Ruang Hati

Ruang Hati
Season tiga - bagian 22


__ADS_3

Jangan lupa like,komen dan subscribe ya biar author makin semangat..


Selamat membaca semoga suka ♡♡♡


----


Karena Tuti mendadak ada kerja kelompok.Ditambah Maya yang kini selalu pulang bareng Oktav,mau tak mau Jessie harus pulang sendiri.


"Duluan gua Jes" teriak Maya sambil berlari saat melihat kedatangan Ardit.Keduanya masih belum buka suara walau Ardit sudah berdiri didepan Jessie.


Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Sedang apa kalian?" suara pak Bimo yang lebih dulu memecah keheningan


"Ngitung ubin pak" sahut Jessie lalu menarik lengan Ardit


"Ngeri gua Jes.Berasa lagi selingkuh terus ke gap sama pacar lu" Ardit memegangi dadanya yang berdebar


"Iya njirrr sawan gua" Jessie jadi ikut memegangi dadanya,memastikan jantunganya masih pada tempatnya.


"Woii malah bengong,lu mau nagih traktiran kan?" tanya Jessie yang menyikut lengan Ardit.


Hari-hari penuh pembalasan.Mungkin itu kata yang paling tepat untuk menjabarkan keadaan Dimas kali ini.Dulu saat masa penerimaan murid baru ia bisa seenaknya menghukum Jessie.Lihat sekarang ia yang tampangnya selalu mendung akibat ulah Jessie.


"Cobaan apa lagi ini?" ratap Dimas melihat meja penuh makanan


Berbanding terbalik dengan Jessie yang sibuk menyunyah burger.Ardit yang duduk disebelah Jessie sama tak bernafsunya seperti Dimas.Ardit pikir janji traktiran itu hanya ada dia dan Jessie.Tapi siapa sangka ia malah membawa pengawal baru,dua kembar sial itu.


"Nape lu?" tanya Jessie pada Ardit


"Gak nafsu makan gua" jawab Ardit singkat.


Mendengar jawaban itu Jessie jadi sedikit kesal.Kalau dari awal dia tidak suka makan di mekdi kenapa pula harus menyelesaikan soal yang ia buat.Dasar menyebalkan.Ingin rasanya Jessie menjejalkan kentang goreng ke mulutnya,tapi yang dilakukannya malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dipikirannya.


"Aaaa..aaa sayang,makan yang banyak ya" ucap Jessie dengan nada manis.Dimas dan Doni saling pandang,heran dengan sikap Jessie yang mendadak aneh.


"Jessie" Ardit menatap tidak suka saat Endra mendatangi meja mereka.Jadi gara-gara ni anak,batin Ardit.


"Boleh gabung?" karena tak ada jawaban Endra menarik kursi disebelah Jessie,diikuti kedua temannya yang ikut duduk.


"Oh jadi ini yang namanya Jessie?" sapa salah satu teman Endra


"Manisnya ngalahin gulali" sahut teman yang satunya lagi.Dimas dan Doni masih mengamati situasi yang tengah terjadi.


"Pulangnya dari sini gua anter ya Jes" tawar Endra.Belum juga Jessie menyahut Dimas sudah memotong kalimat yang sedari tadi ia rangkai dikepalanya.


"Bukannya lu udah ditungguin sama bokapnya Ardit ya Jes?" ucapan Dimas bagai oase ditengah padang pasir


Jessie patut bersyukur karenanya,meskipun Dimas dan Doni tak tahu pasti duduk permasalahannya.Insting mereka sebagai seorang sahabat langsung berada dalam mode on saat menyadari perubahan sikap Jessie yang tidak nyaman karena kehadiran Endra.


"Eh iya sayang papa udah ngechat dari tadi nih" Jessie pura-pura mengecek ponselnya.Padahal tidak ada apapun disana.Spam dari grup chat saja nihil.

__ADS_1


"Yaudah sayang kita jalan sekarang aja yuk" Ardit langsung menggenggam tangan Jessie.Melewati bangku Endra begitu saja tanpa menyapa.


"Eitt mau kemana?dilarang ganggu" Doni sudah menghadang langkah Endra yang hendak bangkit.Ya meski Doni sendiri sering menganggu Jessie tapi ia bisa membaca situasi jika tidak baik membiarkan Endra mendekati Jessie.


"Awas" Endra menyingkirkan pelan lengan Doni.Meski kesal ia tidak akan memperpanjangnya.Kedua temannya itupun mengajak Endra berpindah tempat.


Padahal Doni sudah bersiap jika ia harus adu jotos disana.Sedangkan Dimas hanya menggeleng melihat kelakuan Doni yang sok keren.


--------


Sejak kemarin Maya mencecar Jessie tentang ucapan Ardit yang mengatakan mereka telah berpacaran.


"Tapi tolongin kalo gua ceritain" rengek Jessie memegangi lengan Maya dengan kedua tangannya.Memasang wajah paling melas.


"Kenapa..kenapa?" tanya Maya yang enggan mengiyakan begitu saja


"Jadi.." Jessie menjeda sesaat


"Ardit itu pura-pura jadi pacar gua pas ketemu Endra didepan rumah" kenang Jessie.Pelan sekali suaranya.


"Seriusan?" tanya Maya dengan mimik muka tegang,pasalnya ia kawatir karena Endra sampai mendatangi rumahnya


"Makanya biar tu anak cepet pergi gua iyain aja idenya Ardit" Jessie lemas,menaruh kepalanya di meja perpustakaan.Tempat teraman dan sepi untuk curhat yang paling rahasia.


"Kapan kok lu gak cerita?" Maya dalam mode cemberut karena Jessie tidak menceritakan hal sepenting ini


"Itu loh pas malem festival musik.Selesai dari festival kita ke kafe kan?" Jessie membantu Maya mengingat.Sedangkan Maya mengangguk-angguk paham.


"Tuh kan bener firasat gua" merasa ia punya indera keenam saja


"Terus tu anak entah muncul dari mana nawarin bareng .Jadilah gua nebeng dari pada gak bisa pulang" jelas Jessie


"Terus ada kejadian apa yang dia bilang di mobil" mendengar kata mobil muka Jessie langsung merah


"Ardit nyium hidung gua" gumam Jessie tidak jelas dengan tangan yang menutupi mulutnya.Maya sampai harus mendekatkan kupingnya agar lebih jelas.


"DEMI APA LU JES!!!" saking kagetnya Maya sampai menggebrak meja perpustakaan.


"Berisik woi" teriak salah satu murid.Jessie menganggukkan kepalanya meminta maaf.Reaksinya lebih parah dari dugaannya.


"Sumpah demi cendol mang Jaya yang paling yahuttt" kedua tangan Jessie membentuk angka V


"Tu anak pengen gua tabok saat itu juga May,tapi gua keburu kaget ternyata yang di maksud si Ardit itu Endra" Jessie menaruh kepalanya diatas meja lagi


"May.." rengek Jessie yang tiba-tiba duduk tegak


"Apa?" tanya Maya yang mulai sembuh dari keterkejutannya


"Pinjem Oktav si buat jadi pacar pura-pura gua" Jessie kembali merengek.Menggosok kedua telapak tangannya berulang kali sambil memohon.


"Gilaaaa!baru semalem gua jadian Jes" ucap Maya yang mendengar permintaan konyol dari Jessie

__ADS_1


"Ayo lah May boleh ya?ogah gua maen drama-dramaan sama bocah tengil kayak dia" tawa Maya malah meledak mendengar ungkapan Jessie


"Kenapa gak dilanjut aja maen dramanya sama Ardit" celetuk Maya


"Tu anak kebanyakan improve May,gak sesuai sama situasi dan kondisi" Jessie juga menceritakan perihal Ardit yang berkunjung kerumahnya di hari minggu sambil membawa berbagai jenis makanan pedas.Ditambah mengaku sebagai pacar didepan mamanya yang malah terlihat girang.


"Baguslah,berarti tu anak menghayati peran" puji Maya


"Ah tauklah" Jessie kesal dan bangkit dari kursinya.Sampai didepan perpustakaan ia memakai sepatu dengan wajah suram.Ia bukan marah pada Maya tapi mengingat bagaimana kelanjutan dramanya nanti didepan Endra kedepannya.Benar kata Maya jika Jessie tiba-tiba mengakui Oktav sebagai pacarnya pasti akan terlihat aneh.Karena yang awalnya ia kenalkan sebagai pacar adalah Ardit.Ketahuan sekali jika Jessie hanya ingin menghindarinya.


"Jes" panggil guru penjaga perpus yang selesai membuang bungkus sampah kedepan perpustakaan


"Ya buk" sahut Jessie


"Sepatu kamu model baru?" Jessie langsung melirik sepatunya.Antara kanan dan kiri modelnya tidak sama.


Eh sepatu siapa nih yang sebelah? batin Jessie.Ia sendiri kaget saat menyadarinya.


Kontras sekali perbedaan model sepatunya yang jauh berbeda.Jessie mendongak,ia tersenyuman canggung menatap guru penjaga perpustakaan.Setidaknya cuma bu guru dan Maya yang tahu kan.


Setelah melepas sepatu yang ia salah pakai dan mengembalikkannya lagi ke rak,Jessie meraih sepatunya yang asli.Dibelakangnya Maya sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak lolos.


"Tong sampah mana tong sampah?!"


"Pengen gua buang nih muka May!!" teriak Jessie saat mereka sudah jauh dari perpustakaan


BONUS!!!




wajah-wajah bahagia karena dapet traktiran



yang merasa ketipu



mendadak jadi pahlawan,Dimas



Doni yang gagal ribut



yang ngerusak mood,Endra


__ADS_1


terakhir yang paling puas ngetawain,Maya


__ADS_2