
Pada hari minggu Inayah dan keluarga berlibur di sekitar Cirebon yaitu kampung sabin, wisata kuliner dengan pemandangan yang memanjakan mata. Emi sangat senang sekali ketika mamah dan ayahnya mengajak dia pergi dengan kedua adiknya. Inayah ingin menyenangkan hati Emi terlebih dahulu setelah itu dia akan berbicara dari hati ke hati.
"Kamu pesan lah, apa yang kamu mau. Pokoknya hari ini spesial, bebas," ucap Inayah.
"Terima kasih Mamah sayang, aku boleh foto-foto ndak Mah?" tanya Emi.
"Boleh dong sayang, kamu foto-foto aja dulu sambil menunggu makanannya datang. Minta ditemenin sama Ayah kamu yah. Ayah tolong temanin Emi, Haidar, dan Haidir jalan-jalan . Di sana view nya bagus," ucap Inayah sambil menunjuk view yang ke arah gunung ceremai.
"Oke Mamah, kamu tunggu di sini aja atau mau ikutan?" tanya Ramzi.
"Aku tunggu di sini aja Ayah," jawab Inayah
Inayah memperhatikan ketiga anaknya bersama dengan Ramzi yang sedang berfoto-foto dan berjalan-jalan. Mereka terlihat sangat senang sekali, dari kejauhan Inayah tiba-tiba melihat seorang yang ia kenal. Ia menyipitkan matanya sambil memastikan bahwa orang yang ia lihat itu adalah orang yang ia kenal.
Inayah berdiri lalu dia menghampiri seseorang yang ia kenal, sambil memastikan penglihatannya.
"Azril." Inayah memanggil nama Azril dia yakin benar bahwa yang ia lihat adalah Azril.
"Inayah, kamu di sini bersama keluargamu?" Azril terlihat terkejut melihat Inayah.
"Ia aku di sini bersama keluargaku, itu mereka sedang berfoto-foto bersama. Suami dan anak-anakku. Kamu gendong anak siapa?" tanya Inayah.
"Oh, ini anakku Inayah," jawab Azril.
"Anakmu? kok ndak ngundang aku ketika menikah?" tanya Inayah.
"Ceritanya panjang, nggak bisa di ceritakan dalam novel ini," jawab Azril.
"Istrimu mana?" tanya Inayah.
"Dia ke mobil duluan, ini aku mau pulang mau menuju parkiran. Maaf aku ke sana yah takut istriku nunggu aku kelamaan," pamit Azril.
"Kamu tinggal di mana?" teriak Inayah karena Azril melangkah untuk meninggalkannya.
"Aku tinggal di Jakarta, assalamu'alaikum Dokter Ina," ucap Azril sambil melambaikan tangannya.
"Wa'alaikumsalam," ucap Inayah.
Inayah tidak percaya bahwa Azril sudah menikah dan mempunyai anak. Tapi itulah kenyataannya. Inayah tersenyum karena Azril sudah mencintai seseorang. Dia berpikir siapa istri dari Azril? apakah ia mengenalnya? apakah dokter Lita sesuai gosip yang beredar. Inayah di kagetkan dengan tepukan Ramzi dari belakang.
"Sedang," ucap Ramzi sambil menyentuh pundak Inayah.
"Astagfirullah, Mas kamu kagetin aku aja," protes Inayah.
__ADS_1
"Kamu bengong yah? habis ketemu siapa sih. sampai aku panggil dari tadi kamu diam aja," tanya Ramzi.
"Aku habis bertemu dokter Azril Mas," ucap Inayah.
"Apa?" Ramzi terkejut ketika Inayah berkata jujur.
"Jangan cemburu, Azril tadi gendong anaknya, dia sudah menikah Mas. Tapi aku ndak tahu istrinya siapa," ucap Inayah.
"Pasti perempuan sayang," ucap Ramzi.
"Yah iyalah, masa jeruk makan jeruk bagaimana sih kamu Mas," ucap Inayah.
Inayah dan Ramzi bergabung bersama ke tiga anaknya. Haidar dan Haidir sangat mirip mereka kembar identik, jika tidak bertemu setiap hari maka membedakan mereka sangatlah sulit. Setiap keluar mereka menjadi perhatian karena wajah mereka tampan.
"Emi sayang, Mamah mau bicara. Sini sama Mamah." Emi mendekat kepada Inayah dan ia menyender ke pangkuan Inayah. Inayah membelai kepala Emi yang tertutup dengan hijabnya.
"Bicara apa Mah?" tanya Emi.
"Mamah mau cerita, waktu Mamah hamil kamu. Mamah ingin melihat dunia luar, Mamah kabur dari Ayah. Sampai Ayah mencari Mamah selama 1 tahun. Mamah pergi ke Jepang, ternyata dunia luar tak seindah pikiran Mamah. Di jepang keras, banyak yang minum sake setelah kerja. Mamah sering di ajak tapi selalu Mamah tolak karena tahu sake itu haram. Waktu Mamah baru melahirkan kamu 1 bulan ada gempa, Mamah terjebak di dalam puing, kamu sempat terpental. Mamah berusaha meraih kamu karena kamu butuh ASI Mamah. Ada 2 pilihan karena ketika itu kaki Mamah terjepit. Jika Mamah ingin menggapai kamu maka Mamah harus memiringkan tubuh Mamah tapi kaki Mamah akan patah. Jika Mamah diam saja, maka kamu akan kehausan. Mamah pilih kaki Mamah yang patah daripada kamu kehausan. Jangan keluar dari pesantren sayang, Mamah khawatir jika jauh dari kamu. Sampai Mamah melepaskan kamu nanti ketika kamu dapat suami nanti," ucap Inayah.
Emi langsung memeluk Inayah dengan erat, hatinya tersentuh ketika Inayah menceritakan kisahnya yang memilih memberi ASI untuk dirinya dan rela kakinya patah. Bagi Emi, Inayah merupakan seorang mamah yang luar biasa untuknya dan merasa bersyukur memiliki Mamah Inayah. Ramzi pun baru mendengar cerita ini, ia merasa bersalah karena lusa lalu telah menyinggung perasaan Inayah. Pengalaman Inayah menjadi bahan untuk menasehati Emi.
"Maafkan Emi Mah, membuat Mamah khawatir. Emi ndak akan sekolah di SMP, Emi akan terus sekolah di dalam pesantren," ucap Emi.
Handphone Ramzi berbunyi, tertera nama Abi.
Ramzi \= ["Assalamu'alaikum Abi, ada apa?"]
Abi \=["Nak pulang sekarang, ummi jatuh dari kamar mandi.]
Ramzi \=["Astagfirullah, lalu ummi sekarang bagaimana?"]
Abi \=["Ummi pingsan, cepat kamu pulang Ramzi."]
Ramzi \=["Iya Abi, kami pulang sekarang."]
"Mah, ummi jatuh dari kamar mandi. Kita harus pulang sekarang," ucap Ramzi.
Inayah terkejut, mereka langsung pulang. Inayah khawatir akan keadaan ummi yang terjatuh di dalam kamar mandi dan juga pingsan.
"Mas, lebih cepat. Aku khawatir dengan ummi," pinta Inayah.
Setibanya di pesantren, Inayah langsung lari untuk melihat ummi. Ummi masih belum sadar, Inayah langsung memeriksa ummi.
__ADS_1
"Mas Ramzi, kita bawa ummi ke rumah sakit. Ummi terserang stroke," ucap Inayah.
Ramzi bergegas menggendong ummi dan memasukan ummi ke dalam mobil, Inayah memangku kepala ummi. Abi duduk di jok depan bersama Ramzi yang menyetir mobil. Karena anak-anak Inayah sudah tumbuh besar Emi berumur 11 tahun, haidar dan Haidir 9 tahun mereka bisa di tinggal. Ramzi menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Inayah langsung menelepon Syifa, untuk meminta bantuan kepadanya. Penglihatan Inayah salah satu sisi mulut ummi terlihat turun sebelah atau tidak simetris dan satu tangan kiri lebih turun dari takan kanan. Tak lama mobil Ramzi sampai di rumah sakit, Syifa sudah menyiapkan branker ranjang. Ramzi langsung menggendong ummi dan membaringkan tubuh ummi di atas ranjang branker.
"Syifa tolong, periksa syaratnya. Ummi mengalami stroke," pinta Inayah.
"Iya, sampeyan tenang jangan panik," ucap Syifa.
Ummi langsung di bawa ke dalam ruangan Syifa untuk diperiksa, Inayah pun ikut masuk. Ia ingin melihat keadaan ummi. Setelah Syifa memeriksa, ummi dinyatakan mengalami stroke ringan. Syifa memberi tahu bahwa ummi harus hidup sehat seperti rutin berolahraga, dan megonsumsi makanan sehat atau bergizi seimbang. Minum obat-obatan yang diberikan oleh Syifa seperti obat pengencer darah, aspirin atau Coumadin, untuk mengurangi pembekuan darah. Dan terus check up untuk terapi syaraf kepada Syifa. Inayah sedikit lega dengan penjelasan Syifa, mulai sekarang Inayah yang akan menjaga ummi dan mengatur gaya hidupnya.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet ❤💞💝
__ADS_1