
Inayah dan Ramzi berada di dalam mobil, mereka sedang menuju ke rumah sakit tempat Inayah bekerja.
"Mas Ramzi," Inayah memanggil.
"Iya ada apa sayang?" tanya Ramzi.
Inayah memberikan tasbih kepada Ramzi.
"Aku beli 2 dengan bentuk yang sama, yang ini untuk Mas. Pakailah ketika Mas berdoa, agar Mas selalu ingat membawa namaku di setiap doa yang Mas panjatkan," ucap Inayah.
"Alhamdulillah, pertama hadiah dari kamu untuk Mas. Insha Allah sangat bermanfaat dan aku akan selalu mengingat kamu ketika aku memegang tasbih ini," ucap Ramzi.
"Syukron Mas, sikapmu akhir-akhir ini sangat manis kepadaku. Semoga sikapmu tidak berubah," ucap Inayah.
Ramzi mengambil tasbih dari Inayah dan disimpan di dalam sakunya.
"Insha Allah sayang," ucap Ramzi.
Setibanya di rumah sakit, Inayah langsung membuka pintu mobil tapi tangannya di tahan oleh Ramzi.
"Kenapa Mas?" tanya Inayah.
"Tunggu sebentar, itu ada Dokter Azril baru datang, biar dia masuk duluan setelah itu boleh kamu turun dan masuk ke dalam rumah sakit," pinta Ramzi.
"Mas cemburu yah?" tanya Inayah.
"Iya, aku sangat cemburu," jawab Ramzi.
Inayah menunggu sebentar di dalam mobil.
"Dokter Azril sudah masuk yah Mas , aku keluar sekarang," ucap Inayah.
"Iya sayang, ingat jaga jarak dengan Dokter itu. Jangan dekat-dekat," pesan Ramzi.
Inayah meraih tangan Ramzi lalu dia mencium punggung tangan Ramzi.
"Mas..." panggil Inayah.
Cup
Inayah mengecup pipi Ramzi, kemudian dia langsung turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Ramzi tersenyum mendapat kecupan mendadak dari Inayah.
"Syifa..." Inayah memanggil Syifa yang berada posisinya di depan Inayah, dia berlari menghampiri Syifa.
"Assalamu'alaikum Ning," ucap salam Syifa.
"Wa'alaikumsalam," Inayah menjawab salam, dan memberikan senyuman manisnya.
"Sepertinya lagi senang banget nih," ledek Syifa.
"Suamiku yang membuat aku tersenyum, nikah dengan orang yang kita cintai itu rasanya manis yah Syifa," ucap Inayah.
"Hahaha sampean baru merasakan?" tanya Syifa.
"Maklum, awal pernikahanku tidak ada cinta. Tapi lama-lama cinta itu tumbuh," ucap Inayah.
"Oh...kemarin sampean nangis itu karena belum ada cinta diantara kalian," ucap Syifa.
__ADS_1
Inayah menutup mulut Syifa dengan tangannya, kalau ngomong jangan keras-keras.
"Sampean hutang cerita sama aku," ucap Syifa.
"Iya nanti aku ceritakan sama sampean, karena aku percaya dengan sampean," ucap Inayah.
"Dokter Inayah, Dokter Syifa, kalian dipanggil ke ruang direktur utama," ucap suster.
Inayah dan Syifa saling memandang, mereka bergegas ke ruangan direktur utama. Ternyata Dokter Azril juga di panggil.
"Karena kalian sudah hadir semua, saya selaku dirut rumah sakit ini ingin menyampaikan, kalian bertiga ditawarkan untuk mengambil pendidikan S2 di Jepang. Melihat dari kinerja kalian yang sangat bagus, terutama ketika kecelakaan beruntun kalian sampai lembur. Saya akan kasih waktu 1 bulan untuk kalian memikirkan hal ini. Saya harap kalian semua bisa menerima tawaran dari kami karena kesempatan tidak datang ke dua kali. Itu saja yang saya sampaikan, ada pertanyaan?" tanya dirut.
"Kami paham Pak," jawab serempak ke tiga dokter.
Dirut memberikan formulir kepada mereka.
Para dokter yang dipilih yaitu Inayah, Syifa dan Azril keluar dari ruangan dirut.
"Ning, ini 'kan impian sampean melanjutkan S2 di Jepang sebagai ahli bedah," ucap Syifa.
Inayah hanya diam dia tidak menanggapi ucapan Syifa. Dari raut wajah Inayah, Syifa paham, dia ingin pergi tapi mustahil karena ia sudah menikah dan mempunyai seorang suami.
Dokter Azril ingin mendekati Inayah, tapi Inayah malah menjaga jarak karena Ramzi sudah berpesan. Dia akan patuh apa yang suaminya perintahkan.
Syifa menarik tangan Inayah dan membawa ke dalam ruangan.
"Masih ada waktu 30 menit Ning, sampean menghindar dari Dokter Azril yah? dia kayanya suka sama sampean," ucap Syifa.
"3 hari yang lalu dia malah bilang sama suamiku, jika suamiku membuat aku menangis lagi, ia akan merebut aku dari tangan suamiku," ucap Inayah.
"Suamiku menyuruh aku agar jaga jarak dengan Dokter Azril," ucap Inayah.
"Yah iyalah, suami yang mencintai istrinya pasti akan berkata seperti itu. Sampean Ning terlihat sangat mencintai suami sampean," ucap Syifa.
"Iya, sampean benar. Aku sangat mencintai suamiku dan ndak mau buat dia kecewa," ucap Inayah.
"Tapi untuk tawaran S2 itu...itu impian sampean Ning, aku tahu kamu," ucap Syifa.
"Memang sampean boleh dengan suami sampean?" tanya Inayah.
"Nanti aku coba ajak juga untuk tinggal di Jepang jadi ndak berpisah, kenapa sampean gak coba bilang dengan suami sampean?" tanya Syifa.
"Susah sepertinya kalau aku. Suamiku Gus, dia satu-satunya sebagai penerus Abi untuk pesantren milik Abinya, yah sudahlah biar aku berbakti kepada suamiku. Kupendam impianku," jawab Inayah.
***
Praktik Inayah sudah selesai, ia menunggu Ramzi untuk menjemputnya. Ketika dia sedang menunggu Dokter Azril mendekati Inayah.
'Ya Allah, Dokter Azril kenapa deketin aku terus sih?' tanya batin Inayah.
"Sedang menunggu jemputan Dokter Ina?" tanya Azril.
"Iya Dok sedang menunggu suami saya jemput. Maaf Dokter bukan saya sombong atau berubah. Sejak Dokter Azril bicara dengan suami saya, saya tidak diperbolehkan untuk berdekatan dengan Dokter. Suami saya cemburu karena dia mencintai saya begitu juga dengan suami saya. Suatu rumah tangga pasti ada masalah, makanya saya menangis ketika Dokter Azril melihat saya saat itu. Tapi aku bahagia menjadi istrinya. Maaf lagi, saya harus pindah tempat, takut suamiku salah paham ketika berdekatan dengan Dokter," ucap Inayah.
Inayah berjalan menjauh dari Dokter Azril, tak lama Ramzi tiba di rumah sakit. Senyum merekah di bibir Inayah, ia menghampiri mobil Ramzi. Ramzi turun dari mobil.
"Mas..." Inayah mencium punggung tangan Ramzi.
__ADS_1
"Kamu capek gak? Mas mau ajak kamu ke pantai mumpung masih sore lagi pula besok libur kan. Besok kita ke pesantren Abah," ucap Ramzi, sambil membelai kepala Inayah.
"Aku ndak capek Mas, ayo aku mau ke pantai. Sudah lama aku ndak lihat laut," ucap Inayah sangat senang.
Mereka masuk ke dalam mobil, dari kejauhan Dokter Azril melihat kemesraan Inayah dan Ramzi, membuat hatinya terasa sakit karena rasa cemburu.
Sekarang mereka berada di dalam mobil, Ramzi menyalahkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Ramzi selalu memegang tangan Inayah dan selalu tersenyum menatap Inayah.
"Entah kenapa hari ini aku rindu kamu sayang, rasanya waktu lama menunggu kamu pulang," ucap Ramzi.
"Benarkah kamu merindukanku?" tanya Inayah.
"Iya aku sangat sangat merindukan istri cantikku," ucap Ramzi.
Inayah mencium tangan Ramzi di bibirnya.
"Kok terbalik, seharusnya aku yang melakukan itu," ucap Ramzi.
"Yah ndak apa-apa Mas, memang aku ndak boleh cium tangan Mas?" tanya Inayah.
"Ndak apa-apa, malah hatiku sangat senang," ucap Ramzi.
"Mas..." panggil Inayah.
"Iya sayang," jawab Ramzi.
"Ana uhibbuka," ucap Inayah
(Aku cinta kamu.)
"Ana aidon uhibbuki," jawab Ramzi.
(Aku juga cinta kamu.)
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
Love you semua
__ADS_1