Salah Lamar

Salah Lamar
Pulang dari Jepang kok Aneh


__ADS_3

Sudah satu minggu Inayah dan Ramzi tinggal di pesantren kiai Amar, kini mereka berniat untuk tinggal di pesantren kiai Arfan. karena memang Ramzi adalah anak satu-satunya dari kiai Arfan jadi dialah penerus dari pesantrennya.


Pantas saja Inayah menjadi menantu kesayangan karena memang Ramzi merupakan anak semata wayang dari pasangan kiai Arfan dan ummi Laila. Ketika mereka hendak pulang tentu saja ummi Laila yang paling senang karena akan bertemu dengan menantu kesayangannya.


Menantu idaman para mertua karena Inayah merupakan seorang dokter yang bertangan emas, sopan santun, jika berbicara sangat lembut dan wajahnya pun cantik tak heran banyak laki-laki yang tertarik dengan Inayah.


"Mas, sebelum kita berangkat ke rumah Ummi aku ingin memasak makanan kesukaan Ummi biar Ummi lebih senang lagi bertemu denganku. Maklum Mas, aku itu sudah lama sekali tidak bertemu dengan Ummi bayangkan 2 tahun," ucap Inayah.


"Baiklah, ada yang bisa aku bantu?" tanya Ramzi.


"Mas bisa antarkan aku ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang akan aku masak?" tanya Inayah.


"Tentu aku mau. Aku akan mengawalmu, istriku ini 'kan cantik. Kalau kamu jalan sendiri ke pasar wah bahaya," ucap Ramzi.


" Dih Mas, warga sini kan tahu siapa aku," ucap Inayah.


"Ya memang mereka tahu. Yah namanya laki-laki 'kan pasti ada curi-curi pandang kalau melihat wanita cantik. Aku ndak mau kamu dilihat wajahnya dengan laki-laki lain," ucap Ramzi.


"Atau kamu mau aku memakai purdah biar laki-laki lain tidak melihat wajahku?" tanya Inayah.


"Tidak usah sayang. Asalkan kamu pergi dengan aku dan bergandeng tangan. Dijamin mereka tidak akan melirik kamu. Pegang tanganku erat-erat jika di tempat umum," ucap Ramzi.


"Ya Allah Mas, masa aku selalu pegang erat tanganmu. Mataku 'kan masih melihat Mas, memang mataku buta jadi harus memegang erat tanganmu," ucap Inayah.


"Memangnya orang yang ndak bisa melihat aja yang harus bergandeng tangan? seorang suami, istri itu bergandeng tangan pahalanya banyak dan juga akan mengikat chemistry kita," ucap Ramzi.


"Iya deh Mas, terserah kamu aja kamu menggandeng tangan aku dimanapun," ucap Inayah.


"Mas, aku boleh ndak memanggil panggilan kesayangan untuk kamu ketika kita berdua?" tanya Inayah.


"Memangnya kamu mau memanggil kesayangan untuk aku apa?" tanya Ramzi.


"Untuk mengenang Mas, dalam perjalanan cinta kita. Aku mau memanggil kamu Gus gendeng. Bagaimana kamu marah ndak? tapi sebutan hanya ketika kita berdua aja, bukan di muka umum," jawab Inayah.


"Ih kamu senang banget sih sama sebutan 'gendeng' kalau gitu aku manggil kamu 'sableng' bagaimana?" tanya Ramzi.


"Oke Mas, deal ya. Tapi nanti kalau di depan anak kita jangan sampai kedengaran dengan anak kita. Ketika kita sedang bermesrahan aja untuk memanggil sebutan Sableng dan gendeng, panggilan kesayangan kita. I love you Mas." Inayah mengecup pipi Ramzi.


"Kamu cium-cium aku, ada yang berdesir," ucap Ramzi.


"Ih Mas Ramzi mulai deh kamu, sudah yuk ah kita ke pasar takut kesiangan nanti sayurannya ndak segar lagi. Emi aku titipkan ke umma dulu." Inayah menarik tangan Ramzi.


Sesampainya di pasar Inayah ingin membeli sayur-sayuran. Dia menuju tukang sayuran yang dulu biasa dia beli sebelum menikah.


"Assalamu'alaikum Mbok, apa kabar?" tanya Inayah.


"Wa'alaikumsalam, Masya Allah Ning Inayah, katanya Ning Inayah ke luar negeri?" tanya Mbok.

__ADS_1


"Iya Mbok, aku baru pulang satu minggu lalu," jawab Inayah.


Inaya sambil memilih sayur-sayuran yang Mbok jual.


"Ini suami Ning Inayah? wah tampan sekali kalian sangat serasi," ucap Mbok.


Ramzi yang mendapatkan pujian dari mbok sangat senang sekali dia tersenyum-senyum.


"Iya Mbok, ini suami aku Gus Ramzi," ucap Inayah.


"Maaf ya Ning, waktu nikah Mbok ndak bisa datang karena waktu itu penyakit Mbok kambuh Ning," ucap Mbok.


"Oh ndak apa-apa Mbok. Mbok udah mendoakan aku dan suamiku aku sudah bersyukur sekali," ucap Inayah.


"Doa Insya Allah pasti," ucap Mbok.


"Mbok aku sudah memilih beberapa sayuran jumlahnya berapa Mbok?" tanya Inayah.


"Udah Ning, ndak usah bayar. Gratis buat Ning," ucap Mbok.


"Loh kok gitu Mbok, ndak boleh begitu. Ayolah Mbok berapa semuanya?" tanya Inayah kembali.


"Ndak usah Ning, gratis. Mbok ikhlas buat Ning. Selama ini keluarga Ning sudah banyak membantu keluarga Mbok," ucap Mbok.


Inayah tidak mau secara gratisan untuk sayuran yang sudah dia pilih, akhirnya dia memberikan tiga lembar uang warna merah. Mbok tidak menerima uang tersebut. Tapi Inayah terus memaksa sampai Inayah mengancam Mbok.


"Kalau ndak mau terima ini. Inayah ndak mau belanja dengan Mbok lagi loh," ancam Inayah.


Akhirnya Mbok menerima uang yang Inayah berikan.


"Ya udah Mbok terima, matur nuwun ya Ning," ucap Mbok.


"Sama-sama Mbok, Inayah pamit yah. Assalamu'alaikum," ucap Inayah.


Ramzi menggandeng tangan Inayah.


"Semua penjual di sini hampir semuanya kenal kamu ya Sayang," ucap Ramzi.


"Umma sering mengajak aku ke pasar jadi, hampir semua kenal denganku. Karena aku suka memasak dari remaja lain dengan Delisha, kalau Delisha dia senang menulis kaligrafi. Karya kaligrafinya sangat bagus sekali. Yang tadi, namanya mbok Sima, abah mempunya kebun jadi, mbok Sima yang mengurus kebun abah. Mbok menanam beberapa sayur-sayuran di kebun abah, tapi abah mengizinkan mbok untuk menjual dari hasil sayur-sayuran yang ditanam oleh mbok," ucap Inayah.


***


Inaya sedang di dapur. Dia sedang memasak makanan kesukaan ummi Laila. Ramzi datang dan mengagetkan Inayah dengan cara memeluk Inayah dan berbisik di telinga Inayah.


"Hai Sayang aku kangen kamu," bisik Ramzi.


" Gus gendeng aku lagi masak, kenapa sih kagetin aku, baru juga kita ke pasar bersama. Masa sudah kangen sih." Inayah mencubit pinggang Ramzi

__ADS_1


"Ih dokter Sableng, sakit tahu. kok dicubit sih seharusnya dicium," protes Ramzi.


"Mulai deh gendengnya. Aku lagi masak Mas. nanti aku salah potong, kalau berdarah bagaimana?" ucap Inayah dengan nada kesal.


"Sini biar aku aja yang bantu memotong sayuran." Ramzi mengambil sayuran yang dipegang Inayah.


"Ndak nanti bentuk sayurannya aneh kalau kamu yang potong." Sayuran yang dipegang Ramzi diambil kembali.


"Ih kamu ini ndak percayaan dengan suaminya. Aku gemes jadinya." Ramzi mencium pipi Inayah.


"Mas, ini di dapur Mas. Kamu main nyongsor-nyosor aja sih. Nanti kalau kelihatan umma, abah atau Delisha bagaimana? aku malu Mas!" protes Inayah dengan bibir manyun.


"Ndak apa-apa sih, kamu 'kan halal bagi aku," ucap Ramzi.


"Ya kalau di kamar ndak apa-apa Mas, kamu mencium aku di manapun. Tapi 'kan ini kan di dapur Mas," protes Inayah kembali.


Ramzi celangak celinguk ke kanan, ke kiri. Dia tidak melihat orang di dapur selain mereka berdua. Ramzi membalikan tubuh Inayah lalu ia mencium bibir Inayah dan kabur dari dapur.


"Astagfirullah suamiku jahil banget, manis..." Inayah menyentuh bibirnya dengan jari. Pipinya memerah dan tersenyum.


Kebetulan Delisha ingin mengambil minum, dan melihat kelakuan kakaknya yang terlihat aneh. menyentuh bibirnya sendiri dan tersenyum.


'Mba Ina habis pulang dari Jepang kok aneh yah,' ucap batin Delisha.


つづく


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)


__ADS_1



Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2