Salah Lamar

Salah Lamar
Rencana


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu kelulusan Inayah sudah selesai dan kini dia sedang mengepak barang-barangnya untuk pulang ke Indonesia. Suasana Indonesia yang sangat kekeluargaan sangat dirindukan oleh Inayah, 2 tahun berpisah dari keluarga, jauh dari kedua orang tua menjadikan Inayah sangat antusias untuk pulang ke Indonesia.


Inaya sudah mengabarkan kepada keluarga yang ada di Cirebon bahwa dia akan pulang 3 hari lagi. pastinya Delisha yang paling sangat senang untuk kepulangan Inayah maklumlah dia sedang hamil dan ingin sekali memeluk kakaknya yang sangat sayang kepadanya sejak dia kecil.


"Mas, aku ingin ke apartement Syifa untuk berpamitan dia 'kan pulang ke Indonesia bulan depan," pinta Inayah.


"Baiklah Setelah dari apartemen Syifa kita belanja oleh-oleh ya untuk keluarga kita di Indonesia," ucap Ramzi.


Ramzi mengantar Inayah ke apartemen Syifa, apartemen Syifa itu membutuhkan waktu hanya 30 menit. Sesampainya di sana Inayah berbincang-bincang dengan Syifa sekaligus berpamitan karena dia akan pulang ke Indonesia lebih dulu. Syifa memeluk Inayah dengan erat tapi nanti di Indonesia mereka akan bertemu kembali. Karena mereka akan menjadi seorang dokter spesialis. Inayah menjadi dokter spesialis bedah sedangkan Syifa menjadi dokter spesialis saraf.


"Ning, kita ndak berasa ya waktu berangkat kita sendirian eh nanti pas pulang-pulang kita udah membawa anak," ucap Syifa.


"Sampeyan itu lucu Syifa, wong kita punya suami jelas aja kita punya anak,"ucap Inayah.


"Ndak mau nambah Ning? jadi dua gitu biar rame rumah. Mumpung masih muda sampeyan Ning," ucap Syifa.


"Nambah memangnya sampeyan pikir makan nambah. Aku sih inginnya si Emi itu umur 3 tahun baru mempunyai adik, tapi nggak tahu deh nantinya kayak gimana," ucap Inayah.


"Aku mau nambah Ning," ucap Syifa.


"Hah nambah? Syifa umur anak sampeyan itu baru 6 bulan. Kasihan dong nanti kasih sayangnya terbagi-bagi?" Inayah terkejut.


"Ya kasih sayangnya sama Ning, masa kasih sayang di beda-bedain antara satu anak dengan anak yang lain, bagaimana sih sampeyan," ucap Syifa.


"Maksud aku ngerawatnya Syifa, itu bagaimana? kita itu seorang dokter waktu kita itu nggak banyak untuk keluarga seperti profesi-profesi yang lainnya," ucap Inayah.


"Ya Allah Ning, itu aja dipikirin. Waktu sampeyan itu bisa di handle oleh suami sampean yang selalu di pesantren. Enak loh Ning di pesantren itu banyak anak-anak pesantren yang akan menjadi teman anak sampeyan jadi jangan khawatir tentang akhlak anak-anak sampean," ucap Syifa.


"Tapi tetep aja yang kasih ASI itu aku Syifa, masa Iyan kasih ASI itu Mas Ramzi. lucu kalau Mas Ramzi itu memberi ASI kepada anakku apa kata dunia?" ucap Inayah.


"Dunia tak akan berkata apa-apa Ning, dia ndak akan tersenyum, dia ndak akan teriak, dia ndak akan protes karena dunia sudah tua jadi ndak usah khawatir sama dunia yang sudah tua renta. Yang penting sampeyan itu masih muda untuk tambah anak lagi masa cuma satu sih, keturunan Kiai loh Ning sampeyan dan juga suami sampeyan juga keturunan kiai jadi harus banyak keturunannya," ucap Syifa.


"Memangnya suami sampeyan ndak minta gitu untuk nambah anak lagi?" sambung Syifa.


"Minta mulu Syifa dia ingin anak kedua untuk adiknya Emi," jawab Inayah.


"Ya itu terserah sampeyan sih kalau misalkan sampeyan berubah pikiran ingin mempunyai anak yang kedua dalam waktu dekat-dekat ini bismillah aja deh Ning," ucap Syifa.


Dari percakapan Syifa di apartemennya membuat Inaya berpikir. Apakah dia akan mempunyai anak kedua dalam waktu dekat-dekat ini atau menunggu Emi umur 3 tahun, tapi yang dikatakan oleh Syifa itu ada benarnya karena Inayah dan Ramzi itu adalah keturunan Kiai, keturunan mereka nanti akan menjadi penerus mereka.


Sepulangin Inayah dan Ramzi dari apartemen Syifa, Ia menuju sebuah pusat pembelanjaan di Kyoto untuk membeli oleh-oleh keluarga di Indonesia. Inayah juga membeli pakaian untuk Emi karena bentuknya lucu-lucu dan ia tertarik untuk memakaikan Emi baju tersebut.

__ADS_1


Inayah ingin berfoto dengan baju kimono untuk kenang-kenangan, dia menyewa baju kimono dan mereka berfoto bertiga.


Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dengan dokter Azril yang sama-sama sedang berbelanja. Wajah Ramzi langsung masam Inayah menjadi serba salah, ia menggenggam tangan Ramzi dengan erat agar Ramzi tidak cemburu.


"Dokter Inayah sedang belanja? kabarnya kamu akan pulang 3 hari lagi?" tanya dokter Azril.


Bukan Inayah yang menjawab pertanyaan dokter Azril tapi ramzilah yang menjawab.


"Iya kami akan pulang ke Indonesia tiga hari lagi, memangnya kenapa kamu bertanya?" jawab ketus Ramzi.


Ramzi sengaja memeluk bahu Inayah dengan sangat erat di tangan kirinya, kemudian tangan kanannya tetap menggendong Emi. Inaya tidak mau menjawab pertanyaan dari dokter Azriel dia ingin menjaga perasaan Ramzi yang sangat cemburu ketika dokter Azril berbicara dengan Inayah.


"Ah tidak apa-apa. Memangnya tidak Bolehkah aku bertanya dengan temanku?" ucap Dokter Azril


"Oh Alhamdulillah jika kamu menganggap istriku sebagai temanmu. Tapi ingat jangan sekali-kali kamu berpikir untuk merebutnya dari tanganku, dia hanya mencintaiku dan aku juga sangat mencintai istriku," ucap Ramzi.


"Permisi aku mau jalan dulu, mari Dokter Inayah." Ucap Dokter Azril sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan Ramzi dan Inayah.


"Ih apa-apaan dia tersenyum seperti itu dengan istri orang lain, seperti nggak ada perempuan lain aja," gumam Ramzi.


"Mas Ramzi bucin banget sama aku, segitunya kah cemburu sama dokter Azril," ledek Inayah.


"Eh kamu ngeledek aku, kemarin siapa ya yang cemburu dengan Mako?" ledek Ramzi.


"Masa sih nggak cemburu? kalau kamu cemburu bilang aja. Kamu gemesin kok ketika kamu cemburu. Aku Jadi kepengen cium kamu tahu," ucap Ramzi.


"Gus gendang kumat lagi mesumnya di tempat umum Gus gendeng, masa mau cium aku," ucap Inayah.


"Dokter Sableng aku juga tahu ini tempat umum, masa aku mau cium kamu di tempat umum ditontonin gitu. Aku ndak mau lah aku maunya di kamar berdua dengan kamu lebih eksklusif," ucap Ramzi.


Inayah tidak mau menjawab lagi karena Ramzi sudah menjurus-jurus ke arah pembuatan anak jadinya dia tidak mau membalas kalimat Ramzi.


Sepulangnya mereka dari belanja, Inayah langsung membereskan oleh-oleh di koper agar tidak tertinggal. Inayah melihat langit-langit apartemennya tidak terasa 2 tahun sudah berlalu di Jepang masa-masa sulitnya di Jepang ketika dia mengandung, melahirkan, bencana alam gempa bumi di Jepang yang menyebabkan kakinya patah. Itu semua adalah kenang-kenangan yang luar biasa bagi Inayah dalam mencapai impiamnya. Sekarang dia mempunyai gelar sebagai spesialis ahli bedah dengan ijazah dari Kyoto University.


Kita bisa mencapai impian kita kalau kita mau berusaha dan tidak putus asa untuk mencapai sebuah impian. Dengan tekat yang kuat dan yakin pasti impian kita akan tercapai.


"Mas." panggil Inayah.


"Iya sayang," ucap Ramzi.


"Hmm habis pulang, 1 minggu depannya kita ke Batu Malang bagaimana?" tanya Inayah.

__ADS_1


"Ada acara di sana?" tanya Ramzi.


"Acara kita berdua Mas," ucap Inayah.


"Memang kita punya acara di sana? tugas dari abah untuk mengisi ceramah di sana?" tanya Ramzi.


"Itu Mas, acara membuat adik Emi," ucap Inayah.


Ramzi terkejut dengan perkataan Inayah.


"Kamu yakin sayang?" tanya Ramzi.


"Oh yah sudah jika kamu ndak mau," ucap Inayah.


Ramzi langsung memeluk Inayah dan menciumi bibir Inayah dengan lembut.


"Aku sangat mau sayang, terima kasih," ucap Ramzi.


Bersambung


✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet ❤


__ADS_2