
Kilatan cahaya kamera menyambut para aktor dan aktris yang keluar dari gedung pemutaran film.Nindya yang hadir disana tak luput dari serbuan wartawan.
"Sepertinya lain kali aku tidak akan mengundangmu datang ke pemutaran film perdana ku" ucap Krystal saat mereka berhasil lolos dari kejaran wartawan
"Kenapa?" keduanya memasuki kafe
"Mereka lebih tertarik padamu daripada aku" Krystal merasa kalah pamor.Pelayan yang tidak sengaja mendengar menahan senyumnya saat mencatat pesanan dimeja sebelahnya.
"Ya ampun, Krystal" kedua tangan Nindya memalingkan wajah Krystal.Merasa tidak enak dengan pelayan yang dipelototi oleh Krystal
"Oh ya..kenapa Jin tidak ikut.Biasanya ia selalu menempelmu" tanya Krystal sambil menyeruput jus nya yang baru datang
"Dia baru pulang dari China" Nindya menyandarkan punggungnya di kursi kafe
"Sikapnya akhir-akhir ini berubah.Aku takut dia mempunyai wanita lain" keluh Nindya sambil menggoyangkan kopi yang tinggal setengah cangkir
"Mana mungkin.Aku yang tidak begitu kenal dengan Jin saja bisa melihat cintanya yang begitu besar" bantah Krystal,yakin betul dengan ucapannya
"Entahlah...Aku hanya takut kehilangannya" perasaan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya namun terus mengganjal di hati Nindya
"Jangan sedih,bagaimana kalau kita karaoke" usul Krystal yang sudah menghubungi teman satu grupnya
Setelah mendapat ijin dari suaminya Nindya pergi bersama girlband WIN ketempat karaoke.
"Suaramu bagus Nindya kenapa kau tidak debut sebagai penyanyi saja" celetuk Krystal yang baru tahu jika suara Nindya lumayan bagus
"Iya.Lagi pula kau sudah punya banyak fans kan" tambah Huwen
"Fans apanya,aku mana punya" sahut Nindya meneguk minuman dingin
"Bagaimana kalau aku bilang pada manager untuk merekrutmu sebagai member baru" usul Krystal.Ide macam apa pikir Nindya
"Untuk apa? suamiku kaya raya" bagi mereka yang sudah mengenal Nindya tentu tahu itu hanya candaan bukan ucapan yang serius
Dua jam cukup menguras tenaga Nindya.Sebelum pulang ia mampir ke toko kue membeli cup cake untuk Jin.
"Selamat sore nona" sapa kepala pelayan Hong
"Iya selamat sore juga.Apa Jin ada dirumah paman?" tanya Nindya mengedarkan pandangannya
"Tuan baru saja pergi nona.Beliau mengatakan ada pertemuan penting" jawab Hong berbohong
Flashback satu jam setelah Nindya keluar dari rumah..
Jin yang sedang menuruni tangga mengalami serangan sakit kepala yang luar biasa.Joshua yang kebetulan berdiri di ruang tamu segera berlari menghampiri tuan mudanya.Pelayan yang sedang membereskan rumah ikut panik melihat keadaan tuan muda mereka.
"Bagaimana ini, sepertinya penyakit tuan muda semakin parah" ucap salah satu pelayan yang mere mas kain lap
__ADS_1
"Jaga bicaramu" tegur kepala Hong yang mendengar percakapan mereka setelah memastikan mobil Jin keluar dari halaman rumahnya
"Maafkan saya kepala pelayan Hong" ia berulang kali membungkukkan badannya sambil meminta maaf
"Ingat,rahasiakan ini dari nona muda" Hong kembali mengingatkan
"Baik kepala pelayan Hong" mereka yang berkumpul serempak menjawab
Setelah Joshua membawa Jin kerumahnya sakit.Mereka kembali menggosip sambil membersihkan dapur.
"Kasian sekali tuan muda"
"Iya.Tuan masih terlalu muda untuk penyakit yang sekarang dialaminya"
"Kudengar mendiang tuan besar juga memiliki riwayat penyakit kanker otak?"
"Iya.Saat itu nyonya besar terpuruk sekali mendengar kabar itu.Apalagi sekarang anak semata wayangnya juga mengidap kanker otak seperti mendiang suaminya"
"Aku jadi kasian dengan nona muda.Sampai sekarang dia tidak tahu apapun tentang masalah ini"
"Sudah-sudah.Jika kepala Hong mendengar obrolan ini bisa-bisa kita dipecat" pelayan yang sedari tadi menyimak percakapan ketiga temannya mengingatkan
Mereka pun kembali bekerja seperti biasanya.Dan tak lama nona muda mereka sampai dirumah.
Keadaan di rumah sakit...
Otot Joshua yang sedari tadi tegang berangsur mengendur.
"Apa hal ini juga tidak diketahui oleh Nindya!" dokter Lee berang kenapa Jin terus menerus merahasiakannya dari Nindya
"Terserah sajalah" meninggalkan Joshua dengan kekesalan
Butuh dua hari untuk Jin memulihkan keadaannya.Meski sebenarnya ia dilarang oleh dokter Lee untuk pulang,Jin tetap memaksakan pulang hari itu juga.
"Aku harus pulang,Nindya pasti khawatir" mencabut paksa selang infus
"Astaga" melihat darah keluar dari tangan Jin "Baiklah kau boleh pulang.Tapi biarkan aku mengobati lukamu terlebih dulu" berusaha menenangkan Jin yang berontak
Akhirnya Jin pulang juga setelah dokter Lee mengobati lukanya.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu dengan Jin" menepuk pundak Joshua yang membukakan pintu mobil untuk Jin
"Baik dok.Saya permisi dulu" menutup pintu mobil.
Didekat lobby Nindya berusaha berpegangan pada kursi.Kekhawatirannya terbukti juga jika ternyata Jin memang sakit dan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jangan menangis Nindya" menghapus air matanya sebelum berbalik arah mengunjungi artis yang sedang dirawat dirumah sakit itu juga
__ADS_1
Meski awalnya Nindya berniat untuk sedikit lebih lama disana.Namun ia tidak bisa mengesampingkan pikiran tentang Jin yang terlihat pucat diiringi dokter yang mengantarkannya sampai ke mobil.
"Kau kenapa?" tanya Yuki saat menurunkan Nindya didepan rumahnya
"Tidak ada" tersenyum kecut "Pulanglah" menutup pintu mobil.
Langkahnya berhenti sejenak didepan pintu rumah.Berusaha menata perasaannya yang campur aduk dan tersenyum sekilas.
"Apa tuan sudah sampai dirumah?" tanya Nindya pada pelayan
"Sudah setengah jam lalu nyonya" jawabnya yang menundukkan kepalanya
Nindya mulai menaiki anak tangga.Gerakan tangannya terhenti saat ia hendak membuka pintu.
"Sayang" berhambur memeluk Jin yang sedang menatap luar jendela
"Kau dari mana?" tanya Jin
"Aku baru saja bertemu dengan temanku,ada sedikit pekerjaan" berbohong "Kenapa lama sekali baru pulang?" bergarap Jin akan jujur kepadanya
"Aku pergi ke Jepang" mengalihkan pandangannya saat memberi jawaban "Apa kau merindukanku" mengalihkan topik pembicaraan
"Sangat" memeluk Jin "Lain kali ajak aku jika kau ingin pergi jauh" membenamkan wajahnya di dada bidang Jin
"Iya.Maafkan aku" sesalnya balas memeluk Nindya erat.Mengecup puncak kepala Nindya lebih lama dari biasanya.
"Ayo mandi" menarik lengan Nindya menuju kamar mandi
Selesai mandi Nindya sengaja berlama-lama diruang ganti.Bersamaan dengan Nindya menggeser pintu,ia tak sengaja melihat Jin sedang meminum obat yang ia ambil dari dalam laci.
"Kenapa harus dikunci" gumam Nindya
Barulah setelah Jin kembali mengunci laci Nindya keluar dari kamar ganti.
"Ayo sini" menepuk kasur disebelahnya
Nindya menurut.Duduk disebelah Jin dan memeluknya.
Pagi-pagi sekali saat Jin belum bangun.Nindya mencari kunci laci yang disembunyikan Jin dilemari.Dan setelah membuka laci Nindya mengamati botol obat dengan isi yang masih penuh.
"Maaf Jin" mengambil satu obat lalu mengembalikan kunci ketempat semula
Buru-buru Nindya menyambar tas selempangnya dan menutup pintu.
Jin yang sedari tadi memang terjaga menyandarkan punggungnya dikepala ranjang saat mendengar pintu tertutup.
"Akhirnya kau tahu juga Nindya" gumam Jin
__ADS_1