
Pernikahan Hasan dan Emi sudah 1 tahun lamanya, tapi masih belum ada tanda-tanda Emi hamil. Mereka sudah mengharapkan buah cinta mereka, Hasan tidak mengeluhkan kepada Emi akan masalah anak. Permasalah di perusahan juga sudah teratasi. Hasan membongkar korupsi di perusahaan milik Mamahnya dan Heelwa memaksa Hasan menjadi COO. Jika Heelwa berhalangan maka Hasanlah yang akan menggantikannya.
"Mas lelah yah, mau mandi sekarang?" tanya Emi.
"Boleh sayang, aku mau mandi sekarang," jawab Hasan.
Emi mempersiapkan air hangat untuk Hasan, Hasan langsung membersihkan dirinya. Tak lama Hasan mandi pakaian ganti sudah di siapkan oleh Emi.
"Mau makan malam sekarang Mas? Aku sudah siapkan," ucap Emi. Hasan menggenggam tangan Emi dan ia mendudukan Emi di bangku meja makan. Hasan malah menyendoki makanan di piring untuk Emi.
"Mas biar aku aja." Emi ingin mengambil alih tapi Hasan tidak mengizinkan.
"Biar aku saja sayang," ucap Hasan.
Emi bahagia walaupun mereka belum di karunia anak tapi perlakuan Hasan masih sama seperti mereka baru menikah. Mereka makan dalam kesunyian hanya senyuman ketika mereka saling menatap.
"Terima kasih yah atas makanannya, masakanmu selalu enak," ucap Hasan sambil mengecup pucuk kepala Emi. " Biar aku saja yang mencucinya kamu duduk di sofa aja sambil menonton tv," ucap Hasan.
"Mas, biar aku saja yang mencuci," ucap Emi. Tapi Hasan tak perduli, ia langsung mengangkat perlengkapan yang kotor lalu langsung mencucinya. Setelah Hasan selesai, Hasan melihat Emi sedang menonton TV lalu Hasan menghampirinya. Hasan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.
"Untuk kamu sayang, selamat 1 tahun hari pernikahan. Aku tambah sayang sama kamu," ucap Hasan. Mata Emi berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa Hasan memberikan hadiah untuk pernikahannya. Emi membuka kado dari Hasan.
"Mas pasti mahal harganya," ucap Emi ketika ia membuka isi kado Hasan yang ternyata sebuah kalung.
"Nggak terlalu mahal bagiku, suatu yang mahal bagiku adalah diri kamu istriku," ucap Hasan.
"Maaf aku tak memberikan kamu kado Mas, bahkan seorang anak saja aku tidak bisa memberikan." Emi langsung berhenti berbicara karena Hasan langsung mencium bibir merah ranum Emi. Emi langsung memejamkan matanya dan membalas ciuman Hasan. Karena di rumah itu hanya mereka berdua sehingga mereka tak perlu malu berciuman di ruang keluarga. Hasan sudah mulai panas, ia langsung menggendong Emi masuk ke dalam kamarnya. Malam ini mereka berusaha untuk membuat buah cinta mereka.
Emi sudah kelelahan karena Hasan meminta sudah beberapa ronde.
"Kamu sudah lelah sayang?" tanya Hasan.
"Lelah Mas, kamu melakukan tanpa jeda," protes Emi.
"Kamu canduku, lelah menjadi segar kembali jika aku menyentuhmu." Hasan memeluk Emi dengan erat.
Mereka bersih-bersih lalu tertidur dengan lelap. Mereka tertidur saling berpelukan, Emi sangat nyaman ketika Hasan memeluk dia.
Cinta Hasan tak berkurang walaupun mereka belum dikarunia anak, Hasan selalu membuat Emi melupakan kehadiran anak karena Hasan selalu membuat Emi tersenyum tidak murung kembali.
***Noveltoon***
"Mas, jadi kan ke dokter?" tanya Emi.
"Jadi sayang, nanti aku jemput habis rapat yah," jawab Hasan.
"Aku ndak mau sama tante Dina yah Mas," pinta Emi.
"Iya sayang, aku sudah mencari dokter perempuan yang ada di Jakarta. Rekomen teman-teman aku, katanya dokternya baik dan ramah, sabar jika menangani lahiran normal," ucap Hasan sambil mengelus kepala Emi tanpa jilbab.
"Semangat yah Mas kerjanya." Emi mencium punggung tangan Hasan.
Emi menunggu hari siang, kuliahnya tinggal beberapa bulan lagi kemudian dia lulus pendidikan S2 nya. Di rumah yang besar terkadang ia sangat jenuh ketika sendirian di rumah. Kedua orang tuanya pun jauh di Cirebon. Jika di pesantren ia tak merasa kesepian karena banyak santri dan santriwati yang belajar kitab kuning ataupun menghafal Al quran. Ia sangat Rindu akan suasana itu. Tapi ia tak mungkin mengatakan kepada Hasan karena Hasan meneruskan usaha dari mamahnya.
Emi melakukan salat dzuhur setelah berdoa Emi mendengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumahnya. Ia membereskan perlengkapan salatnya lalu berjalan menyambut kepulangan Hasan. Emi mengambil tas Hasan dan mencium punggung Hasan.
"Ayo kita jalan sayang," ajak Hasan.
"Mas sudah salat?" tanya Emi.
"Sudah tadi di masjid komplek," jawab Hasan.
__ADS_1
Mereka bergegas untuk ke rumah sakit, memeriksa kesuburan mereka. Hasan sudah mendaftarkan nama Emi untuk bertemu dengan dokter kandungan.
"Assalamu'alaikum Dok," ucap Emi ketika memasuki ruang poli kandungan bersama Hasan.
"Waalaikumsalam, apa kabar?" ucap salam Emi. Dokter itu tersenyum kepada Emi dan Hasan.
"Alhamdulillah baik, gini Dok. Kami sudah menikah selama 1 tahun. Tapi belum kunjung mendapatkan anak," ucap Emi.
"Saya hamil, ketika pernikahan saya 1 tahun lebih. Saya periksa dulu yah." dokter itu tersenyum kepada Emi.
Pemeriksaan kesuburan melibatkan kedua pasangan. Meskipun mungkin menganggap kehamilan terjadi dalam tubuh wanita, pembuahan yang berhasil membutuhkan kesuburan dari pihak pria juga. Menurut American Society of Reproductive Medicine (ASRM), 25 persen dari semua kasus infertil memiliki satu atau lebih faktor infertilitas yang berkontribusi. Misalnya, 40 persen kasus ketidaksuburan disebabkan oleh ketidaksuburan faktor pria, sedangkan 25 persen dari ketidaksuburan wanita disebabkan oleh ovulasi yang tidak normal.
Emi dan Hasan melakukan beberapa pemeriksaan dalam dua hari. Mereka datang kembali ke rumah sakit ketika hari ke tiga.
"Dari pemeriksaan, untuk ibu subur tapi untuk Bapak maaf kurang kental sprma jadi kurang subur. Saya kasih resep yah Pak. Lakukan apa yang saya tulis dan untuk resep obatnya," ucap dokter.
Hasan menghela nafasnya, ternyata yang kurang subur adalah Hasan. Emi menggenggam tangan Hasan agar ia tidak sedih.
"Terima kasih Dokter," ucap Emi dan Hasan.
"Tenang yah Mas, aku tidak akan meninggalkanmu kita harus terus berusaha. Tadi dengarkan apa kata dokter Lita," ucap Emi.
"Terima kasih sayang." Hasan mengecup tangan Emi.
"Sepertinya wajahnya aku pernah lihat deh dokter Lita itu atau teman Mamah yah?" tanya Emi.
"Benarkah?" tanya Hasan.
"Ndak tahu deh Mas, seperti pernah lihat foto jaman mamah kuliah dulu S1 di UI," ucap Emi.
Sudah 2 bulan Hasan melakukan apa yang di sarankan oleh dokter Lita. Hari ini mereka akan berkunjung ke rumah mertua Emi. Di sana Emi melihat Gendis, ia sedang menggendong bayi. Gendis sudah menikah dengan Kenzo, suatu hal yang tidak di duga. Mereka memutuskan untuk menikah.
"Boleh aku gendong?" tanya Hasan. Gendis memberikan bayinya.
"Dia lagi sibuk banget Emi. Aku kesini kangen sama Tante Bilah," ucap Gendis. Bilah memang seperti ibu bagi Gendis, karena Bilah yang telah merawat Gendis sejak bayi. (Ceritanya ada di novel 5 tahun menikah tanpa cinta)
Emi tiba-tiba merasakan pusing, ia memegang kepalanya dan langsung duduk di sofa.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hasan. Hasan mengembalikan bayi Gendis.
"Pusing banget Mas," ucap Emi.
"Ke kamar yah." Hasan memapah Emi untuk ke kamarnya. Bilah melihat wajah Emi yang sangat pucat.
"Emi kenapa Hasan?" tanya Bilah.
"Enggak tahu Mah, dia tiba-tiba pusing," ucap Hasan.
"Uwek uwek." Emi berlari ke kamar mandi, perutnya sangat mual. Hasan menyusul Emi, ia memijit tengkuk leher Emi.
"Mas, aku lemes banget," keluh Emi.
"Kamu istirahat aja yah." Hasan menggendong Emi masuk ke kamar.
"Mas, ih malu sama Mamah," protes Emi.
"Kamu lemas, wajib aku gendong. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," ucap Hasan. Bilah yang melihat perlakuan Hasan tersenyum karena mirip dengan Bagas, ayahnya Hasan.
"Mamah panggilkan dokter yah," ucap Bilah.
"Dokter perempuan yah Mah," ucap Hasan.
__ADS_1
"Tante Dina, okay?" tanya Bilah.
Hasan menatap Emi meminta persetujuan, Emi menganggukan kepalanya.
"Okay Mah," jawab Hasan.
Bilah langsung menelepon Dina agar segera ke rumahnya. 30 menit menunggu kedatangan Dina. Sesampainya Dina di rumah Bilah, ia melihat ada menantunya.
"Kamu di sini Gendis?" tanya Dina.
"Iya Mah, kangen mau bertemu Tante Bilah " jawab Gendis.
"Mamah periksa Emi dulu yah." Dina mengelus kepala cucunya.
Dina langsung masuk ke kamar Hasan, ia memeriksa Emi. Dina tersenyum kepada Emi.
"Hasan, kamu belikan testpeck. Tante yakin Emi sedang hamil, tapi tolong belikan testpeck yah," pinta Dina.
Hasan dan Emi saling berpandangan, Hasan gugup pundaknya di tepuk oleh Bilah baru tersadar. Hasan langsung ke apotek, dia membeli 3 testpeck dengan merek yang berbeda. Hasan pulang dengan tergesa-gesa dan memberikan testpeck kepada Emi. Emi masuk ke kamar mandi, ia sangat grogi. Di celupkan testpeck ke wadah air seninya yang sudah tertampung. Emi menatap testpeck tersebut, makin lama testpeck itu warnanya semakin jelas. Emi melihat melihat garis 2, Emi menangis melihat hasilnya. Ia keluar dari kamar mandi.
"Mas," panggil Emi. Hasan langsung menghampiri Emi.
"Bagaimana sayang? Kok kamu menangis?" tanya Hasan. Emi memberikan testpeck tersebut kepada Hasan. Hasan menerimanya dan menatap testpeck itu.
"Aku hamil Mas," ucap Emi dengan gemetar. Hasan langsung sujud syukur karena kini Emi mengandung buah hatinya. Bilah langsung memeluk tubuh Emi.
"Alhamdulillah, selamat sayang," ucap Bilah.
Kini Emi dan Hasan sangat bahagia, apa yang di tunggu mereka, kini sudah kenyataan.
(TAMAT)
Terima kasih sudah membaca novel ini. Kini Inayah dan Ramzi akan mempunyai cucu.
Baca juga yuk cerita seru di novel yang lainnya.
5 tahun menikah tanpa cinta (Tamat)
Salah lamar(Tamat)
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Dicampakkan suami setelah melahirkan
__ADS_1
Love dari author sekebon karet ❤