Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 38


__ADS_3

"Iya kak lusa aku pulang" ucapnya


"Iya jangan lama-lama" ucapnya sebelum Nindya memutuskan sambungan telefon.


Ia menghela napas berat.Jika saja ia tidak tinggal lebih lama maka Nindya tak akan bertemu dengan Jin kw malam itu.


Selesai sarapan Nindya membereskan piring dan langsung mencucinya.Kenapa ia malah jadi berfikiran untuk tinggal lebih lama agar bisa mendengar suara yang begitu mirip itu.


"Tak ada yang tertinggal?" tanya Mike saat Nindya masuk ke dalam mobil.


Nindya mengangguk mengiyakan.Setelah perjalanan panjang Nindya pun sampai juga di rumah.Miran yang rindu dengannya merengek untuk diijinkan tidur dengannya.


Drttt..


Nindya meraih ponsel diatas meja.Enggan melihat pemanggil yang menelfon di tengah malam seperti ini.


"Hmm" ucapnya


"Kau sudah tidur Nina" suara yang langsung membuatnya terduduk


"Dari mana kau mendapat nomorku?" tanya Nindya


"Tidak penting masalah itu" ucapnya


"Dan sepertinya kau sudah tidak ada di resort" tambahnya


"Kenapa mencariku?" tanya Nindya


"Tidak tahu,hanya ingin menemuimu saja"


"Hmm"


Cukup banyak yang mereka obrolkan meski tak saling kenal satu sama lain.Nindya pun betah berlama lama mengobrol hal yang tidak penting dengannya.Karena rasanya seperti mengobrol dengan Jin.Nindya menguap lagi saat kantuk kembali melandanya.


"Akan kumatikan jika tidak ada yang penting lagi" Nindya berujar


"Tidurlah"


"Good Night Nina" ucapnya lagi


"Hmm" Nindya menutup sambungan telefon.


Nina.Astaga kenapa ia menjadi senyum-senyum sendiri karena panggilan yang berbeda dari yang biasa ia terima.


Drttt.. 😐


"Apa lagi?" tanya Nindya saat telfonnya kembali berdering


"Ini gua Nin" ucap Deny


"Oh Deny" Nindya melihat nama pemanggil yang tertera di layae ponselnya

__ADS_1


"Kata kak Mike lu udah pulang?" tanyanya


"Iya.Gua sampe sekitar dua jam yang lalu" ucapnya


"Yaudah gua tidur dulu ya Den"


"Iya Nin" Deny pun mengakhiri sambungan telefon


Paginya Gal Hee datang pagi sekali ke rumahnya setelah mendengar kabar kepulangan Nindya.Berisik sekali membangunkan Nindya yang masih menginginkan kasur.


"Bangun Nin,astaga ini udah siang" ucapnya


"Jam berapa sih?" tanya Nindya malas


"Jam sembilan"


"Mandi,ayo kita belanja.Fanel udah keluarin tas terbarunya" ajaknya


"Harus ya buat beli?"


Gal Hee mengangguk Cepat.


"Iya-iya bentar" ujar Nindya yang berusaha mengumpulkan segala niat dan usaha untuk beranjak dari kasur tersayang


Berbeda jauh dengan penampilan Gal Hee yang mengenakan dress selutut di tambah satu set berlian yang menempel padanya.Dan high heels setinggi delapan senti membuatnya terlihat feminim.Nindya lebih suka mengenakan celana tiga perempat dengan kemeja denim dan tatanan rambut yang di gulung keatas.Penampilan casual yang lebih membuatnya nyaman.


Saat sampai di mall Nindya hanya mengekori Gal Hee yang masih belum cukup dengan berbelanja tas.Ia mengajaknya menyusuri beberapa toko baju dan sepatu bermerek.


"Kamu gak belanja?" tanya Deny


"Sepatu aja kali ya" sahut Nindya


"Nanggung udah disini masa gak beli apa apa"


"Yaudah aku tinggal terima telfon bentar ya.Kamu pilih aja dulu mana yang kamu suka"


"Iya.Gal Hee juga masih sibuk tuh" ucap Nindya yang melihat Gal Hee yang sibuk mencoba beberapa pasang sepatu


Nindya pun melihat lihat sepatu,mencoba dua pasang sepatu yang menurutnya bagus.Namun ia masih kurang suka dengan modelnya.


"Sepertinya sepatu ini cocok untuk anda nona" seorang pramuniaga membawakan sepasang sepatu berwarna pastel untuknya.Desainnya simple dengan hak setinggi dua belas senti.


Nindya duduk untuk mencoba sepatu itu.Pas sekali untuk ukuran kakinya.Dan ia suka dengan desainnya.


"Baik saya ambil yang ini" Nindya melepas sepatu yang ia coba.Lalu beralih mengambil kartu kredit yang ada di dalam tasnya.


"Sepatu ini sudah di bayar oleh tuan yang disana" pramuniaga itu menunjuk salah satu tempat.Mencari sosok yang sebelumnya meminta ia untuk membujuk Nindya mencoba sepatu yang ia pilih.


"Siapa?" tanya Nindya


"Saya tidak tahu nona.Setelah ia membayar sepatunya ia meminta saya untuk membawakannya pada anda"

__ADS_1


"Saya pikir itu kekasih anda" ucapnya yang terlihat bingung


Gal Hee yang sudah membeli dua pasang sepatu yang menurutnya bagus.Ia pun menghampiri Nindya yang masih bingung siapa yang membelikannya sepatu harga belasan juta itu.


Deny yang pulang terlebih dulu karna ada urusan mendadak pun mengelak jika ia tak membelikannya.Lalu siapa yang sudah membelikannya sepatu semahal itu.


"Masih mikirin siapa yang beliin kamu sepatu?" tanya Gal Hee yang sedang mengaduk lemon teanya


"Kira-kira siapa ya?" Nindya masih belum melepaskan pandangannya pada paper bag berisikan sepatu yang ia letakkan di kursi sebelahnya


"Gebetan mungkin" ujar Gal Hee yang tak terlalu memusingkan siapa orang misterius itu.Menurutnya malah bagus jika ada orang yang dengan suka rela membelikannya barang mewah.


"Mending kita ke kantor Joon aja gimana?" tawar Gal Hee


Nindya ingin hati menolak namun karena Gal Hee terus memaksanya ia pun ikut juga.Toh jadwalnya hari ini masih kosong.


Sifat Joon yang terkadang cuek membuatnya beberapa kali bertengkar dengan Gal Hee.Wanita itu bahkan pernah mengatakan jika Joon lebih perhatian pada Nindya.Padahal tidak sama sekali,Joon sudah menganggap Nindya sebagai keluarganya sendiri.


"Gimana hubungan kamu sama Denny?" tanya Gal Hee


"Ya gitulah" jawab Nindya yang sibuk membolak balikkan majalah yang sedang di bacanya


"Kasih kejelasan dong,kasihan dia yang udah berharap banyak sama kamu" tutur Gal Hee dengan raut wajah serius


"Aku.."


"Tidak tahu"


"Jahat kamu Nin" ucap Gal Hee yang menggeleng gelengkan kepalanya


"Aku emang nyaman sama dia.Tapi bukan rasa nyaman kayak dulu"


"Emang sih kadang aku sempet punya pemikiran buat balikan.Tapi aku takut dia kayak dulu lagi"


"Kamu philophobia?" wajah Gal Hee berubah serius


"Apa?" Bingung


"Kau tidak tahu philophobia?"


"Itu..fobia untuk menjalin hubungan cinta lagi.Mungkin karena kau pernah sakit hati luar biasa" Nindya hanya ber-oh-ria


"Lalu bagaimana dengan Deny?"


"Gak tau lah" Nindya merasa bingung dengan perasaannya yang sekarang.Semenjak bertemu seseorang bernama Jin dengan suara yang begitu mirip dengan mendiang suaminya.Membuat seorang Nindya cepat goyah.Nindya merasa dirinya yang sekarang sedang labil.Mungkinkah ia mengalami puber kedua.


"Buat keputusan Nin,jangan kasih harapan semu buat orang yang nungguin kamu" saran dari Gal Hee masih terngiang di pikirannya


Ia juga tak mau memberi harapan palsu.


Tapi hatinya sedang bimbang dengan perasaannya sendiri.Ia pun tak tahu kenapa.Deny adalah seseorang yang pernah ia cintai namun mencampakannya.Pernah ada pemikiran untuk kembali bersama Deny,tapi rasa sakitnya yang dulu ia terima begitu mendalam.Sulit untuk memulai kembali meski ia sudah memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2