
Waktu cepat berlalu, ke tiga anak Inayah sudah tumbuh remaja. Mereka di didik dalam kawasan pesantren, Inayah dan Ramzi sangat menjaga ketat pertumbuhan mereka. Emi yang sudah mulai remaja, sudah lulus sekolah dasar. Meminta agar sekolahnya di SMP biasa tidak di kawasan pesantren.
"Mah, aku ndak mau di pesantren. Jika aku MI, Mts,MA di pesantren pasti kuliahnya nanti Mamah dan Ayah menyuruhku ke Al-azhar seperti paklek Indra. Aku ndah mau!" ucap Emi.
"Astagfirullah, kamu keras kepala seperti Mamahmu. Apa aja harus dituruti," ucap Ramzi.
Inayah menatap Ramzi, "Apa tadi yang Ayah bilang? seperti aku? memang yang keras kepala aku? kamu tuh," protes Inayah.
"Iya kamu yang keras kepala, sampai kabur ke Jepang," ucap Ramzi.
"Kok Ayah ungkit-ungkit masa lalu sih? males aku ngomong sama kamu. Aku berangkat, Emi nanti kita bicarakan lagi setelah Mamah selesai praktik. Assalamu'alaikum," Inayah langsung melangkahkan kakinya tanpa mencium punggung tangan Ramzi.
Ramzi terlihat menyesal berkata seperti itu, ia tahu Inayah sangat marah ketika di ungkit masa lalunya. Inayah tidak menoleh sedikitpun pandangannya hanya lurus ke depan. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya.
"Ah Emi, Mamah jadi marah sama Ayah," ucap Ramzi.
"Kok salahin ke aku Ayah, jangan salihin orang lain ndak bagus Ayah. Melempar batu sembunyi tangan," ucap Emi.
Emi meninggalkan Ramzi begitu saja, di tinggal 2 perempuan yang paling ia sayangi. Ramzi mengacak-ngajak rambutnya, kini dia harus menghadapi 2 perempuan yang keras kepalanya 11 12. Ibu dan anak keras kepalanya sama.
Emi pergi ke asrama perempuan, ia menemui sahabatnya. Tempat jika ada masalah cerita dengan sahabatnya ini.
"Ning, sampeyan kenapa toh. Wajah sampean di lipat seperti itu?" tanya Zura.
"Ra, aku sebel sama MaYa aku," jawab Emi.
"MaYa siapa Ning, teman baru?" tanya Zura.
"Maksud aku mamah dan ayah, aku mau sekolah umum sepertinya mereka berat banget buat izinin aku," jawab Emi.
Zura menggelengkan kepalanya, sebutan orang tua pakai di singkat segala.
"Kan itu untuk kebaikan sampeyan Ning, aku malah iri sama sampeyan. Sampeyan keturunan kiai pasti akan diturunkan ilmu agama dari MaYa," ucap Zura.
"Aku mau lihat dunia luar, belajarnya seperti apa," ucap Emi.
"Sampeyan itu keturunan kiai Ning, belajar di luar itu sangat kejam banyak pergaulan bebas pasti MaYa sampeyan jagain sampeyan banget, agar ndak kebablasan pacaran. Kalau sampeyan pacaran, wah bisa digantung sampeyan di jemuran belakang," ucap Zura.
"Astaghfirullah Zura, tega banget ngomongnya sampeyan masa aku digantung di jemuran, kering dong. Memang aku ikan asin di jemur," protes Emi.
Emi pergi dari hadapan Zura, bukan marah tapi memang ada kelas fiqih yang ia harus pelajari. Akan mendapat hukuman jika telat masuk kelas, ustazah tidak pandang bahwa Emi anak dari Gus Ramzi. Jika salah maka hukuman berlaku untuknya.
__ADS_1
***
Inayah ketika istirahat, ia memikirkan Emi. Bagaimana caranya agar Emi bisa mendengarkan pendapatnya. Memang jaman anak sekarang dan masa Inayah sungguh berbeda jauh. Dahulu Inayah sangat menurut jika diperintahkan oleh abah ataupun ummanya. Inayah tidak pernah membantah kedua orang tuanya.
Inayah sedang memikirkan cara berbicara dengan anaknya agar Emi bisa mengerti maksud dan tujuan. sebagai orang tua Inayah harus mendekati anaknya dari hati ke hati karena anak zaman sekarang dengan zamannya dia sangat berbeda, dari segi lingkungan keadaan itu yang menyebabkan perbedaan, sifat dari masing-masing anak. Inayah ingin membentuk akhlak yang bagus untuk ketiga anaknya agar nanti dalam kehidupan mereka dan terjun di masyarakat menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Kini Syifa sudah mempunyai dua anak, anak keduanya berjenis kelamin perempuan jadi dia sudah mempunyai anak sepasang dan ia memutuskan hanya mempunyai dua anak. Inayah pun sama hanya ingin mempunyai 3 anak. Mereka berpikir pendidikan anak itu lebih penting.
Saat ini Inayah sedang berkonsentrasi dengan Emi karena Emi merengek untuk keluar dari pesantren dalam artian ia tidak mau sekolah di dalam pesantren tapi di tempat umum yaitu SMPN.
"Ning sampeyan kenapa? kok sepertinya wajahnya terlihat gusar sekali?" tanya Syifa.
"Ini Syifa, Emi ingin sekolah di SMPN tapi aku ndak setuju kalau dia bersekolah di SMP. Aku ingin tauhid nya diperdalam jadi ketika dia terjun ke dunia luar ada pertahanan iman yang kuat," ucap Inayah.
"Ya kamu ngomongnya pelan-pelan coba, diajak jalan jadi bicara dari hati ke hati. Coba kamu dengan keluarga berlibur terlebih dahulu, sepertinya kamu sudah lama ya tidak berlibur bersama, terakhir berlibur itu kalau ndak salah ketika Emi umur 8 tahun, kamu ke Jakarta ke rumah dr Dina. Sekarang Emi kan sudah umur 12 tahun jadi butuh juga liburan," saran Syifa.
"Oh iya bener juga ya, oke deh makasih ya Syifa," ucap Inayah.
Inayah sedikit terbuka ketika berbicara dengan Syifa karena Syifa memberikan masukan yang bagus untuk berbicara dengan Emi. Sepulangnya dari praktik di rumah sakit, Inayah pun langsung berkomunikasi dengan Ramzi. Walaupun hatinya masih kesal dengan Ramzi karena Ramzi mengungkit masa lalu yang Inayah lakukan. Inayah tahu itu kesalahannya tapi jangan di selalu diungkit.
"Mas minggu depan kamu kosong ndak?" tanya Inayah.
"Jalan-jalan yuk Mas, aku ingin berbicara dengan Emi dari hari ke hati agar dia tidak ke luar pesantren," jawab Inayah.
"Boleh, bagus itu ya udah kamu tentuin aja kita perginya mau ke mana," ucap Ramzi.
Setelah mendengar jawaban dari Ramzi, Inayah ingin bergegas untuk keluar, tapi tangannya ditarik Ramzi. Ia tahu bahwa Inayah masih marah kepadanya karena masa lalunya di ungkit, walaupun Ramzi berniatnya bercanda bagi Inayah itu bukan candaan yang lucu.
"Sayang maafkan aku, tadi aku bercanda keterlaluan pengungkit masa lalu," ucap Ramzi.
"Mas, sudahlah. Sudah lewat kamu tadi juga bilangnya pagi, tapi minta maaf sekarang," ucap Inayah.
"Ya maaf sayang, aku tadi mau telepon kamu tapi takut kamu lagi praktik nanti aku ganggu kamu," ucap Ramzi.
Inayah melepaskan cengkraman tangan Ramzi tapi Ramzi langsung memeluk Inayah. Ia ingin mencium Inayah, tapi Inayah menolak.
"Kok kamu tolak aku?" protes Ramzi.
"Sudah tua Mas," ucap Inayah.
"Lah memang kenapa kalau sudah tua? lagi pula aku belum merasa tua tuh baru juga umur berapa aku," ucap Ramzi.
__ADS_1
"Kamu sudah berkepala 3 plus plus Mas," ucap Inayah.
"Itu belum tua sayang, Yang udah tua umur 70 tahun aja nikah sama gadis umur 20 tahun," ucap Ramzi.
"Jadi maksud kamu, kamu mau nikah lagi gitu?" Inayah sudah bertolak pinggang dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ya Allah salah paham lagi, ya enggaklah, kamu aja udah cukup bagiku. Kamu tuh paling cantik di mata aku ndak ada lagi," ucap Ramzi dengan rayunya.
Perempuan memang, kalau mendengar ucapan yang sensitif langsung dimasukkan ke dalam hati. Apalagi ucapannya itu dari bibir sang suami. Maka hargailah perasaan istri bercandanya jangan ke ranah sensitif.
Bersambung
✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet ❤💞💝
__ADS_1