
"Tidak semua hal yang kamu ketahui bisa menenangkan hati,
Ada beberapa hal yang sebaiknya tetap tidak kamu ketahui."
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Kamu.." ucap Alin dan laki-laki itu bersamaan. Laki-laki yang menyandang gelar sebagai papa si kembar Alfa dan Alfi itu nampak membulatkan matanya, pun dengan Alin.
Sungguh, sungguh pertemuan yang tak terduga baik bagi Alin maupun bagi laki-laki itu. Sepertinya benar apa kata pepatah bahwa 'dunia tak selebar daun kelor'.
"Kak Fahri.." Gumam Alin. Lirih, tapi rupanya indera pendengaran laki-laki yang Alin panggil sebagai 'Kak Fahri' itu cukup tajam. Ya, laki-laki itu mendengar gumaman Alin. Membuat laki-laki itu makin dalam menatap perempuan di depannya.
Tatapan keduanya masih bertaut, sampai akhirnya Alin lebih dulu memutusnya, mengalihkan pandangannya ke arah lain asal bukan pada manik mata laki-laki di depannya itu.
Hening. Satu kata itu mewakili suasana di kamar si kembar siang itu. Para penghuninya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Bu Alin." Suara Alfi memecah keheningan, sekaligus menarik perhatian dua orang dewasa di hadapannya. Alin yang merasa namanya dipanggil, melarikan tatapannya pada sumber suara.
"Kenapa sayang, ada yang sakit hm?" Tanya Alin penuh perhatian, seiring langkahnya yang menghampiri Alfi. Kehadiran Fahri di depannya juga segala isi pikiran tentang laki-laki itu, ia kesampingkan terlebih dahulu.
Alin duduk di tepi ranjang dekat Alfi. Sebuah senyuman sudah ia lukis kembali di wajahnya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Alin, lagi, tangannya terulur kemudian mengusap lembut pipi Alfi.
"Ibu kenal papa ya?" Bukan Alfi yang bertanya, itu suara Alfa yang menyahut. Si kecil Alfa menatap sang papa dan gurunya itu bergantian.
Alfi mengangguk menyetujui pertanyaan Alfa, menunjukkan bahwa itu juga yang ingin ia tanyakan.
"Sejak kapan ibu kenal papa? Dimana kalian saling kenal? Kenapa ibu tidak pernah cerita kalau ibu kenal sama papa?" Tiba-tiba serentetan pertanyaan Alfi menyerang Alin. Membuat hati juga pikiran Alin ketar-ketir. Ia menatap Fahri dengan ekor matanya, ingin tau apa Fahri akan mengatakan sesuatu!?
Alin tertawa miris dalam hati melihat Fahri yang hanya diam di tempatnya, tak bergeming. Haha! Memang apa yang kamu harapkan Alin!? Tanya batin Alin.
Si kembar menatap Alin dengan segala rasa ingin tahunya, mereka menunggu jawaban Alin atas pertanyaan-pertanyaannya.
"Bu Alin.." Panggil Alfi hati-hati ketika dilihatnya guru mereka memejamkan mata cukup lama.
__ADS_1
"Ya, sayang.." Alin membuka matanya dan langsung bertemu dengan dua pasang mata yang tengah menatapnya lekat.
"Iya sayang, ibu kenal- mungkin lebih tepatnya tahu sedikit tentang papa kalian, ibu hanya tahu nama dan wajah papa kalian. Kami pernah.. bertemu, dulu." Jelas Alin. Semoga mereka mengerti dan tidak bertanya tentang dirinya dan Fahri lagi, itulah yang Alin harapkan.
Dan sepertinya apa yang Alin harapkan terkabul. Si kembar nampak mengangguk-angguk kecil, seakan paham. Alin bernafas lega. Namun itu hanya sesaat, karena tiba-tiba saja Alin merasa seolah ada ledakan besar terjadi tepat di depan wajahnya ketika suara Alfi kembali memasuki indera pendengarannya.
"Bu Alin, mau kan jadi mama kita!?"
Duarr
•••
Arfa Fahri, nama yang disandang papa si kembar Alfa dan Alfi. Arfa, begitulah biasanya ia dipanggil. Keluarga, teman-teman ataupun rekan-rekan kerjanya, semuanya memanggilnya dengan nama depannya, seperti yang ia minta.
Tak ada yang memanggilnya dengan nama belakangnya. Setidaknya seingatnya begitu, tapi tunggu- laki-laki itu nampak mengingat sesuatu, bahwa ada satu orang yang memanggilnya dengan nama belakangnya itu. Ya, hanya gadis itu, tak ada yang lain.
"Fahriani.." Panggil Fahri pelan.
Sontak saja panggilan itu membuat Alin yang tengah menunduk mengangkat kepalanya. Mendengar panggilan itu ia semakin yakin bahwa laki-laki di depannya ini adalah laki-laki yang sama dengan yang pernah ia kenal, dulu. Ya, dulu, sebelum laki-laki itu tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bumi.
Fahri memperhatikan gelagat perempuan di depannya dengan tatapan sendu. Rasanya ada sesuatu yang tak kasat mata yang menyentil hatinya.
Alin mengambil satu langkah mundur, seiring dengan satu air bening yang lolos dari pelupuk matanya ketika Fahri maju satu langkah lebih dekat padanya.
"Fahriani--"
"Papa" Sebuah suara dari gerbang depan memotong ucapan Fahri. Suara anak perempuan yang sedang menuju ke arah mereka. Suara itu berhasil mengambil alih perhatian dua anak Adam yang tengah berhadap-hadapan itu.
"Oh, ada tamu ya, siapa pa!?" Tanya anak perempuan berseragam batik dan rok merah itu. Ia melangkah semakin dekat menghampiri sang papa. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda dengan dua jepit merah di rambut sisi kanannya.
"Ayu, udah pulang sayang!?" Tanya Fahri, mengulas senyum tipis, tak menghiraukan pertanyaan anak pertamanya itu. Anak perempuan yang dipanggil Ayu itu mengangguk sebagai jawaban.
"Dia siapa, pa!?" Tanya Ayu, lagi, tak menyerah.
"Ohh, ini gurunya Alfa sama Alfi di TK, lagu jenguk Alfa sama Alfi." Ayu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban papanya.
__ADS_1
"Bu Alin, ya!?" Tanya Ayu. Fahri mengangguk. Ayu berbalik menatap Alin dengan tatapan yang.. ah entahlah, Alin tak tau arti tatapan nya itu. Yang pasti, wajah anak itu datar.
Alin menampilkan senyum hangatnya pada Ayu sembari mengangguk, ikut membenarkan. Namun, bukan balasan senyuman yang Alin dapat, tapi tatapan sinis tiba-tiba terlihat di wajah Ayu. Alin tau, Ayu memberinya tatapan ta suka, tapi ia tak mengerti, tak suka kenapa? Bukankah mereka baru pertama kali bertemu? Kenapa anak itu tiba-tiba sudah menatapnya tak suka?
"Ayu, sayang, ganti baju dulu gih terus sholat, terus kita makan siang bersama, ya!?" Ucap Fahri sambil mengelus puncak kepalanya anaknya itu penuh sayang.
Ayu mengangguk dan menjawab " iya, pa. Ayu ke kamar dulu.."
"Fah-"
"Saya permisi, pak.." Ucap Alin memotong ucapan Fahri sambil menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum.." Ucap Alin lagi, dan tanpa menunggu jawaban laki-laki di depannya, Alin berbalik dan hendak pergi.
"Fah, tunggu" Cegah Fahri. Tangannya sigap menahan lengan Alin dan tentu saja hal itu menahan Alin untuk melanjutkan langkah kakinya.
"Lepas pak, tolong.." Pinta Alin pelan.
Fahri menggeleng tak setuju dengan permintaan Alin "Aku mau bicara sebentar denganmu."
"Saya harus pulang pak, tolong lepaskan saya." Alin masih berusaha tenang.
"Tolong kasih aku kesempatan, fah.." Pinta Fahri.
"Fah.." Panggil Fahri, karena perempuan di depannya itu tak memberikan respon apa-apa. Andai Fahri tahu, pikiran dan hati Alin sedang berkecamuk sekarang.
"Maaf pak, saya harus pergi.." Ucap Alin sekali lagi. Ia berusaha menarik lengannya dari tangan Fahri.
Tak menyerah, Fahri mencoba menggenggam tangan Alin, karena seingatnya dulu, perempuan di depannya ini suka sekali ketika tangan mereka saling menggenggam, saling bertaut.
"Sshh.. Kak-" Alin meringis, tatkala Fahri berusaha menggenggam tangannya. Sontak Fahri menatap Alin yang dari air mukanya, Fahri tahu kalau perempuan itu tengah menahan sakit.
Fahri memeriksa tangan Alin dan luka di telapak tangan Alin melukiskan raut khawatir di wajah Fahri.
To be continued~
__ADS_1