
Setelah 3 bulan gempa di Jepang. Pemerintah Jepang sudah memperbaiki fasilitas umum walaupun belum 100% semua diperbaiki semua. Syifa mengajak Inayah untuk keluar dari tempat tinggalnya sekedar berjalan-jalan pagi.
"Ning, jalan-jalan yuk. Aku lagi BT nih, agar Emi bisa menghirup udara segar juga. Jangan di dalam kamar terus. Kita ke Philosopher's walk, sakura lagi bermekaran juga di sana. Ini 'kan bulan Maret jadi jalanan setapak di sana pasti cantik. Kita foto-foto di sana," ajak Syifa.
"Memang kamu ndak repot dorong-dorong kursi rodaku?" tanya Inayah.
"Jangan ngomong gitu Ning, lagi pula dekat kyoto university kok tempatnya di sana," jawab Syifa.
"3 bulan ini aku nyusahin sampean loh Syifa, kemana-mana aku harus kamu bantu," ucap Inayah.
"Ih sampean Ning, kaya siapa aja aku, lagi pula aku juga mau jalan-jalan, ini usia kandungan aku sudah jalan 28 minggu," ucap Syifa.
"Tapi pelan-pelan yah, aku takut malah kamu yang kecapean Syifa. Karena perut kamu sudah membesar juga," ucap Inayah.
"Iya Ning, itu pasti," jawab Syifa.
Syifa mendorong kursi roda Inayah dengan perlahan. Udara pada musim semi sangatlah sejuk dengan pemandangan memanjakan mata. Jalan setapak kiri dan kanan di penuhi bunga sakura yang sedang bermekaran. Banyak keluarga jepang yang menggelar seperti karpet kecil di bawah pohon sakura sekedar untuk menghabiskan waktu dengan keluarga.
"Udaranya sejuk yah Syifa," ucap Inayah.
"Iya Ning, sejuk banget. Bagus untuk paru-paru bumil hehehe," ucap Syifa.
Inayah sedang asik mengajak Emi main dipangkuannya, ia tidak menyadari seseorang datang dan menggantikan Syifa untuk mendorong kursi roda Inayah. Perlahan kursi roda itu di dorong oleh seseorang yang pasti bukan Syifa.
"Emi, putri Mamah yang cantik. Itu bunga sakura Nak, cantik. seperti kamu cantiknya." Ucap Inayah, sambil mencium pipi Emi dengan gemas.
Seseorang yang mendorong kursi roda Inayah itu, membelai kepala Inayah dengan lembut. Inayah mulai aneh karena Syifa gak mungkin melakukan itu. Inayah menengok ke atas melihat wajah seseorang yang mendorong kursi rodanya. Matanya meneteskan air mata tidak bisa berkata apa-apa. Orang itu melangkahkan kakinya ke depan kursi roda Inayah.
"Assalamu'alaikum, bidadari surgaku." Sambil memberikan sekuntum bunga mawar kepada Inayah.
"Wa'alaikumsalam, imamku. Mas Ramzi," ucap Inayah dengan suara isak tangisnya.
"Aku datang sayang, aku sangat merindukanmu," Ramzi memeluk Inayah.
"Aku juga rindu kamu Mas, ini putri kita," ucap Inayah.
Ramzi menyentuh Emi untuk yang pertama kali lalu dia menggendongnya penuh kasih sayang.
"Nak, ini Papah. Papah datang." Ramzi mencium Emi di setiap inci wajahnya.
"Mas, aku sekarang pakai kursi roda. Jika kondisiku seperti ini selamanya. Apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Inayah.
Ramzi menarik nafas, "Cinta itu, bukanlah tentang sebuah perasaan yang menggebu di dalam hati. Seperti Abu Bakar Ash-shidiq yang rela menahan rasa sakit saat menutup lubang ular ketika Rasulullah sedang tertidur pulas di paha Abu Bakar, ia hanya diam karena tidak ingin Rasulullah terganggu dari tidurnya dan ia hanya menahan rasa sakit dengan menangis sendiri. Cinta itu adalah Ali bin Abi Thalib yang berbaring di tempat tidur Rasulullah ketika sekelompok orang kafir ingin membunuh Rasulullah. Cinta itu adalah Bilal bin Rabbah yang tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan saat Rasulullah tiada," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Dan cinta itu adalah laki-laki yang awalnya menyakitimu tapi malah tak bisa melupakanmu, karena perbuatan bodoh dengan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya yang membuat hatimu tersakiti dan menjauh dariku. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu. Apakah kamu masih mencintaiku walaupun berkali-kali aku telah menyakiti hatimu?" sambung Ramzi.
"Cintaku masih sama besarnya ketika kamu mengkhitbahku," Inayah membelai pipi Ramzi.
"Terima kasih habibati." Ramzi menyeka air mata Inayah dengan ibu jarinya.
"Kita jalan-jalan lagi Mas, mumpung bunga sakura mekar, karena bunga ini mekar hanya diakhir maret sampai awal april," pinta Inayah.
Ramzi mendorong kursi roda Inayah perlahan-lahan.
"Syifa mana Mas? kamu kerja sama dengan dia yah? tadi aneh aja, Syifa tiba-tiba ajak aku keluar," tanya Inayah.
"Syifa pulang. Iya aku kerja sama buat bikin kejutan buat kamu. Senang gak kamu?" tanya Ramzi.
"Aku senang banget Mas, terasa mimpi aku bisa bertemu kamu lagi," jawab Inayah.
"Tapi aku nyata sayang ada di hadapanmu, kamu tidak bermimpi," ucap Ramzi sambil mengelus kepala Inayah yang tertutup hijab.
philosopher's walk (jalur pejalan kaki), Jalur yang ditanami pohon-pohon sakura dengan panjang 2 km menjadi saksi pertemuan antara Inayah dan Ramzi yang berpisah selama 1 tahun 1 bulan.
Momen yang Inayah tunggu 3 bulan yang lalu setelah ia memposting di instagram sebuah foto putri kecil mereka yang baru lahir. Karena putrinya lah yang membuka pintu hati Inayah agar bisa memaafkan Ramzi. Memang Inayah salah tapi tidak 100% Inayah salah. Ramzi pun mempunyai kesalahan. Keduanya sama-sama bersalah dan mereka bisa belajar dari kesalahan mereka. Setiap rumah tangga pasti saja ada sebuah masalah, tanpa masalah maka ikatan cinta tak akan erat. Dengan masalah kita bisa tahu seberapa besar cinta pasangan masing-masing. Hidup tanpa masalah seperti makan nasi putih tanpa lauk. Tapi jangan mendiamkan masalah, setiap masalah harus di selesaikan karena itu merupakan proses dari suatu kehidupan.
"Mas, pulang yuk. Emi kelihatannya sudah haus," pinta Inayah.
Ramzi mendorong kursi roda Inayah menuju apartemennya. Sesampainya di apartement Emi diletakkan dalam box bayi terlebih dahulu Ramzi menggendong Inayah ke atas ranjang setelah itu Ramzi mengangkat Emi ke pangkuan Inayah.
Inayah memberi ASI kepada Emi sampai Emi tertidur lelap. Ia memberikan Emi ASI eksklusif, sehingga pertumbuhan Emi sangatlah sehat.
"Mas, tolong letakkan Emi dalam boxnya. Dia sudah bobo, pelan-pelan yah Mas," titah Inayah.
Ramzi mengangkat Emi dan meletakkannya ke dalam box. Sangat lucu wajah Emi ketika tidur.
"Sekarang waktunya untuk Mamah dan Papah," ucap Ramzi.
"Waktu untuk apa Mas?" tanya Inayah.
"Waktu untuk melepas rindu 1 tahun 1 bulan. Papah kangen Mamah," ucap Ramzi.
Ramzi mendekati Inayah, ia duduk di atas ranjang bersama Inayah. Kedua tangannya sudah memegang pipi Inayah perlahan iya mendekatkan wajahnya ke wajah Inayah.
"Mas mau cium aku yah?" tanya Inayah.
__ADS_1
"Ih kamu merusak moment deh," protes Ramzi.
"Aku 'kan hanya bertanya," ucap Inayah.
"Udah tahu aku mau melakuka apa sama kamu, pakai nanya lagi," ucap Ramzi kesal.
Tiba-tiba Inayah menarik kerah Ramzi, lalu ia mengecup bibir Ramzi, "Aku sangat rindu melakukan ini bersamamu Mas."
Ramzi membalas ciuman Inayah, mereka melepaskan kerinduan satu sama lain. Inayah memeluk Ramzi sangat erat, ia menangis dalam pelukan Ramzi.
"Ampuni atas semua kesalahanku, ampuni aku karena aku pergi tak meminta izin kepadamu," ucap Inayah lirih.
"Aku telah memaafkanmu, aku juga meminta maaf karena sudah bohong terhadapmu. Aku berjanji akan terbuka dan tidak berbohong lagi. Aku sayang kamu, aku sangat mencintaimu," ucap Ramzi.
Ketika mereka ingin pergi ke atas awan, tiba-tiba Emi menangis. Mereka tertawa karena gagal melangkah ke atas awan.
"Emi menangis Mas, tolong bawa dia ke aku," pinta Inayah.
Bersambung
✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Retak Akad Cinta (50% kisah nyata 50% fiksi)
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1