
"Dua duanya bagus pah.Gimana dong mama bingung"
"Bawa aja semua ma.Nanti ganti di tempat kondangan"
"Kalo ngasih ide yang bener sih pah.Ngawur semua idenya" istrinya lalu pergi meninggalkan Appe yang syahdu menyeruput kopi hitam.Pasangan suami istri itu memang sering berdebat untuk hal sepele.Si istri yang ribet dengan suami yang selalu bercanda.
Sejak jam enam pagi Nana sudah standby di gedung.Memastikan pernikahan yang ia persiapkan untuk Rindu dan Rian sempurna.
Mendekati jam sepuluh para tamu undangan mulai hadir satu persatu.Nana tak ikut berkumpul karena ia harus mengawasi semuanya agar berjalan sesuai rencana.
"Sendirian Nin?" tanya Evan yang datang bersama Rita dan anaknya
"Sama pak Indro" jawab Nindya asal
"Mana Deny?" tanya Rita melihat sekeliling
"Hadir Ta" sahut Deny yang muncul dari belakang
"Bentar dah..gua kayak kenal ama tuh orang" mereka semua menoleh mencari sosok yang dimaksud oleh Rita.
Astaga bukannya itu Rifan?
Bener.Tapi sama siapa dia?
Nindya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia bertemu Rifan.Seingatnya saat masih sekolah dulu.Kalau tidak salah sudah hampir tujuh tahun.Sudahlah mungkin dia juga sudah lupa dengan Nindya.
Rindu dan Rian sudah duduk di depan penghulu untuk mengucap ijab qobul.Semua tamu duduk dengan tegang.
Ayah Rindu menjabat tangan Rian.Menarik nafas dalam dalam.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya Rindu.."
"Berhenti!" teriak seorang wanita yang memaksa masuk
Semua tamu undangan menoleh melihat siapa yang berani beraninya menghentikan proses ijab qobul.
Wajah Rian seketika tegang melihat wanita yang berdiri dengan perut buncit.Ia berlari menghampiri perempuan itu lalu memeluknya erat.Rindu bingung siapa wanita itu dan kenapa pula Rian harus memeluknya begitu erat.Pikiran pikiran buruk sudah menghinggapi kepalanya.
Tamu undangan mulai berbisik bisik di kursi mereka.
"Siapa dia Rian?" ayah Rian melepas paksa pelukan Rian
"Dia.."
"Dia siapa?" matanya merah padam menahan kemarahannya
"Anak yang dia kandung anak aku pa" mama Rindu berusaha memeluk Rindu yang menangis.Tak menyangka jika calon menantunya sebrengsek itu.
Rian mendapat tamparan dari papa Rindu.
"Pergi dari sini!" usirnya kemudian
"Maafin Rian om" Rian mencoba meraih tangan calon mertuanya namun segera ditepisnya.
Keluarga besar Rian beserta Kevin dan Dian menghampiri papa Rindu yang berusaha tenang.Meminta maaf berulang kali atas kelakuan Rian.
__ADS_1
"Semua tamu silahkan pulang" ucap papa Rindu dengan suara gemetar.Mama Rindu memapah anaknya untuk pergi dari sana.
Langkah Rio mantap untuk menghampiri papa Rindu yang memegangi pelipisnya.
"Ijinkan saya menikahi Rindu om" baru beberapa langkah Rindu dan mamanya sontak menghentikan langkahnya
"Apa yang kamu bicarakan Rio" tanya mama Rio menarik lengan anaknya
"Mah,Rio serius.Rio gamau kehilangan orang yang Rio cintai" belum pernah ia mendengar anaknya bicara seserius ini
"Tolong restui ma" mamanya berfikir cukup lama
Mengangguk setuju karena untuk pertama kalinya putranya itu memohon sesuatu padanya.
"Gimana om?" tanya Rio memastikan
"Semua tergantung Rindu" menoleh pada anaknya yang mematung
Rio berjalan menghampiri Rindu.Berjongkok di depan Rindu penuh pengharapan.Siapa sangka jika Rindu akan setuju.Selama yang diketahui teman temannya Rindu selalu mengelak.Apa secepat ini Tuhan membalikkan hati ciptaannya.
Rio dan Rindu duduk bersebelahan dengan Rio yang menjabat tangan papa Rindu.
"Sah?" penghulu menengok ke kiri dan kanan
"Sah" sahut tamu undangan serempak
Tamu undangan tak lagi peduli lagi untuk siapa mereka menghadiri pernikahan.Karena yang terpenting acara itu tetap berlanjut meski pengantin pria pergi dan malah digantikan oleh tamu undangan sebagai mempelai.
Setelah drama singkat yang terjadi acara kembali berlangsung normal.Para tamu undangan berbaris memberi selamat pada mempelai lalu menikmati jamuan yang sudah disiapkan.
Rindu terlihat bahagia menyalami tamu undangan.Seolah lupa dengan insiden yang sempat terjadi.Nindya dan Deny ikut memberi selamat pada Rindu saat antrian sudah mulai berangsur sepi.
"Makanya kalo ngasih do'a yang bener Nin" sahut Rindu
"Cepet kasih gua ponakan ya" Nindya menyenggol lengan Rio
"Siap.Bakal lembur nanti malem" banyolan Rio membuat pipi Rindu memerah
"Lu kapan nyusul" tanya Rindu
"Besok kalo gak kesiangan" selalu seperti itu Nindya menanggapi pertanyaan dari teman-temannya
"Tuh Den udah siap Nindya nya" goda Rindu
"Tungguin aja undangannya,kalo gak sabtu ya minggu" jawab Deny
Para tamu undangan yang masih mengantri memandang Nindya tak sabaran.Pasalnya mereka sudah menunggu sejak tadi.Namun obrolan mereka malah semakin berlanjut tak menyadari antrian yang sudah mengular.
"Sono sono..tuh di belakang lu udah pada ngantri" usir Rindu
"Sok artis lu Ndu" cemooh Nindya
Nindya pergi menghampiri teman temannya bersama Deny.
Setelah obrolan yang panjang dan menguras tenaga,Nindya pamit untuk mengambil camilan.
"Nindya" sapa seorang lelaki
__ADS_1
Nindya pun menoleh,mencari tahu siapa yang menyapanya
"Rifan" lelaki itu mengangguk
"Feminim amat sekarang" ledeknya
"Tomboy juga liat tempat Fan,masa ke kondangan pake kaos oblong sama levis kan gak lucu" sahut Nindya
"Haha iya bener.Masih nyablak aja dari dulu gak berubah" antara pujian dan hinaan
"Gua sering liat lu di tv sama koran" ucapnya lagi
"Buronan kali gua" jawab Rindu
"Kerja apaan sekarang?" tanya Nindya
"Dokter"
"Gak salah denger?setahu gua lu ngambil jurusan bisnis"
"Percaya aja lu kalo gua dokter.Teteplah gua nerusin bisnis keluarga"
Appe dan Rendy menyikut lengan Deny.Memberi kode jika Nindya tengah mengobrol dengan seorang lelaki.
"Heran gua udah janda aja masih di deketin banyak cowok" Rendy berdecak
"Wajarlah cakep,anaknya nyenengin juga" sahut Appe
"Tapi ngomong ngomong siapa yang lagi ngobrol ama dia?" Rendy kembali membuka suara
"Rifan" jawab Ervan
"Njirrrr..tu manusia masih idup aja sih" ucap Appe
"Apes..apes lu Den.Dulu ngilang Rifan si Nindya nikah sama Jin.Sekarang Jin gak ada dia nongol lagi" ucap Rendy panjang lebar dengan semangat yang menggebu gebu.Ngomporin.
Tak menghiraukan lagi Deny berjalan menghampiri Nindya.Menyapa Rifan yang ternyata masih mengingatnya.Saat itu juga ia baru tahu jika Rifan masih single dan baru putus dari pacarnya.Warning bagi Deny.Ia pun langsung siaga satu bersiap jika Rifan akan gencar mendekati Nindya lagi.
Untuk menjauhkan Rifan,Deny sengaja mengajak Nindya pulang bersama saat itu juga.Karena Nana masih sibuk mengurus gedung untuk di rapikan selesai acara.Nindya yang menawarkan bantuan langsung di tolak Nana.Ia paham jika Deny sedang mencoba mendekati Nindya lagi.Dan ia tak mau menghancurkan rencana Deny.
Deny memacu mobilnya.Suasana hening sepanjang perjalanan.Entah kemana Deny akan mengajaknya.
"Loh kok kerumah lu Den?" tanya Nindya saat ia sadar ketika Deny mematikan mesin mobil
"Ada yang pengen ketemu lu" jelas Deny
"Siapa?"
Di ruang tamu sudah duduk wanita paruh baya dengan baju rumahan.Ia sibuk menggonta ganti chanel televisi di temani sang suami.Mama dan papa Deny
"Nindya" pekik mama Deny saat melihat Nindya berjalan memasuki ruang tamu
"Malem tante malem om" sapa Nindya
"Duh kangen banget sama kamu" kembali memeluk Nindya
"Duduk Nindya" ucap papa Deny
__ADS_1
Sudah Nindya duga jika ia mama Deny memberondong Nindya dengan berbagai pertanyaan.
"Kamu balikan sama Deny?" tanyanya kemudian setelah belasan pertanyaan yang ia ajukan