Salah Lamar

Salah Lamar
Perjuangan Inayah Untuk Hidup


__ADS_3

Ketika aku berkomunikasi dengan suami tercintaku melalui video call. Tiba-tiba apartement aku bergoyang, aku tahu ini adalah gempa. Jepang dan Indonesia 11 12 bagiku sering terjadi gempa. Aku hanya berpikir berlari menggendong anakku agar aku keluar dari apartemntku ini dari lantai 3. Aku masih menggenggam handphone ku tanpa ku sadari video call masih menyala.


Satu yang kupikirkan adalah menyelamatkan anakku, walau nyawaku sebagai taruhannya. Bagiku tidak apa-apa aku meninggalkan dunia ini yang terpenting bayi mungilku yang seminggu lagi genap 2 bulan selamat. Aku dekap bayiku, aku meraih handle pintu dan keluar dari dalam apartement. Aku melihat orang-orang berhamburan keluar dengan wajah kepanikan. Aku membaca doa ketika gempa.


Ketika ingin menuju tangga untuk turun ke lantai 1. Ya Allah dalam hitungan menit apartemen yang aku tinggalin roboh, lantai yang yang aku pijak ambles. Aku terjatuh, aku dekap erat-erat anakku. Badanku menjadi tameng, anakku berada di bagian perutku. Ya Allah ku mohon lindungi putriku, Kau boleh ambil nyawaku. Aku merasakan kakiku tertimbun reruntuhan.


"Allahu...Allahu..." hanya zikir yang aku teriaki, aku memaksa memiringkan tubuhku agar aku bisa mendekap putriku lebih erat.


Ketika aku memiringkan badanku, aku mendengar suara Krek. "Ahhh...Allah..." Aku menangis, tulang kakiku sepertinya patah.


Anakku menangis, "Oowaaa...Oowaaa..." Sayang, jangan takut Allah pasti menolong kita, kamu lapar yah sayang. Ku tahan rasa sakitku di bagian kakiku. Aku berusaha untuk memberi ASI kepada anakku. Bersyukur ketika aku menggendong Emi, aku memakaikan selimut yang tebal. Kurentangkan selimut untuk meletakan Emi dekat dadaku. Aku berusaha keras, keringatku bercucuran karena menahan rasa sakit di kakiku.


Ku belai kepala putriku dan kuberi ASI. Aku bersyukur masih hidup walaupun aku tak tahu apakah aku bisa tertolong atau tidak, harapan masih ada walaupun hanya setitik. Aku terjatuh di sebuah ruangan, aku tak tahu keadaan ruang itu karena aku tidak bisa melihat, keadaan sangatlah gelap. Aku hanya menggunakan insting saja, dengan mengandalkan indra peraba, yang terpenting anakku ada di dekatku. Bau amis darah menusuk penciumanku.


Aku masih bisa tersenyum, karena putri kecilku sedang minum asi dariku, "Sayang Alhamdulilah, Mamah masih bisa memberikan ASI untukmu."


Entahlah hari ini sudah malam atau belum, karena ketika gempa datang sekitar pukul 4 waktu Jepang. Keadaan di sekitarku semua gelap.


Sebelumnya aku berbicara dengan keluargaku, mereka sudah memaafkanku. Setidaknya jika aku mati di Jepang, aku sudah meminta maaf kepada Delisha, Umma, Abah, Mas Ramzi. Tinggal Ummi dan Abi yang belum sempat kumeminta maaf kepada mereka. "Mas, apakah kamu mengkhawatirkan aku kah? aku rindu kamu Mas, rindu pelukanmu, rindu bau tubuhmu, rindu kecupanmu."


Aku lelah, mataku terasa berat, walaupun sekelilingku gelap, aku tahu putriku baik-baik saja, karena dari isapan yang kencang ketika ia minum ASI dariku, aku pun tertidur dengan mendekap putriku.


Aku terbangun karena sentuhan gerak dari putriku, entah aku tertidur berapa jam atau sudah berganti hari. Aku melihat seberkas cahaya dari atas, rupanya sudah berganti hari. Walaupun cahaya yang masuk sedikit, aku mulai bisa melihat sekelilingku. Yang kulihat adalah putri kecilku, Alhamdulilah putriku tak terluka, kulihat kakiku ternyata aku mengeluarkan banyak darah. Terasa pusing kepalaku dan aku terkejut di sampingku ada mayat salah satu penghuni apartemen entah berapa banyak korban jiwa Tenggorokanku terasa kering, aku sangat haus. Aku berusaha memberi ASI ku kepada putriku.


Haus tak tertahan yang aku rasakan. Ya Allah aku butuh air, bibirku sudah terasa sangat kering. Kepalaku sangat pusing yang kurasa. Mas jika aku mati tolong kirimkan aku sebuah kado yaitu doamu. Pelukan eratku kepada putriku sudah kendor.


"Allahu...Allahu...Allahu..." mataku terpejam.


Inayah melihat masa lalunya ketika dia tidak sadarkan diri.


"Mba Ina, tolong aku. Umma marah kepadaku, aku mencoret tembok rumah," ucap Delisha.

__ADS_1


"De...berikan spiol yang kamu pegang kepada Mba," ucap Inayah.


"Umma, maafkan Inayah. Tadinya Inayah mau belajar melukis karena gak ada buku gambar jadi aku menggambar di tembok," ucap Inayah kecil memohon maaf.


"Mba Ina sakit yah, maafin Lisha tangan Mba jadi merah seperti ini. Umma jahat, sakitin Mba. Suatu hari nanti tangan Mba ini akan akan menjadi tangan emas yang menolong banyak orang," ucap Delisha.


"Umma ndak jahat De. Jangan coret tembok lagi yah. Pakai uang tabungan Mba, besok kita beli buku gambar. Belajar kaligrafi yah...tulisan kamu bagus De," ucap Inayah.


***


Delisha melihat hasil karyanya yaitu kaligrafi yang mengukir kalimat bismilahirohmanirohim, ia memenangkan kaligrafi tingkat provinsi dan mendapatkan hadiah 2 tiket umroh yang ia berikan kepada umma dan abahnya.


"Mba Ina, aku harap bisa bertemu Mba Ina lagi, sejak kecil Mba Inayah lah yang selalu membantuku. Setiap aku salah, Mba Ina selalu menggantikan kesalahanku sehingga Mba yang di hukum bukan aku. Mba Lisha sayang sama Mba. Tolong tetap hidup Mba," ucap Delisha.


Indra dan Delisha mengumpulkan santri dan santriwati. Delisha memimpian doa untuk santriwati dan Indra memimpin doa untuk santri. Para santri syok atas berita Inayah, mereka menangis dalam doa. Mendoakan Inayah dan putrinya untuk diberikan keselamatan. Doa yang tulus dari para santri.


Ramzi dan Abah langsung menuju rumah sakit, mereka meminta keterangan kepada rumah sakit. 3 keluarga dari 3 dokter berdatangan ke rumah sakit.


Penerbangan ke Jepang di tutup, karena bencana alam di sana. Pemerintah Jepang menutup jalur bandara untuk umum. Mereka hanya membuka bandara untuk bantuan dari negara sahabat.


"Abah bagaimana ini, tidak ada satu pun penerbangan untuk ke Jepang, kata mereka pemerintah Jepang menutup bandara untuk umum," ucap Ramzi dengan kecemasan terhadap Inayah dan putrinya.


"Kita hanya pasrah Nak, menunggu kabar dari rumah sakit cirebon. Pihak rumah sakit pasti mencari informasi melalui kedutaan Indonesia di Jepang. Kita hanya bisa berdoa terus, jangan berhenti untuk berdoa dan berharap," ucap Abah.


Ramzi menangis, "Hatiku baru bahagia Abah melihat istriku dan putriku, tapi kebahagian itu hanya sesaat saja."


Abah memeluk Ramzi untuk menguatkannya, karena sesungguhnya hati abah Amarpun sangat gelisah dan khawatir akan putri dan cucunya. Tapi untuk saat ini mereka hanya bisa berdoa atas keselamatan Inayah dan putrinya.


***


Sebelum Inayah memejamkan mata, ia melihat ponselnya yang tidak jauh dari tubuhnya, ia raih ponsel tersebut dan mencari sinyal 00000JAPAN.

__ADS_1


Saat terjadi bencana alam, jaringan komunikasi biasanya akan terganggu. Akhirnya, keadaan orang di tempat terjadinya bencana pun sulit diketahui.


Namun, hal itu sudah tidak berlaku lagi di Jepang. Negara ini punya cara unik untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saat terjadi bencana alam, setiap operator seluler yang ada di Jepang akan berubah menjadi WiFi terbuka. WiFi terbuka ini bisa digunakan oleh siapa saja. Cara menggunakannya juga mudah, warga Jepang cukup mencari titik WiFi terdekat setelah itu, aktifkan mode WiFi yang ada di ponsel. Jika sudah, mereka bisa memilih sinyal 00000JAPAN.


Dengan sinyal WiFi ini, orang yang ada di sekitar lokasi bencana bisa melakukan komunikasi secara mudah.


Itu yang dilakukan oleh Inayah, sampai regu penyelamat Jepang menemukan dirinya dan putri kecilnya di bawah reruntuhan apartemen. Inayah dan putrinya di bawa ke rumah sakit untuk penangganan lebih lanjut.


Bersambung


✍ Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku.


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2