Salah Lamar

Salah Lamar
Hanya Pijat


__ADS_3

Sejak ummi mengalami stroke, Inayah melonggarkan jam praktiknya untuk merawat ummi di rumah. Dia sangat telaten merawat ummi, Inayah menemani ummi ketika pagi untuk berolahraga. Ummi dilarang untuk memasak, Inayah lah yang mengatur menu untuk ummi makan, agar ummi tidak terserang stroke yang kedua kalinya. Inayah pun yang memberikan obat untuk ummi.


"Inayah kamu tidak kerja? kok di rumah mulu ngurusin ummi?" tanya ummi.


"Ummi, kok ummi ngomong seperti itu? ummi nganggap aku sebagai putri ummi 'kan? bukan mantu, jadi sewajarnya seorang putri merawat umminya ketika ummi sakit," ucap Inayah.


"Ya Allah ummi, bersyukur banget punya mantu seperti kamu, seperti putri aummi sendiri. Ummi minta maaf ya awal-awal kamu menikah, kamu menangis terus gara-gara putra Ummi," ucap ummi.


"Ummi jangan mengingat masa lalu. Justru karena Ummi Inayah bertahan sama sampai Mas Ramzi mencintai Inayah, dan ia menjadi suami yang baik sekarang itu karena bantuan dari Ummi," ucap Inayah.


Inayah mengurut kaki ummi, Syifa yang mengajari cara terapi di rumah untuk kaki dan tangan ummi yang susah untuk digerakkan. Ototnya terasa lemas. Inayah juga yang membantu ummi untuk mandi, Inayah menyuapi ummi makan. Terlihat Inayah sangat sayang sekali dengan ummi. Ramzi yang melihat Inayah pun sangat bersyukur mempunyai istri seperti dia. Cantik, seorang dokter, dan sangat sayang kepada kedua orang tuanya.


"Haidar ssstttt...jangan ganggu nenek ya, nenek baru tidur," ucap Inayah berbisik.


Inayah langsung menggendong Haidar. Haidar biasanya memang bermain dengan ummi, tetapi semenjak ummi mengalami stroke, anak-anak dilarang dulu untuk bermain dengan ummi. Mereka hanya boleh melihat ummi, kadang haidar dan Haidir menguruti kaki ummi. Mereka tidak boleh mengajak ummi bermain. Inayah membuat mereka mengerti bahwa keadaan ummi tidak seperti dahulu lagi.


"Mas, besok Waktunya ummi terapi, aku sudah vuat janji sama Syifa nanti Syifa yang terapi ummi," ucap Inayah.


"Iya sayang, aku sangat berterima kasih sama kamu telah merawat ummi dengan baik," ucap Ramzi.


"Mas mah, sama dengan ummi kalau ngomong, ummi itu kan ibuku juga," ucap Inayah.


"Iya sayang, maafkan aku ya," ucap Ramzi.


Handphone Ramzi berdering lalu Ramzi mengangkat teleponnya. Ternyata itu dari anak buah Ramzi. Ramzi mempunyai restoran, sudah ada lima cabang di Cirebon.


Rudi \=["Maaf Gus ini ada masalah."]


Ramzi \=["Assalamu'alaikum Rudi."]


Rudi \=["Wa'alaikumsalam, maad aku lupa Gus."]


Ramzi \=["Ada apa? ngomong perlahan-lahan biar saya bisa mencerna ucapanmu."]


Rudi\=["Ini Gus ada pelanggan yang protes ingin bertemu dengan Gus, mereka minta pertanggungjawaban Gus."]


Ramzi \=["Pertanggungjawaban apa?"]


Rudi \=["Dia 'kan makan di restoran ini Gus, terus tiba-tiba dia merasa sakit perut. Katanya makanan di restoran ini ada racunnya."]


Ramzi\=["Orangnya masih ada di situ?"]


Rudi \=["Iya masihlah Gus, malah dia manggil wartawan Gus."]


Ramzi \=["Ah itu mah nggak beres, ini kayaknya settingan dia ini. Ya sudah saya ke sana ya assalamu'alaikum."]

__ADS_1


Rudi \=["Wa'alaikumsalam."]


Ramzi mukanya langsung berubah. Ia terlihat sangat kesal sekali dengan kejadian ini. Memang usahanya sedang berkembang, jadi ada aja seorang yang iri dengan usahanya itu. Sehingga ingin menjatuhkan restorannya agar tidak laku lagi. Ini adalah cara Yang licik mengundang wartawan agar langsung disiarkan dan akan membuat dampak yang buruk terhadap restoran yang Ramzi kelola


"Ada apa Mas?" tanya Inayah.


"Ada yang mau hancurin restoranku sayang, ini katanya ada orang yang makan, lalu katanya dia sakit-sakit perut seperti keracunan gitu katanya, gara-gara ia makan makanan yang ada di restoran aku," jawab Ramzi.


"Aku ikut Mas, tunggu ya aku ingin telepon temanku dulu," ucap Inayah.


"Siapa sayang?" tanya Ramzi.


"Temanku agar ia bisa mengambil sampel makanan yang dimakan oleh pelanggan tersebut dan juga aku akan memeriksa pelanggan tersebut. Apakah itu benar keracunan karena makanan dari restoran Masvatau bukan. Nanti bisa dicek di laboratorium," jawab Inayah.


Inayah dan Ramzi langsung mendatangi cabang restoran yang telah dituduh makanannya mengandung racun, ketika Ramzi tiba orang itu langsung memakai-maki Ramzi. Inayah sangat geram ketika Ramzi dimaki-maki di depannya, lalu ia maju untuk menapik tuduhan pelanggan tersebut, kejadian itu direkam oleh wartawan.


"Anda jangan menuduh dulu sebelum ada bukti," ucap Inayah.


"Siapa kamu?" tanya pelanggan.


"Saya istri dari pemilik restoran ini dan juga seorang dokter. Zain itu tolong bawa makanannya ke laboratorium, di sini siapa yang sakit? kita langsung ke rumah sakit aja untuk memeriksa tes urine, darah. Apakah di dalam tubuh yang memakan ada kandungan racun? di sini ada CCTV kan Mas?" tanya Inayah.


"Iya ada CCTV sayang," jawab Ramzi.


"Mas amankan CCTV itu, jangan ada yang menyentuh CCTV itu, aku akan melapor ke pihak polisi. Jika ini kesalahan kita, maka kita harus minta maaf. Tapi jika ini kesalahan pelanggan ini, maka kita bisa menuntut dia atas pencemaran nama baik restoran ini," ucap Inayah.


Inayah memaafkan mereka, tapi hukum tetap berjalan agar tidak ada lagi orang-orang seperti mereka. Tapi mereka berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi, mereka berlutut dan menangis sejadi-jadinya, karena takut dimasukkan ke dalam penjara. Inayah menyuruh pegawai Ramzi untuk merekam pernyataan mereka, jika mereka bermacam-macam kembali dengan hal yang sama seperti ini, maka rekaman ini sebagai buktinya.


Masalah pun terselesai secara kekeluargaan, Ramzi bisa bernafas dengan lega dan pelanggan yang memfitnah itu sangat berterima kasih kepada Ramzi dan Inayah karena tidak melaporkan mereka kepada polisi.


"Alhamdulillah sayang, untung ada kamu. Kamu memang istri Mas yang sangat pintar," ucap Ramzi.


"Ndak gratis Mas untuk ini," ucap Inayah.


"Yah jadi ada imbalannya nih?" tanya Ramzi.


"Iyalah ada imbalannya, masa nggak ada imbalannya sih Mas," jawab Inayah.


"Kamu mau apa? aku laksana apapun," tanya Ramzi.


"Pulang dulu yuk kan ummi hanya sama abi," ajak Inayah.


Ramzi dan inayah masuk ke dalam mobil, mereka bergegas pulang dan di dalam mobil Inayah berkata kepada Ramzi.


"Tolong kamu bisa pijitin aku ndak nanti di rumah? tubuhku pegal-pegal," ucap Inayah.

__ADS_1


"Boleh sayang, boleh... boleh....boleh banget," ucap Ramzi penuh semangat.


"Ih semangat banget, pijitin doang loh Mas. Ingat pijitin aja nggak pakai yang lain," ucap Inayah.


"Yah kok gitu sayang," protes Ramzi.


"Ya namanya juga imbalan Mas, Yah terserah aku dong, aku mau ngapain," ucap Inayah.


"Itu mah kamu mancing aku, kirain aku pijit-pijit sambil buat adiknya Haidar dan Haidir," ucap Ramzi nakal.


"Astagfirullah Mas, udah 3 Mas. Sudah cukup kali, Allah Suka yang ganjil-ganjil," ucap Inayah.


"Ya kali aja kamu mau tambah dua lagi kan ganjil juga jadi 5," ucap Ramzi dengan alis matanya di naik turunkan.


Inayah menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ramzi. Ramzi memang meminta anak lagi, tapi Inayah sudah cukup karena dia ingin membesarkan anak-anaknya dengan baik. Si kembar pun sudah kelas 4 dia juga ekstra mengajari si kembar agar menjadi laki-laki yang berkualitas nantinya. Emi pun sudah mau masuk SMP tapi dia masih di wilayah pesantren, Inayah sedikit lega karena bisa memantau anak-anaknya di dalam lingkungan pesantren.


Bersambung


✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤💞💝


 


__ADS_2