
Keesokan harinya Emi dan Hasan ke kantor polisi, mereka menyelesaikan kasus yang sedang berjalan. Kesaksian Hasan sangat memberatkan Ahsan, apalagi Hasan mempunyai bukti berupa CCTV ketika Ahsan membawa Emi masuk kamar hotel dalam keadaan pingsan. Status Ahsan kini menjadi tersangka. Kini dia akan menunggu sidang pengadilan yang akan membacakan berapa tahun dia akan di penjara.
Sepulang dari kantor polisi, Emi terdiam di kursi jok belakang mobil. Hasan memperhatikan perubahan sikap Emi.
"Kamu kenapa? Ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Hasan.
"Waktu kamu selamatkan aku, pasti kamu lihat penampilanku kan yang masih belum sadar?" Hasan langsung diam, dia bingung untuk menjawab pertanyaan Emi.
"Kenapa kamu terdiam?" tanya Emi. "Aku malu, Ahsan sudah menyentuhku. Laki-laki manapun belum pernah menyentuhku."
"Emi aku tidak mempermasalahkan hal itu, itu adalah musibah. Di mana musibah itu merupakan takdir yang telah diberikan oleh Allah. Jika itu tidak kita terima artinya kita tidak menerima takdir Allah. Di balik musibah pasti ada hikmah. Hikmahnya aku bisa mengungkapkan rasa hatiku kepadamu, karena sebenarnya sejak pertama kali aku bertemu kamu. Aku sudah tertarik denganmu tapi aku tidak berani untuk mengungkapkannya." Hasan berkata jujur kepada Emi. Membuat Emi menundukkan kepalanya.
Laju mobil Hasan perlahan, ia memang sengaja agar waktu lebih lama berdua di dalam satu mobil dengan Emi, walaupun jarak mereka berjauhan. Hasan yang menyetir mobil sedangkan Emi di posisi Jok bagian belakang. Mereka berdua baru pertama kali berdekatan dengan lawan jenis dan membuka hati satu sama lain. Emi melabuhkan hatinya kepada Hasan. Hasan memang tampan banyak juga teman wanitanya yang mengejar Hasan, tapi memang Hasan tidak memperdulikan mereka. Apalagi jika di pesantren, Hasan menjadi pusat perhatian para santriwati di pesantren kakeknya di Semarang.
"Kata mamah, kamu bersama dengan mamahmu lebih dulu pulang ke Cirebon, lusanya baru aku dan keluarga berangkat menuju Cirebon untuk mengkhitbahmu," ucap Hasan.
"Iya rencana keluarga kita memang seperti itu, setelah acara khitbah mereka merencanakan 5 hari kedepannya kita langsung menikah," ucap Emi.
"Insya Allah ya, semoga lancar acara kita sampai hari H." Hasan berharap semua akan berjalan lancar, ia pun tidak mau lama-lama untuk menunggu.
"Amin..." Emi mengharapkan hal yang sama dengan Hasan.
"Hasan..." Emi memanggil Hasan, ada yang masih mengganjal di hatinya.
"Iya Emi, ada apa?" tanya Hasan.
"Kamu tidak menyesal kan, ingin menikah dengan aku. Karena aku sudah disentuh dengan Ahsan, sungguh aku malu padamu. Aku melihat di leherku ada tiga tanda merah artinya dia...." Kalimat Emi di potong oleh Hasan.
"Cukup Emi, jangan diingat lagi. Itu pasti menyakitkan untukmu jika kau ingat kembali. Sudah aku katakan, aku terima mu apapun itu karena Allah sudah mentakdirkan aku untuk melabuhkan cintaku hanya untukmu. Emi Insya Allah, amulah wanita yang tepat menjadi pendampingku," ucap Hasan.
Setelah Hasan mengatakan seperti itu hati Emi pun tenang. Dia tidak mau nanti ke depannya ketika setelah menikah Hasan mengungkit ungkit akan kekurangannya itu. Bagaimanapun juga mereka adalah keturunan kiai yang tidak pernah disentuh oleh lawan jenis. Tapi Hasan tidak mempermasalahkan itu karena itu bukan kesalahan Emi. Itu merupakan suatu kejahatan yang dilakukan oleh Ahsan.
Sesampainya mereka di rumah Bilah, ada sebuah mobil yang Hasan kenal itu adalah mobil Dina sahabat mamahnya. Hasan pun langsung masuk ke dalam rumah, di ruang tamu sudah ada Dina dan juga Kenzo. Emi tidak berani untuk menatap Kenzo karena dia juga merasa tidak enak sudah menolak lamaran dari Kenzo tapi malah Emi menerima lamaran dari Hasan.
Kenzo menatap Hasan sangat tidak bersahabat, ia menganggap Hasan sudah merebut Emi dari dirinya. Hasan merasakan perubahan Kenzo yang tidak bersahabat dengannya. Emi pun melihat tatapan Kenzo sangat berbeda seperti tatapan Kenzo penuh amarah. Emi meminta izin untuk pergi ke dapur, ia beralasan ingin mengambil minum di sana.
Inayah melihat perbedaan perilaku Emi ketika bertemu dengan Dina. Biasanya ia sangat humble ketika bertemu dengan Dina dan Kenzo, tapi kali ini dia tidak berbicara banyak, hanya tersenyum menyapa sebentar kemudian ia berpamit untuk mengambil air minum ke dapur.
__ADS_1
"Emi, kenapa kamu tidak bergabung di ruang keluarga?" Inayah menyentuh pundak Emi.
"Mamah lihat Kenzo deh Mah, ia terlihat sangat marah dengan Hasan. Mau bagaimana lagi Mah, hati aku memang sudah suka dengan Hasan sebelum aku bertemu dengan Kenzo lagi," ucap Emi sedikit emosi. Ia mengambil air dan minum untuk meredam emosinya.
"Tidak apa-apa sayang, cinta itu memang terkadang ada halangannya, tidak selamanya mulus. Kadang ada cobaan agar cinta itu lebih kuat," ucap Inayah. Ia membelai kepala Emi.
Emi menghala nafasnya sangat berat, ia menginginkan semua akan baik-baik saja. Kenzo menjadi temannya dan juga teman Hasan, tapi sepertinya Kenzo tidak menyambut itu.
Inayah pun mengajak Emi untuk bergabung kembali kw ruang keluarga karena mereka sedang berbicara tentang acara khitbah yang akan diselenggarakan.
"Emi, Hasan, tadi bagaimana di kantor polisi?" tanya Bilah kepada Emi dan Hasan. Hasan belum menceritakan tentang kasus yang dialami oleh Emi.
"Alhamdulillah Mah, Ahsan sudah menjadi tersangka utama. Tinggal menunggu sidang dan keputusan hakim Mah," ucap Hasan
"Alhamdulillah itu artinya dia akan masuk penjara, sesuai apa yang ia lakukan kepada Emi.c Emi mendengar itu hanya menundukkan kepalanya. Hasan memperhatikan wajah Emi yang sama sekali tidak berbicara satu kata pun.
"Din lu ikut ya ke Cirebon, lu belum pernah kan ke rumah dokter Inayah," tanya Bilah.
"Jangan panggil aku dokter Inayah lagi, kita kan akan segera menjadi satu keluarga," pinta Inayah.
Kenzo yang mendengar percakapan mengenai acara khitbah Hasan untuk Emi sangat panas. Ia mengepal tangannya sangat keras, Dina merasakan anaknya tidak baik-baik saja, ia memegang tangan Kenzo putranya.
"Ah lu Din, kaya siapa aja? Lu dan Billi kan sudah gua anggap sebagai keluarga. Pastinya harus ikut lah, waktu nm akad gue kan lu nggak hadir sama Billi," ucap Bilah.
"Lu masih ngungkit-ngungkit aja, udah lama juga gue udah juga udah minta maaf," protes Dina.
Bilah tersenyum mendengar Dina mengeluh karena Bilah mengungkit masa lalu kembali.
***
Keesokan harinya keluarga Emi langsung bertolak ke Cirebon, mereka akan mempersiapkan acara khitbah untuk lusa nanti.
"Mamah Emi ke Cirebon dulu ya, Emi tunggu di sana keluarga Mamah di sana." Emi mencium punggung tangan Bilah.
"Kak Heelwa, Ayah, Emi dan keluarga berangkat sekarang," ucap Emi meminta izin dengan Heelwa dan Bagas. Heelwa memeluk Emi.
"Hati-hati Emi di jala,n Insya Allah lusa kita akan bertemu lagi," ucap Heelwa. Emi menatap Hasan, ia hanya tersenyum kepada Hasan.
__ADS_1
Keluarga Inayah segera berangkat ke Cirebon, mereka sangat bahagia karena akan mengadakan acara khitbah untuk putri pertamanya. Di Cirebon Emi merupakan perempuan impian untuk dijadikan istri. Emi pulang merupakan hari patah hati untuk para Gus dan ustad.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤💞