Salah Lamar

Salah Lamar
Cousade Sindrome


__ADS_3

Inayah berencana untuk memeriksa kandungannya hari ini, dibantu oleh suami Dina yang memang keturunan orang Jepang. Susahnya di Jepang yaitu komunikasi, karena orang Jepang jarang yang bisa bahasa Inggris. Jadi dengan bantuan suami Dina akan lebih mudah untuk bertanya-tanya mengenai kandungan.


Inayah sangat bahagia bahwa diri nya sedang hamil, anak ini yang akan menjadi semangat kedepannya untuk Inayah. Inayah masih menatap test pack yang ia gunakan, terasa mimpi bahwa ia sedang hamil saat ini.



Inayah mengelus-elus perutnya yang masih rata. Ia berkata, "Sayang, tumbuh sehat yah di rahim Mamah. Mamah akan berjuang untukmu. Kamulah penyemangat Mamah saat ini."


Inayah dengan bantuan Dina, ia menyewa apartement karena biayanya apartement lebih murah daripada hotel. Jarak universitas dan apartement pun tidak terlalu jauh, hanya 30 menit berjalan kaki. Di Jepang jika bepergian dekat, mereka menggunakan sepeda atau berjalan kaki.


Syifa tinggal dengan suaminya, tapi ia siap bantu jika Inayah membutuhkan apapun. Inayah tidak bercerita kepada Dina, di mana suaminya berada. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya dan suami sudah berpisah. Inayah tidak bohong dalam hatinya berpisah antara jarak yaitu Jepang dan Indonesia.


Inayah sangat tertutup untuk menceritakan masalahnya kepada orang lain. Hanya Syifa yang tahu permasalahannya, suami Syifa pun tidak tahu bahwa Inayah sedang hamil.


Hari ini Inayah akan pergi untuk memeriksa kandungannya, Dina lah yang menemani Inayah.


Dina \= ["Assalamu'alaikum, Inayah. Aku dan suamiku tunggu di luar yah."


Inayah \=["Wa'alaikumsalam, iya aku akan segera ke sana."]


Inayah mendapat telepon bahwa Dina dan suaminya sudah menunggunya di luar. Mereka akan mengantarnya pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya.


"Inayah..." Dina memanggil Dina dari kejauhan. Inayah menghampiri Dina.


"Inayah, perkenalkan ini suamiku Billi," ucap Dina.


Inayah menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Perkenalkan namaku Inayah," ucap Inayah.


Tanpa basa basi lagi mereka langsung menuju rumah sakit dengan berjalan kaki, hanya butuh waktu 20 menit dari apartement Inayah. Suasana Kyoto yang sangat sejuk dan bersih sehingga berjalan kaki pun tak terasa.


Inayah meminta untuk dicarikan dokter perempuan. Billi sudah mencari rumah sakit yang mempunyai dokter perempuan dan mereka langsung datang ke sana. Begitu sampai di rumah sakit Inayah di minta untuk di ambil sample darah dan urine sebelum bertemu dengan dokter. Diambilkan empat tabung kecil darah Inayah dan beberapa cc urine setelah hasil keluar barulah Inayah bertemu dengan dokter. Inayah melakukan USG. Setelah melakukan pemeriksaan, Inayah diberikan surat rujukan untuk melaporkan kehamilan ke kantor pusat kesehatan setempat. Tujuannya agar petugas pelayanan kesehatan dapat memantau kesehatan Inayah dan calon bayi. Setelah kehamilan Inayah terkonfirmasi, Inayah mendapatkan goodie bag.


Billi menjelaskan tentang isi dari google bag,


"Ini lencana Hamil (Mataniti Māku). Gantunglah di tas kamu. Agar setiap orang tahu bahwa kamu sedang hamil. Jadi, jika kamu kebetulan sedang berada di fasilitas umum, mereka akan mendahulukan dan memprioritaskan kamu, karena mereka tahu kamu sedang hamil," ucap Billi.


"Ini buku Kesehatan Ibu dan Anak (Boshi Kenkou Techou). Buku ini dibawa setiap kali kamu kunjungan pemeriksaan. Kalau ini buku Kupon Pemeriksaan Kesehatan Kehamilan (Ninshin Kenkou Shinsa Jushin Hyou). Pakai ini agar kamu dapat diskon setiap kali pemeriksaan dan ini buku panduan kehamilan," sambungnya.


"Oh iya, saat kamu melahirkan, kamu juga akan mendapat tunjangan sekitar 420.000 yen. Besaran tunjangan akan berbeda di setiap daerah dan institusi pelayanan kesehatan," ucap Billi.

__ADS_1


"Wah ai, kamu banyak tahu yah tentang fasilitas kehamilan. Enak yah jika hamil di Jepang, dapat tunjangan," ucap Dina.


"Kamu mau hamil di Jepang? kita usaha tiap malam yuk," ucap Billi.


"Ai malu ada dokter Inayah," ucap Dina.


"Gak apa-apa kita dah halal," ucap Billi.


Inayah tersenyum getir, karena mengingatkan dia dengan Ramzi. Dina dan Billi memang pengantin baru yang sedang honey moon di Jepang sekaligus kuliah singkat untuk Dina selama 3 bulan.


...(Kisah Dina dan Billi ada di novel 5 tahun menikah tanpa cinta.)...


"Oh satu lagi, Jepang sangat pro normal, jadi sangat menjunjung lahir secara normal, cecar adalah pilihan terakhir jika memang harus," ucap Billi.


"Aku berterima kasih banget sudah bantu, aku ndak tahu deh jika ndak ada kalian karena aku ndak paham bahasa Jepang. Aku akan belajar bahasa Jepang dengan semangat," ucap Inayah dengan senyuman.


"Kamu jika butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk bilang sama aku," ucap Dina.


Setelah selesai pemeriksaan, Inayah diantara Dina dan Billi kembali.


"Terima kasih sudah mengantar aku, semoga kalian segera mendapatkan momongan, jadi umur anak kita ndak akan beda jauh," ucap Inayah.


"Wa'alaikumsalam." ucap Inayah.


Inayah melangkahkan kakinya menuju apartemennya. Sendiri di apartemen rasa rindu di dada Inayah menyapa, rasa rindu walaupun ada rasa benci. Ia membuka galeri foto dan melihat foto-foto kebersamaannya.


"Mas, aku rindu kamu tapi hatiku sakit untuk kedua kali karenamu. Mas, ini di dalam rahimku adalah bukti cintaku padamu, betapa besar cinta yang kumiliki untukmu tapi kenapa kamu tidak pernah mencintaiku Mas, kenapa?" Inayah menangis sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


Rasa rindu yang menyiksa batin, siksaan itu karena keegoisan yang namanya cinta.


***


Tubuh Ramzi terasa lemas, dari bangun tidur ia sudah muntah-muntah. Ketika ummi memasak nasi, Ramzi tidak kuat untuk mencium nasi yang sedang di masak. Rasanya perut Ramzi seperti di kocok-kocok.


"Ramzi, kamu kenapa muntah-muntah terus?" tanya Ummi Laila.


"Aku ndak tahu Ummi, masuk angin kali yah?" ucap Ramzi.


"Ummi masak apaan sih? bau banget, aku jadi mual Ummi," ucap Ramzi.


"Lah Ummi masak menu kesukaan kamu empal gentong, masa sih mau banget? perasaan Ummi harum baunya," ucap Ummi Laila.

__ADS_1


"Harum apanya?" Ramzi berlari ke kamar mandi.


Uwekkk uwekk


"Kamu periksa ke dokter sana, diantarkan Abah yah, Ummi takut kenapa-napa," ucap Ummi Laila.


Ramzi akhirnya ke dokter, ia diberikan obat mual. Setelah Ramzi pulang dari rumah sakit rasa mual masih sangat terasa. Obat sudah diminum tapi tetap rasa mual-mual tidak hilang.


Setiap makan Ramzi akan memuntahkan makananannya. Ummi mengurut-urut kepala Ramzi karena terasa pusing.


"Kok tiba-tiba gini yah, kamu stress kali mikirin Inayah," ucap Ummi Laila.


"Padahal aku ndak pernah telat makan loh Ummi," ucap Ramzi.


"Kamu kaya orang hamil aja, cium masakan mual, makan dikit mual, pusing-pusing. Atau jangan-jangan Inayah sedang hamil lalu kamu yang ngidam," ucap Ummi Laila.


"Ah Ummi...jangan ngomong kaya gitu. Aku jadi tambah kepikiran. Jika Inayah hamil, aku akan lebih merasa tambah bersalah lagi Ummi," ucap Ramzi.


Inayah yang hamil tapi Ramzi yang ngidam. Salah satu bukti adanya ikatan batin yang kuat.


Tentang perempuan hamil di Jepang di sana seperti itu yah, hidupnya terjamin oleh pemerintah Jepang. Itulah info yang author tahu.


Bersambung


***


Para reader jika kalian suka dengan tulisan saya. Banyakin komentar, komentar kalian itu membuat aku semangat.


jangan lupa juga like, SUBSCRIBE, dan Follow author.


Mampir juga di novelku yang lain



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)



I love you sekebon dari Author

__ADS_1


__ADS_2