Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 14


__ADS_3

Siska dan Mike datang menjelang Jin akan melaksanakan operasi.Miyang tidak hadir,tak sanggup melihat keadaan Jin yang semakin parah.


"Jangan menangis" Jin mengusap lembut pipi Nindya.Kedua matanya sembab akibat tangisnya yang tak kian reda.


"Aku takut" ucapnya


"Tenang.Semua akan baik baik saja"


"Berjanjilah satu hal padaku" pinta Jin


"Jika operasinya gagal kau harus terus melanjutkan hidupmu"


"Aku tidak suka dengan kalimatmu"


"Ini hanya kemungkinan sayang.Tapi jika memang benar itu yang terjadi kuharap akan ada seseorang yang menjagamu kelak"


"Tidak.Aku tidak ingin siapapun"


Cklekk...


"Maaf nyonya.Operasi akan segera dilaksanakan" ucap salah satu suster yang masuk


Kedua suster itu membawa Jin menuju ruang operasi.Nindya tak mau melepaskan genggamannya barang sedetik pun.


"Bisa anda lepaskan tangan anda nyonya.Pasian harus segera melaksanakan operasinya" tutur suster


"Tersenyumlah.Aku tidak ingin melihatmu menangis" pinta Jin


"Berjuanglah sayang.Aku akan menunggu kamu di sini" ia memaksakan seulas senyum mengantar Jin memasuki ruang operasi.Jin membalas senyuman Nindya.Ia masih terlihat tampan dan mempesona dimatanya.


Pintu tertutup.Lampu ruang operasi menyala.


"Tenanglah Nindya semua pasti akan berjalan dengan baik" Siska mencoba menenangkan adiknya


"Betul.Banyak banyaklah berdo'a" tambah Mike yang bersisihan dengan Joon


Segala do'a tak henti ia rapalkan.Segala do'a terbaik untuk kesembuhan Jin.Tangannya dingin karena gugup yang berlebihan.


Satu jam..dua jam..tiga jam..waktu terus berlalu.Semua menanti harap harap cemas di depan ruang operasi.Menolak segala tawaran makan atau sekedar minum yang di ucapkan kakaknya.Jangankan makan atau minum,bernafas saja terasa begitu menyesakkan.


Setelah ketegangan yang begitu lama dokter Lee keluar bersama beberapa dokter lain yang membantunya.


"Semua berjalan lancar" semua menghela nafas lega.Nindya menangis bahagia mendengarnya.


Kabar itu menjadi perbincangan hangat di Korea.Berita pewaris kedua yang baru saja diumumkan dan berita besar mengenai kanker otak yang diderita pewaris keluarga Park.


Ratusan notif di ponsel Nindya semua ia abaikan.Ia tidak ingin meninggalkan Jin barang sejenak pun.


Duduk sendiri menamani Jin yang belum sadarkan diri membuat Nindya teringat kejadian diawal pernikahan mereka.


Flashback on..

__ADS_1


"Lihat aku Nindya!" tak sadar jika Jin terlalu memegang erat lengan Nindya


"Lepas Jin kau menyakitiku" ronta Nindya yang berusaha melepaskan pegangan


"Jangan bohongi aku.Kau masih mencintainya kan?!" suaranya mulai meninggi


"Jaga sikapmu Jin,Nindya itu istrimu!" bentak Deny yang bertemu dengan Nindya di restoran China


"Jangan ikut campur!" Jin mendorong bahu Deny kasar


"Cukup Jin ayo kita pulang" Nindya berusaha melerai mereka meski sebenarnya ia yang sedang bertengkar dengan Jin


"Cukup Nin" ucap Jin ditengah keributan itu


Ada jeda cukup lama sebelum Jin yang akhirnya buka suara


"Kita pisah" Nindya yang mendengarnya sontak mematung.Kaget dengan penuturan Jin yang membuatnya begitu syok.Deny yang hadir disana pun memilih bungkam.Tak mau ikut campur terlalu dalam.


"Sejauh ini aku belum mendaftarkan pernikahan kita Nin.Jadi kita selesai sampai disini!" apa maksudnya?bisa bisanya Jin mengucapkan itu dengan lancar.


Tak ada respon dari Nindya.Ia diam tanpa suara,memandangi setiap langkah Jin yang semakin menjauh darinya.


Dua kali,ia dicampakan seperti ini.


Dulu saat Deny meninggalkannya tanpa alasan.Lalu kini Jin yang ternyata hanya menikahinya secara agama.


Nindya memang mencintai Jin.Mungkin belum sebesar rasa cintanya seperti pada Deny dulu.Tak ada air mata setetespun di sana.


"Nindya" panggil Deny


"Tenang.Aku gak apa apa" sahutnya lalu meninggalkan Deny seorang diri disana.


Flashback off..


Kala itu Nindya mengejar Jin yang belum jauh.Meminta penjelasan atas perkataanya didalam restoran.


"Kau pikir dia serius?" ucap Youngi


"Maaf aku bohong" ucap Jin yang mengakui kebohongannya.Mana mungkin ia tidak mendaftarkan pernikahannya secara resmi.Jelas jelas sejak awal dia yang ingin cepat cepat menikahi Nindya


"Kau konyol Jin" omel Nindya


"Siapa suruh kau bertemu dengannya"


Panjang umur.Saat ia teringat Young anak itu tiba tiba muncul.


"Kau datang?" tanya Nindya


"Mana mungkin aku tidak datang!"


"Kenapa tidak mengabariku.Apa aku menjadi orang luar sekarang?!"

__ADS_1


"Semua terjadi begitu cepat Youngi,aku saja masih berharap ini mimpi" jawab Nindya


"Kau berisik sekali Youngi" suara serak Jin yang baru saja sadar


Nindya hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat.Jika tahu suara berisik Youngi akan menyadarkan Jin sudah sejak kemarin ia memintanya datang.


"Hey aku marah padamu.Kenapa kau menyimpannya rapat rapat dariku?" Youngi berkacak pinggang


"Kau sibuk konser kesana kemari demi teriakan histeris wanita.Jadi mana mungkin aku mengganggumu"


"Serius Jin.Aku bisa membatalkan semuanya untukmu" ucap Youngi


"Jijik" sahut Jin mendengar penuturan sahabat karibnya itu


"Dimana Joon aku belum melihatnya?" ia melihat sekeliling ruangan


"Ia ke kantor.Ada beberapa rapat penting menurut Joshua" jelas Nindya


Nindya membantu Jin yang ingin minum.Tenggorokannya terasa lebih enak setelah lama tidak terkena air.


Sudah dua hari Jin dirawat sejak operasinya.Banyak kalangan yang menjenguknya.Nindya sampai harus membatasi kunjungan,tidak ingin waktu istirahat Jin terganggu.


"Siapa lagi sih!" gerutu Nindya yang diiringi senyuman Jin


"Ma-af" satu kata yang tak mampu diselesaikan Nindya dengan benar.Tidak percaya dengan sosok yang ia lihat didepan pintu membawa parsel buah.


"Boleh masuk?" tanyanya.Nindya begeser memberinya ruang untuk masuk kedalam kamar rawat Jin


"Tak di sangka kau akan menjengukku" tutur Jin


"Sayang bisa kau belikan cappucino untuk dia" pinta Jin


Nindya berangsur keluar.Masih dengan keterkejutannya melihat kedatangan lelaki itu.Segera ia berlalu menuju kantin rumah sakit memesan cappucinno hangat untuk tamunya.


Langkahnya terhenti begitu ia hendak masuk.Sayup sayup mendengar percakapan Jin dan Deny.


"Berjanjilah kau akan menjaganya kali ini.Jangan sakiti ia sedikitpun" ucap Jin


"Aku tidak bisa"


"Kenapa"


"Kau sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Jin


"Bukan.Tapi dia yang tidak lagi mencintaku" tuturnya


"Kau salah.Aku masih melihat cinta di matanya saat melihat kedatanganmu tadi"


"Nindya hanya kecewa,dan tugasmu adalah berusaha lebih untuk mendapatkan hatinya kembali" tambah Jin


"Lalu kau bagaimana?kau suaminya"

__ADS_1


"Aku tidak punya banyak waktu lebih untuk menjaganya lagi" Jin mengalihkan pandangannya keluar jendela.Jin tahu jika Nindya berdiri diluar ruangan.Berat baginya ketika takdir seolah tidak mengijinkan mereka bersama.


Mengingat segala kenangan indah yang ia lalui bersama Nindya.Mulai dari ia yang tertarik melihat Nindya di pesta pernikahan Mike dan Siska.Berlanjut ia memata matainya.Bertemu di bandara.Menikah.Semua momen terasa begitu cepat berlalu.


__ADS_2