
Ramzi pulang ke pesantren Abi Afnan, ia tak tahu bahwa Inayah sudah di dalam kamar karena Inayah tidak memberi kabar kepada Ramzi.
"Ramzi, istrimu sudah pulang," ucap Ummi Laila.
"Kenapa Ummi? jadwal praktiknya 'kan sampai sore hari ini," tanya Ramzi.
"Kepalanya pusing katanya, Ummi sudah buatkan air jahe," jawab Ummi Laila.
Ramzi sangat khawatir akan kondisi Inayah, ia bergegas masuk kamar dan cepat ingin melihat Inayah.
"Sayang, kata Ummi kamu sakit," ucap Ramzi, ketika masuk kamar.
Inayah menatap Ramzi.
"Kepalaku pusing, habis dari mana Mas? tadi pas aku pulang Mas ndak ada. Maaf aku pulang ndak kabarin karena kepalaku sangat sakit," ucap Inayah.
"Aku habis ke rumah teman lama tadi, aku pijitin kepala kamu yah," ucap Ramzi.
'Ya Allah Mas, kenapa kamu bohong? ternyata kamu sangat mencintai adikku. Lalu apa arti dari perhatianmu ini Mas,' batin Inayah.
'Sayang maaf aku berbohong, aku takut kamu cemburu jika aku berbicara jujur,' batin Ramzi.
Ramzi mengurut kepala Inayah, sesekali ia mengecup kepala Inayah.
"Nyaman aku urutin seperti ini?" tanya Ramzi.
Inayah menganggukan kepalanya, karena Inayah merasakan hatinya sangat sakit Inayah tak kuasa menahan air matanya.
"Kepala kamu sesakit itukah? sampai kamu menangis, tunggu yah aku ambil obat untukmu," ucap Ramzi.
Ramzi bergegas mengambil obat, ia membantu Inayah untuk duduk lalu membantu Inayah untuk meminum obat.
"Dokter bisa sakit juga yah hehe...Allah suruh kamu istirahat sayang. Kamu istirahat yah, tidurlah. Love you," ucap Ramzi.
Inayah hanya tersenyum dan memejamkan mata setelah meminum obat.
Inayah tertidur selama 1 jam, ketika membuka mata Ramzi tidak ada di dalam kamar.
"Kenapa kepalaku masih pusing yah? Inayah memegang kepalanya dan sedikit mengurusnya.
"Lusa aku akan kasih berkas aku untuk menerima tawaran derut untuk S2 di Jepang. 1 minggu lagi jadwal keberangkatannya. Aku akan mengepak bajuku sedikit demi sedikit bawa ke rumah sakit. Aku simpan di loker, nanti aku berangkat dari rumah sakit aja biar gak curiga," gumam Inayah.
Inayah mencoba bangun, perutnya terasa lapar. Iya ke luar kamar pergi ke dapur.
__ADS_1
"Ummi masak gak yah? jika tidak ada lauk aku akan order lewat ojek online. Kenapa perutku terasa lapar sekali?" gumam Inayah.
"Inayah, kepalamu masih pusing sayang?" tanya Ummi Laila.
"Sudah mendingan Ummi, tadi sudah minum obat juga," jawab Inayah.
"Kamu lapar?" tanya Ummi Laila.
Inayah tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Ummi hangatkan yah, ini sudah dingin," ucap Ummi Laila.
"Biar Inayah saja Ummi." Inayah ingin mengambil alih, tapi ummi tidak mengizinkannya.
"Ndak apa-apa, biar Ummi aja. Kamu 'kan baru enakan. Duduk saja di sana." Ummi menunjuk meja makan.
Inayah menuruti perkataan Ummi, ia menatap wajah Ummi Laila. Ibu kedua bagi Inayah tapi kasih sayangnya seperti ibu kandung, mata Inayah berkaca-kaca ketika menatap Ummi yang sedang menghangatkan makanan untuk Inayah.
'Ummi maafkan aku. Aku akan sangat mengecewakanmu. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaan Mas Ramzi untuk mencintaiku seorang,' batin Inayah.
Ketika Inayah sedang menunggu makanan yang dihangatkan Ummi, Ramzi datang menghampiri Inayah.
"Sayang kepalanya masih sakit?" tanya Ramzi sambil membelai kepala Inayah yang tertutup hijab.
"Iya, aku baru selesai mengajar," jawab Ramzi.
Ummi meletakkan makanan di dekat Inayah, ternyata hari ini Ummi masak, makanan kesukaan Inayah.
"Makan yang banyak yah, hari ini kamu gak sempat sarapan. Padahal Ummi masak makanan kesukaan kamu, jadi kurang fresh deh," sesal Ummi.
"Ndah apa-apa Ummi, aku sangat berterima kasih kepada Ummi. Tadi aku ada janji dengan pasien jadi harus berangkat pagi-pagi, aku makan yah," ucap Inayah.
***
Setelah 2 hari istirahat, Inayah sudah akan bekerja kembali.
"Beneran kamu kuat praktik lagi?" tanya Ramzi.
"Iya Mas, aku sudah sehat. Ndak usah khawatir," ucap Inayah, sambil tersenyum kepada Ramzi.
Seperti biasa Ramzi mengantar Inayah, tidak ada firasat bahwa Inayah siap-siap untuk meninggalkan Indonesia. Sikap Inayah sangat biasa, ia tidak menampakkan rasa sakitnya kepada Ramzi.
"Aku kerja dulu Mas, Assalamu'alaikum." Inayah meraih tangan Ramzi lalu ia cium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
Inayah masuk ke rumah sakit, melewati lorong dan menuju ruang derut untuk menyerahkan berkas-berkas ke Jepang. Syifa melihat Inayah ketika keluar dari ruang Derut kemudian menarik tangan Inayah dan berbicara sebentar di taman rumah sakit.
"Sampean terima tawaran derut? lalu sampean dapat izin suami?" tanya Syifa.
Inayah menggelengkan kepalanya, "Ndak Syifa, aku akan kabur."
"Apa? sampean sudah ndak waras yah sampai mau kabur dari suami?" tanya Syifa.
"Suamiku salah lamar Syifa, yang ia mau lamar adalah adikku. Tapi ketika itu adikku sudah di khitbah. Agar suamiku tak malu karena keluarga besarnya datang untuk acara lamaran, akhirnya ia melamar aku. Aku pikir ia sudah mencintaiku dan melupakan adikku karena perlakuannya yang manis terhadapku, dia juga berjanji bahwa dia hanya mencintaiku. Tapi kemarin lusa ketika aku ke rumah Abahku, aku melihat suami dan adikku duduk berduaan terlihat adikku tertawa ketika mereka sedang berbicara. Luka hatiku terbuka kembali. Aku ndak bisa memaksa cinta seseorang 'kan agar mencintaiku. Aku putuskan untuk pergi jauh darinya," ucap Inayah, dengan derai air mata.
"Astagfirullah..." Syifa memeluk sahabatnya itu. "Apakah kamu sudah bertanya kenapa suamimu menemui adikmu kemarin lusa?"
"Ndak perlu di tanya lagi, sudah jelas Syifa. Tolong bantu aku, hanya kamu sahabatku yang dapat membantuku. Dirahasiakan masalahku ini dengan Dokter Azril, aku ndak mau dia mendekatiku karena dia tahu masalahku, dan jika kamu ke Jepang dengan suamimu tolong juga rahasiakan ini," Inayah memohon kepada Syifa.
"Sampean cinta dengan suami sampean?" tanya Syifa.
"Aku sangat mencintai suamiku Syifa," Inayah menangis terisak-isak dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku akan membantumu Ning." Ucap Syifa, sambil memeluk Inayah dan mengelus pundak Inayah.
"Aku akan membawa pakaianku selama beberapa hari ini, akan aku simpan di lokerku. Aku akan berangkat ke Bandara dari rumah sakit, agar ndak ada yang melihatku pergi," ucap Inayah.
"Lalu jika suami sampean bertanya kepada dirut bagaimana?" tanya Syifa.
"Aku tadi sudah bilang sama dirut agar tidak memberitahukan alamat rumah sakit dan tempat tinggalku di Jepang," jawab Inayah.
"Wajah sampean terlihat pucat Ning," ucap Syifa.
"Dari kemarin aku pusing Syifa, kecapean, kepikiran masalah aku," ucap Inayah.
Inayah akan meninggalkan semua keluarganya dalam diam. Dia menyiapkan 3 surat, 1 surat untuk umma dan abah, 1 surat untuk ummi dan abi, dan 1 surat untuk Ramzi dan Delisha.
Inayah menulis ketiga surat dengan mencurahkan isi hatinya, ia menulis dengan tangisan.
Terkadang kecemburuan itu menghilangkan komunikasi dan logika. Karena kecemburuan syarat adanya cinta.
Bersambung
***
Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.
jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.
__ADS_1
I love you sekebon dari Author.