
Jangan lupa like dulu,komen dan subscribe biar author makin semangat..
Selamat membaca semoga suka ♡♡♡
-----
Menurut kalian menyebalkan gak sih kalo jam pelajaran matematika ditaruh di jam terakhir?
Saat otak sudah lelah seharian dipake mikir.Dan jam pelajaran terakhir harus menghadapi pelajaran matematika.
"Lu nyium bau gosong gak sih Jes?" ujar Maya menaruh kepalanya diatas meja.Guru belum datang saja ia sudah setidak semangat ini.Jessie menoleh,menatap Maya yang sepertinya kekurangan cairan.Lemes.
"Napa?lu mau bilang saking panasnya otak lu ampe ngeluarin bau gosong gitu?" tanya Jessie asal yang mendapat tabokan pelan di bahunya
"Sekali kek Jes biarin gua ngelucu" protes dari Maya membuat Jessie menangkupkan kedua tangannya didepan mukanya.Gerakan meminta ampunan pada Maya.
"Permisi.Ini kelas sepuluh tiga?" tanya salah satu murid perempuan memastikan
"Yaelah kayak anak mana aja lu Tut" jawab Jessie dengan suara keras,masih duduk di bangkunya.Tuti yang masih berdiri diambang pintu baru masuk setelah dipersilahkan ketua kelas.
"Pak Safiq nyuruh lu nerangin bab ini" Tuti membuka lembaran pada buku paket
"Dih napa gua?" Jessie jadi bingung sendiri.Tuti malah mengedikkan bahu.Mana gua tahu,tepatnya seperti itu jawaban Tuti.Setelah janji pulang bareng ia pun kembali ke kelasnya.
Jessie membaca sekilas.Memahami beberapa halaman lebih lanjut yang pernah ia baca sebelumnya.Meski awalnya Jessie merasa minder tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan tugas seperti ini.
Jessie merapikan seragamnya.Maya yang duduk disebelahnya malah menautkan alisnya melihat tingkah Jessie.
"Lu yang mendadak serius begini malah aneh tau Jes " cibiran Maya hanya mendapat senyum bijaksana dari Jessie.Jessie meminta jalan.Semua murid sudah tahu jika gelar asisten guru matematika sudah disandangnya.
Author: ada yang inget gak
Nindya juga pernah jadi asisten pak Bambang?
"Kali ini kita bahas fungsi kuadrat...Gua bakal jelasin pelan-pelan...Kalo ada yang gak paham sama penjelasan gua bisa langsung nanya aja" Jessie begitu menghayati perannya sebagai orang kepercayaan pak Safiq.Sambil menjelaskan ia membuat beberapa coretan di papan tulis.Serius sekali,beda dengan Jessie yang biasanya.
Sekilas Ardit memang terlihat serius,tapi bukannya mendengarkan keterangan Jessie ia malah sibuk menggambar sketsa wajah Jessie.Tak ada yang ia dengarkan satupun selama hampir satu jam Jessie mengoceh kesana-kemari.Ia sibuk menggoreskan pensil diatas kertas gambarnya.
Beberapa temannya terlihat antusias.Bertanya tentang pelajaran atau malah hal nyeleneh lainnya.
"Jes,lu pacaran sama pak Bimo ya?" pertanyaan Nusa memancing tawa seisi kelas.Semua teman sekelasnya memang sudah tahu perihal Jessie mengomentari kumis pak Bimo yang katanya menggemaskan itu.
Tapi sumpah lidah Jessie kepleset lagi itu.Niat pengen ngomong jijik malah jadi gemes.Alamat salah paham kan.
Pletaaakk!!
Tepat sasaran.Spidol mendarat tepat dijidat Nusa.
"Sadis" Mamat yang sebangku dengan Nusa malah bertepuk tangan melihat aksi Jessie
"Berisik lu Nus,tadinya gua udah paham malah jadi buyar lagi gara-gara lu" Kikan yang duduk dibelakang Maya berkomentar
"Ini gua kasih soal.Kalo ada yang bisa jawab dapat traktiran makan di mekdi" suasana mendadak serius.Fokus pada soal yang ditulis oleh Jessie di papan tulis.
__ADS_1
Kadang mereka malah berharap pak Safiq tidak masuk kelas dan digantikan oleh Jessie saja.Mungkin karena mereka akrab satu sama lain jadi tidak takut untuk berulang kali bertanya.Ya meski kadang sekedar keisengan mereka pada murid yang terkenal paling jahil satu kelas.
Suasana kelas memang sedikit gaduh.Namun semua mata menoleh saat si cuek Ardit yang jahilnya cuma sama Jessie maju kedepan.Merebut spidol dari tangan Jessie.
Raut wajahnya terlihat serius mencoret-coret papan tulis.Hanya butuh dua menit baginya menyelesaikan soal yang diberikan Jessie.
"Bisa gak ni orang gausah maju walaupun dia ngerti" gumam Jessie pelan
"Jangan lupa traktirannya" ucap Ardit meletakkan spidol di meja guru.
Gurat kecewa terpampang jelas diwajah-wajah polos mereka.Mengucap kata YAHHH secara serempak saat Ardit dengan mudahnya menyelesaikan soal yang sedang berusaha mereka pecahkan.Hilang sudah gratisan.
----
Sedikit bergeser ke ibukota..
Dikota Jakarta yang sedikit mendung namun tetap saja terasa panas.Berdiri seorang remaja lelaki yang masih mengenakan seragam sma di depan sebuah gedung.Harap-harap cemas ia menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang.Ditangannya terdapat sekotak donat yang menjadi makanan favorit pujaan hatinya.
Sebut saja namanya Roy.
Bukan Roy yang bisa ngeramal itu lho ya!
Roy ini anaknya Rindu sama Rio.Masih inget Rindu siapa?itu loh sahabat Nindya emaknya si Jessie yang pernikahannya hampir gagal.Tapi beruntung ada Rio yang bersedia menjadi pengantin lelaki pengganti.Mahasiswa yang jatuh cinta sama dosen pembimbingnya.
Kembali ke Roy..
Senyumnya kian melebar saat melihat sosok wanita berpakaian rapi berlari kecil menghampirinya.
"Udah lama?" tanyanya yang menerima sekotak donat
"Lagi banyak kerjaan aku nya" jawabnya yang mengajak Roy duduk dibangku yang diletakkan didepan pos satpam.Roy sedikit manyun mendengarnya.
Safa memberi kode pada pak satpam meminta wadah.Seperti biasa ia akan berbagi donat atau makanan lainnya yang dibawa oleh Roy.
"Makasih mbak Safa" ucap Pak satpam menerima donat yang diberikan Safa
Hayooo...ada yang tahu siapa Safa??
Dia itu anak pertama dari Dian dan Kevin.Dan Safa itu punya adek yang namanya Marwah.Jadi kesimpulannya...
Roy itu pacaran sama Safa anak temen mamanya yang beda umur lima tahun diatasnya.Alias Roy itu berondong yang pacaran sama mbak-mbak kantoran.
"Pulang jam berapa nanti aku jemput" ucap Roy saat Safa kembali berdiri
"Jam sembilan,aku lembur soalnya" jawab Safa
"Yaudah kerja lagi,aku pulang dulu" ujar Roy sambil mengusap kepala Safa
"Iya bawel" gerutu Safa.Meski perbedaan umur Roy terbilang jauh dibawah Safa.Namun Roy lebih dewasa dan sabar menghadapi Safa yang lebih tua namun bertingkah seperti anak kecil.
Setelah melambaikan tangannya Roy kembali menaiki motor gedenya membelah jalanan ibu kota yang lumayan lengang di jam siang.
Jika kedua orang sudah saling jatuh cinta,maka cibiran tentang perbedaan umur mereka tak akan menjadi masalah.Jalani saja selama mereka tidak bahagia karena merebut kebahagiaan dari orang lain.
__ADS_1
--
Benar saja ketika Safa pulang kantor Roy sudah bertengger diatas motor besarnya.Seperti biasa Roy akan memasangkan helm untuk Safa yang hendak naik motor.Anak jaman sekarang memang pandai bersikap romantis.
Deru motor membelah jalanan ibukota.Safa mengeratkan pelukannya di perut Roy saat udara semakin dingin,sepertinya akan turun hujan malam ini.
Biasanya sepasang kekasih itu akan menepi disebuah jajanan kaki lima saat Safa pulang kerja.Namun karena Safa yang mengeluh lelah akhirnya Roy langsung mengantarnya pulang.
"Gak mampir?" tanya Safa saat turun didepan rumahnya
"Udah malem,titip salam aja buat orang rumah" sahut Roy menerima helm yang diulurkan Safa
Setelah Roy hilang dari pandangannya barulah Safa masuk kedalam rumah.
"Roy gak mampir?" tanya Dian mama Safa
"Gaenak katanya ma udah malem" jawab Safa yang ikut suduk santai di sofa
"Awet amat kak pacaran sama berondong" cibir Marwah
"Lah biarin,emang lu sukanya sama aki-aki" ledek Safa yang katanya naksir duda keren yang baru pindah disebelah rumah mereka.Dua kakak adik yang selalu ribut sejak kecil.Dengan selera memilih pasangan yang berbeda jauh.Safa yang pacaran sama berondong,dan adiknya yang naksir duda keren.Ya meski umurnya belum kepala tiga.
Namun beruntungnya kedua orang tuanya tak pernah mempermasalahkan itu.Selama lelaki yang disukai oleh anaknya berkepribadian baik itu sah-sah saja.
BONUS!!!!
Roy dan Safa
ini Marwah
Rindu sama Rio...entah kenapa muka Rio malah lebih tua ketimbang bu dosen yang jadi istrinya wkwkw
kalo ini Dian sama Kevin
Jessie yang mendadak serius
Maya yang gagal ngelucu
Kadang gayanya Ardit suka begini kalo lagi bikin sketsa
__ADS_1
Author : hayoo di like dulu yang belom hehe...Jangan lupa komen karena author udah baik hati update lagi...
Salam sayang dari author ♡♡♡