Ruang Hati

Ruang Hati
Season dua - bagian 25


__ADS_3


Drtt..


"Halo Den?"


"Udah sampe?" tanyanya


"Udah nih gua mau tidur"


"Yaudah tidur gih" Nindya pun memutuskan sambungan telefon


---


Tok..tok..tok..


Pintu kamar Nana di ketuk oleh ibunya.Nana masih belum sepenuhnya sadar


"Ada Arya di bawah" ucapnya kemudian berlalu pergi


Mau apa lelaki itu pagi-pagi begini sudah datang kerumahnya.Nana lekas mandi dan berganti pakaian.Dilihatnya Arya sedang bermain dengan Raka.


"Pagi mama" ucapnya menirukan suara Raka


"Ada perlu apa?" tanyanya yang duduk di sofa


"Aku mau ngajak kamu sama Arya jalan jalan" jawabnya


"Silahkan kalo kamu mau bawa Raka.Aku gak ikut" jawab Nana dengan ekspresi datar


"Gimana Raka mama gamau ikut?" Nana sudah tahu maksud Arya jika ia tidak akan pergi jika Nana tidak ikut serta


Melihat Raka yang begitu antusias Nana akhirnya luluh juga.Tak tega jika harus menolak saat ia melihat binar di kedua mata anaknya.


Arya bertanya pada Raka kemana ia ingin pergi.Dan anak itu mengatakan jika ia ingin pergi berenang.Lalu setelah mempersiapkan perlengkapan mereka bertiga berangkat menuju kolam renang.


Raka terlihat begitu antusias sepanjang perjalanan.Membuat Nana lupa akan kekesalannya pada Arya.


"Kamu gak renang?" tanya Arya


"Gak aku disini aja" sahutnya sambil duduk


"Ayo mah ikut" ajak Raka


"Raka berenangnya bareng papa aja ya" bujuk Nana dan anak itu pun setuju


Arya sudah sangat jarang sekali mengunjungi Raka.Jadi Raka sangat antusias saat Arya mengatakan akan mengajaknya jalan jalan.Peran ayah memang tak pernah bisa di gantikan.


Terlihat jelas Raka sangat merindukan ayahnya.Nana jadi merasa sedih melihat hal itu.


Jika saja rumah tangganya tidak hancur.Jika saja Arya tidak berselingkuh.Pasti Raka tidak akan mengalami hal semacam ini.Tidak akan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Mau bagaimanapun hal itu tidak bisa diubah.Semua sudah terjadi dan ia harus menerima kenyataan.


---


"Gimana kamu mau terima tawaran dari Daniel?" tanya Ji Eun


"Kapan syutingnya di mulai?" tanya Nindya


"Seminggu setelah deal" jawabnya

__ADS_1


"Bilang jika aku setuju" ucap Nindya


Ji Eun tengah mengobrol dengan seseorang.Nindya pun tak terlalu memperhatikan dengan siapa ia berbicara.


"Kau sudah tahu tema lagunya?" tanya Ji Eun


"Apa?" tanya Nindya yang tak begitu fokus


"Kehilangan"


Puffttt..


Cappucino yang Nindya minum menyembur keluar.Kenapa ia bisa melewatkan hal paling vital itu.


"Jangan memintaku untuk membatalkannya" Ji Eun berkacak pinggang.Ia tahu persis apa yang ada di pikiran Nindya


Sial.Batinnya.


Nindya paling tidak mau jika menyangkut kehilangan.Karena ia takut tidak bisa profesional dalam bekerja.


Daniel itu sepertinya sengaja bersikeras jika ia ingin Nindya yang menjadi model perempuannya.


Ayolah Nindya kamu pasti bisa.


Nindya pergi kerumah Yuki utuk mengutarakan kekhawatirannya.


"Ada masalah?" pertanyaan pertama saat Yuki membukakan pintu untuknya


"Kau tahu Ji Eun sangat ketat dalam hal perjanjian" ucap Nindya


"Kenapa?"


"Aku asal saja menerima tawaran Daniel yang ingin aku menjadi model MV nya"


"Lagunya bercerita tentang kehilangan" suara Nindya melemah


"Ji Eun benar kau harus konsisten"


"Salahmu karena kau tidak menanyakannya lagi" tambah Yuki


"Kalian sama saja" gerutunya


"Kau yang harus berubah Nindya"


"Hampir dua tahun berlalu Nin,apa kau masih belum bisa merelakannya"


"Tidak sama sekali" jawab Nindya pasrah


"Huh" Nindya menoleh saat Yuki menghela nafas panjang


"Jin pasti ingin kau menjalani hidupmu dengan baik" perkataan Yuki membuatnya teringat akan ucapan Jin saat di mimpinya.


"Kenapa menangis?" tanya Yuki panik


"Tidak ada.Kau benar Yuki" ucap Nindya yang tak mampu menahan laju air matanya.Selalu seperti ini saat Nindya mengingat Jin.Air matanya tak akan bisa ia kendalikan.


Sepulang dari rumah Yuki.Nindya memacu mobilnya menuju pemakaman Jin.Ia membawa satu tangkai mawar putih.


Untuk pertama kalinya Nindya datang atas kemauannya.


"Hai sayang.Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Apa kau baik baik saja?"


"Kau tahu?aku pernah memimpikanmu waktu itu"


"Kau datang dan tersenyum padaku.Mengatakan jika kau bahagia melihatku baik-baik saja.Melihatmu sedikit bisa menghapus rasa rinduku"


"Baiklah sepertinya aku terlalu banyak bicara.Aku pulang dulu"


Ia pergi ke kantor Joon.Pertama kali sejak kematian Jin,Nindya menginjakkan kakinya di sana lagi.Para karyawan sedikit terkejut melihatnya.Mungkin karena sudah lama sekali sejak terakhir ia datang kesana.


"Joon" panggil Nindya.Joon sama kagetnya seperti para karyawan.Apa ia salah lihat saat melihat Nindya masuk kedalam ruangannya


"Apa yang membuatmu melangkahkan kaki kemaru?" tanya Joon penasaran


"Berdamai dengan masa lalu" ucapnya santai


"Aku akan menghubungi Youngi.Ini patut di rayakan" ucapnya bersemangat yang dirasa Nindya sedikit berlebihan


Youngi mengajak Nindya dan Joon bertemu di restoran langganannya berkumpul dengan para stafnya.Nindya sedikit terkejut saat melihat Daniel ada disana.


"Halo" sapanya yang terlihat ramah dan sopan


"Halo" balas keduanya


"Baik ayo kita mulai" Youngi menggulung kemejanya sampai siku


"Akan kubantu" ucap Daniel saat Nindya mulai memanggang


"Bersulang" Youngi mengangkat gelasnya tinggi tinggi


"Kau tidak mimum soju?" tanya Daniel


"Lebih baik jangan" sahut Joon


Karena setiap mabuk Nindya akan menangis tanpa suara.Dan itu membuat kedua temannya merasa begitu pilu melihat kekacauan Nindya.


Daniel cepat akrab dengan Joon dan Nindya.Ya meski Daniel jarang berbicara banyak pada orang yang baru ia kenal.Tapi Nindya dan Joon sangat ramah menurutnya.


"Sudah Nin.Satu seloki saja atau kau akan mengacaukan segalanya" nasihat Joon.Yah Nindya juga tak mau kacau didepan orang yang baru dikenalnya.Joon pun mengajaknya pulang sebelum larut.


---


"Youngi,kenapa Joon terlalu melarang Nindya minum banyak?" tanya Daniel yang mulai penasaran


Youngi menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya


"Aku ingat saat itu hari dimana Jin meninggal"


"Aku memang tak duduk langsung bersama Joon,Nindya dan Deny"


"Siapa Deny?"


"Mantan pacarnya"


"Saat itu Joon menawarkan soju agar Nindya meluapkan kesedihannya.Kulihat ia banyak sekali minum malam itu"


"Aku melihat Deny melarang Nindya minum lebih banyak.Lalu setelah itu Nindya terdiam cukup lama.Awalnya aku tak menyadari ada hal yang aneh"


"Tapi saat kuamati ia sedang menangis tanpa suara.Air matanya mengalir banyak.Tapi ia diam seribu bahasa sambil memandangi foto Jin"


Youngi meneguk kembali soju nya

__ADS_1


"Aku bisa melihat betapa besar lubang dihatinya atas kematian Jin.Kami yang mengenalnya selalu ceria dan berisik merasa sakit melihatnya seperti itu.Dan itu selalu terulang saat ia banyak minum.Makanya Joon melarangnya,mungkin ia merasa bersalah menjadi orang pertama yang menawari Nindya minum soju" jelas Youngi panjang lebar


__ADS_2