Salah Lamar

Salah Lamar
Ku kubur Impianku


__ADS_3

"Mas, kalau kita wisata kuliner aja, ndak jadi ke laut boleh?" tanya Inayah.


"Boleh sayang, kamu mau makan apa?" tanya Ramzi.


"Apa aja Mas, yang penting sama kamu. Hari ini aku mau berkencan dengan suamiku," ucap Inayah.


"Duh...sudah pintar gombal yah kamu," ucap Ramzi.


"Ketularan Mas." Inayah tersenyum lalu menggenggam tangan kiri Ramzi.


Ramzi melajukan mobilnya ke arah street food pekalipan, di sana sepanjang jalan banyak penjual berbagai macam makanan. Ramzi mencari tempat parkiran untuk memarkirkan mobilnya.


"Kamu mau makan apa? itu ada sea food, Sushi ramen, angkringan, atau steak di paper khuy?" tanya Ramzi.


"Hmm di paper shuy Mas, aku mau coba makan di sana," jawab Inayah.


Inayah melihat buku menu.


"Kamu mau yang mana?" tanya Ramzi.


"Aku mau japanese kari Mas, yang ini." Inayah menunjuk gambar menu.


Mereka memesan 2 porsi.


"Mas, aku mau tanya sama kamu," ucap Inayah.


"Tanya apa sayang?" tanya Ramzi.


"Jika kamu mempunyai impian yang kamu harapkan dari sebelum menikah dan kamu mendapatkan kesempatan meraih impian kamu setelah menikah. Kamu akan pilih mana Mas? aku sebagai istrimu atau kamu mengejar impianmu?" tanya Inayah.


"Jika aku mendapatkan kesempatan meraih impianku, aku akan berkomunikasi dengan kamu dulu karena kesempatan itu ndak datang untuk kedua kali. Tapi di satu sisi aku akan berat meninggalkanmu karena aku tidak bisa jauh darimu," ucap Ramzi.


"Lalu apa jawaban Mas, impian atau aku?" tanya Inayah kembali.


"Aku akan pilih kamu, karena kamu lebih berharga daripada impianku dan aku akan membangun impianku yang baru yaitu membangun keluarga sakinah, mawaddah, warohmah denganmu," ucap Ramzi.


Inayah menitikkan air mata mendengar jawaban dari Ramzi.


"Kok kamu nangis sayang?" tanya Ramzi.


"Terima kasih sudah mencintaiku begitu besar," ucap Inayah, sambil menyentuh tangan Ramzi.


Tidak lama pesanan mereka datang. Melihat pesanannya itu adalah japanese kari, salah satu makanan jepang. Inayah tertunduk dan menitipkan air mata.


'Aku akan mengubur impianku, menempuh pendidikan di Jepang untuk menjadi dokter ahli bedah,' suara batin Inayah.


Ramzi memegang tangan Inayah.


"Katakan padaku, ada apa? kamu sedang pikirkan apa?" Ramzi menyeka air mata Inayah dengan tangannya.


Inayah memberhentikan tangan Ramzi yang menyeka air mata di pipinya, ia mencium telapak tangan, menatap mata Ramzi dan berkata, "I love you."


Ramzi merasakan keanehan dengan sikap Inayah, dalam hati Ramzi. Inayah pasti ada sesuatu yang ia pendam tapi ia tidak mau katakan.


"I love you too," ucap Ramzi.


Selesai makan, Inayah mengajak jalan-jalan malam menggunakan mobil mereka. Inayah ingin berkeliling kota Cirebon bersama dengan Ramzi.


"Mas, terima kasih yah. Aku senang banget hari ini bisa berkencan dengan Mas, impian aku dari dulu. Berjalan bersama dengan pria yang aku cintai sambil bergandengan tangan." Inayah menyandarkan kepalanya di pundak Ramzi.


"Sama-sama sayang, kewajiban aku untuk membuat kamu bahagia. Karena rasa bahagia itu sangat mahal harganya, tidak bisa di beli berapapun karena kebahagian itu dirasakan oleh hati dan diberikan oleh hati," ucap Ramzi.


"Karena hati kita sama-sama memberi sebuah cinta yang orang lain tidak akan merasa, karena cinta itu milik kita berdua," ucap Inayah.

__ADS_1


Setelah Inayah puas untuk mengelilingi kota Cirebon, mereka memutuskan untuk pulang. Setibanya di pesantren, ternyata Inayah tertidur. Ramzi tersenyum melihat wajah polos Inayah.


Ramzi tidak mau membangunkan Inayah, kemudia dia menggendong Inayah masuk ke dalam kamarnya.


"Inayah kenapa Ramzi?" tanya Ummi Laila.


"Sssttt Inayah sedang tidur Ummi. Ummi jangan berisik nanti dia kebangun," ucap Ramzi.


Ummi tersenyum melihat keromantisan anaknya itu, Ramzi telah berubah menjadi lebih lembut sejak ia mencintai Inayah.


Diletakkan tubuh Inayah perlahan di atas ranjang. Tapi tiba-tiba mata Inayah terbuka, ia tersenyum kepada Ramzi membuat Ramzi tertegup tak bisa berkata apa-apa karena senyuman Inayah menyelimuti hati Ramzi yang sangat mencintai istrinya, di tambah lagi Inayah mengecup bibir Ramzi dengan singkat.


"Kenapa Mas aku kecup kok terlihat syok?" tanya Inayah.


"Ndak apa-apa sayang," jawab Ramzi.


"Mas mau?" tanya Inayah dengan berbisik di telinga Ramzi.


Ramzi menganggukan kepala. Malam ini mereka pergi ke atas awan kembali. Berbagi tegukan cinta, berbagi rasa manis yang diberikan oleh sepasang insan dengan doa di hati mereka masing-masing. Author doakan agar Inayah cepat mendapat momongan.


***


"Kamu mau nginap di rumah Abah?" tanya Ramzi.


"Ndak Mas, paling pulang sore mungkin. Boleh Mas?" tanya Inayah.


"Boleh sayang," jawab Ramzi.


Setibanya mereka sampai di pesantren Abah Amar di sana pula mereka berpapasan dengan Indra. Ramzi langsung menggandeng tangan Inayah dengan posesif seperti menunjukan bahwa Inayah adalah milik dia.


"Assalamu'alaikum Ning, Gus," ucap salam dari Indra.


"Waalaikumsalam." Ramzi menjawab salam Indra sedangkan Inayah hanya tersenyum dan berlalu begitu saja dari hadapan Indra.


"Detak jantung Mas, berdegup kencang. Mas, lagi cemburu yah? hehehe," ucap Inayah meledek Ramzi.


"Ih istri Mas ini jahil yah, nanti Mas Cium loh." Ramzi melangkahkan kakinya sehingga Inayah melangkahkan kakinya mundur.


"Mas, Mas, jangan macam-macam. Ini dalam rumah Abah, Umma, nanti mereka melihat kita. Aku malu," ucap Inayah memohon.


"Mana ndak ada orang tuh." Ramzi meraih pinggang Inayah dan ia memeluk tubuh Inayah yang mungil.


"Ehem" Abah melihat Ramzi sedang memeluk Inayah. Mereka gelagapan karena terpergok Abah Amar. Inayah menjadi malu, ia menundukkan kepalanya.


"Abah, Assalamu'alaikum." Ramzi langsung meraih tangan Abah Amar lalu mencium punggung tangannya begitupun Inayah.


"Kalian baru sampai?" tanya Abah.


"Iya Abah, Umma mana Abah?" tanya Inayah.


"Di kamar Delisha. Delisha ndak mau makan, Umma lagi rayu Delisha agar dia mau makan," ucap Abah Amar.


"Mas, aku ke kamar Delisha dulu yah," izin Inayah.


Ramzi menganggukan kepalanya.


Inayah meninggalkan Ramzi bersama dengan Abah Amar. Ia mengetuk pintu kamar Delisha.


Tok tok tok


clek


Suara pintu terbuka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Umma." Inayah mencium punggung tangan Umma Adibah.


"Wa'alaikumsalam, kamu baru sampai? suamimu mana?" tanya Umma.


"Sama Abah di depan Umma," jawab Inayah.


"Kata Abah kamu ndak mau makan yah? Kenapa De?" tanya Inayah.


"Aku pikir Mba Ina gak datang, karena Mba ndak ngabarin aku," ucap Delisha.


"Maaf De, Mba lupa kabarin kamu. Tapi 'kan yang terpenting sekarang Mba sudah di sini. Umma biar Ina saja yang suapi Delisha," pinta Inayah.


Delisha mau makan ketika Inayah menyikapinya. Mereka memang sedari kecil sangat dekat, gak pernah berpisah. Jika Delisha sakit yang selalu membujuk Delisha agar makan itu hanyalah Inayah.


"Terima kasih Mba sudah datang," ucap Delisha.


"Kamu kenapa sih De, belum move on. Buka hatimu lagi De," nasihat Inayah.


"Aku lelah Mba, dengan hatiku," ucap Delisha.


"Belum kamu coba sayang, kok sudah bilang lelah. Ustadz Indra baik kenapa kamu ndak coba dengan dia?" tanya Inayah.


"Mba mau makcomblangin aku dengan Ustadz Indra? jangan yang aneh-aneh Mba. Bekas Mba di kasih ke aku," protes Delisha.


"Loh, kok bekas aku sih? kalau Mas Ramzi itu baru bekas aku tapi aku ndak mau serahin Mas Ramzi buat kamu," ucap Inayah.


"Siapa juga yang mau dengan Gus Sombong seperti dia, mending sama Ustadz Indra baik orangnya kalau ngomong lemah lembut lagi," ucap Delisha.


"Aamiin..." ucap Inayah.


"Loh kok Mba Ina ucap aamiin?" tanya Delisha.


"Itu kamu berdo'a agar berjodoh dengan ustadz Indra. Jangan ngomong sembarangan tentang Gus Ramzi, dia itu kakak iparmu," protes Inayah.


"Duh itu buka do'a tapi perbandingan, ih Mba Ina udah bucin sama Gus Ramzi," ucap Delisha.


"Udah ah jangan ngomong terus, makan dulu," ucap Inayah.


Delisha menjadi semangat lagi ketika Inayah datang.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)



Love you semua

__ADS_1


__ADS_2