
اِرْحَمُوا مَن فِي الارض
يَرحَمكُم مَن فِي السَّمَاء
"Sayangilah makhluk yang ada di bumi,
Niscaya yang ada di langit akan menyayangimu."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Assalamualaikum, Ma" Ucap Alin sembari menggamit serta mencium punggung tangan perempuan paruh baya di depannya, perempuan hebat yang sangat Alin sayangi dan cintai, mamanya, Mama Laila.
"Waalaikumussalam, sayang.. ayo masuk" Jawab Mama Laila, tangannya mengusap puncak kepala putri satu-satunya itu penuh sayang, tak lupa senyum tulus di wajahnya.
"Kamu mau makan dulu atau sholat dulu, Fa?" Tanya Mama Laila yang tangannya setia merangkul bahu Alin. Fani, begitulah nama kecil Alin yang biasa digunakan Mama Laila ketika memanggilnya, itupun sepertinya masih terlalu panjang bagi Mama Laila sebab Mama Laila lebih sering memanggilnya dengan satu suku kata depannya 'Fa' kadang juga Mama menambahkan satu huruf 'h' diakhir, jadi 'Fah'.
"Aku udah sholat ko ma, barusan di jalan mampir dulu ke masjid. Aku mau cuci tangan dulu abis tu makan, hehe, laper" Alin menjawab sembari tertawa-tawa kecil, tangannya mengusap perut ratanya di akhir kalimatnya itu.
"Ya udah, mama siapin dulu, nanti kamu langsung ke meja makan ya.." Ucap Mama Laila yang dijawab anggukan kepala oleh Alin. Setelahnya, segera ia berlalu ke dalam kamarnya.
Nasi dan kawan-kawannya sudah tertata rapi di meja makan ketika Alin sampai disana. Mama Laila menyambutnya dengan senyum lebar.
"Ayo sayang" Mama Laila menarik Alin dengan antusias, mendudukkan nya, dan dengan telaten ia mengisi piring anak semata wayangnya itu dengan nasi dan kawan-kawannya.
"Padahal aku juga bisa sendiri ma, dan lagian harusnya aku yang melayani mama." Rengek Alin yang hanya ditanggapi senyuman oleh Mama Laila.
"Udah mamaku sayang, sini mama duduk, sekarang biar aku ambilin juga buat mama"
Mama Laila tersenyum melihat anaknya mengisi piringnya dengan cekatan.
"Iya juga ya" Gumam Mama Laila lirih, namun dapat ditangkap Indra pendengaran Alin.
__ADS_1
"Kenapa ma?" Tanya Alin yang sudah mengerutkan sebelah alisnya.
Mama Laila terkekeh sebelum akhirnya ia menjawab.
"Kamu benar, nak. Itung-itung kamu belajar buat melayani suami kelak." Mama Laila masih meninggalkan kekehannya diakhir kalimatnya. Alin hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan sang mama.
"Sayang.. kamu pasti mendapatkan yang terbaik. Mama yakin. Tuhan sudah mempersiapkannya untukmu, yakinlah." Ucap Mama Laila syarat akan makna, diusapnya lembut lengan kanan anaknya itu, tak lupa senyuman hangat ia berikan pada anaknya yang tiba-tiba sedikit murung dan melamun.
"Makanlah, sayang" Ucap Mama Laila lagi, menginterupsi atensi anak semata wayangnya yang menatap sendu pada piringnya.
Usapan tangan lembut akhirnya berhasil menarik Alin kembali ke kesadarannya. Alin mengangkat kepalanya dan segera ia menemui tatapan mamanya dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
"Ayo ma, kita makan" Ucap Alin dengan suara riang yang coba ia tampilkan di depan mamanya.
"Maa Syaa Alloh, ini pasti enak banget ma, masakan mama selalu juara di lidah aku" Sekali lagi, Alin mencoba menghidupkan kembali suasana hatinya, ia tertawa kecil sampai menampilkan giginya dengan kedua jempol tangan ia acungkan, mengapresiasi maha karya masakan mamanya.
Mama Laila balas terkekeh kecil, tangannya mengusap lembut lengan Alin, seolah mentransfer energi guna menguatkan Alin, menguatkan fisik, hati juga pikiran Alin, putri kesayangannya.
•••
Hari-hari Alin berjalan seperti biasanya. Mengajar di taman kanak-kanak, pulang dan menghabiskan waktu di rumah bersama sang mama yang saat ia pulang sang mama juga sudah pulang dari pasar. Ya, pagi-pagi sekali Mama Laila sudah pergi ke pasar, membuka jongko tempat ia berjualan sayur-sayuran.
Bertahun-tahun Mama Laila menjalankan usahanya, usaha yang ia rintis bersama dengan sang suami. Alin pernah memintanya untuk berhenti saja, biar Alin yang bekerja, tapi Mama Laila bersikukuh ingin terus melanjutkan usahanya. Bukan, bukannya ia gila dunia, ia hanya merasa akan bosan jika dirinya hanya duduk diam di rumah seharian. Akhirnya Alin membiarkan mamanya itu berjualan di pasar. Tapi bukannya Alin tidak peduli, ketika akhir pekan, Alin biasanya akan ikut serta dengan sang mama.
Dan setiap pagi, tugas Alin lah membereskan rumah, menyapu dan mengepel. Untuk memasak, biasanya Mama Laila selalu memasak sebelum berangkat, sederhana saja untuk mengisi perut sang anak sebelum anaknya itu berangkat menunaikan jihadnya. Mama Laila tau akan tugas berat anaknya, mendidik anak-anak generasi penerus bangsa dan negeri ini ^^
Selesai dengan pekerjaan rumahnya, Alin segera membersihkan diri dan bersiap berangkat. Ditaruhnya kunci rumahnya itu di tempat biasanya ia diletakkan. Agar nanti mamanya tak kesusahan mencarinya.
Alin merogoh ponsel di saku bajunya. Dibukanya aplikasi chat si hijau andalannya, mencari kontak sang mama kemudian menekan ikon panggilan suara. Nada sambung terdengar dan tak lama suara lembut mamanya segera tertangkap di indera pendengarannya.
"Waalaikumussalam, ma. Alin berangkat dulu ya, ma"
__ADS_1
Alin mengangguk mendengar tanggapan mamanya.
"Iya, ma. Aku bakalan hati-hati di jalan, mama juga baik-baik di pasar, kalau ada apa-apa segera hubungin aku ya." Jawab Alin kemudian karena sadar anggukan kepalanya tak bisa dilihat oleh sang mama.
"Iya ma, kunci rumah di tempat biasa ya.. Yaudah kalau begitu, aku tutup ya ma, Assalamualaikum.." Alin mengakhiri panggilan suara itu setelah mendengar jawaban salam dari sang mama.
Setelah mengucapkan salam pada rumahnya, segera Alin berangkat ditemani motor kesayangannya, sesekali ia melirik kaca spion motornya, kembali ke jalanan dan menambah kecepatan, kadang juga ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, memastikan kalau waktu yang ia punya cukup.
Sesampainya dia area sekolah, Alin mengembangkan senyumnya pada beberapa anak yang melambai-lambaikan tangan sambil memanggil-manggil namanya dengan wajah ceria yang setia menghiasi wajah mereka.
Begitu ia turun dan melepaskan helm nya, anak-anak tadi sudah mengerubungi nya, memeluk kakinya, tentu saja tak lupa suara-suara cempreng khas mereka yang seolah berebutan masuk ke indera pendengarannya. Alin mengulas senyum kemudian mengambil tas dan mengusap kepala mereka satu-persatu dan dengan senang hati mereka mencium punggung tangan Alin bergantian.
Bel pulang berbunyi nyaring, memberi tanda bahwa pembelajaran hari ini usai sudah. Setelah menutup pembelajaran dengan doa, satu-persatu anak-anak menyalami Alin kemudian Alin memeluk mereka satu-persatu.
Selesai membereskan ruangan kelas, Alin duduk sebentar di kursinya, fokus pada ponselnya. Ia sedang berbalas pesan dengan Bi Nining, ya, Bi Nining pengasuh si kembar Alfa dan Alfi.
Dua hari ini, si kembar tak masuk sekolah karena sakit, begitulah kabar yang ia terima kemarin dan hari ini dari Bi Nining. Alin nampak khawatir, tentu saja, siapa yang tidak khawatir saat anaknya sedang sakit, maksudnya, ya mereka memang bukanlah anak kandung Alin, tapi Alin sudah menganggap anak-anak muridnya sebagai anaknya sendiri walau nyatanya ia bahkan belum memiliki anak, jangankan memiliki anak menikah pun ia belum.
Akan tetapi, rasa-rasanya jika suatu hari nanti ia menikah dan memiliki anak, maka akan seperti inilah perasaan sayangnya pada anaknya kelak, sesayang itu Alin pada anak-anak muridnya.
Alin termenung sejenak membaca balasan pesan yang baru saja ia terima dari Bi Nining. Kemudian, tanpa ba bi bu lagi, Alin beranjak dari duduknya, mengambil tas dan segera ia berpamitan pada rekan-rekan guru lainnya.
"Bu Alin kayaknya lagi buru-buru ya!?" Tanya Bu Suci.
Alin tersenyum kecil, berusaha menekan kekhawatirannya.
"Iya Bu, sedikit. Mau ke rumah si kembar, dua hari ini nggak masuk karena sakit, Bu Uci." Jawab Alin berusaha tenang.
"Ohh gitu ya Bu, kasihan mereka, mudah-mudahan segera diberi kesembuhan ya Bu.." Bu Suci mendoakan, di-Aaminn-kan guru-guru yang lain.
To be continued~
__ADS_1