
Keluarga Inayah baru sampai di Cirebon, tubuh Inayah terasa lelah.Emi tersenyum ketika ia menginjakkan kakinya di kota Cirebon lagi, kota tempat ia dibesarkan, yang banyak kenangan ketika ia masih kecil sampai menginjak remaja. Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Ummi dan abi langsung menyambut Emi, mereka sangat rindu dengan Emi yang sudah 2 tahun tidak bertemu dengan cucu pertamanya itu.
"Assalamu'alaikum." Emi mengucap salam ketika ia membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, wah sudah besar cucu nenek." Ummi dan abi langsung menghampiri Emi, mereka memeluk Emi dengan erat.
"Cucu nenek Masya Allah... ndak lihat 2 tahun, nenek melihat wajah kamu tambah cantik," ucap ummi.
"Ih nenek apa sih, aku masih sama seperti dulu kok wajahnya, cucu nenek yang nenek paling sayang," ucap Emi.
"Apa cucu nenek tersayang? aku yang paling disayang sama nenek." Haidar keluar dari kamarnya, Inayah terkejut ketika anaknya itu sudah ada di Cirebon. Tidak lama kemudian Haidir pun juga keluar dari kamarnya.
"Kok kalian ndak bilang Mamah sih kalau kalian mau pulang," ucap Inayah.
"Surprise Mamah sayang, kalau misalkan aku kasih, aku ndak buat Mamah surprise dong." Haidir dan Haidar langsung mencium punggung tangan Inayah dan juga Ramzi. Inayah membelai rambut si kembar itu.
"Hai Kakakku yang cantik, udah punya calon belum ndak nih. Cie...yang udah jadi sarjana," ledek Haidir.
"Haidir kamu ngeledek Kakak ya awas kamu nanti," ucap Emi.
Kini keluarga Inayah lengkap, ketiga anak mereka sedang berkumpul. Rumah yang biasanya sepi kini ramai dengan candaan anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Ke tiga anak Inayah berencana untuk menginap di pesantren kiai Amar. Inayah pun setuju dengan rencana mereka.
Sesampainya di sana, para santri ketika melihat keluarga Inayah datang mereka semua sangat hormat. Apalagi yang datang anak-anak Inayah, membuat para santriwati berbisik-bisik karena melihat Haidir dan Haidar yang mempunyai paras sangat tampan.
Delisha dan anaknya Hanan sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut keluarga Inayah datang. Hanan langsung membantu Inayah untuk mengangkat kopernya.
"Assalamu'alaikum," ucap Inayah.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Inayah." Delisha langsung memeluk Inayah. Inayah sudah jarang sekali berkunjung di pesantren kiai Amar karena jam praktik Inayah di rumah sakit semakin padat. Ia sengaja mengambil cuti agar bisa berkumpul dengan keluarganya.
Umma sudah memasakan makanan kesukaan para cucunya, keluarga besar berkumpul membuat suasana menjadi ramai. Pemandangan yang sangat jarang bisa berkumpul para mantu dan cucunya.
"Emi, kamu sudah punya calon sendiri? dulu seumur kamu, mamahmu sudah menikah dengan ayahmu." Umma menanyai Emi, karena Emi sudah cukup umur untuk menikah.
__ADS_1
"Umma, Emi belum memikirkan pernikahan. Ia ingin melanjutkan S2 nya terlebih dahulu." Inayah membelai Emi, ia tidak mau Emi merasa tertekan untuk urusan pernikahan karena nikah tidak untuk 1 hari atau 2 hari tapi untuk seumur hidup. Inayah tak mau nanti Emi menyesal.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum," ucap salam seseorang. Sepertinya ada yang datang berkunjung.
"Waalaikumsalam." Inayah berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu.
"Ning Inayah...." ucap kiai Ma'ruf.
"Kiai, mau ketemu Abah yah? silahkan duduk kiai, saya akan panggilkan Abah," ucap Inayah.
"Sebenarnya saya datang ke sini ingin bertemu dengan Ning Inayah dan suami," ucap kiai Ma'ruf.
Inayah mengerutkan dahinya. kiai Ma'ruf tidak datang sendirian, kiai Ma'ruf datang dengan keluarganya dan ia melihat seorang anak muda yang tampan.
"Silahkan duduk, saya panggilkan suami saya dahulu," ucap Inayah dengan senyumannya.
"Kok, mereka tahu deh Ayah bahwa kita sedang menginap di sini," ucap Inayah.
"Putri kita wangi kali, jadi banyak yang mau hinggap," ucap Ramzi dengan bercandanya.
Kedua keluarga sekarang sudah berhadapan, kiai Ma'ruf tanpa basa basi langsung mengutarakan niat untuk menemui Inayah dan Ramzi.
"Assalamu'alaikum, maaf saya datang ke sini sangat mendadak. Dengan kedatangan saya ke sini bermaksud untuk melamar Ning Emi untuk cucu saya ini. Cucu saya baru lulus S1, nama cucu saya ini bernama Hamdan," ucap kiai Ma'ruf.
Inayah melirik ke arah Ramzi, ia baru pertama kali melihat wajah Hamdan dan kenapa bisa tertarik dengan Emi.
"Wa'alaikumsalam, saya selaku ayah dari Ning Emi sayang berterima kasih kepada Kiai atas niatan baiknya. Tapi kami tidak bisa menjawab ini, karena jawaban kami serahkan ke anaknya langsung. Saya mau bertanya dengan Gus Hamdan, apakah Gus pernah melihat Emi sebelumnya?" tanya Ramzi.
"Saya sudah pernah melihat Ning Emi sebelumnya, ketika Ning Emi berkunjung ke sini dan ketika itu Ning Emi masih Aliyah," ucap Hamdan.
Ternyata Hamdan sudah mengincar Emi sejak aliyah, sampai lulus S1 Hamdan baru mau lamar Emi. Ramzi langsung menyuruh Inayah untuk membawa Emi ke pertemuan ini. Inayah pun langsung berdiri dan memanggil Emi yang sedang di kolam ikan milik abah.
__ADS_1
"Emi...sayang, sini." Inayah memanggil Emi. Semua menoleh termasuk Haidar, Haidir, Hanan.
"Mah malas ah," ucap Emi.
"Kak, ada yang ngelamar tuh. Kasian loh dia," ledek Haidar. Emi langsung mencubit lengan Haidar.
"Jangan banyak ngomong anak kecil," ucap Emi.
"Enak aja anak kecil, aku di kampus banyak cewe-cewe yang mau dekat sama aku. Ngaku aja deh bahwa adiknya ini cool," ucap Haidar.
"Cool...kulkas, nih perut hati-hati jangan tambah maju," ledek Emi. Ia langsung mengikuti langkah Inayah untuk ke ruang tamu.
Emi langsung duduk di samping Inayah.
"Hamdan silahkan utarakan kepada Ning Emi niat kamu," ucap kiai Ma'ruf.
"Bismilah, Ning Emi saya ke sini dengan keluarga saya berniat untuk mengkhitbah Ning Emi sebagai pendamping hidup saya," ucap Hamdan.
"Maaf Gus Hamdan saya tidak bisa menerima khitbah dari Gus Hamdan. Saya minta maaf sekali lagi," ucap Emi.
Hamdan sangat kecewa karena Emi menolak lamarannya, tapi dia tetap menghargai jawaban dari Emi. Setelah Emi menjawab lamaran Hamdan, ia meminta izin untuk masuk kembali. Begitulah Emi belum ada pemuda yang bisa membuat Emi jatuh cinta.
Setelah pertemuan itu selesai, Inayah menghampiri Emi. Ia mengatakan jangan tertekan karena banyak yang mengkhitbahnya.
"Doa lah dengan Rabb, agar kamu bisa menemukan pendamping hidupmu yang tepat untuk dirimu. Mamah ndak akan memaksa kamu untuk memilih suatu pinangan, itu terserah kamu saja." Inayah membelai kepala Emi dengan lembut. Ia tahu benar perasaan Emi karena ia pernah mengalami hal ini.
Emi pun tersenyum dan memeluk Inayah dengan erat, ia bersyukur bahwa Inayah sangat mengerti akan perasaannya.
Bersambung
Novel terbaru Author, baca yuk...baru netes
__ADS_1