
Inayah tak mau lepas menggandeng tangan Ramzi, ia sangat takut jika Ramzi marah kepadanya. setelah masuk ke dalam mobil, Inayah masih tetap menggandeng tangan Ramzi kembali.
Dari dalam toko, Ramzi tidak berbicara sedikitpun. Dia hanya terdiam, masuk ke dalam mobil pun dia masih terdiam.
"Mas, jangan diam seperti ini, maafkan aku berbicara dengan Indra. Aku ndak sengaja bertemu dan aku hanya menjawab pertanyaan dia," ucap Inayah.
Ramzi menatap wajah Inayah, ia menyentuh pipi Inayah dengan kedua tangannya.
"Aku sangat mencintai mu, bagaimana aku bisa marah terhadapmu," ucap Ramzi.
"Lalu kenapa? kamu hanya terdiam seperti itu?" tanya Inayah.
Ramzi menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
"Sayang, aku mendengar semua percakan kamu dengan dia. Terima kasih atas jawaban kamu," ucap Ramzi, dengan memeluk Inayah.
Ramzi mulai menjalankan mobilnya, pulang ke pesantren Abi. Di dalam hati Ramzi sungguh dia bersyukur mempunyai Inayah. Istri yang berparas cantik, tapi tidak hanya parasnya yang cantik tapi juga hatinya lebih dari cantik.
Sesampainya di pasantren, Ramzi langsung turun dan bergegas untuk membuka pintu mobil. Di raih tangan Inayah, dan mereka masuk bersama-sama ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum," ucap salam Ramzi.
"Wa'alaikumsalam," Ummi dan Abi kompak menjawab salam dari Ramzi.
Inayah dan Ramzi mencium punggung tangan Ummi dan Abi.
"Ummi aku belikan roti kesukaan Ummi," ucap Inayah.
"Abi gak dibelikan?" tanya Abi.
"Ina belikan juga buat teman minum kopi, ndak mungkin Ina gak belikan untuk Abi,"
"Alhamdulilah, terima kasih Ina," ucap Abi.
"Sama-sama Abi," ucap Inayah.
"Ummi, Abi, kita masuk kamar dulu yah." Ramzi langsung menggandeng tangan Inayah.
"Pelit banget sih, langsung di bawa ke kamar mantu Ummi," protes Ummi.
"Biarin, kalau Ramzi kasih mantu Ummi untuk ngobrol lagi sama Ummi, Ramzi bakalan sendirian 1 jam di kamar," ucap Ramzi.
"Ih dasar bucin," celetuk Ummi.
"Gak apa-apa bucin sama istri sendiri, da dah Ummi. Abi temenin Ummi ngobrol. Inayah milik Ramzi gak boleh di pinjam," ucap Ramzi yang langsung menggandeng Inayah masuk kamar.
__ADS_1
Inayah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku mau mandi dulu yah Mas," ucap Inayah.
Ramzi hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Ceklek
Inayah membuka pintu kamar mandi, 20 menit Inayah membersihkan dirinya. Ramzi melihat rambut Inayah yang basah karena Inayah hari ini keramas.
Ramzi langsung memeluk pinggang Inayah dari belakang, ketika Inayah sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Sini Mas bantu keringakan, kamu duduklah di sini." Ramzi mengarahkan tubuh Inayah ke meja rias Inayah dan membuat Inayah duduk di sana.
Ramzi mengeringkan dengan handuk terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air di rambut Inayah kemudian dia mengambil hair dryer. Ramzi mengeringkan rambut Inayah sangat detail. Inayah merasa sangat bahagia, Ramzi memperlakukan Inayah sangat manis. Setelah rambut kering, Ramzi memijat pundak Inayah.
"Mas, sudah jangan di pijat. Mas lelah kan. Mas istirahat saja," ucap Inayah.
"Kamu yang lebih lelah, kerja di rumah sakit sampai pulang malam. kalau aku hanya mengajar di pesantren," ucap Ramzi.
"Jangan di pijat Mas, seharusnya aku yang memijat Mas. Ini kebalikan Mas pijat aku," ucap Inayah.
"Sayang ini hadiah dariku, kamu sudah bekerja menolong orang hari ini. Pijatan ini agar besok kamu mampu mengembalikan semangatmu agar kembali utuh untuk menolong orang yang sakit. Kamu tahu hadits bukhari 'kan yang berbunyi 'Hendaklah kalian sering memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai,' kamu terima saja pijatan aku, releks yah," ucap Ramzi.
"Mas, kamu lagi kepengen?" tanya Inayah tersipu malu, ketika menatap mata Ramzi di dalam gendongannya.
"Aku tahu kamu lelah, walaupun aku mau. Aku tak akan memintanya. Aku hanya mau memijat tubuhmu di atas ranjang kita, agar kamu lebih nyaman. Kalau duduk pinggang kamu nanti pegal," ucap Ramzi.
Inayah mengalungkan tangannya ke leher Ramzi dan ia tersenyum menatap Ramzi. Ramzi meletakkan tubuh Inayah di atas ranjang dengan hati-hati.
Ramzi mulai memijat Inayah, Inayah di suruh tengkurap. Ramzi memijat pundak Inayah, ke punggung, setiap inci tubuh Inayah di pijat oleh Ramzi. Inayah merasakan kenyamanan ketika ia di pijat oleh suami. Karena baru kali ini ada seseorang yang memijat dirinya, karena Inayah tidak suka tubuhnya di sentuh walaupun oleh tukang pijat perempuan. Ramzi satu-satunya yang bisa memijat Inayah setiap inci tubuh Inayah.
Sakin nikmatnya, Inayah tertidur. Ketika Ramzi melihat Inayah ternyata istrinya itu sudah tertidur, lalu ia memiringkan tubuh Inayah menghadap dirinya yang sedang berbaring di ranjang yang sama. Ia menyibak rambut Inayah dari wajah, terlihat jelas wajah Inayah yang cantik. Ia tak bosan untuk melihat wajah istrinya tersebut kemudian ia ikut memejamkan mata.
***
Inayah terbangun untuk melakukan 1/3 malamnya. Biasanya Ramzi melakukan salat tahajud lebih dulu daripada Inayah, Ramzi selesai tahajud, ia akan tidur kembali. Sedangkan Inayah melakukan tahajudnya mendekati subuh.
Ketika Inayah membuka mata, ia melihat wajah Ramzi yang begitu tampan, dia tak menyangka bahwa sikap dan perlakuan Ramzi sangat manis. Ketika bangun, tubuh Inayah pun terasa enteng karena semalam Ramzi sudah menijatnya sampai dia tertidur.
Inayah mengecup pipi Ramzi sebelum dia beranjak untuk mengambil air wudhu. Ramzi malah terbangun, dia membuka matanya dan melihat wajah Inayah yang sangat dekat.
"Maaf membuat Mas bangun," ucap Inayah.
"Ndak apa-apa sayang," ucap Ramzi.
__ADS_1
Inayah turun dari ranjang dan ia melakukan salat tahajud dan menunggu azan subuh. Ramzi beranjak dari ranjang, ia membersihkan diri kemudian memakai baju koko untuk salat di masjid.
"Aku ke masjid dulu yah," ucap Ramzi.
"Iya Mas," jawab Inayah.
***
Hari ini Inayah ada jadwal praktik pagi, ia sudah siap untuk berangkat.
"Mas, boleh aku membawa mobil sendiri?" tanya Inayah.
"Memang ndak suka jika aku antar kamu?" tanya Ramzi.
"Bu...bukan seperti itu Mas, hari ini aku pulang sore. Mas ada jam ngajar, jadi agar kamu gak capek," ucap Inayah.
"Ndak apa-apa, aku mau antar dan jemput kamu. Biar istriku yang cantik ini ndak ada yang ganggu dan mereka akan tahu kamu sudah menikah," ucap Ramzi.
"Yah sudah aku di antar Mas, berangkat yuk Mas," ucap Inayah.
"Tunggu dulu." Ramzi mengambil sesuatu di dalam laci lemari. Ia mengambil lipstik yang ia beli kemarin sebelum menjemput Inayah.
"Mas beli lipstik untuk aku?" tanya Inayah.
"Iya aku beli buat kamu, masa buat Ummi," jawab Ramzi.
"Terima kasih Mas," ucap Inayah.
"Eh tunggu dulu, aku yang akan memakaikan lipstik ini di bibirmu. Tapi sebelumnya kamu pakai pelembab bibir yah setelah itu baru lipstik," ucap Ramzi.
"Pelembab bibir? aku ndak pernah memakai pelembab bibir Mas," ucap Inayah.
"Sejak hari ini kamu akan sering menggunakan pelembab bibir." Ramzi memeluk pinggang Inayah, sontak membuat Inayah terkejut kemudian Ramzi mencium bibir Inayah, membuat bibir Inayah basah.
"Nah itu pelembab bibirnya, suka 'kan," ucap Ramzi, sambil mengedipkan matanya.
"Mas mesum banget sih." Kedua pipi Inayah sudah merah merona. Mau tapi malu-malu kucing.
Ramzi memakaikan lipstik di bibir Inaya, terlihat sangat cantik Inayah, walaupun hanya memakai make up tipis.
"Ayo kita berangkat," ajak Ramzi.
Hati Inayah sangat berbunga-bunga, kejutan kecil yang Ramzi berikan berhasil membuat hati Inayah sangat bahagia.
Berambung
__ADS_1