Salah Lamar

Salah Lamar
Manis di bibir lain di hati


__ADS_3

Sudah 1 minggu Inayah tinggal di lingkungan pesantren Abahnya. Dia benar-benar menutup diri untuk Ramzi. Bahkan nomor handphonenya pun sudah berganti.


"Assalamu'alaikum, Ning Inayah," sapa Indra, yang baru saja datang ke pesantren Kiai Amar. Tangannya masih menggunakan arm sling alat penyangga untuk tulang patah.


"Wa'alaikumsalam, Indra, mau ketemu Abah yah? sebentar aku panggilkan," ucap Inayah, dia langsung meninggalkan Indra.


"Mba, kenapa kok seperti tergesa-gesa?" tanya Delisha, penuh selidik.


"Mba lagi cari Abah, ada Indra di depan. Mau ketemu Abah," jawab Inayah.


"Kok seperti orang menghindar Mba?" tanya Delisha kembali.


"Mba ndak mau, dia bertanya-tanya De," jawab Inayah.


"Loh memang bertanya apa Mba?" tanya Delisha.


"Ning dengan suami? lagi menginap yah? suaminya mana? pasti bertanya seperti itu," jawab Inayah.


"Jadi Mba takut gitu? kenapa ndak jawab aja. Aku lagi pisah ranjang dengan suamiku," ucap Delisha.


Inayah menatap Delisha dengan tajam.


"Kamu ini, enak aja kalau ngomong," protes Inayah.


"Loh, aku 'kan ndak salah ngomong seperti itu Mba," ucap Delisha.


"Indra itu pernah melamar aku, takutnya dia masih ada rasa sama aku. Aku takut jika ia tahu rumah tanggaku sedang goyang, ia akan menunggu jandaku," ucap Inayah.


"Ih...PD banget Mba," ucap Delisha.


"Hahaha, udah ah. Aku mau mencari Abah," ucap Inayah.


Inayah mencari Abahnya, ternyata Kiai Amar sedang di dapur bersama dengan Umma yang sedang memasak.


"Abah, di depan ada Indra mau bertemu Abah," ucap Inayah.


Setelah Inayah memberitahukan Abahnya, dia sekalian berpamit untuk berangkat kerja.


"Abah, Umma, aku sekalian pamit, hari ini aku ada praktik pagi," izin Inayah.


"Hati-hati di jalan, bawa mobil jangan ngebut-ngebut," pesan Abah.


"Insha Allah Abah, Assalamu'alaikum." Inayah mencium punggung tangan Umma dan Abah.

__ADS_1


Inayah bersiap untuk bekerja, dia tidak lupa untuk membawa jas putihnya. Berjalan melewati Indra yang masih menunggu Abahnya.


"Ning, mau ke rumah sakit? ada praktik hari ini?" tanya Indra.


"Iya aku ada praktik pagi, hari ini," jawab Inayah.


"Suamimu mana Ning? kok ndak antar kamu?" tanya Indra.


"Aku berangkat dulu yah, Assalamu'alaikum," ucap Inayah, menghindari pertanyaan Indra.


'Ning Inayah tambah cantik, astagfirullah, sudah istri orang.' batin Indra.


'Tuh kan, firasatku benar, dia tanya-tanya aku. Menyebalkan!' batin Inayah.


Inayah masuk ke dalam mobilnya, ia mulai menyalahkan mesin dan berjalan menyusuri jalan kota Cirebon. Sejak mengganti nomor handphonenya. tidak ada WA dari Ramzi lagi yang ia lihat. Dia ingin menenangkan dirinya karena hatinya masih sangat terluka.


Luka yang dibuat oleh Ramzi kepada Inayah sangat fatal. Awal dia menggores, tapi lama-lama menjadi sayatan walaupun sudah di jahit tapi jahitan itu butuh waktu untuk mengering, setelah kering akan ada bekas luka yang tampak. Seperti itulah perumpamaan sakit hati Inayah kepada Ramzi.


Tiba di parkiran rumah sakit, Inayah berpapasan dengan Ramzi. Ternyata Ramzi menunggu Inayah di parkiran rumah sakit sudah dari 1 jam yang lalu.


"Assalamu'alaikum," Ramzi mengucap salam kepada Inayah. Sebelum Inayah membuka pintu mobilnya. Ramzi mengetuk pintu kaca mobil Inayah.


"Ya Allah, kenapa dia ke sini. Mau apa lagi dia," gumam Inayah.


Inayah menurunkan kaca jendela mobil.


"Kenapa kamu mengganti nomor kamu? sebenci itukah kamu terhadap suamimu?" tanya Ramzi.


"Suami yang menyakiti hati istrinya?" ucap Inayah.


"Jujur, sejak saat aku mengungkapkan cinta kepada adikmu dan kamu mengetahui itu. Hatiku menjadi gelisah, bayang-bayang wajahmu selalu ada di mataku," ucap Ramzi.


"Baru sekarang kamu mengucapkan itu? di mana rasanya ketika kamu baru mengucapkan janji suci, lalu kamu bilang kepadaku tidak mencintaiku," ucap Inayah.


"Maaf 'kan aku Ning, aku mulai menyadari kamu sangat berarti bagiku," ucap Ramzi.


"Kamu Gus, hanya manis di bibir tapi lain di hati,"ucap Inayah.


"Kamu masih istriku, aku perintahkan kamu pulang hari ini bersamaku, dosa kamu melawan suami," ucap Ramzi.


"Aku sudah bilang urus perceraian kita, atau aku yang akan mengurus itu semua?" tanya Inayah.


"Seyakin itukah kamu mau bercerai denganku?" tanya Ramzi.

__ADS_1


Ramzi membuka kunci pintu mobil dari dalam, lalu ia membuka pintu mobil. Ramzi mendekatkan wajahnya dengan wajah Inayah.


"Gus gendeng, ma...mau apa kamu?" Inayah tergugup, ketika Ramzi mendekatinya.


Ramzi semakin mendekatkan wajahnya, menatap mata Inayah dengan kelembutan, kemudian Ramzi memegang pipi Inayah dengan kedua tangannya. Inayah mematung hati menolak tapi tubuh menerima sentuhan dari Ramzi, semakin dekat wajah keduanya. Inayah memejamkan mata. Di tatap lekat wajah Inayah ketika sedang memejamkan mata, Ramzi sangat rindu dengan wajah yang tidak dia lihat 1 minggu lamanya. Ingin rasanya dia ingin memeluk tubuh Inayah, tapi ia tak mau Inayah akan semakin marah jika ia memeluk. Ramzi tersenyum, terlihat bahwa Inayah masih mencintainya.


'Oh Ya Allah, kenapa aku begitu mencintainya sehingga tubuh ini tidak menolak ketika dia menyentuhku.' batin Inayah.


"Kenapa kamu menutup matamu, kamu ingin aku kiss? itu artinya kamu masih mencintaiku, Ning Inayah," Ramzi berbisik di telinga Inayah.


Deg


Inayah membuka matanya, wajah Inayah memerah seketika karena merasa malu. Dia mendorong tubuh Ramzi agar menjauh dari tubuh Inayah.


Inayah keluar dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah sakit. Ramzi menarik lengan Inayah.


"Ning, aku kangen sama kamu," ucap Ramzi lirih.


Inayah menghentakkan tangannya dan berlari untuk masuk ke rumah sakit. Inayah memegang dadanya yang berdebar dengan kencang.


Siapa sangka Ramzi akan datang ke rumah sakit menunggu Inayah, laki-laki yang dingin. Waktu masih bersama Inayah, mengantar Inayah membeli obat pun Ramzi tak mau. Ini dia rela menunggu 1 jam lamanya di rumah sakit untuk menunggu kedatangan Inayah.


Tapi Inayah tak mau percaya begitu saja setiap ucapan yang Ramzi lontarkan kepadanya, Inayah memang mencintai suaminya. Akan tetapi sejak hatinya terluka dia menjadi takut untuk menerimanya kembali, takut akan disakiti untuk yang kedua kalinya.


"Bodohnya aku, kenapa aku malah mematung ketika Gus menyentuhku? aku ndak mau langsung percaya sama Gus begitu saja, manis di bibir lain di hati," gumam Inayah.


Inayah menarik nafas dan mengeluarkan perlahan, dia tidak mau konsentrasinya terganggu ketika praktik di mulai gara-gara mengingat tindakan Ramzi yang mengentuh pipinya dan menggoda dirinya.


"Gus gendeng, kenapa dia tiba-tiba di hadapanku sih, aku kan mau praktik. Berani-beraninya dia mau membuyarkan konsentrasiku. Cukup sekali aku tidak konsentrasi akibat ulahnya ketika aku melakukan operasi mendadak kepada pasien kecelakaan seminggu yang lalu," ucap Inayah monolog.


Bersambung


***


Hai pembaca tersayang, terima kasih sudah membaca. jangan lupa bantuan like, vote, love, komen follow aku juga yah.


Cek novelku yang berjudul



5 tahun menikah tanpa cinta


Retak Akad Cinta (50% kisah nyata, 50% fiksi)

__ADS_1



Love you semua


__ADS_2