Salah Lamar

Salah Lamar
Cemburunya Ramzi


__ADS_3

Inayah cuti karena habis melahirkan. Setiap hari hanya di pesantren. Abi meminta bantuan kepada Inayah untuk mengajar di pesantrennya, karena guru yang biasa mengajar sedang cuti nikah. Kelas menjadi sangat berwarna ketika Inayah mengajar. Inayah menjadi guru favorit ketika ia mengajar, padahal dia baru mengajar beberapa kali. Tapi para santriwati sungguh mengagumi Inayah, selain berparas cantik Inayah juga cerdas.


Para santriwati banyak yang mengidolakan Inayah, mereka ketika nanti dewasa ingin seperti Inayah yang cerdas, baik, juga berguna bagi masyarakat. Tidak hanya di kalangan santriwati, tapi di kalangan santri Inayah juga dikenal dengan kecantikannya.


Sehingga Ramzi terkadang cemburu, ketika Inayah mengajar euforianya lebih tinggi daripada Ramzi mengajar.


Abi hanya meminta bantuan kepada Inayah hanya pada jam yang kosong dengan jam yang tidak banyak bahkan tergolong sangat sedikit, karena abi tahu bahwa Inayah sibuk dengan ketiga anaknya. Abi hanya meminta waktu 1 jam setiap pagi agar Inayah bisa mengisi kelas yang kosong untuk sementara. Ketika selesai mengajar Inayah langsung kembali ke rumah. Ramzi menatap Inayah dengan tatapan yang intens, Inayah pun tersenyum manis ketika Ramzi menatapnya.


"Sepertinya senang banget yang habis ngajar ketemu para santri yang ganteng-ganteng," ucap Ramzi ketika melihat Inayah baru pulang mengajar.


"Astagfirullah Mas, cemburumu itu loh ndak pakai logika. Masa iya caper sama santri, aku tuh ngajarnya aliyah bukan anak kuliah, mereka masih kecil kelas 1 aliyah," ucap Inayah.


"Siapa yang cemburu? aku ndak cemburu. Aliyah udah remaja sayang bukan kecil lagi," protes Ramzi.


"Sudah ngaku aja apa Mas, kalau kamu tuh cemburu ya 'kan. Ndak usah pura-pura Ndak cemburu sama aku. Aku tahu kamu sangat mencintai aku 'kan," ucap Inayah.


"Ih dokter Sableng Kepedean banget kamu." Ramzi langsung melangkahkan kakinya dan masuk ke kamar. Inayah hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, kemudian ia menyusul Ramzi untuk masuk ke dalam kamar.


"Mas Ramzi." Inayah memanggil Ramzi dengan suara yang dimanjakan.


"Hmmm...." Ramzi hanya berdehem dia tidak menjawab panggilan Inayah.


Inayah menjadi jengkel dengan sikap Ramzi, menurut dia terlalu kekanak-kanakan, cemburu dengan para santri.


"Mas, jangan diemin aku seperti ini dong, aku ndak suka kamu seperti ini." Inayah sudah mulai merajuk kepada Ramzi tapi Ramzi masih mengacuhkannya.


'Oke kalau Mas Ramzi mau mengacuhkan aku, aku akan mengacuhkanmu juga,' ucap batin Inayah.


Inayah langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Twins boys masih tertidur pulas, semalam Inayah begadang karena Haidar menangis. Inayah langsung memberikan ASI, setelah Haidar tertidur, Haidir malah menangis, Inayah lalu memberikan ASI nya. Karena caesar, Inayah memberikan ASI kepada anak-anaknya dengan posisi duduk di atas ranjang, ia tidak bisa memberikan ASI dengan tubuh rebahan di atas ranjang. Inayah tertidur, dia tidak memperdulikan Ramzi yang sedang cemburu dengan para santri.


Inayah tertidur hanya 1 jam, itupun karena twins boys menangis. Satu-satunya memberhentikan tangisan mereka itu dengan ASI. Inayah terkadang kewalahan, karena bayi laki-laki meminum ASI nya lebih kuat daripada bayi perempuan. Setelah mereka terdiam, Inayah memberikan twins boys kepada Ramzi untuk di jaga.


"Mas, tolong jaga Haidar dan Haidir." Inayah hanya berkata itu tanpa menunggu jawaban dari Ramzi. Ia langsung keluar kamar tanpa berkata apa-apa lagi. Ramzi hanya menatap Inayah yang melangkahkan kakinya menuju pintu.


Inayah berjalan menuju dapur, tenggorokannya kering ia ingin minum. Di dapur ada ummi Laila yang sedang melihat isi kulkas.


"Bahan masakan habis ummi?" Inayah mengambil segelas air, ia duduk lalu meminum air tersebut.

__ADS_1


"Iya, ummi pikir masih ada bahan-bahan untuk membuat makan malam hari ini. Ternyata sudah habis." Ummi Laila mencatat list bahan makanan apa yang harus di beli lagi.


"Mau belanja sama aku?" tanya Inayah.


"Boleh, Ummi juga bosan kalau belanja sendiri. Kamu sudah 40 hari 'kan pasca lahiran?" tanya ummi Laila.


"Kemarin, aku pas 40 hari Ummi," jawab Inayah.


Ramzi keluar dari kamar dengan menggendong Emi. Ia melihat Inayah yang sedang berbicara dengan ummi. Ummi langsung berkata oleh Ramzi saat melihatnya keluar dari kamar, bahwa ummi akan mengajak Inayah untuk pergi ke supermarket. Karena jika ke pasar tradisional salurannya sudah kurang segar pukul 10 pagi. Emi ingin turun dari gendongan Ramzi dan menuju ke Inayah, Inayah mengajak Emi untuk ikut bersama ummi.


Ramzi mengantar Inayah sampai keluar pintu rumah, Inayah tidak menatap Ramzi sedikitpun. Inayah menggunakan mobilnya sendiri, ia akan membiasakan itu agar ketika sudah aktif praktik, ia tidak akan ketergantung kepada Ramzi karena Ramzi tidak bisa menjemput seperti dahulu lagi, ia harus menjaga twins boys. Ramzi merasa ada yang kurang ketika Inayah tidak berbicara kepadanya, Inayah hanya mencium punggung tangan Ramzi tanpa ada satu katapun yang terlontar dari bibir Inayah.


Walaupun Inayah marah kepada Ramzi, ia tetap memikirkan suaminya. Inayah akan memasak soto gentong, menu kesukaan Ramzi. Ia juga membeli beberapa cemilan untuk Emi. Inayah membantu ummi untuk memilih bahan-bahan masakan. Setelah merasa cukup. Ummi dan Inayah bergegas untuk pulang.


"Sudah 'kan? ada yang belum ndak yah kira-kira?" tanya ummi Laila.


"Sepertinya sudah semua, nanti kalau ada yang kurang gampang tinggal balik ke sini lagi," ucap Inayah.


Inayah mengendarai mobilnya menuju pesantren. Inayah menuruni Emi dari mobil lalu membantu ummi untuk membawa barang belanjaan. Emi lari ketika melihat Ramzi sudah menunggu di depan pintu.


Ramzi langsung tangkap dan menggendong Emi. Inayah mengucapkan salam kepada Ramzi dan melewati Ramzi tanpa menatap matanya. Inayah meletakkan belanjaan sayur, buah, daging di kulkas. Sedangkan yang lainnya ia letakan di lemari gantung dapur. Ia hanya membawa ke kamar makanan ringan milik Emi.


"Sayang ini cemilan kamu, makannya duduk di sofa yah. Mamah ke kamar," ucap Inayah kepada Emi. Emi turun dari gendongan Ramzi dan memakan cemilan tersebut di ruang keluarga.


Ramzi juga masuk ke kamar, ia langsung memegang tangan Inayah tapi Inayah menepis tangan Ramzi.


"Kok kamu marah?" tanya Ramzi. Tapi Inayah tidak menjawab Ramzi.


"Kamu jangan acuhkan aku dong?" pinta Ramzi.


"Siapa yang mengacuhkan aku duluan, kamu Mas," ucap Inayah dengan emosi.


"Aku cemburu, kamu tahu aku sangat mencintaimu," ucap jujur Ramzi.


"Aku tahu itu, akupun sama sangat mencintaimu Mas. Tapi cemburu dengan santri, mereka juga tahu siapa aku. Mereka mengagumi aku sebagai guru mereka. Kamu berpikir jangan seperti anak kecil deh Mas. Gerah aku dicemburui kamu seperti itu," ucap Inayah.


Ramzi langsung memeluk pinggang Inayah, lalu meletakan dagunya di pundak Inayah.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, jangan acuhkan aku seperti ini lagi. Hatiku jadi ndak enak kamu acuhkan seperti ini." Ramzi membalikkan badan Inayah, ia menatap mata Inayah. Ramzi memegang pipi Inayah dengan kedua tangan.


"Maafkan aku," ucap Ramzi lagi.


Inayah menganggukan kepalanya, lalu Ramzi memeluk Inayah dengan erat.


Bersambung


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)




Love dari author sekebon karet β€πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2