Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 16


__ADS_3


"Tidak..jangan menyerah dok.Tolong bantu Jin" pinta Nindya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya


"Maaf Nin,kami sudah melakukan yang terbaik"


"Jangan katakan itu dok!" bentak Nindya


"Sus catat jam dan tanggalnya" ucapnya


"Kau harus kuat Nindya" ia menepuk bahu Nindya


"Berapa uang yang perlu kami bayar dok.Tolong selamatkan Jin" Nindya mengenggam erat telapak tangan dokter Lee dengan kedua tangannya


"Maafkan saya Nindya"


"Saya tidak butuh kata maaf dok.Yang saya mau Jin kembali" terus saja ia memohon.Dokter Lee merasa begitu kasihan melihat keadaan Nindya.


Joon tak bergeming disudut ruangan.Syok dengan kenyataan yang sedang terjadi.


Siska menghampiri Nindya yang semakin tak terkontrol.Mencoba menenangkan adiknya yang terguncang.


"Maaf Nindya.Ia bisa bertahan sejauh ini adalah keajaiban.Namun kali ini dia sudah menyerah dengan sendirinya.Tak ada yang bisa kami lakukan lagi" ungkap dokter Lee panjang lebar


"Tolong saya dok tolong" terus memohon sambil bersimpuh dikaki dokter Lee


"Tolong jangan seperti ini Nindya" meraih bahu Nindya untuk membantunya berdiri


"Maaf saya harus pergi" ia keluar ruangan.Meninggalkan Nindya yang masih berteriak meminta pertolongan.Tangisnya semakin pecah.Siska dan Mike sampai harus memegangi Nindya yang semakin menggila.Tidak.Semua ini tidak boleh terjadi.Bukankah Jin selalu berkata jika ia adalah orang yang paling mencintainya.Mengapa sekarang ia begitu tega meninggalkannya sendiri.Kau jahat Jin sangat jahat pada Nindya.


"Bangun Jin.Jangan pergi dengan cara seperti ini" pintanya berulang kali.Terus mengguncang bahu Jin sekeras mungkin.


"Cukup Nin.Kau harus menerima kenyataan" tutur sang kakak


"Tidak.Kalian tidak akan mengerti" sentak Nindya.Nindya jatuh terduduk.


Kehilangan membuatnya begitu terpukul.Nindya kembali bangkit dari duduknya.


"Kembali Jin kembali" ia menggoyang goyangkan bahu Jin.Berharap lelaki itu akan segera bangun dan memeluknya.Mike menarik mundur Siska.Membiarkan Nindya meluapkan segala emosinya.


"Biarkan.Ia butuh meluapkan kesedihannya" Mike ikut sedih.Dulunya Jin adalah lelaki brengsek namun berubah seiring berjalannya waktu semenjak ia mengenal Nindya.


Mereka yang berada disana hanya mampu menyaksikan Nindya yang menggila karena kepergian Jin.


Tak pernah ada cara yang tepat untuk seseorang yang ditinggalkan bisa menerima kepergian dengan baik.Tak perduli ia berkata pamit atau tidak itu tetap menyakitkan bagi yang ditinggalkan.Bagi mereka yang tidak bisa menerima kenyataan.Jika Tuhan selalu punya rencana atas setiap kehidupan manusia.Terima jalan kehidupan yang sudah di gariskan untuk kita.Terima semua dengan lapang.Percayalah esok atau lusa akan ada kebahagiaan yang datang.Takdir yang di tulis Tuhan selalu tepat untuk hambanya.

__ADS_1


Nindya kembali jatuh terduduk.Siska membantu Nindya untuk berdiri.Suster yang masih ada disana menutup seluruh badan Jin dengan kain putih.


Joshua meneteskan beberapa air mata.Pertama kali selama bertahun-tahun bekerja bersama Jin ia menangis.Mengantar kepergian Jin dengan tangis mendalam.Tuannya sudah pergi lebih dulu.Sesuai amanat Jin ia diminta untuk bekerja pada Joon.Menjaga ibu dan Nindya untuknya.Sumpah setia sudah ia ucapkan.Dan seorang Joshua akan memegangnya sampai ia tutup usia.


Nindya masih menangis sepanjang perjalanan menuju rumah duka dan sempat pingsan pula.


Memakai baju serba hitam mewakili mertuanya menerima tamu yang berbela sungkawa.


Kabar meninggalnya Jin cepat tersebar ke penjuru Korea dan berita mancanegara.Tamu mulai berdatangan satu persatu.Segala kalangan datang untuk memberi penghormatan terakhir pada Jin.Nindya juga memberi salam dan mengucapkan terima kasih pada mereka yang sudah hadir.Ia harus tetap sopan meski dalam keadaan berkabung.Menjelang sore lalu berganti malam sampai larut malam.Masih banyak tamu yang berdatangan.Joon meminta Nindya untuk pergi istirahat.Namun Nindya enggan beranjak dari sana.Menolak makan bahkan minum yang ditawarkan.Mike menitipkan Nindya karena ia perlu mengantar Siska pulang lebih dulu.


"Nin" panggilan yang di kenal Nindya.Ia lantas menoleh ke sumber suara.


"Deny" kenapa ia bisa berada disini.Ini bahkan belum sehari kematian Jin tapi ia sudah datang.


"Aku turut berduka cita" ungkapnya


"Terima kasih"


Nindya kembali menangis.Ia teringat perkataan Jin yang meminta Deny untuk menjaganya.Apa saat itu Jin sudah menyerah akan keadaan.


"Tenang Nin.Aku akan bersamamu" Deny menggenggam erat tangan Nindya yang semakin membuatnya terisak


"Aku pun tidak akan meninggalkanmu" Joon ikut memberi semangat


"Kau ingin soju?" tawar Joon yang langsung di pelototi Deny


Gelas demi gelas soju Nindya minum bersama Joon.Membuat mukanya begitu merah karena mabuk.


Saat mabuk Nindya malah diam,menangis tanpa suara.Menyenderkan kepalanya ditembok.Mendekap kedua lututnya sambil memandangi foto Jin.Lebih banyak air mata lebih berat rasa sedihnya.Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menolong Nindya.Keduanya ikut diam mengikuti arah pandangan Nindya.


Joon jadi mengingat sesuatu.


Hari dimana Jin dan dirinya masih duduk dibangku kuliah meski tidak satu kampus.


"Kelak jika aku harus pergi meninggalkan seseorang yang aku cintai.Kau harus menjaganya untukku" pinta Jin


"Kau yakin ibumu mau menerimaku?"


"Aku tahu ibuku orang yang keras kepala Joon"


"Tapi aku tahu jika diam diam ia memperhatikanmu" tambahnya


"Jangan mengada ada" sahut Joon


"Tentu saja aku benar.Kau lupa siapa yang memelukmu saat ibumu meninggal?" Jin mengingatkan

__ADS_1


"Saat itu ia hanya kasihan" kilah Joon


"Joon"


"Tak ada bedanya antara ibuku atau ibumu.Semua sama saja"


"Tapi untuk ibu Miyang kau harus lebih bersabar"


Sore itu.Sore yang membuat Jin mengobrol paling lama dengan Joon.Karena sejak ibunya meninggal Joon memilih tinggal di London.Hidup seorang diri.


Dan pesan terakhirnya kemarin adalah..


"Kini kau juga harus menjaga Nindya untukku.Aku merestui jika ia mau menerimamu Joon.Kau lelaki yang baik.Tapi jika ternyata ia memilih lelaki lain,kuharap kau akan menjaganya dari jauh"


"Aku tidak mau" jawaban Joon membuat Jin tertawa karena ekspresinya yang begitu serius.


Mike yang datang melihat Nindya tengah mabuk langsung membawanya pulang.Cukup untuk hari ini ia harus istirahat.Para tamu juga sudah pulang  satu jam yang lalu.Joon yang meski banyak minum tetap sadar.Namun Joshua mengambil alih kemudi.Karena polisi akan menahannya jika Joon ketahuan menyetir selesai minum alkohol.Karena alat tes kadar alkohol tak bisa memanipulasi seberapa banyak alkohol yang diminum.


"Kau mau ikut dengan kami Den?" tawar Mike


"Tidak terima kasih.Aku menginap di hotel kak" tolaknya


"Dan sebaiknya kau yang menyetir Jo"


"Jika kalian tidak ingin berurusan dengan polisi"


"Jaga dia Mike" pinta Joon


"Tentu.Kalian pulanglah" Mike membopong Nindya yang sudah tidak kuat berjalan


Tersisa Deny yang masih berada disana sendirian.Ia berdiri cukup lama sambil memandangi foto Jin.


Ponselnya bergetar.


"Halo Den.Lu masih di Korea?" tanya Ervan


"Ya.Gua masih dirumah duka" jawabnya


"Gimana keadaan Nindya?" Rita ikut bertanya


"Lu pasti tahu dia kan Rit" ada jeda panjang setelah Deny mengatakannya


"Jaga dia Den" pinta Rita


"Pasti" Deny mengakiri sambungan telefon.Mengantongi ponsel ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Kali ini aku pasti menjaganya"ucap Deny sambil memandang foto Jin.Kemudian ia memberi penghormatan terakhir sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2