
Dekorasi pernikahan kini tak berarti, hari akad berubah menjadi hari pemakaman. Delisha terus saja menangis, meratapi kematian calon suami. Impian yang dia bayangkan seketika lenyap menjadi sebuah angan-angan belaka. Bagaimanapun juga hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Delisha sebagai hari bahagia, hari dimana dia seharusnya tersenyum. Akan tetapi berubah menjadi hari tangisan.
Janur kuning di turunkan, dan berubah menjadi bendera kuning. Jenazah ustadz Adam akan di salatkan di masjid pesantren, karena ustadz Adam merupakan guru dari pesantren Kiai Amar. Murid-muridnya akan menyolatkan jenazah Ustadz mereka, sebagai penghormatan terakhir kepada guru mereka. Banyak para pengantar jenazah Ustadz Adam dari kalangan murid- muridnya.
Tubuh Delisha sangat lemas, karena sepanjang malam ia menangis, Inayah selalu ada di sampingnya. Delisha perlu dukungan karena hatinya terasa hancur.
"De, benar kamu kuat?" tanya Inayah.
"Mba, aku mau melihat wajah Ustadz Adam untuk yang terakhir kali," ucap Delisha.
Jenazah Ustadz Adam sudah dimandikan dan dikafankan, sebelum dimakamkan. Para keluarga yang mau melihat untuk yang terakhir kali dipersilahkan. Dengan mata yang sembab, Delisha dipapah untuk berjalan untuk melihat jenazah Ustadz Adam.
Delisha bersimpuh di depan Jenazah, ia melihat wajah calon suaminya untuk yang terakhir kalinya. Tidak ada ucapan yang terlontar dari bibir Delisha. Tidak ada pula air mata yang menetes di pipinya. Delisha tersenyum ketika melihat wajah calon suaminya itu.
'Mas Adam, wajahmu bercahaya. Allah lebih sayang denganmu sehingga Ia mengambil kamu dan tak menikah denganku. Selamat jalan Mas, aku hanya bisa mendokanmu. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa melupakanmu, Assalamu'alaikum Mas,' batin Delisha.
Delisha berdiri, tiba-tiba ia pingsan.
"De...De...ya Allah." Inayah menepuk-nepuk pipi Delisha.
Delisha digendong oleh Abah Amar.
"Inayah, jaga adikmu. Abah mau mensalatkan Adam lalu memakamkannya," titah Abah Amar.
"Njih Abah, Ina akan jaga Lisha," jawab Inayah.
Delisha masih belum sadar, Inayah menatap wajah adiknya. Hati Inayah sangat sedih ketika melihat kondisi adiknya yang sangat rapuh. Memang kondisi seperti ini tidak pernah di duga sebelumnya. Hari akad berubah menjadi hari pemakaman.
Delisha tersadar setelah 1 jam ia pingsan. Di lihat langit-langit kamar, Delisha menitikan air mata kembali. Inayah menggenggam tangan Delisha.
"De, makan yah. Dari kemarin siang kamu belum makan. Mba Ina ambilkan yah," ucap Inayah.
"Lisha gak lapar Mba," ucap Delisha.
"Nanti kamu sakit De, jangan seperti ini," ucap Inayah.
"Nanti jika aku lapar, aku bilang sama Mba kok. Gus Ramzi izinkan Mba 'kan buat temanin aku dulu?" tanya Delisha.
"Iya Mba sudah izin, Mba akan temanin kamu," ucap Inayah.
"Terima kasih Mba," ucap Delisha.
Hari-hari yang dilalui Delisha sangatlah berat yang ia rasakan, impiannya yang sudah hilang tidak tersisa. Membuat kedua orang tua Delisha sangat khawatir akan kesehatan anaknya itu.
Delisha mengurung diri sepanjang hari di kamar, makan pun tak mau. Inayah harus memaksa Delisha sampai dia mau makan. 2 minggu berlalu atas meninggalnya Ustadz Adam. Tapi Delisha masih mengurung diri. Waktu Inayah sampai lebih mengurus adiknya ketimbang suaminya.
Ada rasa serba salah di hati Inayah. Bersalah dengan suaminya yang tidak ia layani dan juga merasa sangat khawatir jika Inayah pergi meninggalkan pesantren Abahnya. Ramzi paham, ia mengizinkan Inayah untuk menemani Delisha.
__ADS_1
Ketika Delisha sudah mulai tertidur lelap. Inayah akan pergi ke kamarnya sekedar untuk berkomunikasi dengan suaminya.
"Kamu lelah yah, setelah pulang dari rumah sakit. Kamu mengurus Delisha," ucap Ramzi.
"Gak kok Mas, ketika hati iklas menjalaninya. Aku tidak merasa lelah, tapi aku merasa bersalah kepadamu," ucap Inayah.
"Merasa bersalah kepadaku?" tanya Ramzi.
"Iya, waktu kita jadi lebih sedikit," jawab Inayah.
"Kamu mau gak, waktu yang sedikit tapi terasa terkesan dan kamu tidak akan lupakan waktu yang sempit ini," ucap Ramzi.
"Mau Mas, bagaimana caranya?" tanya Inayah.
"Kamu coba kesini, duduk di sini," Ramzi menepuk-nepuk pahanya.
"Itu mah dipangku sama kamu," ucap Inayah.
"Tapi bukan itu maksudku, makanya sini dulu. Aku bisikan ketelinga kamu," ucap Ramzi.
Inayah menuruti kemauan Ramzi, ia menghampiri Ramzi dan duduk di atas paha Ramzi. Ramzi langsung memeluk pinggang Inayah. Jantung Inayah langsung berdebar-debar karena tindakan Ramzi bukan hanya memeluk Inayah dari belakang. Tapi juga mencengkram tangan Inayah. Yang membuat bulu kuduk Inayah berdiri ketika Ramzi membisikkan sesuatu di telinga Inayah.
"Kamu siap gak jika aku meminta hakku?" bisikan Ramzi di telinga Inayah.
Inayah menelan salivanya sangat sulit, jantungnya seakan jatuh dari raganya ketika Ramzi membisikkan kalimat tersebut. Suatu Ibadah yang seharusnya sudah mereka lakukan sejak satu setengah bulan yang lalu.
Pikiran Inayah tidak percaya, apakah benar yang Ramzi katakan.
"Kok gak dijawab? malah mematung seperti itu. Kamu sudah siap memberikan hakku?" bisikan Ramzi kembali di telinga Inayah.
Nafas Ramzi terasa hangat ketika dia berkata kalimat itu, nafas Ramzi menembus ke dalam hijab yang Inayah pakai. Hembusannya sampai terasa sampai ke telinga Inayah.
"Se...sekarang Mas?" tanya Inayah.
"Jika kamu tidak siap yah sudah tidak apa-apa. Kita tidur saja yuk," ucap Ramzi.
Ketika Ramzi ingin berdiri, tapi Inayah masih tetap ada dipangkuan paha Ramzi. Sehingga Ramzi tidak bisa bergerak kemanapun.
"Mas, a...aku siap Insha Allah," jawab Inayah.
Raut wajah Ramzi langsung berseri, bibirnya tersenyum lebar. Di tatap Inayah dengan tatapan penuh cinta.
"Aku, ke kamar mandi dulu yah. Mau mandi dan wudhu kita salat sunah bareng," pinta Inayah.
Ramzi menganggukan kepalanya. Inayah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Dia memegang dadanya, terasa sesak bernafas. Jantungnya berdenyut cepat. Ia tidak bisa mengatur perasaannya yang deg-degan, gugup, dan ada rasa takut.
Ramzi menunggu di ranjang, rasanya Inayah sudah masuk ke kamar mandi 30 menit lamanya. Tapi Inayah masih belum keluar. Ramzi mengetuk kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, kok kamu lama?" tanya Ramzi.
"I...iya Mas, sebentar lagi aku keluar," ucap Inayah.
Inayah keluar kamar mandi dengan wajah tertunduk. Ia sudah membuka hijabnya ketika di dalam kamar mandi, rambut panjang hitam legam terurai. Ramzi langsung mengucapkan syukur kepada Allah. Begitu Indah ciptaan Allah, yang menjadi istrinya ini.
"Masya Allah, kamu cantik sayang. Tunggu aku yah, aku mau ke kamar mandi dahulu," ucap Ramzi.
Inayah mengganggukan kepalanya, Inayah bersiap dia memakai parfum, karena merupakan sunnah ketika berhubungan suami istri lalu Inayah mempersiapkan 2 sajadah dan baju koko salat sunah bersama. Mereka salat sunah berjamaah setelah selesai Ramzi memanjatkan doa.
"Ya Allah, dengan karunia-Mu. Berikan kami keturunan yang soleh/solehah jika ibadah kami ini Kau izinkan benih dariku tertanam di rahim istriku. Jauhkanlah kami dari godaan syaitan ketika kami melakukan ibadah ini atas nama-Mu. Aamiin..."
Setelah berdoa, Inayah mencium punggung tangan suaminya. Ramzi membuka mukenah Inayah, lalu dia mendaratkan ciuman di kening Inayah.
Ramzi menggendong Inayah ke atas ranjang, ia tatap mata cantik istrinya itu.
"Masya Allah, kamu sangat cantik sayang," ucap Ramzi, yang membelai pipi Inayah.
Ramzi membaca doa dan menyentuh kepala sang istri dengan tangannya.
“Bismillahil'aliyyil ‘azhim. Allahummaj’allahu dzurriyyatan thayyibah in qaddrta an takhruja min shulbi. Allahumma jannaibnis syaithana wa janniblis syaithana ma razaqtani.”
(Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kau anugrahkan kepadaku.)
Ramzi mulai mencium kening Inayah, hidung mancung Inayah, dan melihat bibir ranum Inayah yang menggoda, ia kecup singkat lalu semakin dalam ciuman yang Ramzi berikan.
Inayah meremmass seprei kasur karena sakin gugup perasaannya saat ini, dia memejamkan matanya menikmati ciuman yang diberikan dari Ramzi.
Bersambung
***
Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.
Follow aku juga.
fb @Farida (R)
ig @kak_farida
Mampir juga di novelku yang lain
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)
__ADS_1
Love you semua