
"Ini nih biang keroknya" tuding Rindu saat Rita dan Ervan datang
"Selaw..pesen yang dingin-dingin dulu" cegah Ervan yang langsung siaga satu
"Cappucino lima" Nindya buka suara.Semua mata memandangnya penuh tanya.
"Sebelumnya gua pengen konfirmasi satu hal dulu Nin, soal pemilihan hotel itu semua tanggung jawab Ervan ya" Rita mengangkat kedua tangannya tak mau ikut campur
"Sorry Nin,gua cuma mau rekomendasiin hotel yang menurut gua paling bagus"
"Sumpah gak ada niatan lain" Ervan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V
"Gua cuma kecewa aja Van lu kayak gini sama gua" ucap Nindya dengan suara selembut mungkin
"Merinding gua" Rian buka suara
"Stttt..diem" Rindu memperingatkan
"Sumpah Nin,gua cuma nyari hotel Bagus dengan harga murah karena budget dari kantor pas-pasan.Sedangkan yang bakal nginep sahabat gua masa mau gua kasih yang biasa aja" Ervan membela diri
"Ngaku aja pah kalo kamu mau deketin Nindya sama Deny lagi" Rita ikut memojokkan suaminya
"Duh..udah-udah.Ini kenapa jadi pada ribut sih" niat awal ia hanya ingin memperingati malah jadi membuat rumah tangga temannya ribut
"Tapi Nin.." Rita masih tidak terima dengan alasan Ervan
"Ngopi yukk ngopi biar gak salah paham" Nindya mulai meminum cappucino pesanan mereka.
Hanya sampai disitu pembahasan panjang yang sudah direncanakan oleh Nindya.
Nindya pamit setelah mendapat pesan jika rapat akan segera dimulai.Rita juga segera kembali bekerja dan Ervan kembali ke kantornya.
"Kamu mau kemana lagi abis ini?" tanya Rian pada Rindu
"Kampus kayaknya.Aku mau ketemu murid bimbingan dulu" jawab Rindu yang duduk di mobil Rian
"Aku anter ya" Rindu mengangguk setuju
Mobil Rian membawa Rindu dan dia menuju kampus tempat Rindu menjadi dosen.Dengan segala prestasinya sebagai dosen baru Rindu yang masih muda ia sudah mendapat kepercayaan menjadi dosen pembimbing.
"Pulang aku jemput ya" tawar Rian
__ADS_1
"Gausah aku bisa naik ojol" tolak Rindu karena sadar kesibukan Rian menangani restoran barunya
Rindu berjalan pelan menyusuri koridor.Suasana sudah cukup sepi karena hari sudah menjelang sore.
"Sore bu dosen" sapa sekumpulan anak anak mahasiswa
"Sore" sahut Rindu sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya
"Sore bu" sapa Rio anak yang di bimbingnya saat ia hendak memutar kenop pintu kantornya.
"Mana laporan perkembangan skripsi kamu?" tanya Rindu langsung ke topik permasalahan.Ia masuk diikuti Rio yang mengekor di belakangnya.
"Gini buk.." Rio menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal
Rindu masih bersabar menunggu Rio melanjutkan kalimatnya yang menggantung
"Nonton yuk bu" ajakan yang sangat berani dari seorang mahasiswa yang mengajak kencan dosennya sendiri
"Jadi ini hal penting yang kamu bicarakan di sms?" selidik Rindu yang mendapat anggukan dari Rio
"Astaga!" Rindu menepuk jidatnya sendiri.Tak habis pikir dengan pemikiran mahasiswanya yang begitu berani menurutnya
"Saya tidak bisa,saya ada keperluan yang lebih penting" Rindu secara terang terangan menolak ajakan menonton
"Playboy gak liat liat.Dosen sendiri diajak nonton"
"Dasar gila" umpat Rindu dalam hati
----
"Gak ngeri-ngeri lu ngajak dosen kencan" cibir temannya saat mereka berkumpul di taman kampus
"Penasaran gua,abisnya judes banget" jawab Rio meneguk minumannya
"Penasaran.. penasaran..ntar nyangkut lu" ia jadi menyumpahi Rio
"Ya bagus malah.Jadi gua gak perlu pusing-pusing buat mikirin skripsi" sahut Rio
"Yakin lu bakal dilancarkan gitu aja.Bu Rindu kan terkenal tegas" temannya itu masih meragukan
"Lagian dia udah tunangan kan" tambahnya lagi
Uhukk..uhukk..
__ADS_1
"Serius lu?!" tanya Rio yang sepertinya terlewatkan berita penting
"Jadi lu gak tau?" yang ditanya lebih terkejut.Status Bu Rindu yang sudah bertunangan ini sudah bukan rahasia umum lagi.Tapi kenapa temannya ini bisa tidak tahu hal paling penting dalam mendekati seorang perempuan.
"Kenapa gua gak tahu masalah ini" gumam Rio pada diri sendiri
"Ya mana gua tahu,buktinya semua orang udah tahu kalo Bu dosen cantik tapi judes itu udah punya tunangan" penjelasan temannya itu malah membuat Rio jadi menghela napas berat.
"Cabut dulu gua" Rio beranjak dari bangku
"Bukannya lu ada kelas" teriakan temannya yang mengingatkan.Rio tidak menggubris perkataan temannya itu.Ia terus melangkahkan kakinya menuju parkiran.Mendadak moodnya jadi berantakan tanpa alasan yang jelas.
Berjalan dari taman ke area parkiran yang tak begitu jauh saja Rio sudah mendapat banyak ajakan kencan.Entah itu dari seniornya atau juniornya.Melihat mereka yang begitu mengidolakannya malah membuat Rio tidak tertarik sama sekali.Justru hatinya lebih memilih wanita terkenal tegas dan selalu judes padanya.
Rio mulai menyalakan mesin mobilnya.Keluar dari area parkiran menuju gerbang kampusnya.Belum lama mobilnya melaju ia melihat Rindu sedang mengobrol dengan ojek online.Sepertinya ada sedikit masalah.
Tinn..
Rio mengklaim lalu menepikan mobilnya didepan mereka.
"Kenapa ojeknya bu cantik" tanyanya yang membuat tukang ojek online menahan tawanya
"Ban motor saya bocor mas,tapi mbak nya ini lagi buru-buru katanya" sahut tukang ojek saat melihat Rindu membuang muka
"Oh..biar dia bareng saya aja pak.Ini ongkosnya buat tambal ban" Rio mengeluarkan beberapa lembar uang yang membuat tukang ojek sampai terbengong-bengong
"Gak salah ini mas?" tanyanya sambil melihat Rio dan Rindu bergantian
"Rejeki itu pak" sahut Rio
"Ayo buk" tanpa bertanya apakah Rindu butuh tumpangannya atau tidak Rio menarik paksa dosennya itu
"Saya gak minta nebeng kamu ya!" Rio malah semakin mendorong Rindu agar cepat memasuki mobilnya.Setelah mengancam akan menciumnya disana dan memastikan Rindu tidak akan kabur Rio memutari mobilnya dan segera masuk.
"Manja banget sih" olok Rio yang memasangkan sabuk pengaman untuk Rindu.Ini bukan Rindu yang memang sengaja cari perhatian Rio.Tapi ia jadi lupa karena kesal dengan anak ingusan itu yang suka seenaknya sendiri.
Dengan muka ditekuk yang begitu kontras dengan Rio yang wajahnya secerah mentari.Murid bimbingannya itu memacu mobilnya meninggalkan tukang ojek yang merapatkan do'a untuk mereka.
"Semoga berjodoh sama mbaknya,mas ganteng" ucapnya lalu menangkupkan kedua tangannya ke wajah sembari berujar amin.
Mobil Rio terus melaju membelah jalanan ibukota yang lumayan sepi.Membawa dua orang yang sedang melakukan mode diam satu sama lain semakin menjauhi kawasan universitas.
Satunya meresa kesal.Dan yang satunya lagi berusaha menetralkan degub jantung yang kian berantakan.
__ADS_1