingnya masih sibuk membereskan buku bukunya.
Tokk..tokk..
Jendela yang menjadi sandaran Jessie di ketuk dari luar.Jessie mengumpulkan segenap niatnya untuk menoleh.
Murid lelaki?
"Tidur?" Jessie bisa mengerti dari gerak bibirnya
"Siapa sih?" Jessie menengok pada Maya yang malah bengong
"Itu Ken vokalis band sma kita oncom"
"Mana gua tau" Jessie sudah duduk tegak.Merapikan seragamnya yang sedikit kusut.
Tokk..tok..
"Apa?" tanya Jessie sewot.Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya
"Kantin" ia memperagakan gerakan makan
Jessie cepat cepat menggeleng.Malas menanggapi ajakan orang yang tidak ia kenal.Tiga teman Ken datang menghampirinya.Menarik Ken menjauhi kelas Jessie.
"Gilaaaa!baru seminggu jadi murid baru udah diajak ngobrol sama Ken" ucap Maya kegirangan
"Kantin yuk laper" Jessie berdiri dari kursinya
"Tadi diajakin Ken ke kantin kaga mau" omel Maya
Jessie dan Maya pun menuju kantin.Mengantri kedalam barisan untuk memesan makanan.Seorang murid lelaki menghampiri Jessie dan Maya.
"Jenong?" tanya ia yang berdiri di samping Jessie
"Onta!" Jessie ikut menyebut nama
Maya yang berada di tengah mereka bengong sejak kedatangan murid itu.Apaan sih pikirnya.
"Sini sini yuk duduk bareng" ia menarik Jessie yang reflek mengapit lengan Maya.Bergabung dengan meja yang ditempati oleh Ken pula.
"Sepuluh berapa lu Nong?" tanya lelaki yang bernama Oktavianus Maheswara
__ADS_1
"Sepuluh tiga On" jawab Jessie
"Tunggu..tunggu kok lu bisa kenal dia?" tanya Ken menunjuk pada Jessie
"Pernah jadi tetangga kita" sahut Oktav yang hendak melanjutkan pertanyaannya lagi
"Yakin cuma tetangga " cibir Doni yang sejak tadi diam saja
"Mantan kali" Dimas menimpali
"Sepuluh tiga?" Dimas jadi teringat sesuatu
"Bukannya lu tadi berenti di kelas itu Ken?" tanya Dimas kemudian
"Iya.Napa emang?" tanyanya yang sedang memainkan ponselnya
"Iya dia nyapa Jessie tadi" Maya menjawab pertanyaan mereka
"Hah?" Ketiga teman Ken serempak menoleh
"Heboh amat sih,gua aja yang di sapa kaga sadar" ucap Jessie
"Laper nih gua On,pengen ngantri malah lu tarik kemari" gerutu Jessie
"Mau apa biar babang yang pesenin" tawar Doni yang memang selalu genit dengan adek kelas mereka
Rentetan pesanan Jessie absen.Maya hanya mengatakan samain aja.Maksudnya biar cepet dan pesanan cepat datang.Jessie yang baru hendak menyuap dikecewakan dengan bel masuk kelas.Laper nih perut itu bel kenapa cepet amat sih,gerutu Jessie.Ia masih sempat menyuap tiga kali meski Maya memaksanya untuk cepat cepat menuju kelas.
Seret yang dirasakan oleh Jessie saat itu.Ia menoleh ke bangku yang ad dibelakangnya.
"Punya minum gak?bagi dong" Lia menyodorkan botol air mineral yang belum sempat ia minum
"Napa lu Jes?" tanya Kikan yang duduk di belakang Maya
"Dari pada telat hayoo" Maya membela diri
Pak Bimo guru yang mengajar jam mata pelajaran sudah masuk.Semua murid mendadak diam seketika.Tampangnya seram karena kumis tebal yang bertengger di bawah hidungnya.
"Gua mau nanya lu nih May" bisik Jessie yang menempelkan lengannya kepada Maya.Maya pun mendekatkan kupingnya ke Jessie.
"Itu kumis apa sapu ijuk si?" pertanyaan Jessie membuat Maya menoleh kearahnya sesaat lalu kembali memperhatikan penjelasan pak Bimo
"Napa emang?" tanya Maya yang masih berbisik
"Gemes gua pengen nyukur kumisnya" ucapan yang terlontar dari mulut Jessie membuat Maya setengah mati menahan tawa.Apaan coba yang dipikirkan Jessie sampai ingin mencukur kumis gurunya.
"Nih gua modalin" Maya mengeluarkan gunting dari kotak pensilnya
"Idih geli" tolak Jessie menjauhkan gunting dari badannya
"Kata lu gemes gimana sih" Maya balik bertanya
"Salah ngomong gua.Maksud gua tuh risih" ralat Jessie
"Risih apa risih hayoo" goda Maya
"Kalian!" suara berat pak Bimo membuat seisi kelas menoleh pada Jessie dan Maya
"Kalau tidak mau mengikuti jam pelajaran saya silahkan keluar" ucapnya sambil menunjuk pintu
Jessie dan Maya langsung kicep saat ditegur oleh pak Bimo.Jessie memilih diam meski cacing di perutnya terus saja menghasutnya.
Pak Bimo memberikan lima belas soal sejarah.Jika bisa menyelesaikannya lebih cepat maka mereka diijinkan untuk pulang terlebih dulu.Otak Jessie langsung dalam posisi on.Ia mengingat ingat setiap penjelasan yang di terangkan.Catatan dalam bukunya juga tak terlalu banyak.Melihat kecepatan Jessie dalam mengerjakan soal membuat Maya percaya jika teman sebangkunya itu memang cerdas.
__ADS_1
"Kamu kecepetan ngerjainnya" ucap pak Bimo yang menerima buku Jessie
"Lah gimana sih pak?" tanya Jessie bingung.
Wah gajelas nih guru,batinnya.
"Kamu boleh keluar kelas duluan,tapi jangan bawa tas atau kabur dari sekolah ya" pak Bimo memperingatkan
Mau bagaimana lagi.Lebih baik ia keluar dari pada menahan kantuk di dalam kelas.Bingung hendak kemana perpustakaan menjadi tujuannya.Menurut pengakuan teman sekelasnya perpustakaan sekolah mereka adem.
Jessie melewati beberapa kelas.Perpustakaan sekolahnya berada di bagian belakang dekat dengan parkiran.
"Kamu bolos kelas?" tanya penjaga perpustakaan
"Gak bu.Saya selesai ulangan" jawab Jessie sopan
Setelahnya Jessie baru di perbolehkan masuk.
Ia memilih deretan buku buku yang tersusun rapi.Mengambil dua buku yang ia pilih untuk menjadi bahan bacaan.
"Lucu amat nih anak" komentar Ken yang menemukan Jessie tertidur sambil menyangga kepalanya
"Ehhh.." tangannya reflek menahan kepala Jessie agar tidak terbentuk kaca
Ken mengamati setiap detail wajahnya.Wajah mulus tanpa cacat sedikitpun.Bulu mata yang lentik dan hidung yang mancung.Ditambah bibir tipisnya yang merah dengan belahan ditengahnya.Ken mengulurkan tangannya hendak menyentuh namun terhenti saat Jessie mulai tersadar.
"Duhhh" ia meregangkan badannya.Ken yang duduk di depannya mengamati sambil tersenyum
"KEN!" ucap Jessie ketika baru menyadari kehadirannya disana
"***** amat si lu" cibir Ken
Sejak pertama kali melihatnya membuka lab kimia seorang diri membuatnya merasa ia sedikit lain dari siswi kebanyakan.Seluruh murid di sekolahnya tau jika lab kimia terkenal seram,dan karena tidak tega akhirnya ia malah membuntuti Jessie.Lalu di hari pertama sekolah ia melihatnya dijemur dilapangan siang bolong.Menergokinya beberapa kali menahan kantuk sampai tertidur.Ketidaktahuannya akan popularitas yang dimiliki Ken membuatnya merasa ia berbeda.
"Lu aja yang liatnya pas gua tidur mulu" sahutnya
"Kantin yuk gua traktir kopi" ajaknya
"Cuss lah" Jessie berdiri.Mengelap iler yang sebenarnya tidak ada.
Ken mengambil alih buku di tangannya.Menaruhnya ke rak yang paling dekat dengannya.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin.Berpapasan dengan Rania dan Nadia yang keluar dari toilet.Heran tu dua manusia kenapa demen banget maen di toilet.
"Cappucino mbak" ucap Jessie pada penjaga kantin
"Lu?" tanya Jessie pada Ken yang sudah duduk
"Moccacinno" sahutnya.Beda selera ternyata.
"Emang bener pernah tetanggaan sama Oktav?" tanya Ken
"Sempet,dua tahunan kalo gak salah"ucap Jessie yang menerima pesanannya
"Dia pindah pas kelas dua smp" lanjut Jessie
"Ken" sapa Bella yang ternyata ada disana juga
"Eh Bel duduk" tawar Ken pada Bella.Jessie pikir Bella akan duduk disebelahnya namun ia menarik kursi di sebelah Ken.
"Kalian saling kenal?" tanya Bella
---
__ADS_1
Jangan lupa like,komen dan susbcribe ♡♡♡