
Awal nya Sean ingin langsung membawa Adhara atau Hana ke markas besar Black Dragon untuk merangsang ingatan terakhir Adhara . Tapi Faisal tidak setuju , dia menyarankan agar membawa Adhara ke tempat yang biasa dia datangi sehari-hari nya . Dengan alasan takut jika Adhara tak bisa menahan rasa sakit saat ingatan nya di paksa . Jadi menurut Faisal , sebaiknya mereka kembali memperkenalkan keseharian Hana sebelum menjadi Adhara dengan perlahan . Mereka pun setuju dengan saran Faisal , dan Devan pun memutuskan untuk mengajak Adhara berkeliling komplek dengan bersepeda besok pagi dan di setujui oleh semua orang .
SKIP
Di ruang makan . Semua orang makan dengan tenang . Tak ada percakapan , hanya dentingan sendok dan piring yang mengiringi makan malam mereka dengan santai . Di sela makan nya , diam-diam Adhara melirik bangku di depan nya . Beberapa waktu yang lalu , biasa nya akan duduk seorang cowok di seberang meja nya yang dia tahu bernama Sean . Tapi sekarang kursi itu kosong , dan Adhara tiba-tiba juga merasakan kekosongan di hati nya .
" Kok tiba-tiba aku kepikiran cowok bernama Sean , ya . Entah kenapa aku merasa ada yang kurang ketika cowok dingin itu gak ada di sini . Tapi kenapa ? " batin Adhara .
Ternyata tanpa sadar Adhara mengunyah makanan nya dengan tatapan kosong menatap kursi di depan nya . Dan hal itu tak luput dari tatapan Devan , Devan hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Adhara .
" Ternyata trik Sean mulai bereaksi . Hana seperti nya mulai merasakan sesuatu pada Sean . Cepatlah ingat semua nya , adik ku . Kasihan Sean , semenjak kau hilang dia kembali menjadi dingin dan sadis . " batin Devan .
" Sayang , ada apa . ? " kata Nadira menyentuh pundak Adhara hingga Adhara tersentak .
" Gak apa-apa , bunda . Dhara udahan makan nya . " kata Adhara terlihat tak berselera .
" Kenapa ? apa makanan nya kurang enak . ? " kata Bella .
" Gak , Bell . Entah kenapa aku merasa gak selera aja . " kata Adhara jujur , karena tiba-tiba nafsu makan nya hilang ketika tak menemukan Sean .
" Ya udah , kalau kamu gak selera . Kamu makan smoothies buah aja ya . " kata mommy menyodorkan semangkuk smoothies .
" Makasih , , , mommy . " kata Adhara agak ragu . mommy tersenyum dan melanjutkan makan nya .
skip
Setelah makan malam , mereka kembali berkumpul di ruang tamu . Para orang tua asyik mengobrol dengan santai , Sedangkan Adhara tampak asyik bermain dengan Thalita di karpet . Thalita tampak begitu riang ketika Adhara ikut bermain dengan mainan nya . Tawa riang Thalita memenuhi ruangan itu hingga menarik perhatian semua orang .
" Awas , , pesawat akan segera mendarat. . syuuuuut . . oh tidak ternyata di depan ada raksasa cantik. . Awaaaas. . .
" Hahahaha. . . . !!! " tawa Thalita begitu lucu kala pesawat yang di pegang Adhara menabrak perut nya dan di susul dengan kelitikan kecil di pinggang Thalita . Adhara terus mengulang permainan itu membuat tawa Thalita semakin kencang . Bella tersenyum melihat kedekatan Adhara dan Thalita . Dia juga senang melihat Thalita yang tampak lebih ceria dengan kedatangan Adhara . Mommy ikut tertawa melihat Thalita yang begitu tampak senang . Mungkin karena terlalu capek , Thalita terlihat menguap beberapa kali dan mengucek mata nya .
" Kenapa , ngantuk ya . ? sana bobo sama mamah nya . " kata Adhara membantu Thalita bangkit dan menuntun nya pada Bella . Tapi Thalita terlihat menolak dan malak memeluk kaki Adhara erat . Adhara mengerti keinginan Thalita dan langsung menggendong nya lalu duduk di sebelah Bella .
" Thalita pengen tidur sama anty ya . ? " kata Adhara seraya mendekap Thalita dan menepuk-nepuk pantat nya yang montok . Thalita tampak tenang dengan mata nya semakin terpejam dalam pangkuan Adhara .
Melihat Thalita yang sudah terlelap , Bella pun berinisiatif untuk menggendong Thalita . Tapi baru saja di angkat Thalita tampak berpegang erat pada lengan baju Adhara , membuat Adhara terkekeh.
" Sudah , biarin aja dulu . " kata Adhara kembali menepuk-nepuk bokong Thalita .
" Maaf ya , jadi ngerepotin . Akhir-akhir ini Lita memang agak rewel dan sering nangis malam . " kata Bella tidak enak .
" Gak apa-apa , Bell . Aku seneng kalau Lita suka sama aku . . " kata Adhara mengusap rambut tipis Thalita yang sudah kembali terlelap .
" Beneran gak apa-apa. ? " kata Bella .
" Beneran . Kalau kamu gak keberatan malam ini Thalita biar tidur sama aku aja. Aku perhatikan kamu terlihat pucat dan lelah , kamu pasti capek ngurus Thalita yang lagi rewel . Thalita biar sama aku aja , dan kamu istirahat aja yang cukup . Kalau kamu sampai sakit kan kasihan Thalita . . " kata Adhara penuh perhatian membuat Bella menunduk menahan tangis haru nya .
" Hana , bahkan kamu masih sangat perhatian sama aku . Aku beruntung banget dapat adik ipar sebaik kamu . Semoga ingatan kamu cepat kembali dan kita kembali berkumpul seperti dulu . Thalita terlihat senang ketika bersama Hana , Thalita pasti masih mengenal suara anty nya yang selalu menyapa nya ketika masih dalam kandungan . Ternyata ikatan batin mereka cukup kuat. " batin Bella .
__ADS_1
Devan pun merasakan hal yang sama dengan istri nya . Devan mengusap punggung Bella untuk menenangkan nya .
" Oh ya , Dhara . Besok pagi kamu mau kan ikut olahraga sepeda pagi bareng kakak. ? " kata Devan .
" Olahraga sepeda ? seperti nya seru . Baiklah . . " kata Adhara .
" Sayang , sini Lita biar sama mommy aja . Kamu istirahat ya . " kata mommy .
" Tapi Dhara masih pengen sama si montok ini , mom . " kata Adhara .
" Sudah biarin aja . . " kata Daddy .
" Ya udah kalau gitu . . " kata mommy mengalah .
" Bell , nanti anterin susu sama termos air panas ya . Biar nanti kalau Thalita pengen nyusu tinggal bikin aja . " kata Adhara .
" Gak usah khawatir . Thalita udah gak pernah nyusu malam-malam . Kalau udah bangun pagi baru dia minta susu . " kata Bella .
" Wah , wah ,. pinter banget sih keponakan anty . " kata Adhara mencubit pipi Thalita lembut .
" Ya udah , kalau begitu ayo semua nya istirahat . Kalian pasti masih capek habis perjalanan jauh . " kata mommy .
" Kalau begitu kita duluan , djeng . " kata Nadira .
" silahkan . " kata mommy .
" Dhara juga mau ke kamar . Duluan mom , dad . " kata Adhara membawa Thalita ke kamar nya .
* * *
Pagi pun tiba .
Pagi-pagi sekali Devan dan Adhara telah siap , Devan memakai baju kaos putih dengan celana Jogger panjang hitam , sedangkan Adhara memakai celana Jogger warna hitam dengan thank top merah dan di balut dengan jaket hitam . Tak lupa Handuk kecil dan botol juga air telah siap . Devan mengajak Adhara menuju garasi .
" Kita kesini kan ingin mengambil surat kontrak kerja sama . Kenapa malah mengajak saya bersepeda ? " kata Adhara menatap Devan curiga , Devan hanya tersenyum melihat sikap Adhara yang waspada.
" Ini juga salah salah satu persyaratan kerja sama . Kau harus mengikuti semua keinginan ku dan keluarga ku . . " kata Devan santai
" Tapi . .
" Orang tua angkat mu juga sudah menyetujui nya . Jadi turuti saja . " kata Devan .
" Kok aku ngerasa kalau aku sekarang jadi tumbal , ya . ?! Tapi gak apa-apa lah , yang penting perusahaan ayah aman . " gumam Adhara tapi masih bisa di dengar oleh Devan . Devan terkekeh mendengar gumaman Adhara .
" Sifat mu tidak berubah , Hana . Kau masih suka mengorbankan diri mu demi kebahagiaan orang lain . " batin Devan .
Saat memasuki garasi , tiba-tiba langkah Adhara terhenti dengan tatapan terpaku pada fasilitas transportasi yang berjejer di dalam garasi . Di dalam garasi itu , semua jenis kendaraan di tata dengan rapi sesuai jenis nya . Beberapa koleksi mobil mewah , 2 motor sport dan 4 sepeda , perlahan Adhara melangkah mendekati Devan yang masih memperhatikan ekspresi Adhara . Tangan Adhara menyentuh motor sport berwarna Black-gold dengan alis yang berkerut .
" Dhara , kenapa ? " kata Devan pura-pura tidak tahu .
__ADS_1
" Motor ini . . . . Entahlah tiba-tiba Dhara merasa begitu akrab dengan motor ini . Padahal ini pertama kali nya Dhara melihat motor ini . " kata Adhara .
" Lain kali kakak akan ajak kamu jalan-jalan pake motor . Ayo . . " kata Devan menarik sepeda nya . Adhara melirik jejeran sepeda itu dan pilihan nya pun jatuh pada sepeda di sebelah Devan . Devan tersenyum melihat pilihan Dhara karena sepeda itu memang milik Hana . * *
Adhara dan Devan kini tampak asyik menggoes sepeda nya dan berbaur dengan orang-orang yang juga tengah berolahraga pagi . Sesekali Devan melirik Adhara yang tampak menikmati olahraga nya . Hingga tak terasa matahari semakin meninggi . Kedua kakak adik itu beristirahat di sebuah bangku yang berada di bawah sebuah pohon di taman . Mata Adhara berbinar kala melihat jejeran gerobak jajanan di pinggir taman ..
" Kak , kita sarapan di sana yuk " ajak Adhara .
" Kenapa mau sarapan di sana ? Mending kita sarapan di kafe . " kata Devan sengaja memancing reaksi Adhara .
" Mereka yang jualan gerobakan , belum tentu itu gerobak mereka sendiri . Siapa tahu mereka hanya menyewa atau hanya menjualkan dagangan nya saja dengan upah yang kecil . Dengan kita membeli dagangan mereka , setidaknya kita mengurangi beban bawaan mereka juga membantu perekonomian mereka . " kata Adhara menatap sendu para tukang gerobak . Lagi-lagi Devan tersenyum mendengar jawaban Adhara .
" Baiklah kalau begitu . Ayo kita sarapan , setelah ini kita lanjut pulang . " kata Devan . Mereka pun menuntun sepeda mereka menuju gerobak yang menjual bubur ayam .
Skip
Setelah membayar makanan mereka , Adhara dan Devan pun melajukan sepeda nya untuk kembali ke rumah . Mereka menggoes sepeda dengan santai sambil mengobrol . Tapi ketika mereka melintasi jalan yang sepi , tiba-tiba mereka di kejutkan dengan segerombolan orang yang menghadang jalan mereka . Sontak Adhara dan Devan menghentikan laju sepeda .
" Ada apa ini ? " kata Devan menatap wajah laki-laki yang melangkah menghampiri mereka yang tak lain adalah Justin . Walau memasang wajah sangar , tapi Justin tak bisa menyembunyikan binar di mata nya kala melihat nona muda kesayangan nya .
" Bang , kita mau lewat bisa kasih jalan ? " kata Adhara .
" Jika kalian ingin lewat serahkan dulu barang berharga kalian . " kata Justin seperti perampok sungguhan .
" Maaf bang , tapi kita gak bawa apa-apa . " kata Devan ikut bersandiwara .
" Bacot . . !! " teriak Justin langsung menendang sepeda Devan hingga Devan terjatuh .
" Ampun bos . Tapi seperti yang bos inginkan , aku harus terlihat benar-benar sadis dan jahat . " batin Justin
" kakak . . " kata Adhara langsung turun dari sepeda nya dan membantu Devan bangkit . Tapi baru saja mereka berdiri tiba-tiba mereka kembali di serang secara beramai-ramai .
" Awas . . !! " teriak Devan . Tapi terlambat seorang laki-laki melancarkan serangan pada Dhara . Melihat serangan yang datang , tatapan Adhara berubah tajam dan dengan mudah nya dia menahan serangan itu dan memukul preman itu dengan kuat hingga terpental . Adhara tercengang seraya melihat kedua tangan nya .
" Aku , , aku . . . aku bisa berantem . ? " kata Adhara heran seraya melirik Devan yang tampak sedikit kewalahan karena kaki nya terkilir ketika terjatuh tadi . Dengan marah Adhara melangkah mendekati mereka dan dengan sengit Adhara membalas serangan preman itu hingga mereka semua dengan mudah di jatuhkan oleh Adhara .
" kakak gak apa-apa ? " kata Adhara membantu Devan bangkit dan menepikan Devan .
" Kakak gak apa-apa . Kamu sebaiknya hati-hati , karena mereka dari kelompok Black Dragon yang kejam dan sadis dalam merampok orang . " kata Devan .
" Black Dragon ? . .
" Tajamkan insting mu , jangan sampai terluka . " kata Devan seolah-olah bergantung pada Adhara.
" Baik , kakak tetap di . . .
" Awas di belakang . . " teriak Devan . Belum sempat Adhara bereaksi , sebuah tarikan kuat mendarat di jaket Adhara . Dengan gerakan cepat Adhara langsung berkelit hingga jaket itu terlepas dari badan nya hingga mereka yang di sana bisa melihat sesuatu di lengan Adhara .
" Hana . . . .
__ADS_1
BERSAMBUNG