
Jangan lupa like dan subscribe,komen juga ya..
---
Deny menurunkan Jesselyn didepan gerbang.SMA NUSANTARA yang menjadi sekolah pilihan anaknya.
"Jes..Jessie" panggil papanya mengulurkan tangannya
"Iya pah lupa" Jessie menyalami punggung tangan Deny dua kali
"Aneh kamu" ucap Deny
"Yang satu buat mama pah,tadi kelupaan juga" ucapnya yang berlari melewati gerbang
Jessie menghentikan langkahnya di depan ruangan bertulisan ruang nomor empat.
Melihat sekeliling untuk mencari bangku kosong.
"Duduk sini aja" teriak gadis berkuncir dua seperti dirinya
"Makasih" ucap Jessie yang duduk di sebelah gadis itu
"Maya Fortuna Wijaya" ia mengulurkan tangan pada Jesselyn
"Jessie Malika Yunandra" sahut Jessie menjabat tangan Maya
"Pagi semuanya" sapa tiga kakak kelas yang memasuki ruang empat
"Pagi kak" sahut mereka serempak
"Tolong keluarin barang barang yang udah diminta untuk disiapkan" ucapnya
"Mampus gua!" Jessie menepuk jidatnya
"Kenapa Jes?" tanya Maya
"Gak ada yang gua bawa" rutuknya pada diri sendiri
Semua murid baru yang tidak membawa perlengkapan dikumpulkan di lapangan basket.Ada tujuh murid yang berbaris rapi disana.
"Kamu,apa yang kurang?" tanya kakak kelas berkulit sawo matang
"Lupa gak bawa sabun kak" jawabnya
"Kamu?" tanya pada murid disebelahnya
"Gak bawa caping kak" jawabnya
Ia sampai pada Jessie yang menunduk.Bukan karena takut tapi panas kena sinar matahari.
"Gak bawa semua kak" jawab Jessie dengan suara lantang
"SEMUA?" tanyanya memastikan
"Yang lain lupa gak bawa salah satu wajar,kamu gak bawa tapi semua" cibirnya lalu menggelengkan kepalanya
"Oke.Setiap dua orang bersihin ruang satu sampai ruang lima.Dua orang lagi ruang enam sampai ruang sepuluh begitu seterusnya" terangnya
"Dan karena kamu gak ada temennya,kamu bersihin ruang lab kimia sendirian" ucapnya kemudian
"Gak salah Dim?" tanya salah satu kakak kelas perempuan yang ikut berdiri di lapangan basket
"Udah tenang" sahutnya
Jesselyn pun pergi mencari ruang lap bilogi bermodalkan kunci ruangan yang diberikan padanya.
Jesselym membuka ruang lab.Sedikit seram namun tak membuatnya takut sedikitpun.Jiwa Nindya yang juga menurun padanya.
__ADS_1
"Lengkap juga ternyata" Jesselyn melihat berbagai tabung yang tersusun rapi di lemari kaca
"Ngapain lu" suara lelaki yang mengangetkannya
Jesselyn menoleh kebelakang
"Disuruh bersih bersih kak" sahutnya
"Sendiri?" tanyanya lagi.Jesselyn mengangguk
"Yaudah ngapain lagi" tegurnya pada Jesselyn yang masih mematung di tempatnya.
Jesselyn merapikan beberapa barang di lemari yang telihat berantakan.Senior yang tadi mengurnya sibuk mencampurkan beberapa cairan ke dalam tabung.Baju putih dengan sarung tangan dan kaca mata pelindung membuatnya terlihat keren dimata Jesselyn
"Gak bosen liatin gua mulu" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun
"Kok tahu?" tanya Jesselyn yang malah tidak mengelak
"Sama halnya kayak lagi sendirian terus berasa ada yang ngeliatin" sahutnya yang masih fokus
"Setan dong gua" Jesselyn baru sadar maksud darinya
"Gua nyuruh lu bersih bersih bukannya ngobrol!" teriak Dimas dari ambang pintu.Jesselyn sampai tersentak mendengar suaranya yang memenuhi ruangan
"Dia udah kelar Dim" sahutnya
"Kerasukan apa lu sampe nyasar disini?" pertanyaan mencibir dari Dimas
"Bosen gua di kelas" sahutnya melepas baju lab berwarna putih dan yang lainnya
"Ngapain lagi?buruan balik ke ruangan kamu" Jesselyn pun meninggalkan keduanya di ruang lab
"Disuruh ngapain tadi Jes?" tanya Maya saat mereka hendak pulang
"Bersih bersih di lab kimia" sahutnya
"Lu gak tau lab kimia terkenal serem" ujar Maya
"Gua ma kaga takut setan,yang gua takut cuma omelan nyokap" sahut Jesselyn berjalan keluar kelas
"Sampe ketemu besok di pembagian kelas" ucap Maya sebagai salam perpisahan
Jesselyn ikut melambaikan tangannya pada Maya.Berjalan keluar gerbang untuk menyetop angkot.
Berkat kedekatannya dengan bi Yuni asisten rumah tangganya.Jesselyn terbiasa naik turun angkot sejak smp jika tak ada yang bisa menjemputnya.
Ia turun disebuah butik milik mamanya yang berada tak jauh dari rumah.
"Udah pulang?" sapa Nindya pada anaknya yang melempar tasnya di sofa
"Lemes amat" komentar Nindya yang sedang merapikan gaun yang tergantung
"Laper ma" sahut sang anak
"Mau pulang?" tanya Nindya
"Pesen makanan online aja ya ma" usul Jesselyn
"Iya" Jesselyn pun mengutak atik ponselnya.Memilih makanan yang menurutnya enak yang ada di aplikasi
"Papa pergi kemana sih ma?" tanya Jesselyn yang tak di jemput oleh papanya
"Korea sayang" jawab Nindya
"Lah enak.Kaga diajak nih anaknya" ucap Jesselyn
"Mau bolos terus kena omel papa kamu?"
__ADS_1
Punggung Jesselyn jadi merosot.Singatnya ia terakhir ke Korea saat sd dan semenjak itu ia sempat ke Paris sewaktu smp.
"Kak Miran masih kuliah ma?" tanya Jesselyn yang sibuk mengunyah burgernya
"Keren ya kak Miran bisa kuliah di Harvard" puji Jessyn
"Makanya belajar yang rajin" ucap Nindya
"Peringkat satu pararel pas smp masih kurang ma?" tanya Jesselyn yang kesal
"Itu kan smp,sma pasti makin banyak saingannya kamu" ucap Nindya yang ikut duduk meminum pepsi
"Jangan diabisin ma" keluh Jesselyn
"Yang bayar juga mama"
Sorenya Jesselyn pulang bersama mamanya.Ia yang sedang memegang stik ps langsung disambar mamanya
"Mandi!" titah yang langsung dilaksanakan oleh Jesselyn
Bisa dibilang Jesselyn adalah anak cerdas tanpa harus lelah belajar dan les kesana kemari.Kecerdasannya itu yang membuatnya terkadang malah sibuk bermain ps atau game online.Nindya sampai harus beberapa kali menyita ponsel anaknya yang keseringan main game daripada belajar.
Jesselyn berangkat sekolah berbarengan dengan bi Yuni yang hendak ke pasar.Ia menyalami tangannya saat hendak turun dari angkot.
"Jessie" panggil Maya saat menemukan Jesselyn berdiri di depan papan pengumunan
"Kita satu kelas!" teriaknya yang mengajak Jesselyn menari kegirangan
"Udah May udah" pintanya
"Kelas apa?" tanya Jessyn yang belum sempat menemukan namanya di papan pengumuman
"Sepuluh tiga"
"Ayo ke kelas" ajak Maya menarik lengan Jesselyn menuju deretan ruang kelas sepuluh
"Duduk sini yuk" Maya menaruh tasnya di meja baris ketiga dekat kaca
"Gua yang deket kaca ya" ucap Jesselyn
"Terserah deh yang penting kita satu bangku"
Satu kelas berisikan tiga puluh dua murid.Sma tempat Jesselyn sekolah menjadi sma dengan murid terbanyak.Satu angkatan saja bisa mencapai dua belas kelas.Lapangan untuk upacara saja sudah begitu luas,ditambah lapangan sepak bola dan basket pula.
Jam pertama tanpa mata pelajaran.Wali kelas meminta semua murid untuk memilih ektrakurikuler apa yang akan mereka ambil.Sebenarnya Jesselyn enggan mengikuti satupun les yang dibicarakan wali kelasnya.Namun itu menjadi hal wajib bagi setiap murid untuk mengambil salah satu ektra.
"Mau ikut ekstra apa Jes?" tanya Maya
"Males gua" sahutnya
"Ye lu baru juga hari pertama sekolah udah males aja" Maya menyenggol lengan Jesselyn yang menopang dagu
"Si kutil" Jesselyn mencibir
"Ekstra apa buru tulis,biar bisa bareng" Maya menaruh pulpen pada tangan Jesselyn
"Drama?" tanya Maya
"Gak cocok gua yang begituan" tolak Jesselyn mentah mentah
"Nari?" tanya Maya kedua kalinya
"Ada tampang lemah gemulai gua?" Jesselyn menunjuk dirinya.Maya yang merasa temannya itu sedikit tomboi tersenyum lebar
"Terus apaan dong?" tanyanya
"Fotografi kali ya" Jesselyn menulis pada lembaran kertas yang sedari tadi ditunggu teman yang duduk dibelakangnya
__ADS_1