
Di pagi hari, tepatnya pukul 03.00 pagi. Inayah terbangun untuk melakukan salat tahajud. Dia terlebih dahulu mengambil wudhu lalu salat tahajud 12 rakaat, 2 rakaat salat taubat, dan 2 rakaat salat hajat. Ia meminta agar hasil dari testpek yang ia akan gunakan hasilnya positif. Setelah dia melakukan semua salat sunnah dan doa, Inayah kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia memegang dua tespek, ia mencelupkan testpek ke air seninya yang sudah ia tampung. Menunggu beberapa saat untuk hasil tespeknya.
Jantungnya berdebar keras dan sangat gugup. Ini bukan hal pertama untuk Inayah, ini hal kedua. Ia ingat di kala itu, ketika ia mengetahui hamil anak pertama di Jepang tanpa Ramzi di sisinya tapi kali ini akan berbeda.
Ia menunggu harap-harap cemas, setelah beberapa saat. Inayah melihat dengan bola matanya membulat, haru biru mewarnai perasaannya. Karena dia tidak terlalu yakin ia mencoba kembali untuk testpek yang kedua ternyata hasilnya sama. Dia langsung keluar dari kamar mandi dan sujud syukur atas kenikmatan Allah, Inayah positif hamil kembali untuk anak yang kedua.
Inayah langsung mengecup pipi Ramzi yang sedang tertidur pulas. Ramzi masih belum terbangun sehingga kecupan Inayah semakin lama semakin banyak, sang empunya membuka matanya.
"Sayang kamu kenapa tiba-tiba mengecup aku segini banyaknya? begitu maunya kah kamu kegiatan ibadah untuk pagi hari?" tanya Ramzi. Inayah menggelengkan kepalanya, lalu dia menangis. Ramzi menatap wajah Inayah, dia bingung kenapa pagi-pagi Inayah langsung menangis di hadapannya? dan sebelumnya dia mengecup berkali-kali wajah Ramzi hingga Ramzi terbangun.
"Kamu kenapa kenapa tiba-tiba menangis? jangan bikin aku takut, kamu ada yang sakit?" tanya Ramzi kembali dengan wajah yang sangat khawatir kepada Inayah.
"Mas, coba lihat ini?" Inayah memberikan hasil kedua testpek dengan tangan gemetar. Ramzi mengerjapkan mata karena dia baru terbangun dari tidurnya, sehingga matanya masih belum yakin apa yang dia lihat.
"Kamu positif hamil sayang? benarkah ini? aku ndak mimpi 'kan ini," Ramzi memegang pipi Inayah dengan kedua tangannya, ia menatap bola mata Inayah sedalam-dalamnya.
"Tidak Mas, aku benar-benar hamil. Ini anak kedua kita, benih cinta kita, dengan doa dan penuh harapan yang kita nanti-nantikan." Ucap Inayah dengan lintangan air mata dan bibirnya selalu mengucapkan alhamdulillah kepada sang pencipta.
"Masya Allah, alhamdulillah. Kita punya anak lagi, adiknya Emi. Kamu harus menjaga diri kamu baik-baik, jangan terlalu lelah." ucap Ramzi sambil memeluk Inayah dan mengelus rambut Inayah yang panjang.
Ramzi bergegas bangun dari atas ranjang. Dia langsung mengambil air wudhu dan salat tahajud kemudian sujud syukur kepada Allah atas karunia yang telah diberikan kepada keluarganya.
Adzan subuh terdengar sangat indah di pagi hari, kokokan ayam saling bersahutan seperti menyambut kehamilan Inayah yang kedua.
Kring kring
Suara handphone Inayah berdering, Inayah mengusap layar persegi panjang dan dia membaca nama yang tertera Umma.
Inayah \=["Assalamu'alaikum Umma, ada apa Umma? tumben Umma nelpon subuh."]
Umma \=["Inayah adikmu Delisha..."]
Inayah \=["Ada apa dengan Delisha?"]
Umma \=["Delisha sekarang sedang di rumah sakit Cirebon, tempat kamu kerja. Dia akan melahirkan anak pertamanya, kata Dokter baru pembukaan kedua."]
Inayah\=["Alhamdulillah."]
Umma \=["Kamu bisa ke sini? di sini Umma dengan Indra. Abah sedang mengisi kajian di kampung sebelah. Lagi dalam perjalanan pulang. Delisha minta kamu datang yang menemani dia karena Indra tidak kuat melihat darah."]
Inayah \=["Baik Umma, aku dengan Mas Ramzi setelah salat subuh akan ke sana."]
Umma\=["Terima kasih sayang, sudah ya. assalamu'alaikum."]
__ADS_1
Inayah \=["Iya Umma, wa'alaikumsalam."]
"Ada apa sayang? Umah telepon ?" tanya Ramzi karena wajah Inayah sangat cemas terlihat.
"Delisha mau melahirkan Mas, kita ke sana ya setelah salat subuh. Nanti di jalan kita beli sarapan untuk Umma, Abah dan Indra. Pasti mereka belum sarapan karena mereka berangkatnya pagi-pagi sekali," ucap Inayah.
"Iya sayang, kita akan ke sana," ucap Ramzi.
Setelah salat subuh, Inayah dan Ramzi bergegas untuk pergi ke rumah sakit Cirebon. Mereka meminta izin kepada ummi Laila, karena tidak mungkin membawa Emi ke rumah sakit tersebut. Emi dititip kepada ummi Laila.
"Ummi aku titip Emi boleh? adikku mau melahirkan Ummi, dia minta ditemani aku," ucap Inayah.
"Iya ndak apa-apa, kamu jangan khawatir dengan Emi. Karena Emi juga anteng kalau kamu tinggal.karena Umi selalu bermain dengan Emi kamu tenang aja ya kirim salam untuk Delisa Abah dan rumahmu ucap Umi Laila
"Iya Ummi, terima kasih." Inayah mencium pipi ummi Laila, lalu mencium punggung tangan ummi Laila.
Ramzi menggenggam tangan Inayah dengan erat. Dia sangat menjaga Inayah, mereka masuk ke dalam mobil. Ramzi pun menyalakan mesin mobilnya dan bergegas untuk meninggalkan Pesantren kiai Afnan. Ramzi mengendarai mobol dengan sangat hati-hati, ia pun selalu mengelus-elus perut Inayah yang masih rata dalam perjalanan, Ramzi tersenyum bahagia.
"Aku sangat senang sekali sayang, kamu hamil kembali," ucap Ramzi.
"Alhamdulillah Mas, kita diberikan Rizki aku hamil kembali dengan waktu yang tidak terlalu lama," ucap Inayah dengan rasa syukur.
"Iya sayang, kita tadi belum memberitahukan kepada ummi jika kamu hamil lagi. Kalau ummi dan abi tahu pasti mereka sangat senang sekali," ucap Ramzi.
Ramzi memberhentikan mobilnya di sebuah restoran di tepi jalan, iya tidak mau Inayah telat sarapan karena nanti di rumah sakit pasti Inayah akan sibuk untuk menemani adiknya yang akan melahirkan.
"Kamu makan sarapan dulu ya sayang, pilihlah menu yang ingin kamu makan," ucap Ramzi.
"Makannya di dalam mobil aja Mas, aku mau di suapin sama kamu," ucap Inayah.
"Manja yah," ucap Ramzi, sambil mengelus pipi Inayah penuh kasih sayang.
Inayah memilih beberapa menu yang ingin ia makan dan juga memesan untuk di bungkus. Setelah pesanan mereka selesai. Inayah dan Ramzi masuk ke dalam mobil. Ia menyuapi Inayah.
Gus Ramzi sedang membeli sarapan untuk Inayah.
"Mas kamu makan juga ya." Inayah menyuapi makanan ke mulut Ramzi, mereka saling suap-suapan, terlihat dari kedua wajah mereka sangat bahagia.
"Terima kasih Mas, kamu selalu membuat aku bahagia akhir-akhir ini. Aku sayang kamu Mas." Inayah memeluk Ramzi sangat erat. Ramzi mengucup wajah Inayah bertubi-tubi karena saking gemesnya dengan Inayah.
"Mas, cukup Mas, wajahku jangan dicium-cium terus, aku mual," ucap Inayah sambil mendorong dada Ramzi.
__ADS_1
"Apa? kamu dicium jadi mual? biasanya kamu senang," ucap Ramzi.
"Mungkin hormon kehamilan Mas," ucap Inayah.
"Kalau dicium mual artinya aku ndak bisa cium kamu lagi dong?" Protes Ramzi.
"Tahan Mas, ini kemauan anak kamu. Anak kamu ndak mau dicium sama ayahnya," ucap Inayah.
"Ndak adil dong buat aku, masak ndak boleh cium mamahnya sih," protes Ramzi.
Inayah tertawa geli melihat wajah Ramzi yang tidak terima dikalahkan oleh anak keduanya.
Inaya sudah sampai di rumah sakit Cirebon, dia berjalan menuju lorong-lorong rumah sakit, mereka menuju ruang persalinan. Setiap perawat selalu menyapa Inayah ketika melihatnya. Tak sengaja dalam perjalanan menuju ruang persalinan, Inayah dan Ramzi bertemu dengan dokter Azril, yang memang dia mempunyai jam praktik di pagi hari. Ramzi langsung menggenggam tangan Inayah dengan erat dan menatap dokter Azril dengan mata yang sangat tajam seakan-akan ia ingin menerkam dokter Azril. Mereka tak bersapa, hanya dengan mata mereka berbicara. mata yang menyala tajam sampai Ramzi rahangnya mengeras melihat dokter Azril.
Bersambung.
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π